MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Shopping dengan baby twins(3)



Setelah sepuluh menit, akhirnya Ara kembali turun bersama Agra dan Sanaya yang tak lepas dari gendongan papanya.


"Nadin sudah pantas ya gendong bayi, kayaknya aku bakalan jodohin Nadin sama bang Divta aja, cocok deh kayaknya ...!" ucap Agra sambil mendekati Nadin.


"Kok kak Divta sih ...!"


Dua wanita di sampingya itu dengan cepat melotot padanya, membuat Agra mengerutkan keningnya tak mengerti, karena mendapat protes yang begitu keras.


Agra yang mendapat protes hanya menatap tak mengerti. Pria itu benar-benar tak tahu apa kesalahannya. Ia begitu terlihat bodoh dengan ketidak tahuannya.


"Apa salahku?" tanya Agra polos. Dan segera mendapat senyum dari bibir mungil Sanaya.


"Sanaya aja tahu ...!" ucap Ara ketus.


"Kau tahu apa sayang?" tanya Agra pada Sanaya yang terus tertawa menggemaskan melihat ekspresi wajah papanya.


"Kak Agra menyebalkan!" ucap Nadin yang merasa kesal.


Tapi rasa kesalnya terganti oleh kedatangan seseorang yang tak pernah ia duga.


"Pak Rendi ...!"


*Jadi ini maksud kakak, aku nggak boleh ngajak kak Davina .....,


Ehh ...eh ...., tunggu ...., dari mana kakak tahu, apa benar kakak tahu sesuatu* .....


Nadin pun segera menoleh pada kakaknya, tapi ia malah mendapat kedipanata dari Ara.


Wahhh wah ...., ini gila, kakak tahu sesuatu, apa kakak juga tahu jika aku sudah berpacaran dengan pak Rendi? Ah ...., mana mungkin ....


"Selamat siang pak Agra, nyonya muda ...!" Sapa Rendi sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Siang Rendi, apa kabar? Lama ya nggak ketemu sama kamu!" sapa Ara, tentu saja langsung mendapat tatapan permusuhan dari suaminya.


"Saya baik nyonya ....!"


Seperti yang anda lihat nyonya ...., tapi jangan menatapku terus, suami posesifmu itu pasti akan membunuhku jika anda terus tersenyum padaku


Rendi mengalihkan pandangannya pada Nadin yang masih asik berbicara dengan Sagara.


"Karena sudah lengkap, kita bisa berangkat sekarang." ucap Ara lagi.


"Baiklah .....!" Agra pum segera beranjak dari duduknya.


Ara dan Agra berjalan di depan sedangkan Rendi dan Nadin mengikutinya dari belakang. Mereka memakai dua mobil, karena Ara juga mengajak baby sitter baby twins, untuk jaga-jaga.


Rendi pun harus menyetir dan di sampingnya ada Nadin dengan Sagara di pangkuannya. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Rendi beberapa kali melirik pada wanita di sampingnya. Tak peduli dengan kegaduhan yang di lakukan oleh penumpang di belakangnya.


Rendi seperti membeti kode pada Nadin.


Senang bisa bersama denganmu ....


Iya kah seperti itu, atau itu hanya perasaan Nadin saja. Tapi wajah pria es itu tidak sedingin biasanya. Tapi hal itu malah membuat Nadin semakin gugup saja.


Nadin hanya bisa mengalihkan perasaan gugupnya dengan terus mengajak Sagara berbicara, walau mungkin baby boy itu tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh unty nya.


Akhirnya mereka sampai juga di pusat perbelanjaan. Mereka berjalan beribirngan meninghalkan mobilnya yang sudah di serahkan pada pegawai parkir.


"Nad, kamu jalannya sama Rendi ya, aku sama kak Agra." ucap Ara pada Nadin.


"Kok gitu kak?" tanya Nadin.


"Iya ...., aku mau ke perlengkapan bayi dulu ...., nanti kita ketemu di food stalls." ucap Ara sambil mengedipkan matanya. Kini Nadin mengerti, bahwa ini semua rencana kakaknya.


"Baiklah .....! Pak Rendi tidak keberatan kan?"


Rendi yang sedari tadi hanya terdiam, ia benar-benar terkesiap dengan pertanyaan Nadin. Rendi hanya mengangguk.


Setelah Ara dan Agra menjauh, kini tinggal Rendi dan Nadin dengan Sagara di gendongannya.


"Kita belanja apa ya pak?" tanya Nadin yang tak tahu harus berbuat apa.


"Terserah kamu."


"Apa ya ...?!" Nadin begitu bingung.


"Biar aku gendong saja Sagara nya." ucap Rendi hendak mengambil alih Sagar dari gendongan Nadin. Tapi ternyata respon Sagara sangat berbeda, ia langsung menangis . Membuat Nadin tertawa olehnya.



"Kenapa kau malah tertawa?" tanya Rendi yang tidak suka di tertawakan oleh Nadin.


"Anak kecil saja takut sama wajah pak Rendi." ucapan itu lolos begitu saja dari bibirnya.


"Ups ....!" Nadin segera menutup mulutnya. "Maksudku ....!"


"Nggak ..., bukan itu. Tapi jika pak Rendi tersenyum sedikiiiiit saja ..., pasti tambah manis." ucap Nadin sedikit merasa takut jika ia kembali salah bicara.


Ya aku rasa itu benar ...., sungguh pak Rendi akan sangat mempesona jika sering tersenyum .....


"Baiklah ..., lupakan ...! Duduklah di sini ...!" ucap Rendi sambil menuntun Nadin untuk duduk di salah satu bangku yang ada di tengah pusat perbelanjaan itu.


"Pak Rendi mau ke mana?" tanya Nadin.


"Aku ke sana dulu ...!" ucap Rendi sambil menunjuk ke kedai es krim. Nadin pun akhirnya menurut, ia duduk sambil menenangkan Sagara yang sudah terlanjur menangis.


Tak berapa lama, Rendi kembali dengan membawa dua contong es krim. Ia menyerahkan es krim itu pada Nadin.


"Ini untuk aku?" tanya Nadin.


"Iya ..., tapi yang satu ini untuk Sagara." ucap Rendi sambil mengacungkan kedua contong es krim itu.


"Sagara?"


"Iya ....!"


"Mana bisa Sagara makan es krim, pak?!" protes Nadin.


"Es krim bisa membuat hati tenang, Sagara menangis, mingkin dengan makan es krim, perasaannya akan lebih baik."


Astaga pak Rendi ..., polos banget sih ...., Kalau sampek Sagara di kasih es krim beneran bisa ngamuk maknya ....


"Ya udah gini aja es krimnya, biar aku saja yang makan, sama pak Rendi. Sagara masih terlalu kecil pak, belum boleh makan es krim, ia hanya butuh ASI." ucap Nadin sambil menyerahkan satu contong es krim itu kembali pada Rendi. "Lagian Sagara nya juga udah nggak nangis pak."


Rendi pun ikut duduk di hadapan Nadin. Ia mengambil es krim dan membukanya, ia kembali menyerahkan es krim yang sudah terbuka itu pada Nadin.


"Ambilah ....!" Ucap Rendi, ia melihat Nadin kesusahan membuka bungkus es krimnya. Kemudian mengambil kembali es krim yang masih terbungkus.


Ia memakan es krim sambil menikmati wajah Nadin, ya mata Rendi tak beralih sedikitpun dari menatap Nadin, ia baru sadar jika menatap wajah wanita di depannya itu begitu menyenangkan.


Tangan Rendi kembali berulah, saat es krim menempel di bibir Nadin, dengan cepat ia mengusap bibir bawah Nadin dengan ibu jarinya, Nadin terbengong dengan ulah Rendi, mata mereka kembali beradu, seakan musik romantis mengalun indah di sana, dalam sekejab hanya ada mereka berdua.


Rendi kemudian mengambil kembali jarinya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Pak itu jorok, itu sisa Nadin ...!"


Seketika alunan lagu romantis lenyap entah kemana, Rendi yang masih dengan ibu jari di mulutnya terkesiap, lagu tomantis berubah jadi.


Tew wew wew wew ....


"Heh ...!"


"Itu tadi ....!" ucap Nadin sambil menunjuk pada jari Rendi, Rendi hanya bisa menatap dengan bodohnya.


"A-aku ..., ketoilet dulu." ucap Rrndi tiba-tiba, dengan buru-buru berlalu meninggalkan Nadin dan Sagara.


Setelah merasa jauh dari jangkauan mata Nadin, Rendi berhenti di depan dinding.


"Bodoh ...., bodoh ...., bodoh ....!" umpatnya pada dirinya sendiri. Ia mengutuki kebodohannya sendiri dengan memukul-mukul pelan kepalannya dan membenturkannya ke dinding di depannya.


"Kenapa aku bisa sebodoh ini di depannya ....? hah hah hah ....!"


Rendi terus saja mengutuki dirinya sendiri.


"Rend ..., kamu kenapa?"


Tiba-tiba sebuah suara yang tak asing membuatnya secepat kilat membalik badannya memunggungi tembok yang menjadi pelampiasan kekesalannya.


"Gra ...., maksudku pak Agra." ucap Rendi yang masih terkejut karena tingkahnya terpergok oleh sahabatnya.


"Ini bukan hari kerja, biasa aja ..., kamu kenapa? Sakit? Wajahmu memerah gitu." tanya Agra.


"Ti-tidak ...., A-aku ...., Sa-saya ....!"


Astaga kenapa juga ini mulut ....., bicara aja susah banget ....


"Bicara kamu juga kenapa?" tanya Agra heran, pria yang biasanya tegas dengan segala ucapannya kenapa bisa jadi gaguk seperti itu.


"Saya hanya perlu minum ...!" ucap Rendi sambil meraih sebotol minuman yang ada di tangan Agra dan segera meneguknya hingga habis.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘😘**