MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Surat magang



Nadin begitu kesal, ia pun membuka pintu mobil dengan keras hingga daun pintu membentur tubuh kekar.milik Rendi.


Seketikat itu Rendi pangsung melotot padanya, karena rasa nyeri di lututnya, tapi Nadin tidak peduli. Nadin sudah terlanjut kesal, ia segera berlalu meninggalkan Rendi.


Ah....., sekali-kali memang perlu aku kasih pelajaran biar esnya sedikit mencair.


Nadin berjalan terlebih dulu, saat Nadin sampai di depan pintu, tubuh tegap Rendi kini tiba-tiba menunduk, ia terlihat sedang memegangi kakinya, lututnya terasa nyeri.


Dia pasti kesakitan. Biarlah itu sedikit balasan dariku karena telah membuatku kesal.


Nadin pun langsung masuk tanpa menumggu Rendi.


"Augh ...., sakit ...!" keluh Rendi sambil memegangi kakinya.


"Pak Rendi tidak pa pa?" tanya pria berjas hitam itu.


"Tidak ...!" jawab Rendi tegas.


Rendi pun segera berlalu meninggalkan pria berjas itu, dan masuk ke dalam rumah.


***


"Kakak ......!"


Nadin segera berjalan mendekati kakaknya.


"Astaga dari mana saja dek ....?" tanya Ara pada Nadin. "Kak Divta sudah masuk dari tadi."


Nadin menatap Divta yang juga sedang mengamati Nadin. Divta melipat tangannya di depan dada, bersiap mendengarkan pembelaan yang akan di lakukan Nadin.


Mata Divta tak hentinya mengamati, Nadin yang metasa di amati hanya menyebitkan bibirnya.


"Nadin keluar sebentar dengan pak Rendi." ucap Nadin singkat, seandainya saja Rendi tidak memintanya menyembunyikan hubungan baru mereka, Nadin pasti sudah mengatakan pada semua orang jika dia dan Rendi sudah berpacaran.


Tapi jika keadaannya seperti sekarang, dia mau mengatakan apa? Tak ada alasan khusus untuk mereka bertemu.


Aku rasa mereka pasti baru saja perang dunia, aku suka ini ...., sepertinya rencanaku berhasil....


Davina tersenyum puas karena melihat Nadin hanya datang sendiri tidak dengan Rendi, Davina berharap Rendi akan membenci Nadin dan menjauhinya setelah melihat foto yang telah ia kirim.


"Rendi ...? Ada urusan apa?" tanya Agra. Rendi pasti akan bicara padanya tentang urusan apapun, tapi kenapa kali ini tidak? Sedetail apapun urusannya dalam hal pekerjaan Agra pasti akan tahu.


Apa ada urusan pribadi ...?


Rendi yang sudah mampu menormalkan kakinya yang nyeri segera masuk ke dalam rumah besar.


Dia sungguh berani sekali, dia mengerjaiku.


Saat masuk ke dalam rumah, Rendi melihat gadis itu, maksudnya Nadin. Dia terlihat bingung dengan wajah bodohnya karena berondongan pertanyaan dari orang-orang yang ada di sana.


Rendi menyakukan tangannya kembali ke dalam saku celana, Rendi ingin melihat bagaimana Nadin akan menberikan jawabannya pada mereka.


"Ada urusan sedikit kak ....!"


"Iya ...., sedikit itu yang seperti apa?" tanya Roy yang sepertinya juga ikut penasaran atas tidak kembalinya Nadin.


Rendi menarik sudut bibirnya tipis, membetuk lekuan sanyum samar, ia hanya bisa tersenyum mengawasi tingkahnya yang polos, wajah bingungnya sunggu sangat menarik untuk di jadikan tontonan.


Aku ingin melihat, sejauh mana dia bisa membela diri ....


"Baiklah ...., mungkin aku bisa bertanya langsung pada Rendi." ucap Agra. Mendengar ucapan Agra, Rendi pun segera berjalan mendekati mereka. Ia tahu jika sampai Agra yang bicara dan tidak mendapatkan jawabannya, dia akan menyelidikinya sendiri. Itu pasti akan mempersulitnya. Jika sampai iti terjadi, Agra pasti tidak akan suka dengan tindakannya.


"Selamat sore, semuanya ...!" sapa Rendi dengan langkah pasti.


"Kamu darimana saja?"


"Maaf pak, tadi ada uruaan sebentar dengan Nadin."


"Urusan apa?"


"Sebentar lagi di kampusnya akan ada magang, untuk itu saya merekomendasikan Nadin di perusahaan kita, karena perusahaan kita dari tahun ke tahun selalu menerima mahasiswa magang dari kampus itu. Nyonya Ara dulu juga berasal dari mahasiswa magang yang berhasil di kontrak, saya rasa ini kesempatan yang bagus untuk Nadin.


Jika Nadin memiliki kemampuan yang bagus, maka kita bisa memasukkannya di salah satu anak perusahaan."


Rendi menjelaskan panjang lebar, untuk beberapa hari ini banyak sekali pengajuan magang dari kampus Nadin, tapi dari sekian banyak pengajuan belum ada nama Nadin.


Hah ...., pak Rendi kok bisa tahu ya ...., padahal aku berencana untuk magang di perusahaan paman Salman bukan di perusahaan kakak ...


"Iya ...., aku rasa itu ide bagus Gra ...., aku setuju dengan ide Rendi ...., selain kita bisa melihat kinerja Nadin, kita juga bisa mengawasinya ....!" ucap Divta ikut memberi dukungan pada usulan Rendi.


"Kita ...?" tanya Agra. Ya ..., ia hanya fokus pada kata kita . Sejak kapan kakaknya itu peduli pada orang lain.


"Mak-maksudku ..., kamu ...., aku tadi hanya salam memilih kata saja." ucap Divta mencoba meralat ucapannya sendiri. Ternyata ucapannya juga berefek pada Rendi yang masih berhenti di tempannya.


"Ya aku rasa itu ide bagus ...., kamu besok bisa langsung mengantarkan surat magangnya ke kantor." ucap Agra pada Nadin, Nadin hanya bisa menggangguk bingung.


Davina yang sedari tadi hanya sebagai pendengar, kini merasa harus segera ikut bicara.


"Lalu bagaimana denganku kak? Aku kan juga sama kayak Nadin, aku juga mau magang." tanya Davina.


"Oh iya aku hampir lupa jika sekarang mempunyai dua adik, maka demi keadilan, kalian besok bisa datang ke kantor untuk menyerahkan surat tugas dari kampus." ucap Agra pada Davina dan Nadin.


****


Maaf ya atas keterlambatan hari ini, nanti saat usahakan up dua bab ya ...., tapi nggak bisa pagi ini, mungkin agak malam ya....


selamat menunggu .....


Tidak lupa Author mengucapkan banyak terimakasih kapada pembaca, karena dukungan kalian My Block Of Ice dapat menjadi peringkat 8 karya baru ....


Terimakasih ....


Jangan lupa terus dukung dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya yang banyak


Kasih Vote nya juga ya yang banyak juga ....


Happy Reading dan Happy menunggu ....😘😘😘😘