
Di rumah ayah Roy
Hari ini Agra kebetulan mampir ke rumah ayah Roy karena Ara
memintanya untuk mengantarkan kue buatannya untuk ayah Roy. Agra hendak
mengurus keberangkatan Divta.
“Gra …., sendiri saja?” Tanya ayah Roy saat menyambut Agra.
Ayah Roy segera menghentikan aktifitasnya, ia menghampiri Agra.
“Iya …, kebetulan hari ini saya nggak ke kantor, ada urusan
lain. Ara meminta saya mengantarkan ini untuk ayah!” ucap Agra sambil
mengulurkan sebuah tas yang berisi kotak kue.
“Apa ini?” Tanya ayah Roy sambil menerima kotak kue itu.
“Kue buatan Ara, masih hangat!”
‘Emmm, harumnya!” ucap ayah Roy sambil mencium harumnya kue
yang masih hangat itu. “Duduklah …!”
“Terimakasih …, bagaimana kabar ayah dan nenek!”
“Ayah sehat-sehat saja …, kalau nenek kamu ya seperti itulah
…, dia sering kambuh kakinya!”
“Mungkin nenek perlu di periksakan, yah!”
“Nenek kamu itu keras kepala sekali, sudah berkali-kali ayah
membujuknya!”
"Biar nanti aku minta Frans ke sini!"
"Terimakasih, mungkin itu lebih baik, nenek kamu itu kan suka sekali sama dr. Frans!"
Davina yang juga tak punya acara di hari minggu ia masih di
rumah membantu ibu Dewi memasak, melihat Agra datang, ibu Dewi meminta Davina
untuk membawakan minuman untuk ayah Roy dan Agra.
“Di minum kak, tehnya!” ucap Davina sambil meletakkan
minuman di atas meja.
‘Iya …, terimakasih ,…!” ucap Agra, ia segera mengambil
gelas itu dan meneguknya. Sedangkan Davina masih berdiri di samping ayah Roy.
“Ada urusan apa hari minggu gini?” Tanya ayah Roy pada
menantunya itu.
“Ada urusan sedikit, mengurus keberangkatan bang Divta!”
“Divta?!” Davina terkejut. Membuat dua pria beda generasi
itu menoleh bersamaan kepadanya.
“Memang nak Divta mau kemana?” Tanya ayah Roy setelah kembali
menatap Agra.
“Ada masalah di perusahaan cabang di luar negri, kebetulan
bang Divta yang paling paham dengan keadaan di sana!”
“Akan berapa lama di sana?” Tanya ayah Roy lagi, Davina
masih ikut memperhatikan obrolan antara ayah dan kakak iparnya itu.
“Mungkin sampai urusannya selesai, kalau cepat mungkin hanya
butuh waktu satu tahun, kalau tidak mungkin bisa sampai lima atau enam tahun!”
“Lima tahun?!” Davina semakin terkejut. Lima tahun bukanlah
waktu yang singkat, mungkin jika hanya lima bulan, ia tidak seterkejut itu,
tapi ini lima tahun.
“Lama sekali ya …!” gumam ayah Roy.
“Memang masalah di sana cukup serius, yah!”
Mereka melanjutkan obrolannya, sedangkan davina segera meninggalkan
mereka. Ia masuk ke dalam kamar, ia gelisah. Bahkan setelah dari vila, Divta
tidak pernah menemuinya. Davina duduk di tepi tempat tidur, ia memegangi
ponselnya, mencoba menghubungi Divta , tapi nomornya tidak aktif.
“Ah …, tidak aktif lagi!” Davina melempar ponselnya ke atas
tempat tidur.
“Apa begitu sibuknya dia hingga ia tidak sempat menemuiku,
atau memang dia sudah melupakan apa yang sudah terjadi …!” Davina tampak
gelisah, ia tidak bisa duduk dengan tenang.
“Aku harus menemuinya sebelum terlambat …, iya …, aku harus
menemuinya!”
Davina segera mandi dan mengganti bajunya. Ia melihat keluar
memastikan jika Agra sudah pergi. Setelah mobil Agra sudah tidak terlihat lagi
di halaman, Davina cepat-cepat keluar. Tapi langkahnya terhenti saat ayah Roy menyapanya.
“Nak mau kemana?”
“Davina pergi sebentar ya yah …, ada yang harus Davina
kerjakan!”
“Ya sudah …, hati-hati ya nak!” ucap ayah Roy. Davina
mencium punggung tangan ayahnya dan berpamitan.
Davina berlalu meninggalkan ayahnya, ia mengenakan helm dan
bersiap untuk segera mengeluarkan motornya. Davina mengendarai motor itu
memecah keramaian jalanan di siang hari yang cukup terik itu.
merah.
“Kenapa lampunya mesti merah sih?” gerutu davina. Ia memarahi lampu jalan itu seakan dialah biang masalahnya. “Lama lagi
…, gimana kalau nggak keburu!”
Davina terserang kecemasan yang begitu besar. Ia merasa jika
sampai terlambat pasti akan sangat sulit untuk bertemu lagi dengan pria itu.
Untunglah akhirnya lampu berubah menjadi hijau, Davina
segera memacu motornya, memecah keramaian jalanan Jakarta, ia menuju ke kantor
untuk mencari Divta, tapi di sana ia tidak menemukannya.
Kemudian Davina menuju ke ruang HRD kantor, ia menanyakan
alamat rumah Divta, untung ada data Divta di sana walaupun Davina harus
beralasan banyak. Setelah menemukan alamat rumah Divta, Davina segera memacu
motornya lagi.
Davina menuju ke rumah Divta, butuh waktu setengah jam untuk
sampai di rumah Divta, ia di sambut anak buah Divta yang berjaga di depan pintu
gerbang. Ia memarkir motornya di tepi jalan.
Davina turun dari motornya dan melepaskan helmnya,dengan
sedikit berlari ia segera menghampiri anak buah Divta.
“Permisi pak!” Davina bertanya pada salah satu dari anak
buah Divta yang berjejer lima orang itu.
“Iya?”
“Apa pak Divta nya ada?”
“Ada perlu apa dengan tuan Divta?” tanyanya dengan sedikit
menyelidiki, ia memperhatikan penampilan Davina dari atas hingga ke bawah.
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan pak Divta, penting! Bisa
ijinkan saya masuk?”
“Maaf mbak, apa sudah ada janji dengan tuan Divta?”
“Tidak …, tapi ini hal penting banget!”
“Maaf mbak, kami tidak bisa memasukkan orang asing tanpa
persetujuan dari tuan Divta!”
“Saya mohon pak, ijinkan saya masuk ….!” Davina memohon.ia
menakupkan kedua tangannya di depan wajahnya, air matanya sudah meleleh.
“Tapi tuan Divta sedang keluar mbak!” sepertinya anak buah
Divta merasa kasihan pada Davina. Davina terkejut, ia segera menghapus air
matanya.
“Apa dia sudah berangkat?”
“Belum …, beliau hanya ada urusan sebentar …, nah itu
mobilnya!”
Anak buah Divta segera membukakan pintu gerbang, mobil divta
masuk ke dalam, ternyata Divta tidak menyadari keberadaan Davina di sana.
Davina segera berlari menyusul Divta.
“Div …, divta …!”teriak Davina, membuat Divta menoleh ke
sumber suara.
“Davina!”
Divta pun turun dari dalam mobilnya begitu melihat Davina.
Ia jadi teringat dengan gadis itu, ia punya janji besar pada gadis itu.
“Davina!”
“Div …, kata kak agra , kau akan pergi lama!”
“Iya kau benar!”
“Lalu bagaimana denganku, bukankah kau sudah janji_!”
“maafkan aku …, bisakah kau menungguku hingga satu atau dua
tahun kedepan?”
“Aku tidak yakin!’
“Aku mohon …, tunggu hingga saat itu tiba, aku akan datang
melamarmu, aku mohon …, aku ahrus menyelesaikan kekacauan ini segera, aku juga
tidak mungkin membawamu, aku belum tahu bahaya apa yang akan aku temui di
sana!”
“Baiklah …, aku percaya padamu …, aku akan menunggumu sampai
satu tahun ke depan!”
Divta mengecup kening Davina dan memeluknya.
“Aku harus segera berangkat, pulanglah …!”
Davina mengangguk, ia sebenarnya berat untuk pergi, walaupun
cinta itu belum ada. Tapi dialah pemiliknya saat ini. Bahkan untuk mencari hati
lain rasanya Davina cukup malu dengan keadaannya sendiri.
Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘