MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Suapi aku



     Kini Nadin sudah di pindahkan ke


ruang perawatan. Rendi segera menyusulnya, ia melihat Nadin masih tertidur


karena pengaruh obat bius.


Pandangan Rendi


langsung tertuju pada sesosok yang terbaring di ranjang. Sosok yang biasanya


banyak bicara dan tertawa itu kini terbaring lemah dengan tangan yang sedang di


infus.


Rendi


menduukkan bokongnya di kursi di samping Nadin yang sedang terbaring lemah.


Tangannya dengan ragu mengarah hendak meraih tangan Nadin, tapi saat tangan itu


hendak menyentuhnya, pikirannya kembali pada kesadarannya, ia kembali


menjauhkan tangannya.


Rendi kembali


bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju ke sofa yang ada di ruangan itu. Ia


memilih menatap gadis itu dari jauh, entah apa yang sedang di pikirkan. Ada


rasa ingin dekat, tapi egonya memintanya untuk menjauh.


Walaupun jauh


tapi pandangannya tetap fokus pada Nadin. Ada banyak pertanyaan di benaknya.


Setelah satu


jam, tampak Nadin mulai menggerakkan badannya, Rendi pun dengan cepat berdiri


dari duduknya dan menghampiri Nadin.


Rendi mengambil


tempat duduk dan duduk di samping ranjang Nadin. Dengan tatapan dinginya, ia


melipat tangannya di depan perut sambil menyenderkan punggungnya di senderan kursi.


“Pak Rendi ...” ucap Nadin saat melihat Rendi di sampingnya setelah


membuka mata.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Rendi. rendi menatap wajah pucat di


depannya.


“Bapak masih di sini, aku senang melihat bapak di sini ...”


“Sudah diam, jangan berisik ...!” ucap Rendi sambil meletakkan jari


telunjuknya di atas bibir Nadin, membuat Nadin diam seribu bahasa. Jantungnya


bekerja lebih cepat dari biasanya.


Lama mereka saling bertatapan dalam diam. Hingga ketukan pintu


menyadarkan mereka. Seorang dokter masuk.


“Maaf menggagu ...”


“Tidak pa-pa dok, silahkan masuk.” Ucap Rendi sembari berdiri dari


duduknya dan sedikit mundur, memberi ruang pada dokter untuk memeriksa keadaan


Nadin.


“Bagaiman mbak, apa masih merasa sakit?” tanya dokter sambil


memeriksa denyut nadi Nadin.


“Tidak dok, hanya masih sedikit pusing, tapi kakiku tidak di


amputasi kan dok?”


Mendengar pertanyaan konyol Nadin, dokter tertawa.


“Anda benar-benar lucu, tidak ada yang di amputasi mbak, semua akan


baik baik saja, untung saja kekasih anda melakukan penanganan pertama yang


tepat.”


Tanpa mereka sadari ternyata Rendi tanpa sadar melengkungkan


bibirnya tipis, tanpa terasa keceriaaan Nadin menular kepada orang di


sekitaarnya.


“Kekasih...?” tanya Nadin.


“Ya ..., bukannya masnya ini kekasihnya, dia sangat perhatian


sekali dengan mbak Nadin.”


“Ya ... dokter benar, aku sih inginnya dia jadi kekasihku.” Ucap


Nadin sedikit berbisik agar hanya dokter yang bisa mendengarkannya.


“Saya do’akan mbak, semoga cepat sembuh.”


“Terimakasih dokter.”


Dokter pun berpamitan meninggalkan ruangan, kini tinggal mereka


berdua di dalam ruangan. Rendi masih tetap dengan posisinya.


“Apa kau lapar?” tanya Rendi tanpa mengubah posisinya.


“Iya ..., pak aku lapar sekali, aku sedari pagi belum makan,


bisakah aku makan sekarang?”


Dasar benyak bicara ..., Batin Rendi.


“Bagaimana pak, bisa aku makan? Apa saja?”


“Terserah kau.”


“lalu aku harus makan apa? Jika bapak menawariku seharusnya bapak


carikan makan dong pak untukku.”


Astaga ..., dia cerewet sekali, sebenarnya dia ini sakit apa tidak


sih? Batin


Rendi begitu kesal.


“Mau makan apa?”


“Aku mau sate ayam, bakso, ayam goreng krispy, kentang goreng ...”


“Stop ...!” ucapan Nadin segera di hentikan oleh Rendi.


“Tapi aku belum selesai ...” keluh Nadin.


Rendi tak memperdulikan keluhan Nadin, ia segera menganbil benda


pipih di dalam saku jasnya. Rendi melakukan panggilan dan keluar meninggalkan


ruangan. Dan tak lama ia kembali lagi ke dalam ruangan, tanpa memperdulikan


Nadin yang sudah di buat kesal. Rendi langsung mendudukkan tubuhnya di sofa dan


mengambil layar lipatnya yang entah sejak kapan ia mengambilnya, ia mulai


berkutat dengan pekerjaannya.


Nadin yang merasa di abaikan, hanya bisa pasrah. Ia kembali


merebahkan badannya, sesekali matanya mencuri pandang pada pria yang sudah


membuat hatinya terus saja bergetar saat di dekatnya.


Tiga puluh menit kemudian,  pintu kembali di ketuk.


“masuk!” ucap Rendi dan segera menaruh layar lipatnya ke atas meja.


mirip seperti bodyguard.


“Pesanan anda tuan.” Ucap pria itu dengan menunjukkan beberapa


bungkusan di tangannya.


“Taruh semuanya di atas meja!” perintah Rendi, mereka pun menarus


semua bungkusan itu di atas meja.


“Kalian boleh pergi.”


“Baik, tuan.” Mereka pun meninggalkan ruangan. Setelah anak buahnya


keluar dari ruangan, Rendi pun segera membuka semua bungkusan itu dan menatanya


di atas meja. Setelah semuanya sudah siap, Rendi menatap Nadin yang sedari tadi


memperhatikannya, tapi saat Rendi menatapnya, Nadin segera mengalihkan


pandangannya.


“Ayo bangun!” petintah Rendi saat sudah sampai di dekat tempat


tidur Nadin tanpa di sadari oleh Nadin.


“Bagaimana aku bisa bangun? Kakiku sakit.” Bantah Nadin.


“Duduklah!” Rendi kembali memberi perintah. Nadin pun mau tak mau


menuruti perintah Rendi.


Kenepa dia nggak ada manis-manisnya sih, seharusnya aku di bantu


bangun, Batin Nadin kesal sambil berusaha untuk duduk,


“Aaaahhh ....”


 tapi belum sampai duduk


sempurna, Nadin kembali di kejutkan oleh gerakan tiba-tiba Rendi. Rendi dengan


tenaga ekstranya membopong tubuh Nadin, dengan reflek Nadin mengalungkan


tangannya ke leher Rendi.


Nadin terpaku beberapa saat, jantungnya seakan berhenti berdetak.


Matanya tak mampu beralih menatap wajah tampan di depannya. Entah cinta seperti


apa yang dia rasakan. Apakah cinta ini salah? Mereka bertaut terlalu jauh,


sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Dia mencintai pria matang.


“Makanlah ...” perintah Rendi, ya tanpa sadar Rendi sudah


mendudukkan Nadin di atas sofa. Di depannya sudah banyak makanan berjejer,


sesuai dengan pesanannya tadi.


“Waaah ..., pak ini semua buatku?”



“Buat dokter.”


“Lalu buatku?”


“Jangan cerewet, cepat makan sebelum saya berubah pikiran.”


“Baiklah ....!” ucap Nadin, tapi saat hendak mengambil makanan tangannya


tertahan oleh slang infusnya. “Pak ...”


“Apa lagi ...?” tanya Rendi kesal. Nadin pun menunjukkan tangan


kanannya yang tertahan slang infus.


“aku tidak bisa makan.” Ucap Nadin, dengan mengerlingkan matanya.


Mau tak mau Rendi pun mengalah, ia menyuapkan makanan ke mulut Nadin. Walaupun


dengan berat hati, tapi Rendi tetap menyuapi Nadin dengan sangat telaten.


***


Setelah cairan infus habis, barulah dokter membolehkan Nadin


pulang, sepanjang alan pulang Nadin tak hentinya meminta Rendi untuk merahasiakan


kejadian tadi pada siapapun. Rendi mengantar Nadin hingga sampai di rumah,


karena hari sudah sangat larut, Rendi tak bisa hanya mengantar sampai di jalan.


“Aku akan turun di sini saja pak.”


“Aku akan mengantarmu sampai bertemu dengan ayahmu.”


“Tapi pak...”


“Ayo turun ...”


Mau tak mau Nadin pun hanya bisa menurut saja pada perintah Rendi.


mereka pun turun dari mobil, Rendi mengantar sampai ke dalam rumah.


“Assalamualaikum...”


“Waalaikum salam...” Ada sahutan dari dalam, itu suara Roy. Pintu


pun terbuka, Roy sudah menatap Nadin dengan wajah marahnya. Ya jam sudah


menunjukkan pukul sebelas malam. Lalu tatapan Roy beralih pada pria di sampin


putrinya, kini matanya tampak bertanya-tanya.


“Nak Rendi?”


“Maaf pak Roy, saya mengantar putri anda terlambat.”


“Masuklah dulu, kita bicara di dalam.” Perintah Roy, Nadin dan


Rendi pun mengikutinya. Mereka duduk di ruang tamu.


“Bagaimana putri saya bisa bersama nak Rendi?” tanya Roy.


“Tadi tanpa sengaja terjadi kecelakaan, jadi putri anda harus


mengalami perawatan sedikit di klinik.”


Dasar ..., dia memang nggak bisa di ajak kompromi, sudah ku bilang


jangan bilang malah dia bilang, Batin Nadin, sambil memelototkan matanya menatap Rendi, Rendi yang


di pelototi tak berpengaruh.


“Kecelakaan?” tanya Roy.


“Ya .., saat di taman, putri pak Roy bernain di semak dan kakinya


terpatok ular.”


“Astaga Nadin..., kamu itu sudah besar, masih saja seperti anak


kecil.” Ucap Roy sambil menatap pada Nadinb. “Maafkah putri saya karena sudah


menyusahkan nak Rendi.”


“Tidak pa-pa pak, kalau begitu saya permisi.”


Rendi pun berpamitan dan segera  meninggalkan rumah Nadin karena malam sudah


semakin larut.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘**