
Kini Nadin sudah di pindahkan ke
ruang perawatan. Rendi segera menyusulnya, ia melihat Nadin masih tertidur
karena pengaruh obat bius.
Pandangan Rendi
langsung tertuju pada sesosok yang terbaring di ranjang. Sosok yang biasanya
banyak bicara dan tertawa itu kini terbaring lemah dengan tangan yang sedang di
infus.
Rendi
menduukkan bokongnya di kursi di samping Nadin yang sedang terbaring lemah.
Tangannya dengan ragu mengarah hendak meraih tangan Nadin, tapi saat tangan itu
hendak menyentuhnya, pikirannya kembali pada kesadarannya, ia kembali
menjauhkan tangannya.
Rendi kembali
bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju ke sofa yang ada di ruangan itu. Ia
memilih menatap gadis itu dari jauh, entah apa yang sedang di pikirkan. Ada
rasa ingin dekat, tapi egonya memintanya untuk menjauh.
Walaupun jauh
tapi pandangannya tetap fokus pada Nadin. Ada banyak pertanyaan di benaknya.
Setelah satu
jam, tampak Nadin mulai menggerakkan badannya, Rendi pun dengan cepat berdiri
dari duduknya dan menghampiri Nadin.
Rendi mengambil
tempat duduk dan duduk di samping ranjang Nadin. Dengan tatapan dinginya, ia
melipat tangannya di depan perut sambil menyenderkan punggungnya di senderan kursi.
“Pak Rendi ...” ucap Nadin saat melihat Rendi di sampingnya setelah
membuka mata.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Rendi. rendi menatap wajah pucat di
depannya.
“Bapak masih di sini, aku senang melihat bapak di sini ...”
“Sudah diam, jangan berisik ...!” ucap Rendi sambil meletakkan jari
telunjuknya di atas bibir Nadin, membuat Nadin diam seribu bahasa. Jantungnya
bekerja lebih cepat dari biasanya.
Lama mereka saling bertatapan dalam diam. Hingga ketukan pintu
menyadarkan mereka. Seorang dokter masuk.
“Maaf menggagu ...”
“Tidak pa-pa dok, silahkan masuk.” Ucap Rendi sembari berdiri dari
duduknya dan sedikit mundur, memberi ruang pada dokter untuk memeriksa keadaan
Nadin.
“Bagaiman mbak, apa masih merasa sakit?” tanya dokter sambil
memeriksa denyut nadi Nadin.
“Tidak dok, hanya masih sedikit pusing, tapi kakiku tidak di
amputasi kan dok?”
Mendengar pertanyaan konyol Nadin, dokter tertawa.
“Anda benar-benar lucu, tidak ada yang di amputasi mbak, semua akan
baik baik saja, untung saja kekasih anda melakukan penanganan pertama yang
tepat.”
Tanpa mereka sadari ternyata Rendi tanpa sadar melengkungkan
bibirnya tipis, tanpa terasa keceriaaan Nadin menular kepada orang di
sekitaarnya.
“Kekasih...?” tanya Nadin.
“Ya ..., bukannya masnya ini kekasihnya, dia sangat perhatian
sekali dengan mbak Nadin.”
“Ya ... dokter benar, aku sih inginnya dia jadi kekasihku.” Ucap
Nadin sedikit berbisik agar hanya dokter yang bisa mendengarkannya.
“Saya do’akan mbak, semoga cepat sembuh.”
“Terimakasih dokter.”
Dokter pun berpamitan meninggalkan ruangan, kini tinggal mereka
berdua di dalam ruangan. Rendi masih tetap dengan posisinya.
“Apa kau lapar?” tanya Rendi tanpa mengubah posisinya.
“Iya ..., pak aku lapar sekali, aku sedari pagi belum makan,
bisakah aku makan sekarang?”
Dasar benyak bicara ..., Batin Rendi.
“Bagaimana pak, bisa aku makan? Apa saja?”
“Terserah kau.”
“lalu aku harus makan apa? Jika bapak menawariku seharusnya bapak
carikan makan dong pak untukku.”
Astaga ..., dia cerewet sekali, sebenarnya dia ini sakit apa tidak
sih? Batin
Rendi begitu kesal.
“Mau makan apa?”
“Aku mau sate ayam, bakso, ayam goreng krispy, kentang goreng ...”
“Stop ...!” ucapan Nadin segera di hentikan oleh Rendi.
“Tapi aku belum selesai ...” keluh Nadin.
Rendi tak memperdulikan keluhan Nadin, ia segera menganbil benda
pipih di dalam saku jasnya. Rendi melakukan panggilan dan keluar meninggalkan
ruangan. Dan tak lama ia kembali lagi ke dalam ruangan, tanpa memperdulikan
Nadin yang sudah di buat kesal. Rendi langsung mendudukkan tubuhnya di sofa dan
mengambil layar lipatnya yang entah sejak kapan ia mengambilnya, ia mulai
berkutat dengan pekerjaannya.
Nadin yang merasa di abaikan, hanya bisa pasrah. Ia kembali
merebahkan badannya, sesekali matanya mencuri pandang pada pria yang sudah
membuat hatinya terus saja bergetar saat di dekatnya.
Tiga puluh menit kemudian, pintu kembali di ketuk.
“masuk!” ucap Rendi dan segera menaruh layar lipatnya ke atas meja.
mirip seperti bodyguard.
“Pesanan anda tuan.” Ucap pria itu dengan menunjukkan beberapa
bungkusan di tangannya.
“Taruh semuanya di atas meja!” perintah Rendi, mereka pun menarus
semua bungkusan itu di atas meja.
“Kalian boleh pergi.”
“Baik, tuan.” Mereka pun meninggalkan ruangan. Setelah anak buahnya
keluar dari ruangan, Rendi pun segera membuka semua bungkusan itu dan menatanya
di atas meja. Setelah semuanya sudah siap, Rendi menatap Nadin yang sedari tadi
memperhatikannya, tapi saat Rendi menatapnya, Nadin segera mengalihkan
pandangannya.
“Ayo bangun!” petintah Rendi saat sudah sampai di dekat tempat
tidur Nadin tanpa di sadari oleh Nadin.
“Bagaimana aku bisa bangun? Kakiku sakit.” Bantah Nadin.
“Duduklah!” Rendi kembali memberi perintah. Nadin pun mau tak mau
menuruti perintah Rendi.
Kenepa dia nggak ada manis-manisnya sih, seharusnya aku di bantu
bangun, Batin Nadin kesal sambil berusaha untuk duduk,
“Aaaahhh ....”
tapi belum sampai duduk
sempurna, Nadin kembali di kejutkan oleh gerakan tiba-tiba Rendi. Rendi dengan
tenaga ekstranya membopong tubuh Nadin, dengan reflek Nadin mengalungkan
tangannya ke leher Rendi.
Nadin terpaku beberapa saat, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Matanya tak mampu beralih menatap wajah tampan di depannya. Entah cinta seperti
apa yang dia rasakan. Apakah cinta ini salah? Mereka bertaut terlalu jauh,
sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Dia mencintai pria matang.
“Makanlah ...” perintah Rendi, ya tanpa sadar Rendi sudah
mendudukkan Nadin di atas sofa. Di depannya sudah banyak makanan berjejer,
sesuai dengan pesanannya tadi.
“Waaah ..., pak ini semua buatku?”
“Buat dokter.”
“Lalu buatku?”
“Jangan cerewet, cepat makan sebelum saya berubah pikiran.”
“Baiklah ....!” ucap Nadin, tapi saat hendak mengambil makanan tangannya
tertahan oleh slang infusnya. “Pak ...”
“Apa lagi ...?” tanya Rendi kesal. Nadin pun menunjukkan tangan
kanannya yang tertahan slang infus.
“aku tidak bisa makan.” Ucap Nadin, dengan mengerlingkan matanya.
Mau tak mau Rendi pun mengalah, ia menyuapkan makanan ke mulut Nadin. Walaupun
dengan berat hati, tapi Rendi tetap menyuapi Nadin dengan sangat telaten.
***
Setelah cairan infus habis, barulah dokter membolehkan Nadin
pulang, sepanjang alan pulang Nadin tak hentinya meminta Rendi untuk merahasiakan
kejadian tadi pada siapapun. Rendi mengantar Nadin hingga sampai di rumah,
karena hari sudah sangat larut, Rendi tak bisa hanya mengantar sampai di jalan.
“Aku akan turun di sini saja pak.”
“Aku akan mengantarmu sampai bertemu dengan ayahmu.”
“Tapi pak...”
“Ayo turun ...”
Mau tak mau Nadin pun hanya bisa menurut saja pada perintah Rendi.
mereka pun turun dari mobil, Rendi mengantar sampai ke dalam rumah.
“Assalamualaikum...”
“Waalaikum salam...” Ada sahutan dari dalam, itu suara Roy. Pintu
pun terbuka, Roy sudah menatap Nadin dengan wajah marahnya. Ya jam sudah
menunjukkan pukul sebelas malam. Lalu tatapan Roy beralih pada pria di sampin
putrinya, kini matanya tampak bertanya-tanya.
“Nak Rendi?”
“Maaf pak Roy, saya mengantar putri anda terlambat.”
“Masuklah dulu, kita bicara di dalam.” Perintah Roy, Nadin dan
Rendi pun mengikutinya. Mereka duduk di ruang tamu.
“Bagaimana putri saya bisa bersama nak Rendi?” tanya Roy.
“Tadi tanpa sengaja terjadi kecelakaan, jadi putri anda harus
mengalami perawatan sedikit di klinik.”
Dasar ..., dia memang nggak bisa di ajak kompromi, sudah ku bilang
jangan bilang malah dia bilang, Batin Nadin, sambil memelototkan matanya menatap Rendi, Rendi yang
di pelototi tak berpengaruh.
“Kecelakaan?” tanya Roy.
“Ya .., saat di taman, putri pak Roy bernain di semak dan kakinya
terpatok ular.”
“Astaga Nadin..., kamu itu sudah besar, masih saja seperti anak
kecil.” Ucap Roy sambil menatap pada Nadinb. “Maafkah putri saya karena sudah
menyusahkan nak Rendi.”
“Tidak pa-pa pak, kalau begitu saya permisi.”
Rendi pun berpamitan dan segera meninggalkan rumah Nadin karena malam sudah
semakin larut.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya
Terimakasih
Happy Reading 😘😘😘😘😘**