
Nadin kembali tidur dan memunggungi Rendi, Rendi pun menyerah, ia memilih tidur di sampingnya, menatap punggung istri kecilnya itu.
Kenapa jadi dia yang marah padaku? Apa yang salah dengan ucapan ku? Cewek memang susah di mengerti.
Rendi hanya bisa menatap punggung itu, ia enggan untuk bertanya kembali, terlihat jika nafas Nadin sudah beraturan menandakan kalau dia sudah tidur.
"Baiklah ...., kita bicara lagi besok!"
Pagi ini mentari bersinar begitu cerah, udara hangat mulai menembus dinding-dinding tebal yang menjulang tinggi itu, di bawah sana manusia berlalu lalang untuk memulai aktifitas, ada senyum bahagia untuk memulai pekerjaan yang akan mereka lalui sepanjang hari.
Tapi di atas di tempat Rendi dan Nadin terlihat begitu suram, ternyata si gadis cerewet itu sedang mendiamkan suaminya. Sebelum-sebelumnya bersikap diam adalah keahlian Rendi tapi jika yang diam menjadi terbalik bukankah keadaannya menjadi aneh.
Nadin sibuk dengan kegiatannya di pagi hari, ia mengepel lantai, menyapu, mengelap perabotan hanya demi menghindari berbicara dengan suaminya.
Rendi yang sedari tadi hanya mengikuti gerak Nadin dari sofa bingung harus memulainya dari mana untuk bertanya.
"Aku sudah masak untuk kita, bisa kita sarapan sekarang!" ucap Rendi untuk mengambil perhatian Nadin.
"Hemmm!" Nadin tak menolak tapi juga tak menjawab iya, tapi ia juga menuju ke meja makan untuk memulai makan. Rendi pun hanya bisa pasrah mengikuti Nadin dan duduk berseberangan dengan Nadin.
Enak juga masakannya, tapi sayang orangnya nyebelin ....
Nadin tak mau dengan mudah memaafkan, enak saja sudah nuduh nuduh macam macam sama cowok lain, emang Nadin cewek apaan.
Setelah selesai makan, tanpa menunggu Rendi, Nadin pun langsung beranjak dari duduknya dan membawa piring kotornya ke dapur, Rendi yang kesal segera mengikuti di belakang.
Nadin sibuk mencuci piring, tapi pria es itu sepertinya bingung harus bicara apa dan bagaimana. Nadin dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya, mengelap tangannya yang basah dan berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.
"Hehh." Rendi hanya bisa menghela nafasnya karena Nadin mengacuhkannya. Ia terbiasa dengan kelakuan Nadin yang selalu meminta perhatiannya tapi sekarang gadis itu sedang marah dan tidak memperdulikannya, rasanya ada yang aneh.
Hingga siang hari Nadin masih bersikap sama, hal itu tentu sangat menggangu pikiran Rendi. Tapi bukankah seharusnya Rendi senang karena tidak ada yang mengganggunya, tapi kenapa sekarang malah kebalikannya.
Ingat Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia. Benci boleh tapi jangan terlalu benci, cinta pun boleh tapi jangan terlalu ...
krik
krik
krik
Di ruangan yang di huni oleh dua orang itu terlihat sepi, tak ada kata yang keluar, suara jangkrik pun malas untuk muncul takut kena semprot.
"Hehhh." lagi-lagi Rendi menghela nafas.
Ini tidak bisa di biarkan, aku harus bicara padanya.
"Sampai kapan mau marah sama saya?" tanya Rendi yang terkesan kaku, memang sejak kapan dia lebih relaks?
Krik
Krik
Krik
Tak ada jawaban dari gadis yang sedang asik dengan bukunya, tapi sepertinya dia juga bukan sedang memperhatikan bukunya, bukunya hanya di gunakan untuk tameng agar pria dingin itu tidak menyadari saja kalau dia sedang memperhatikan pria itu dari balik buku.
Rendi begitu kesal, ia mulai kesal, gusar, kesabarannya mulai menipis, wajah tenangnya mulai kabur, sejak kapan itu, dia jadi orang tidak sabaran.
Srekkk
Rendi menarik tangan Nadin dengan kasar hingga Nadin kini hanya bisa memperhatikan wajahnya,
"Mau sampai kapan kau akan marah padaku?" tanya Rendi lagi begitu dalam. Ia begitu dekat, hingga nafasnya menyapu wajah Nadin membuat Nadin menutup matanya.
"Tatap aku, dan katakan apa salahku!" ucap Rendi lagi sambil menarik tangan Nadin lebih keras lagi hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.
"Sakiiit ....., kau menyakitiku!" keluh Nadin dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
"Aku tidak akan kasar jika kau mau menjawab pertanyaanku!"
Nadin begitu kesal, ia mengibaskan tangannya agar terlepas dari cengkeraman Rendi.
"AKU TERSINGGUNG ...., YA AKU SANGAT TERSINGGUNG!" teriak Nadin setelah bisa melepaskan diri dari Rendi.
"Tersinggung kenapa?" tanya Rendi dengan nada tak bersalahnya, wajahnya gitu-gitu aja nggak ada gregetnya gimana gitu, padahal Nadin udah drama banget nih.
Heh ...., padahal aku sudah menggebu-gebu ...., kenapa dia polos banget, sebenarnya yang polos itu aku apa dia sih?
Nadin hanya bisa mengelus dadanya, ia menghapus air matanya, rasanya percuma marah pada pria dingin di depannya, menguras tenaga saja, dia nggak akan peka.
"Hehhh ......, dengarkan aku baik-baik sekarang!" Nadin pun duduk, tangisnya yang menggebu-gebu tadi seketika menghilang saat melihat wajah tak bersalah dari Rendi, ia memilih berada di mode tenang saja.
Rendi yang heran dengan tingkah Nadin, ia pun ikut duduk di samping Nadin dan bersiap untuk mendengarkan.
"Pernah berteman dengan perempuan?" tanya Nadin.
"Jangan muter-muter ngomongnya!" ucap Rendi malas untuk menjawab, bagaimana mau punya teman perempuan, teman laki-laki saja bisa di hitung pakek jari, hidupnya selama ini ia habiskan untuk hal-hal serius sampai ia lupa untuk ber say hello sekedar cari teman nongkrong. Jelas berbeda dengan Frans ataupun Agra. Rendi hanya akan memastikan Agra baik-baik saja bersamanya dan memastikan orang-orang yang berada di dekat Agra juga baik, mana mungkin memikirkan dirinya sendiri, mereka yang mau mendekat hanya akan lewat saja.
"Tapi kalau di lihat dari sikapmu, kayaknya nggak pernah sih!"
"Jangan meledekku!"
"Aku tidak meledek, sekarang katakan yang jujur, pernah berhubungan dengan wanita apa tidak, maksudku mengenal wanita dalam waktu yang lama!"
"Pernah!"
Hah ....pernah? dia punya mantan kekasih, aku tak percaya .....
"Kenapa malah menatapku seperti itu?" tanya Rendi heran dengan tatapan Nadin yang terlihat tak terduga, tak bisa di baca.
"Siapa wanita itu?" tanya Nadin menggebu, ia harus tahu siapa wanita yang sudah berhasil menaklukkan hati si pria es ini selain kakaknya, asal jangan bilang jika wanita itu kakaknya, kalau sampai itu terjadi ia berjanji tidak akan mau di ajak bicara lagi selama satu bulan, tidak satu Minggu, tidak ....., mana bisa .... satu hari saja harus di lalui dengan sangat berat tanpa bicara dengan pria dingin itu.
"Viona!" ucap Rendi biasa saja. Tapi jelas respon Nadin berbeda 180 derajat.
"Hah ...., jadi kau selama ini berpacaran dengan Viona , jahat sekali sih ....!" ucap Nadin sambil memukuli dada Rendi dengan kedua tangannya yang mengepal.
Srekkkk
Lagi-lagi tangan Nadin berhasil di tarik oleh Rendi, membuat pukulan yang di lakukan Nadin terhenti.
"Diam dan dengarkan aku sekarang, kau sudah terlalu banyak bicara tadi!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘