
Hari ini Nadin dan Davina datang ke kantor Agra, mereka menngendarai cerry. Mereka membawa surat utusan magang dari kampus.
Nadin segera memarkir motornya di parkiran kantor, halaman parkir itu begitu luas dengan puluhan motor dan mobil yang terparkir di sana.
"Kak Davina yakin mau magang di tempat yang sama denganku?" tanya Nadin setelah turun dari motornya. Ia menaruh helmnya di kaca spion dan merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena terpaan angin.
"Menurutmu ....?" tanya Davina sambil memicingkan matanya. "Aku sangat yakin ...., aku akan menjauhkanmu dari kak Rendi ...." ucap Davina dengan senyum yang menyeringai.
"Ya ...., Nadin tunggu ...!" ucap Nadin sambil berlalu meninggalkan Davina.
Berani sekali dia padaku ...., dia benar-benar tak sepolos kelihatannya, aku harus lebih hati-hati lagi ...., aku akan mencari cara lain untuk menjatuhkan si centil itu ....!
Davina benar-benar kesal dengan tingkah Nadin yang terkesan tak punya rasa takut dengannya, walaupun dia sudah mengamcamnya dengan berbagai cara.
*Kak Davina tidak tahu saja ...., adik tirimu ini sudah berpacaran dengan pak Rendi ...., jika dia tahu pasti sudah menangis darah ....
Sekarang sudah bukan jamannya adik tiri di tindas oleh kakak tiri ..., aku akan mengganti alur cerita bawang merah bawang putih, atau cerita Cinderella ..., tak ada yang namanya penindasan saudara tiri* ....
Nadin terus tersenyum sepanjang perjalanan. Di depan gedung itu salain scurity juga ada dua bodyguard bertubuh tegap dengan pakalian serba hitamnya sudah berdiri di depan pintu masuk.
"Mau kemana nona?" tanya salah satu pria itu.
"Saya mau ketemu HRD, sudah ada rekomendasi dari Pak Agra." ucap Nadin.
"Baik ..., silahkan masuk ...!" akhirnya pria berjas hitam itu mempersilahkan Nadin untuk masuk. Nadin pun berjalan menuju ke lobby, ia menghampiri resepsionis deng tag nama di dadanya Octa.
"Permisi mbak!" sapa Nadin dengan gaya centilnya.
"Iya ...., ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita bernama Octa itu.
"Bisakah saya bertemu dengan mbak Tami, dari Divisi HRD?"
"Baik .... akan saya hubungkan dulu dengan beliau ..., silahkan menunggu di tempat yang di sediakan."
Nadin pun kemudian duduk di kursi besi panjang yang ada di sana sambil menunggu wanita bernama Octa itu selesai melakukan panggilan.
Davina yang baru masuk, melihat Nadin yang sedang duduk, mau tak mau ia pun ikut duduk. setelah menunggu lima menit akhirnya Nadin kembali di panggil.
"Andan di tunggu di ruangannya, silahkan menuju ke lantai empat nomor 12 sebelah kiri." ucap resepsionis cantik itu. Penampilannya begitu cantik walaupun tampak usianya sudah empat puluhan.
"Baik ...., terimakasih mbak ...!"
"Sama-sama ...!"
Nadin pun tersenyum pada wanita itu, kemudia ia menoleh pada Davina yang sudah bangun dari duduknya.
"Jadi kak Davina mau barengan sama aku?" tanya Nadin. "Kak Davina nggak gengsi kan ...., kalau kakak gengsi kakak bisa duluan, mbak Tami ada di lantai empat ruang 12 sebelah kiri." ucap Nadin.
"Memang kamu mau ke mana?" tanya Davina penasaran.
"Bukan urusan kakak kan? ya udah ini kuncinya, nanti kakak bisa membawa pulang cerry setelah urusan kakak selesai ...!"
Nadin pun menyerahkan kunci motornya pada Davina, kemudian ia pun berjalan keluar dari dalam geeung meninggalkan Davina yang masih termenung di tempatnya.
"Mau ke mana si centil itu ...? Apa dia tidak jadi magang di sini? terserahlah ...., aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Masa bodoh pada si Nadin."
Davina pun memasukkan kunci motornya dan menuju ke ruangan yang di tunjuk oleh Nadin. Ia berharap bisa bertemu dengan Rendi di tempat itu. Tapi harapannya tak terwujud, jelas saja ruangan yang di tuju oleh Davina berada di lantai empat, sedang ruangan Rendi berada di lantai dua puluh.
Davina pun segera melakukan urusannya, ia menyerahkan surat utusan magang dari kampus.
"Baik ..., nanti pihak perusahaan akan mengabari lagi."
"Terimakasih bu ....!"
Davina pun berpamitan setelah selesai dengan urusannya. Ia tak peduli dengan Nadin. ia kembali ke parkiran dan segera meninggalkan perusahaan.
Nadin yang kembali keluar dari gedung bertingkat itu, ia hanya untuk mencari makanan untuk Rendi. Ia mencari makanan yang di jual di pinggir jalan karena satu jam lagi sudah waktunya makan siang.
Mudah-mudahan pak Rendi suka ...., ini adalah pertemuan pertamaku serelah kita resmi berpacaran ...., semangat tiga bulan ini aku harus bisa .....
Nadin pun menenteng beberapa bungkus makanan. Ia kembali ke dalam gedung itu, ia bertanya pada resepsionis kembali.
"Mbak ...., saya yang tadi. Karena kata mbak Tami saya di suruh mengantarkan makanan ini ke ruangan pak Rendi. Kalau boleh tahu di lantai berapa ya mbak?" tanya Nadin sambil menunjukkan bungkusan makanan itu. Ia membuat alasan supaya di perbolehkan untuk masuk.
"Pak Rendi tangan kanan pak Agra?" tanya wanita itu ragu. Ia masih belum mempercayai ucapan Nadin.
"Iya mbak ...., saya nggak bohong kok, kalau nggak percaya mbak bisa telpon langsung pada pak Rendi. Katakan jika Nadin ingin mengantar makanan."
"Baiklah saya percaya ....., silahkan anda naik ke lantai dua puluh.
"Terimakasih mbak ....!"
Nadin pun dengan langkah cepat menuju ke pintu lift. Ia memencet tombol dua puluh, dan tak butuh waktu lama pintu lift terbuka. Nadin pun segera masuk ke dalam lift.
Lift pun tampak beberapa kali terbuka di beberapa lantai, banyak karyawan di sana yang keluar masuk ke dalam lift. Nadin beberapa kali menjadi pusat perhatian karena di anggap salah memilih lantai. Bagi karyawan biasa lantai dua puluh dan dua puluh satu adalah lantai yang palong di hindari oleh mereka.
Akhirnya Nadin sampai juga di lantai dua puluh. Di sana ia melihat ada seorang wanita yang berpenampilan sangat rapi, cantik dan modis.
Waah ...., sekertaris pak Rendi aja modelnya kayak gini ...., bakal susah nih bikin pak Rendi jatuh cinta dengan penampilanku ini ...., tak ada yang menarik di diriku.
Nadin pun membetulkan penampilannya. Ia menatik nafas dalam menghilangkan kegugupannya. Ia juga harus menyiapkan alasan yang tepat untuk kali ini supaya di perbolehkan bertemu dengan Rendi.
Nadin pun berjalan mendekati meja sekertaris itu. Tanpak wanita itu sedang sibuk dengan buku yang ada di atas meja.
"Bu ...!"
"Iya?" wanita itu segera mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Nadin.
"Saya Nadin, saya ingin bertemu dengan pak Rendi." ucap Nadin.
"Apa anda sudah membuat janji?"
"Janji ...?"
"Iya janji ...!"
"Tidak, tapi saya ingin mengantarkan makanan untuk pak Rendi." ucap Nadin sambil menunjukkan bungkusan makanannya.
"Maaf tapi pak Rendi tidak bisa di temui jika anda tidak membuat janji terlebih dulu..., jadi anda bisa kembali lagi besok setelahembuat janji."
"Tapi bu ...., ini bagaimana dengan makanannya? Bagaimana kalau mbak kasih tahu pak Rendi dulu. Siapa tahu jika pak Rendi mau menemuiku."
"Maaf tapi pak Rendinya sedang ada meeting
Jadi tidak boleh di ganggu."
"Ya udah bagaimana kalau saya menunggu di sini ....!"
"Tapi mbak .....!"
"Nggak pa pa aku akan menunggunya, aku janji tidak akan mengganggu pekerjaan bu ...., Vina." ucap Nadin ngotot sambil melihat tag na di meja Vina.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak ......
Happy Reading 😘😘😘😘😘😘😘😘😘**