
Krukuk krukuk krukuk
Perut Nadin berbunyi minta di isi, Nadin pun memegangi perutnya yang terasa lapar. Hal itu berhasil membuat Rendi melengkungkan senyumnya.
"Aku lapar sekali!" keluh Nadin sambil memegangi perutnya yang sudah berteriak-teriak minta di isi. Rendi yang melihat tingkah Nadin hanya bisa mendengus kesal.
"Baiklah aku akan makan sendiri, lagian kan memang ini rumahku!" gerutu Nadin sambil turun dari tempat tidur.
Ini masih rumah ku ....
Ingin sekali Rendi berteriak seperti itu, dia yang tidak terbiasa dengan adanya orang lain di rumahnya hanya bisa memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Rumah yang biasanya sepi, tak ada suara dan hanya ada dirinya kalau kini harus di penuhi dengan segala, keluhan, celotehan dan kebawelan Nadin.
Nadin segera menuju ke dapur, tak peduli lagi dengan pria yang sekarang menjadi suaminya itu, entah dia sudah makan atau belum, yang ia tahu sekarang cacing-cacing di perutnya sudah minta di beri makan sebelum memakan lambungnya.
Rendi yang sudah bisa menguasai dirinya sendiri segera menyusul Nadin, ia tidak mau dapurnya di buat kacau oleh ulah Nadin, terakhir kali Nadin ke tempatnya, hanya untuk membuat telur rebus saja, dapurnya sudah seperti kapal pecah.
Ia berdiri di ambang pintu, memperhatikan apa yang di lakukan Nadin di dapurnya, dapur yang selalu terlihat bersih itu pasti akan kacau kalau ada Nadin.
Nadin ke sana kemari untuk mencari sesuatu, segala hal tertutup di buka semua, lemari pendingin, lemari gantung, rak piring, tapi tak juga menemukan apa yang di cari, apalagi kalau bukan makanan.
Kenapa tidak ada apapun di sini?
Nadin terus melancarkan pencarian, dan akhirnya menyerah, ia berhenti menatap lemas pada pria dingin yang sedang bersender di tepian pintu.
"Apa tidak ada apa-apa di sini?" tanya Nadin.
"Itu di kulkas!" ucap Rendi sambil matanya menunjuk ke arah lemari pendingin, sedang tangannya masih ia sakukan di saku celana.
Nadin menatap lemari pendingin itu, sudah beberapa kali ia memastikan tempat itu, tapi tidak ada apapun di sana.
Tapi sepertinya ia meragukan matanya, ia kembali ke lemari pendingin itu, dan memastikan ulang, siapa tahu jika sedang lapar matanya juga tidak bisa melihat dengan jelas.
Setelah memastikan ulang, satu detik, dua detik, tiga detik.
Zonk
Nadin menutup kembali dengan lebih keras sekarang, membuat Rendi menatapnya tajam. "Kau ingin merusaknya?"
"Aku lapar, dan kau mempermainkan ku!" keluh Nadin dengan wajah melasnya.
Rendi mengerutkan keningnya. "Mempermainkan?"
"Iya ...., kau bilang ada makanan di sini, tapi aku sudah memastikannya beberapa kali, tapi aku tidak menemukan satu makanan pun di sini, bahkan hanya untuk sepotong roti atau biskuit pun tidak ada, apa aku harus meminum air dingin ini, untuk mengganjal perutku yang lapar!" kali ini Nadin benar-benar mengeluarkan jurus pamungkasnya, cerewetnya yang sudah lama menghilang kembali muncul.
Rendi hanya menggeleng. Ia segera berjalan menghampiri Nadin, bukan. Tapi ia menghampiri lemari pendingin itu dan membukanya, ia mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Lihat ...., ini ...., ini ....., ini ....., ini ....!" Rendi mengeluarkan satu persatu bahan makanan yang ada di dalam sana, ada daging setengah jadi, wortel, sawi, tomat, telur, sosis, selada dan masih banyak lagi hingga membuat meja itu penuh dengan bahan makanan.
Nadin hanya bisa mengerutkan keningnya, mulutnya sudah komat-kamit ingin sekali mengumpat tapi takut dosa. Ia menghembuskan nafasnya kasar, "Tapi ini semua bukan makanan, aku bukan kambing yang bisa makan daun-daunan, aku juga bukan kelinci yang bisa makan wortel, tapi memang sesekali aku memakannya mentah, tapi itu cuma sesekali .....!" ucapnya berusaha meralat beberapa ucapannya yang terlanjur keluar.
Rendi yang gemas dengan tingkah polos istrinya itu, segera mengambil sebuah wortel dan memukulkan ke kening Nadin. "Tapi semua ini akan jadi makanan!"
"Aku harus masak dulu?" tanya Nadin tak percaya.
Rendi mengangguk. "Bisa kan?"
"Kenapa? Bisa kan?" tanya Rendi lagi yang melihat Nadin hanya diam di tempatnya tanpa menyahuti kata-katanya.
"Bi-bisa ...., bisa ...., aku bisa ....!" jawab Nadin dengan tergagap, ia tidak mau terlihat bodoh-bodoh amat di depan suami super kerennya itu.
"Baguslah ....!" ucap Rendi, ia segera duduk di depan meja, memperhatikan Nadin yang akan memasak.
Kenapa duduk? Biasanya kalau di novel-novel yang aku baca, kalau istrinya masak, suaminya akan meluk dari belakang ....
"Nggak bantuin?"
"Katanya bisa?" jawab Rendi dengan entengnya, tak tahu apa yang sedang di pikirkan istri kecilnya itu.
"Bisa ...!" jawab Nadin mantap.
Dasar balok es nggak peka ....!
Nadin begitu bingung harus memulainya dari mana, sendiri saja sudah berat, apalagi sekarang ada yang mengawasinya, membuatnya bertambah grogi.
Akhirnya Nadin mengambil wortel dan memotong-motong nya kecil-kecil, kemudian mengambil sebutir telur dan sebuah mangkuk kecil. Tapi rasa bingungnya kembali melanda, ia menatap telur itu membolak-balik nya.
Ini bagaimana cara mecahinnya ...., ibu ....., bantu aku ....
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Rendi yang melihat wajah bingung di wajah istrinya itu.
Nadin menggeleng cepat. "Enggak ....!"
Lucu sekali dia kalau sedang bingung ....
Rendi melengkungkan senyumnya samar, hingga nyaris tak terlihat.
Nadin hanya bisa menampakkan senyum masamnya pada pria dingin itu, untung ia pernah melihat ibu Dewi melakukan ini, ia mengambil sebuah sendok, ia letakkan telur itu di atas meja dan dengan kekuatan penuh memukul telur itu dengan sendok yang ada di tangannya.
Gubyak ....., pyar .....
Ambyar sudah ....., bukan masuk ke dalam mangkuk, telur malah memenuhi seluruh meja, membuat Rendi harus mengangkat tangannya agar tidak terkena pecahan telur.
Ya ampun ...., apa yang dia lakukan ....
Ingin sekali marah, tapi terlihat ia begitu menahannya, istri kecilnya itu benar-benar membuat dapurnya berantakan. Rasa marahnya segera hilang saat melihat tatapan Nadin, persis seperti anak kucing yang meminta di kasihani.
"Maafkan aku ....!"
Kenapa dia polos sekali, bagaimana aku bisa marah padanya ....
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘**