
Setelah hari itu, Rendi semakin sering pulang
terlambat. Tentu hal itu semakin membuat hati Nadin tidak tenang. Tidak mungkin
bertanya langsung dengan suaminya, ia takut jika pertanyaannya akan menyinggung
perasaan suaminya.
Beberapa hari ini Rendi semakin membuatnya curiga,
kadang dia tiba-tiba pergi setelah mendapatkan telpon atau berangkat lebih pagi dari biasanya.
“Tokki, aku berangkat dulu ya, ada yang harus aku kerjakan pagi ini!” pamit Rendi, ia memeluk dan mengecup bibir istrinya.
“Tapi mas, ini masih pagi sekali, masih setengah enam!” protes Nadin.
“Nanti aku usahakan pulang cepat!”
Rendi keluar dari apartemen dengan sangat
tergesa-gesa. Ternyata Davina memanggilnya karena ia mengalami pendarahan,
membuat Rendi segera melarikan Davina ke rumah sakit.
Hal seperti ini sering terjadi pada Davina selama masa kehamilannya, itulah kenapa Davina melarang keras Rendi memberitahukan kepada siapapun, banyak pemikiran yang coba ia putuskan sendiri, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya,
memikirkan masa depan bayinya, kecemasan yang berlebih hal hal itu yang memicu Davina sering mengalami
pendarahan karena stress yang berlebih, lagi-lagi Rendi yang menjadi sasaran
kemarahan dokter karena telah membiarkan Davina stress.
“Ini bukan salah suami saya dok, ini karena saya sendiri!” walaupun terus membela Rendi, tak ada gunanya, sambil melawan sakitnya ia terus menarik tangan Rendi seperti hendak meminta perlindungan darinya.
Untung saja pendarahan itu dapat di atasi dan tidak menjadikan penyebab lahir prematur. Davina mengalami banyak masalah dalam
kehamilannya. Keadaannya juga membuatnya sering mengalami penurunan kesadaran,
hingga Rendi harus menyewa seorang perawat untuk Davina. Saat dalam keadaan
yang sangat lemah, maka merawat akan segera menghubungi Rendi.
“terimakasih, karena telah merawat ku, dan maaf karena aku memintamu untuk terus berbohong, hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini, aku tidak mau semuanya menjadi kacau karena kau mengatakan semua ini pada Nadin atau pada Divta. Maaf jika aku telah banyak menyusahkan mu!” ucap Davina, Rendi hanya bisa mengangguk.
"Jangan pikirkan apapun, pikirkan kesehatanmu dan bayimu!"
"Jika nanti sudah waktunya, aku akan membantu menjelaskannya pada Nadin, dia gadis baik, bahkan sangat baik!"
Rendi menutup tubuh Davina dengan selimut hingga sampai di perutnya yang sudah sangat besar.
“Aku akan pulang, hubungi aku atau Ajun jika ada sesuatu!”
“Iya …!”
Rendi lagi-lagi harus pulang terlambat lagi, ia
sampai bingung harus memberi alasan apa lagi. Belum sampai Rendi masuk pintu
lift tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang, suara itu begitu ia
kenali.
“Mas …!”
Rendi segera menoleh ke sumber suara.
“Tokki …!” Rendi begitu terkejut, wajahnya memucat.
Nadin berjalan mendekat kearah Rendi, Rendi tampak begitu gugup, ia takut jika sampai Nadin melihatnya keluar dari apartemen
Davina.
“Mas Rendi dari mana?”
“Aku …, aku dari kantor!”
“Kok masuknya dari lantai dua?”
“Iya tadi sedikit olah raga naik tangga, tapi
sepertinya aku sekarang lebih suka naik lift supaya lebih cepat sampai atas, oh
iya dari mana?”
“Aku?”
“Iya …, memang siapa lagi Tokki!”
“Aku baru saja beli ini!” Nadin menunjukkan kantong plastik yang ada di tangannya. Sebelum Rendi bertanya lagi pintu lift terbuka.
“Ayo masuk!” Rendi menarik tangan Nadin untuk masuk ke dalam lift. "Aku merindukanmu!" Rendi segera mengungkung tubuh kecil istrinya, menghujaninya dengan ciuman hingga lift itu kembali terbuka barulah Rendi melepaskan ciumannya.
Akhirnya mereka sampai juga di dalam apartemen, Nadin segera melepaskan jas dan sepatu Rendi seperti biasanya.
“Kamu tadi beli apa?” tanya Rendi lagi karena pertanyaannya belum di jawab oleh Nadin.
“Tidak sengaja tadi siang pas lewat depan toko buah yang ada di seberang jalan aku liat buah ini!”
Rendi melihat buah itu, buah itu kecil sebesar
kelereng tapi begitu asing untuk Rendi. Sekilas seperti buah duku.
“Ini buah apa?”
“Ini namanya buah mundung!”
“Bagaimana cara makannya?”
“Gini nih mas!” Nadin mempraktekan cara makannya.
Nadin menggigitnya setelah terbuka, Nadin segera menyeruputnya bersama kulit
daging tipisnya.
(Mundung/ kepundung/ menteng atau dalam bahasa latin
Baccaurea dulcis termasuk tanaman asli Indonesia terutama di daerah jawa, buah
yang mirip seperti duku itu memiliki kulit yang lebih tipis dan kandungan air
yang lebih banyak . buah ini memiliki dua macam formasi yaitu berdaging buah
putih dan berdaging buah merah)
“Emmm …, enak banget mas …!” Nadin benar-benar
menikmati buah yang cenderung asam itu.
“Cobain mas!” Nadin menyodorkan satu buah mundung untuk Rendi.
“Nggak mau!”
“Ayo laah mas …, satu saja!” Nadin memaksa, akhirnya Rendi pun terpaksa mengambil satu dan mencobanya.
Satu
Dua
Tiga
Dan di hitungan ke tiga Rendi langsung
memuntahkannya kembali.
“Ini asam sekali, jangan di makan lagi nanti perutmu sakit!” Rendi segera menarik kantong plastik itu dan di jauhkan dari Nadin.
“Mas …, aku suka!” Nadin cemberut, ia kesal kerena suaminya melarangnya.
“jangan maksa!”
“Mas yang maksa, pliss …, boleh ya!”
“Nggak boleh …, ini bisa bikin sakit perut, nanti maag kamu kambuh!”
“Ya udah kalau aku nggak boleh makan, berarti mas Rendi yang harus makan!”
“Harus?”
“Iya …, Plissss!” Nadin mengatupkan tangannya,
Rendi tidak tega, tapi dia juga tidak mau Nadin memakan semua buah itu.
“Baiklah …!” walaupun dengan terpaksa akhirnya Rendi
menyerah, ia memakan buah itu, wajahnya hingga memerah karena menahan rasa asam
tapi Nadin tetap memaksanya untuk menghabiskan buah itu.
Akhirnya dengan susah payah, Rendi berhasil juga
menghabiskan buah itu, Nadin begitu senang melihat buah itu habis di makan
suaminya, rasanya seperti dirinya sendiri yang makan.
“Senang sekali menyiksa suami!” gerutu Rendi, Nadin
yang baru saja kembali membuang kulit buah itu ke dalam tempat sampah segera
melebarkan matanya, ia melipat tangannya di depan dada dengan wajah kesalnya.
“Tidak, aku tidak mengatakan apapun, kau selalu saja salah mendengar!” ucap Rendi sambil beranjak dari duduknya, ia lebih memilih
menghindari kemarahan istrinya dan pergi ke tempat tidur.
Akhir-akhir ini banyak sekali yang harus Nadin lalui dengan penuh kecurigaan, Nadin juga pernah melihat Ajun turun bersama wanita
hamil yang sama di apartemen yang sama ketika Nadin baru saja pulang dari
pasar.
“Ajun!”
“Bu Nadin!” Ajun juga menampakkan wajah terkejut
yang sama seperti saat Nadin memergoki Rendi ketahuan naik lift melalui lantai
dua.
“Tadi sama siapa?” Tanya Nadin menyelidik.
“I-itu, anu, tadi itu …!”
“Itu siapa?”
“Itu warga sini yang sedang meminta bantuan untuk diantar ke rumah sakit tadi, bu. Maaf karena memakai mobil perusahaan untuk
urusan pribadi!”
“Oh …, tidak masalah selama itu untuk kebaikan. Di lantai mana wanita tadi?”
“Ada apa anda menanyakannya, bu?’
“Bukan apa-apa, aku hanya ingin bertanya-tanya saja…, lagian kan aku juga harus mengenal orang-orang yang tinggal di sini, siapa tahu kami bisa berteman!”
“Maaf, bu. Tapi wanita itu sepertinya sangat
tertutup, jadi sangat sulit untuk mengobrol dengannya!’
“Yah …, sayang sekali ya …!”
“Ya sudah bu, saya harus kembali ke kantor. Pak Rendi pasti sudah menungguku!”
“Iya …, hati-hati di jalan …!”
Nadin seperti biasa melambaikan tangannya dengan
senyum yang merekah di bibirnya.
“Sayang sekali, seharusnya aku bisa berkenalan
dengannya!”
Hingga suatu malam Nadin tanpa sengaja mendengarkan percakapan suaminya dalam telponnya.
“Apa yang terjadi?”
“….”
“Apa kontraksinya lebih cepat?”
“….”
“Jangan melakukan pekerjaan berat, bayimu butuh istirahat!”
“….”
“Baiklah …, sampai jumpa besok. Kita akan ke rumah sakit!”
“….”
“Istirahatlah …!”
Rendi mematikan sambungan telponnya. Nadin dengan
cepat bersembunyi di balik dinding, membiarkan suaminya berlalu. Sekarang di
dalam kepala dan otak kecilnya sedang berkecamuk. Banyak pertanyaan yang
melayang-layang di sana.
“Siapa yang di hubungi mas Rendi? Bayi? Bayi siapa?
Apa mas Rendi menelpon wanita hamil itu? Siapa wanita hamil itu?”
Bahkan karena terlalu serius memikirkannya
membuatnya tidak bisa memejamkan matanya. Ia sampai tidak sabar untuk menunggu
pagi datang. Ia ingin sekali tahu siapa yang akan di temui oleh suaminya esok
hari.
“Tokki …, kenapa belum tidur?” Tanya Rendi, suaminya
itu sampai terbangun karena Nadin tak berhenti bergerak, Rendi mengeratkan
pelukannya dan menyusupkan wajah nadin ke dalam dada bidangnya hingga Nadin
bisa mendengar deru nafas suaminya itu.
Nadin mendongakkan kepalanya, menatap suaminya
ternyata suaminya berbicara dengan mata terpejam.
“Mas …!” panggil Nadin.
“hemmm!”
“Boleh Tanya sesuatu nggak?”
“Hemmm!”
Lagi-lagi Rendi hanya menjawab asal, sepertinya pria itu sudah sangat mengantuk.
“Mas …, wanita hamil yang ada di apartemen ini, apa mas Rendi kenal?” pertanyaan Nadin berhasil membuat Rendi membuka matanya.
“Wanita hamil?”
“Iya!”
“Mana kenal aku sama wanita hamil di sini!”
“tapi kemarin aku melihat Ajun mengantarkan wanita itu, wanita itu pakai masker dan kaca mata!”
“Mungkin itu kenalannya Ajun, sudah jangan di pikirkan, ayo tidurlah …!”
Rendi kembali mendekap istrinya, ia tidak mau sampai istrinya bertanya lebih jauh lagi.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘