
POV Rendi
Aku begitu kesal dengan ucapan pria arogan itu, demi mempertahankan keutuhan keluargaku, aku memberikan sebuah syarat untuk bisa bertemu dan menjalin hubungan lagi dengan keluargaku. Aku hanya ingin
mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku.
Jika pria itu sudah menikah, dia pasti juga akan sibuk dengan keluarganya sendiri, jadi mungkin tidak akan punya waktu untuk memikirkan anak dan istri orang lain, dia sudah terlalu banyak ikut campur dalam rumah tangga kami, aku tidak suka.
Ku sandarkan punggungku di sandaran kursi mobil, rasanya tubuhku terlalu capek untuk semua hal ini, hatiku, cintaku, dan perjuanganku, sudah sangat keras aku berjuang, selamatnya tidak akan ku lepaskan.
Banyak yang harus aku pikirkan, hingga aku lupa untuk segera pulang. Segera ku hidupkan mesin mobilku, ku pacu mobilku memecah keheningan malam. Jalanan cukup sepi, mungkin orang-orang belum memulai aktifitasnya kembali. Saat orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, aku masih berada di tempat yang sama.
Hanya dalam waktu satu jam, akhirnya aku sampai juga di depan rumah, rumah kami. Melihat rumah yang di dalamnya di huni orang yang berharga dalam hidupku saja sudah berhasil membuat seluruh lelahku hilang. Ku
lihat Ajun masih duduk di depan rumah, anak itu benar-benar melakukan tugasnya
dengan baik.
Ku parkir kan mobilku di halaman rumahku sendiri. Rumah yang aku beli beberapa hari lalu.
Aku segera turun dari mobil dan segera ku hampiri Ajun, dia sudah berdiri karena menyadari kedatanganku.
“Malam , pak!” sapa Ajun dengan menundukkan punggungnya.
“Apa ada masalah?” melihat wajah Ajun yang seperti itu, membuatku berpikir jika mungkin ada masalah.
“Bu Nadin tidak membiarkan saya masuk pak!”
“Apa kau sudah membuat kunci duplikatnya?”
“Sudah pak!”
Ajun merogoh saku jasnya, sebuah kunci yang aku pesan tadi siang. Aku Sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Nadin pasti
tidak mengijinkan aku ataupun Ajun untuk masuk ke dalam rumah. Segera ku terima
kunci itu.
“Sekarang pulanglah …, aku akan tidur di sini!”
“Baik pak, saya permisi! Selamat beristirahat!”
Aku mengangguk seperti biasa, Ajun pun berlalu
meninggalkan halaman rumah sederhana itu, ia menuju rumah depan, rumah yang
telah aku beli beberapa waktu lalu. Ku putar badanku, tanganku mulai memasukkan
kunci itu ke lubang kunci, hanya dengan sekali putar, pintu terbuka.
Ku taruh jas ku di sandaran sofa ruang tamu yang sempit itu, ku langkahkan kakiku ke tempat yang menjadi favoritku, kamar tidur.
Melihat lampu yang sudah padam, aku yakin Nadin dan putraku sudah tidur di
kamar.
Dengan perlahan ku buka pintu kamar yang tidak terkunci, dari temaram lampu tidur aku bisa melihat pantulan wanita luar biasa
yang sudah berhasil membuat hatiku seperti berada dalam permainan rollercoaster,
kadang naik, turun, berputar dan tangannya memeluk jagoan kecilku.
Ku buka kancing kemejaku yang paling atas, ku
sinsing lengan kemejaku hingga ke siku, ku dekati mereka langkahku yang sedikit
mengendap agar tidak menimbulkan suara.
Baby El ternyata belum tidur, tapi bundanya sudah tertidur. Putraku Elan, benar-benar menjadi anak yang menyenangkan, penuh
cinta. Ia sama sekalu tidak mengeluarkan suara sehingga membuat bundanya
terbangun.
“Sayang …, kau belum tidur atau memang sudah terbangun?, bagaimana kalau kita bermain? Bunda Mu pasti sangat capek jadi
jangan ganggu dia!”
Aku berbisik pada putraku, dia tersenyum mendengarkan ku.
Segera ku angkat lengan Nadin dan ku tutup tubuh itu dengan selimut. Ku
tempat tidur, ku tidurkan putraku di sana, kami bermain, berbicara, bercerita,
aku seperti mendapatkan teman curhat, dia seperti mengerti apa semua yang telah
aku katakana, dia tertawa, kadang diam seperti memperhatikan dan berceloteh singkat.
❤️❤️❤️❤️
Pagi ini aku merasakan tubuhku begitu hangat, ku buka mataku perlahan, bayi mungil masih begitu pulas di sampingku. Setelah ku
ingat ternyata aku tertidur semalam, sepertinya baby El juga sama, tapi ada
selimut. Semalam aku juga bermimpi sangat indah, dia mencium ku. Wanitaku …
Ku eratkan pelukanku pada bayi mungil itu, rasanya enggan untuk bangun. Aku ingin terus merasakan kehangatan ini. Ku pejamkan
mataku kembali dan menyelusupkan wajahku ke wajah putraku. Beginilah rasanya
jadi seorang ayah, kebahagiannya tak bisa di tukar dengan apapun.
“Mas …, bangun!” panggilan lembut itu semakin
membuatku merasa nyaman, inilah keluargaku, sejauh apapun aku melangkah, di
sinilah tempatku pulang, keluarga kecilku.
“mas …., bangun! Sudah siang!” rasanya tubuhku mulai
di goyang-goyang. Tapi aku masih ingin menikmati semua ini, aku takut jika
membuka mata, semua ini akan hilang. Jika ini mimpi, biarkan aku tetap hidup di
alam mimpi.
“Mas Rendi nggak kerja, sudah siang!” lagi-lagi
tangan lembut itu menggoyang tubuhku, dengan cepat ku tarik tangan itu hingga
tubuhnya menimpa tubuhku. Ku buka mata dan ku lihat pertama adalah matanya.
Matanya yang lembut menatapku.
“Mas …, lepaskan!” dia berusaha melepaskan diri dari atas tubuhku, aku bukan ingin melepasnya, tapi aku ingin menggenggamnya lebih erat lagi.
“Aku tidak akan melepas mu!”
“Mas …, ini masih pagi ya, jangan menggodaku!”
Aku juga masih enggan berdebat dengannya, ku tarik tengkuknya hingga kini tidak ada jarak lagi, bibirnya menempel di atas bibirku,
hangat dan lembut. Segera ku ***** bibir itu, bibir yang selalu berhasil
membuatku ingin selalu merasakan kehangatannya kembali, lagi dan lagi hingga ku
tak ingin melepaskannya.
Setelah ciuman pagi itu berlanjut cukup lama, hingga ponselku berdering membuat kami menghentikannya. Nadin dengan cepat turun dari atas tubuhku dan meninggalkan ku dengan wajah yang sudah memerah malu.
“Hallo!”
“Maaf pak, sekarang saatnya launching program baru, jadi …!”
“baiklah …, aku akan sampai satu jam lagi!”
Aku harus siap-siap untuk berangkat, ini seharusnya
adalah hari terakhir kami di Surabaya, aku akan segera memboyong keluargaku
kembali ke rumah kami, ke tempat di mana semua keluarga ada di sana.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘