
Nadin segera berlari ke dapur, ia memegangi
jantungnya yang seakan mau lepas. Setelah sekian lama, dan setelah malam yang
panjang itu, sekali lagi ia merasakan kecupan yang sama. Ini bukan yang pertama kalinya, tapi ini untuk pertama kalinya setelah ia bisa melihat ketulusan di hati suaminya.
“Jantungku …., jantungku mau lepas, bagaimana ini!” Nadin panik sambil memegangi jantungnya yang terus berdetak semakin kencang saja setiap kali mengingat ciuman tadi.
“Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu dengan mas Rendi!”
"Apa aku harus biasa saja? Jangan ....., mas Rendi pasti terluka banget, aku harusnya bersikap manis!"
"Tidak ...., tidak ...., mana bisa aku langsung bersikap manis, bisa-bisa mas Rendi Ge-Re lagi!"
Nadin terus bermonolog lagi sambil mengelap piringnya.
"Tapi apa bisa aku cuek sama mas Rendi, dia aja terus nempel sama aku!"
"Hehhhh ....!"
Nadin jadi gemas sendiri dengan perasaannya.
🌺🌺🌺🌺
Rendi tertegun menatap punggung Nadin yang menghilang di balik pintu. Ia kembali mendesah.
"Sulit sekali meluluhkan hatinya!"
"Tapi aku nggak boleh patah semangat ....., aku harus berjuang lebih keras lagi!"
Rendi berbalik, ia menatap
putranya yang masih tertidur pulas, ia mengecup kening putranya.
"Sayang ....., doakan ayah ya biar bunda mu cepat memaafkan ayah dan kita bisa bahagia bersama!"
Setelah puas berbicara dengan putranya yang masih tidur, ia pun segera menuju ke kamar mandi, tapi sepertinya ia lupa jika ia masih meninggalkan bajunya di rumahnya sendiri.
Setelah lima belas menit, ia sudah keluar lagi dari kamar mandi, tapi ia hanya mengenakan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya.
“Aku melupakan bajuku!” keluh Rendi, ia pun berjalan perlahan mencari ponselnya yang bahkan ia lupa telah meletakkannya di mana.
Setelah mengedarkan pandangannya,
akhirnya Rendi menemukan ponselnya yang berada di atas meja, berdampingan dengan ponsel Nadin.
“Ponsel Nadin!” awalnya ia tidak bermaksud untuk melihatnya, tapi saat sebuah notifikasi pesan masuk, membuat layar ponsel itu
menyala, ekor mata Rendi tanpa sengaja tertuju pada wallpaper layar ponsel Nadin.
Dia tersenyum.
“Kapan dia mengambilnya?" ucap Rendi sambil terus tersenyum menatap layar ponsel Nadin.
" Pesan dari Aisyah? …, Aisyah …?" ia berusaha keras untuk mengingatnya. Dan akhirnya ia teringat dengan nama itu.
" Ohhh …, aku ingat, pasti gadis berhijab itu!” Rendi kembali meletakkan ponsel Nadin dan beralih mengambil ponselnya sendiri. Ia mencari sebuah nomor kontak dan segera melakukan panggilan.
“Iya pak!” jawab dari seberang sana sebelum bahkan sebelum Rendi mengeluarkan suaranya.
“Ambilkan bajuku, baju untuk acara peresmian!” perintah Rendi.
“Baik pak!”
Rendi kembali meletakkan ponselnya saat sambungan telpon telah terputus. Ia kembali melihat putranya, masih tertidur pulas.
“Kasihan sekali kamu jagoan kecilku, biar ayah
pindahkan ke atas ya!”
Rendi pun segera mengangkat tubuh mungil itu ke atas tempat tidur dan kembali menyelimutinya. Rendi duduk di tepi tempat tidur.
Ceklek
Pintu kamar terbuka membuat Rendi segera berbalik, Rendi kira itu Ajun yang
mengantarkan bajunya.
“Cepat sekali jun!” ucapnya. Tapi ternyata ia salah, itu bukan Ajun melainkan Nadin.
“Ahhhh …!”
Nadin terkejut dan segera menutup matanya
dengan telapak tangannya.
Rendi tak kalah terkejutnya mendengar
Nadin berteriak. Hingga membuatnya berdiri dari duduknya dan menghampiri Nadin.
“Kenapa telanjang?”
Tanya Nadin tanpa menyingkirkan
tangannya dari wajahnya, membuat Rendi gemas. Rendi tersenyum dan memegang
tangan Nadin, menyingkirkannya perlahan dari wajah Nadin.
“Sudah ribuan kali ku katakan padamu, kau pemilik semua ini, cintaku, hatiku, nafasku dan tubuhku. Bahkan aku pun bernafas hanya
karena mu, cintamu!”
Seketika wajah Nadin memanas mendengar ucapan manis di pagi hari dari suaminya, nadin tersipu malu olehnya.
“Kenapa dengan wajahmu?” tanya Rendi pura-pura tidak tahu.
“Kenapa menanyakan hal itu?” ucap Nadin sambil memukul dada Rendi, ia seperti menemukan suaminya yang tak pernah peka itu.
“Apa aku salah lagi?”
Tanya Rendi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tok tok tok
Sebuah ketukan menghentikan obrolan manis mereka. Sedikit menyelamatkan Nadin dari rasa gugupnya.
“I-Itu pasti Ajun!” Rendi gugup, ia salah tingkah.
“Ajun?” Nadin tak mengerti kenapa Ajun datang pagi-pagi padahal ada Rendi di rumahnya.
“Iya …, dia membawakan baju untukku!”
“Baiklah …, biar ku ambilkan untukmu!”
Nadin segera meninggalkan suaminya dan menghampiri Ajun, sedangkan Rendi bernafas lega.
“Kenapa lagi dengan jantungku? Sejak dekat dengan Nadin lagi jantungku ini jadi sering bermasalah!”
Ajun sudah berdiri di depan pintu, Nadin segera
membukakan pintu untuk Ajun.
“Selamat pagi bu Nadin!” sapa Ajun.
“Pagi Ajun!”
“Saya membawakan baju ganti untuk pak Rendi!”
“Masuklah, Ajun. Kita sarapan bersama!”
“Tidak , terimakasih bu, biar saya sarapan di rumah saja!”
“Baiklah …!”
Setelah Ajun meninggalkannya, Nadin membawakan baju yang di antarkan Ajun itu untuk Rendi.
“Bersiaplah juga!” ucap Rendi sambil menerima baju gantinya.
“kenapa?”
“Hari ini acara peresmian system jaringan yang kami buat, jadi bisakah kau ….?” Rendi cukup ragu untuk mengutarakan keinginannya.
Walaupun pagi ini Nadin terlihat cukup manis padanya tapi dia tidak yakin jika
Nadin sudah memaafkannya dan bisa menerimanya kembali.
“”Kami bisa!” ucapan singkat Nadin berhasil membuat euforia di hati Rendi, ia tersenyum bahagia.
“Terimaksih!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘