
🌷🌷🌷🌷
Hari ini hari terakhir mereka di Korea, ada satu hal yang belum bisa Nadin lakukan, yaitu bertemu dengan oppa-oppa Korea. Rendi melarang keras hal itu, ia lebih suk mengurung Nadin di dalam kamar dari pada menuruti istri kecilnya itu.
"Kenapa tidak boleh sih?" Tanya Nadin, entah sudah berapa kali ia merengek pada suaminya itu. Tapi tetap saja tidak berhasil.
"Kau boleh melihatku sepuasnya!" Ucap Rendi sambil terus menatap layar datarnya, Nadin segera duduk di samping Rendi, ia menggeser duduknya hingga tak ada jarak di antara mereka, Nadin berusaha keras mengubah keputusan suaminya itu.
Nadin melancarkan aksinya dengan memainkan jarinya di tengan suaminya.
"Mas ...., Boleh ya..., Sekali saja, plisss!" Ia meainkan jari-jarinya hingga ke dada bidang Rendi yakin suaminya itu akan segera tergoda.
"Boleh ya?" Rengek Nadin lagi dengan nada menggoda.
"Jangan menggodaku, atau kau tidak akan bisa kemana-mana setelah ini!" ancam Rendi.
Ihhh ...., Menyebalkan. Susah sekali membuat dia mengabulkan permintaanku!
Batin Nadin begitu kesal, ia menarik tangannya kembali. Percuma juga itu jelas tidak akan di kabulkan.
Nadin segera beranjak dari duduknya, tapi tangan Rendi lebih dulu menariknya dengan kuat hingga Nadin kembali terjerembak di atas pangkuan Rendi, dengan cepat Rendi membungkam mulut Nadin dengan bibirnya.
Nadin hanya bisa melebarkan matanya, Rendi mulai melancarkan aksinya, sungguh Nadin di buat kualahan.
Setelah ciuman cukup lama itu, Rendi mendudukkan Nadin di sampingnya duduk, menjauhkan kembali tubuhnya dan segera bangun dari duduknya, merapikan kemejanya dan meninggalkan Nadin seorang diri di dalam kamar itu.
Dia mau kemana? aneh sekali ...., sekali waktu dia begitu manis seperti begitu mencintaiku, setelah itu ia akan berubah kembali menjadi pria dingin yang tidak menginginkan cinta dari ku.
Nadin yang merasa penasaran segera beranjak dari duduknya, ia merapikan dress-nya yang berantakan karena ulah Rendi dan menghapus sisa pistik yang ada di bibirnya, membiarkan bibirnya dengan warna natural.
Ia berjalan mengendap-endap mengikuti suaminya, ia tahu jika suaminya itu penuh misteri tapi rasa penasarannya lebih besar.
Rendi berhenti di depan resort, dua orang berjas sudah menghampirinya, Nadin mengambil jarak agar tidak terlalu dekat, ia memilih berdiri di balik pilar yang tidak jauh dari tempat Rendi, ia menyiapkan telinganya untuk bisa mendengar obrolan mereka.
"Siang pak!" Sapa salah satu dari mereka.
"Ada apa?" Tanya Rendi dengan wajah seriusnya, seprtinya ada masalah.
"Ada yang mencoba mensabotase barang-barang kiriman kita!"
"Hemmm, lanjutkan!"
"Mereka meminta anda sebagai gantinya, ia akan melepaskan tawanan, jika anda bersedia datang sendiri!"
"Dimana?"
"Mereka meminta anda datang di gedung Xxxx lantai 35!"
"Siapa mereka?"
"Mereka suruhan dari salah satu lawan bisnis bapak di Indonesia!"
"Apa dia melakukan ini juga pada pak Agra?"
"Untuk saat ini masih aman, pak! Tapi sepertinya target selanjutnya adalah pak Agra, karena ada beberapa orang asing yang sering kali berada di sekitar kediaman pak Agra!"
"Lakukan pengamanan ekstra ketat di kediaman pak Agra, aku akan temui mereka!"
"Baik pak!"
"Baik pak, kalau begitu kami permisi!"
Kedua pria berjas itu menunduk hormat kemudian meninggalkan Rendi. Nadin yang melihat kecemasan di wajah Rendi tak berani mendekat, ia lebih memilih untuk tetap bersembunyi di balik pilar besar itu.
Apa ada masalah yang begitu serius? Tunggu tadi mereka bilang sabotase, ganti ....., Apa maksud semua itu?
Nadin berkecamuk dalam pikirannya sendiri, ia menerka nerka apa yang sebenarnya Rendi dan kedua anak buahnya itu bicarakan.
Ahggrrr .....
Nadin berteriak karena terkejut saat tiba-tiba ada yang menepuk punggungnya dari belakang. Ia pun segera berbalik, ternyata yang sudah menepuk punggungnya adalah Rendi.
"Mas ....!" Nadin terperanjat saat mendapati suaminya sudah berada di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Rendi sambil menarik satu alisnya ke atas.
"A-a-aku ...., Aku sedang melihat cuaca!" Nadin mencoba berbohong.
"Cuaca?" Tanya Rendi tak percaya.
"Iya, aku pengen liat pemandangan, pemandangannya bagus sekali!" Nadin berusaha menghindari tatapan Rendi, ia melayangkan tatapannya ke segala arah agar Rendi tidak menyadari bahwa dia sedang berbohong.
Srekkkk
Tapi tiba-tiba Rendi malah menarik tubuh Nadin ke dalam pelukannya, wajah Nadin tepat berada di dalam dekapan Rendi, merasakan deru nafas dan detak jantung pria dingin itu, Nadin hanya bisa melebarkan matanya.
"Mas!"
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja!" Ucap Rendi, ia semakin mengeratkan pelukannya, sebenarnya kata kata itu lebih tepat ia tujukan untuk dirinya sendiri, karena sejatinya ia begitu khawatir, bukan khawatir dengan keselamatannya, tapi khawatir pada wanita yang berada dalam dekapannya itu, bukan tidak mungkin Nadin akan menjadi sasaran berikutnya.
"Apa yang aku dengar tadi benar?" Tanya Nadin sambil mendongakkan kepalanya agar bisa menjangkau wajah Rendi. Rendi pun hanya bisa mengangguk.
"Apa aku boleh meminta satu hal?"
"Apa?" Tanya Rendi sambil menatap Nadin.
"Kembalilah demi aku!"
"Aku pasti akan kembali! Tapi jika aku tidak_!"
"Hustttt ....!" Sebelum ucapan Rendi selesai, Nadin segera menempelkan jari telunjuknya di bibir Rendi. Bahkan walaupun seandainya, ia merasa tidak sanggup.
"Jangan mengatakan hal itu!" Nadin kembali menyusupkan wajahnya ke dalam dada bidang Rendi, berusaha menyembunyikan air matanya yang sudah mulai jatuh. Rendi hanya bisa mengusap punggung Nadin.
Setelah berhasil meyakinkan Nadin untuk tidak memberitahu siapapun masalah ini, Rendi pun segera berangkat ke tempat yang sudah di sepakati. Ia sudah meminta anak buahnya untuk berjaga-jaga di tempat dengan jarak aman. Rendi menemui orang-orang itu sendiri seperti yang di minta.
Tapi ia lupa tidak meninggalkan penjagaan satu pun untuk Nadin, ia mengirim anak buahnya untuk berjaga-jaga di tempat Agra dan mengawalnya ke tempat ia akan menemui orang yang di maksud.
Bersambung
...Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya...
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘