
Akhirnya Nadin terbebas juga dari cengkeraman Alex,
walaupun belum bisa sepenuhnya memaafkan Rendi, tapi Alex sudah menyadari
kesalahannya dengan melampiaskan dendamnya pada wanita yang tak bersalah.
Nadin cukup bersyukur karena selama ini ia di perlakukan
cukup baik, setidaknya ia mempercayai perkataan Merry bahwa Alex orang yang
baik, ia hanya salah saja dalam memandang hidup. Cemburu yang berlebih akan
berakibat buruk pada dirinya sendiri dan orang lain.
Sebelum kembali ke Jakarta, Rendi mengajak Nadin untuk
singgah terlebih dahulu ke rumah Rendi di tempat itu yang sudah sepuluh hari
ini ia tempati.
“Ini rumah siapa mas?’ Tanya Nadin sambil mengamati rumah
itu.
“Rumah pak RT!” jawab Rendi ketus, sedangkan anak buahnya di
belakang mereka hanya bisa menahan senyum.
“Jadi selama ini mas Rendi tinggal di rumahnya pak RT?”
Rendi menatap Nadin, awalnya dia mungkin bingung apa manfaat kecerewetan Nadin, ngomong banyak menurutnya tak bermanfaat, tapi hari ini Nadin membuktikan jika kecerewetannya itu bermanfaat juga.
Ternyata cerewetnya itu berguna juga ya …, kenapa nggak dari
kemarin-kemarin aja cerewet ….
“Bukannya menjawab, kenapa malah menatapku seperti itu mas?”
Belum sempat Rendi menjawab pertanyaan Nadin, salah satu
tetangga rumah itu melintas di depan rumah mereka.
“Mas Endra …, sama siapa?” Tanya tetangga itu sepertinya
baru saja pulang dari ladang, karena sudah sangat sore.
“Mas Endra?” Tanya Nadin tak mengerti, siapa yang di maksud
orang itu.
Srekkk
Rendi segera menarik bahu Nadin , ia melingkarkan tangannya
di pundak Nadin.
“Ini istri saya pak lek, baru saja datang dari kota!”
“Oh …., jadi mas Endra sudah menikah ya …!” tapi saat akan
menutup ucapannya, tetangga itu memperhatikan Nadin lagi. “Tapi sepertinya saya
kok sering lihat mbaknya di Villa besar di sudut jalan itu ya!”
“Oh …, iya kebetulan istri saya ini bekerja jadi pembantu
pak di rumah itu, karena majikannya pulang jadi ikut pulang, besok juga sudah
berangkat lagi!” ucap Rendi dan langsung mendapat tatapan tajam dari Nadin.
Memang wanita secantik dan seimut aku pantes apa jadi
pembantu …., menyebalkan ….
Rendi membalas tatapan tajam Nadin dengan tatapan yang sama,
dan dengan senyum yang di buat-buat.
“Iya kan? Iya kan sayang …!”
“I-iya pak …, mampir dulu pak!”
“Oh iya maturnuhun …., sudah sore, saya tak langsung pulang
saja, mari …!”
“Mari pak …!”
Setelah tetangga itu berlalu, Nadin segera melepaskan tangan
Rendi dari pundaknya dan menghempaskan nya.
“Jangan pegang-pegang pembantu …, Ijah mau masuk dulu ….!”
Ucap Nadin sambil melenggang masuki ke dalam rumah. Nadin mencari letak
kamarnya, tak begitu susah karena rumahnya sangat kecil hanya ada dua kamar,
kamar mandi, dapur dan ruang tamu.
“Ini lebih kecil dari
rumah ayah …., tapi aku suka!” Nadin mengurungkan niatnya untuk ke kamar, ia
memilih berkeliling rumah itu, sederhana tapi begitu rapi.
Sedangkan Rendi, ia memilih berbicara dengan anak buahnya.
“Kamu boleh pergi dulu karena tugasmu di sini sudah selesai,
besok datanglah kembali dengan membawa mobil, kita kembali ke Jakarta!”
“Baik pak, kalau begitu saya permisi!”
Rendi mengangguk, dan anak buah Rendi berpamitan untuk
pergi. Setelah anak buahnya pergi, Rendi segera menutup pintu rumah itu dan
menghampiri Nadin yang berada di dapur, sepertinya Nadin sudah mulai menyukai
tempat yang namanya dapur, Rendi memeluk Nadin dari belakang, melingkarkan
tangannya di pinggang Nadin, dan menyandarkan dagunya di pundak Nadin.
“Mas ….!” ucap Nadin sambil memegangi tangan Rendi yang melingkar di perutnya.
“Aku merindukanmu …! Jangan membiarkan bahu ini untuk orang
“Ini cuma bahu, mas …, apa salahnya meminjamkan pada orang
lain!” protes Nadin.
“Jangan membuatku kesal!”
“Sebenarnya mas Rendi bukan kesal, tapi cemburu …, ayolah
mas ngaku aja!”
“Terserah …!”
“mas …, kenapa nadanya marah …, tapi kalau marah kenapa
masih nempel?”
Ucapan Nadin benar-benar membuat Rendi kesal, ia menarik
tangannya dan melepaskan pelukannya dari tubuh Nadin. Rendi berbalik hendak
meninggalkan Nadin, tapi Nadin segera membalik badannya dan gantian memeluk
Rendi dari belakang.
“Aku cuma becanda, mas …, jangan suka marah-marah, nanti
cepet tua loh …, kita kan belum punya anak, nanti kalau mas marah-marah trus
tua, pas jalan sama anaknya di kira kakeknya!”
Rendi tersenyum, tapi segera ia pura-pura cemberut lagi.
“Jadi kamu malu jalan sama orang tua?”
“Nggak mas …., jangan marah terus dong!”
Rendi memegang tangan Nadin, melepaskannya dan membalik
badannya menatap Nadin, ia menakup pipi
Nadin.
“Jangan pergi lagi ….”
“Kenapa?” Tanya Nadin dengan bersemangat, ia berharap suami
dinginnya itu akan mengatakan hal-hal yang romantis.
“Karena kau akan sangat menyusahkan ku …!”
Seketika wajah Nadin berubah menjadi kesal, ia menyebirkan
bibirnya. “Padahal aku sudah berharap lebih …! Aku mandi dulu ….!”
Nadin melepaskan tangan Rendi, ia memilih berlalu dari Rendi
dan pergi ke kamar mandi.
“Memang dia berharap aku akan bicara apa?!” Rendi bingung
sendiri. “Apa yang salah …?”
Rendi menggelengkan kepalanya, ia memilih mengikuti Nadin
tapi sayang sudah terlambat, ia nadin sudah terlanjur masuk ke dalam kamar
mandi. Tangannya hendak mengetuk pintu, tapi ia urungkan kembali.
“Nanti saja lah …!”
Rendi memilih menyibukkan diri dengan beberapa rencana
kedepannya, ia bisa membebaskan membebaskan Nadin, tapi kekacauan yang Alex
buat di perusahan sudah tidak bisa di perbaiki lagi, harus ada yang benar-benar
turun tangan ke sana dan itu jelas bukan dia, ia hanya akan membantu
mempersiapkan saja.
Agra sudah memberi tahunya bahwa ia sudah meminta Divta
untuk ke sana, tapi keputusan itu mungkin saat ini tidak berpengaruh besar bagi
dirinya, tapi untuk ke depannya ada banyak hal yang harus ia hadapi karena
keputusan yang ia ambil saat ini.
Rendi dan Nadin menghabiskan malamnya di rumah sederhana
itu, melepas rindu sebagai sepasang suami istri yang lama tak bertemu. Pagi
ini anak buah Rendi sudah datang dengan membawakan mobil untuk atasannya itu,
Rendi juga meminta di bawakan baju untuknya dan juga Nadin, karena semalam ia
membiarkan Nadin tanpa pakaian sehelai pun.
“Kalian tetaplah di luar …, biar aku bawa bajunya ke dalam
sendiri!” ucap Rendi pada anak buahnya, ia masih memakai kaos lusuh yang sama,
karena ia meninggalkan semua kemeja dan jasnya di Jakarta, saat ia harus
kembali menjadi Rendi maka ia harus kembali memakai pakaian kebesarannya.
“Baik pak!”
Atas perintah Rendi, anak buahnya tetap berjaga di luar,
anak buah Rendi pun juga sudah mengganti penampilannya,. Banyak tetangga yang
lalu lalang hanya saling berbisik dan bertanya. Ada apa sebenarnya, dan siapa
yang ia lihat, ada mobil dan orang-orang berjas hitam seperti pakaian resmi.
~Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘