MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Mas Endra ...., mas Endra ....



Akhirnya Nadin terbebas juga dari cengkeraman Alex,


walaupun belum bisa sepenuhnya memaafkan Rendi, tapi Alex sudah menyadari


kesalahannya dengan melampiaskan dendamnya pada wanita yang tak bersalah.


Nadin cukup bersyukur karena selama ini ia di perlakukan


cukup baik, setidaknya ia mempercayai perkataan Merry bahwa Alex orang yang


baik, ia hanya salah saja dalam memandang hidup. Cemburu yang berlebih akan


berakibat buruk pada dirinya sendiri dan orang lain.


Sebelum kembali ke Jakarta, Rendi mengajak Nadin untuk


singgah terlebih dahulu ke rumah Rendi di tempat itu yang sudah sepuluh hari


ini ia tempati.


“Ini rumah siapa mas?’ Tanya Nadin sambil mengamati rumah


itu.


“Rumah pak RT!” jawab Rendi ketus, sedangkan anak buahnya di


belakang mereka hanya bisa menahan senyum.


“Jadi selama ini mas Rendi tinggal di rumahnya pak RT?”


Rendi menatap Nadin, awalnya dia mungkin bingung apa manfaat kecerewetan Nadin, ngomong banyak menurutnya tak bermanfaat, tapi hari ini Nadin membuktikan jika kecerewetannya itu bermanfaat juga.


Ternyata cerewetnya itu berguna juga ya …, kenapa nggak dari


kemarin-kemarin aja cerewet ….


“Bukannya menjawab, kenapa malah menatapku seperti itu mas?”


Belum sempat Rendi menjawab pertanyaan Nadin, salah satu


tetangga rumah itu melintas di depan rumah mereka.


“Mas Endra …, sama siapa?” Tanya tetangga itu sepertinya


baru saja pulang dari ladang, karena sudah sangat sore.


“Mas Endra?” Tanya Nadin tak mengerti, siapa yang di maksud


orang itu.


Srekkk


Rendi segera menarik bahu Nadin , ia melingkarkan tangannya


di pundak Nadin.


“Ini istri saya pak lek, baru saja datang dari kota!”


“Oh …., jadi mas Endra sudah menikah ya …!” tapi saat akan


menutup ucapannya, tetangga itu memperhatikan Nadin lagi. “Tapi sepertinya saya


kok sering lihat mbaknya di Villa besar di sudut jalan itu ya!”


“Oh …, iya kebetulan istri saya ini bekerja jadi pembantu


pak di rumah itu, karena majikannya pulang jadi ikut pulang, besok juga sudah


berangkat lagi!” ucap Rendi dan langsung mendapat tatapan tajam dari Nadin.


Memang wanita secantik dan seimut aku pantes apa jadi


pembantu …., menyebalkan ….


Rendi membalas tatapan tajam Nadin dengan tatapan yang sama,


dan dengan senyum yang di buat-buat.


“Iya kan? Iya kan sayang …!”


“I-iya pak …, mampir dulu pak!”


“Oh iya maturnuhun …., sudah sore, saya tak langsung pulang


saja, mari …!”


“Mari pak …!”


Setelah tetangga itu berlalu, Nadin segera melepaskan tangan


Rendi dari pundaknya dan menghempaskan nya.


“Jangan pegang-pegang pembantu …, Ijah mau masuk dulu ….!”


Ucap Nadin sambil melenggang masuki ke dalam rumah. Nadin mencari letak


kamarnya, tak begitu susah karena rumahnya sangat kecil hanya ada dua kamar,


kamar mandi, dapur dan ruang tamu.


 “Ini lebih kecil dari


rumah ayah …., tapi aku suka!” Nadin mengurungkan niatnya untuk ke kamar, ia


memilih berkeliling rumah itu, sederhana tapi begitu rapi.


Sedangkan Rendi, ia memilih berbicara dengan anak buahnya.


“Kamu boleh pergi dulu karena tugasmu di sini sudah selesai,


besok datanglah kembali dengan membawa mobil, kita kembali ke Jakarta!”


“Baik pak, kalau begitu saya permisi!”


Rendi mengangguk, dan anak buah Rendi berpamitan untuk


pergi. Setelah anak buahnya pergi, Rendi segera menutup pintu rumah itu dan


menghampiri Nadin yang berada di dapur, sepertinya Nadin sudah mulai menyukai


tempat yang namanya dapur, Rendi memeluk Nadin dari belakang, melingkarkan


tangannya di pinggang Nadin, dan menyandarkan dagunya di pundak Nadin.


“Mas ….!” ucap Nadin sambil memegangi tangan Rendi yang melingkar di perutnya.


“Aku merindukanmu …! Jangan membiarkan bahu ini untuk orang


“Ini cuma bahu, mas …, apa salahnya meminjamkan pada orang


lain!” protes Nadin.


“Jangan membuatku kesal!”


“Sebenarnya mas Rendi bukan kesal, tapi cemburu …, ayolah


mas ngaku aja!”


“Terserah …!”


“mas …, kenapa nadanya marah …, tapi kalau marah kenapa


masih nempel?”


Ucapan Nadin benar-benar membuat Rendi kesal, ia menarik


tangannya dan melepaskan pelukannya dari tubuh Nadin. Rendi berbalik hendak


meninggalkan Nadin, tapi Nadin segera membalik badannya dan gantian memeluk


Rendi dari belakang.


“Aku cuma becanda, mas …, jangan suka marah-marah, nanti


cepet tua loh …, kita kan belum punya anak, nanti kalau mas marah-marah trus


tua, pas jalan sama anaknya di kira kakeknya!”


Rendi tersenyum, tapi segera ia pura-pura cemberut lagi.


“Jadi kamu malu jalan sama orang tua?”


“Nggak mas …., jangan marah terus dong!”


Rendi memegang tangan Nadin, melepaskannya dan membalik


badannya menatap Nadin,  ia menakup pipi


Nadin.


“Jangan pergi lagi ….”


“Kenapa?” Tanya Nadin dengan bersemangat, ia berharap suami


dinginnya itu akan mengatakan hal-hal yang romantis.


“Karena kau akan sangat menyusahkan ku …!”


Seketika wajah Nadin berubah menjadi kesal, ia menyebirkan


bibirnya. “Padahal aku sudah berharap lebih …! Aku mandi dulu ….!”


Nadin melepaskan tangan Rendi, ia memilih berlalu dari Rendi


dan pergi ke kamar mandi.


“Memang dia berharap aku akan bicara apa?!” Rendi bingung


sendiri. “Apa yang salah …?”


Rendi menggelengkan kepalanya, ia memilih mengikuti Nadin


tapi sayang sudah terlambat, ia nadin sudah terlanjur masuk ke dalam kamar


mandi. Tangannya hendak mengetuk pintu, tapi ia urungkan kembali.


“Nanti saja lah …!”


Rendi memilih menyibukkan diri dengan beberapa rencana


kedepannya, ia bisa membebaskan membebaskan Nadin, tapi kekacauan yang Alex


buat di perusahan sudah tidak bisa di perbaiki lagi, harus ada yang benar-benar


turun tangan ke sana dan itu jelas bukan dia, ia hanya akan membantu


mempersiapkan saja.


Agra sudah memberi tahunya bahwa ia sudah meminta Divta


untuk ke sana, tapi keputusan itu mungkin saat ini tidak berpengaruh besar bagi


dirinya, tapi untuk ke depannya ada banyak hal yang harus ia hadapi karena


keputusan yang ia ambil saat ini.


Rendi dan Nadin menghabiskan malamnya di rumah sederhana


itu, melepas rindu sebagai sepasang suami istri yang lama tak bertemu. Pagi


ini anak buah Rendi sudah datang dengan membawakan mobil untuk atasannya itu,


Rendi juga meminta di bawakan baju untuknya dan juga Nadin, karena semalam ia


membiarkan Nadin tanpa pakaian sehelai pun.


“Kalian tetaplah di luar …, biar aku bawa bajunya ke dalam


sendiri!” ucap Rendi pada anak buahnya, ia masih memakai kaos lusuh yang sama,


karena ia meninggalkan semua kemeja dan jasnya di Jakarta, saat ia harus


kembali menjadi Rendi maka ia harus kembali memakai pakaian kebesarannya.


“Baik pak!”


Atas perintah Rendi, anak buahnya tetap berjaga di luar,


anak buah Rendi pun juga sudah mengganti penampilannya,. Banyak tetangga yang


lalu lalang hanya saling berbisik dan bertanya. Ada apa sebenarnya, dan siapa


yang ia lihat, ada mobil dan orang-orang berjas hitam seperti pakaian resmi.


~Bersambung


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘