
Dini sudah sempat menyimpan nomor pria ini,
"Kardus? Ngapain manusia kirim pesan ke aku?" Dini pun segera membacanya.
//Jangan lupa jam lima, aku tunggu! Kalau tidak datang berarti siap-siap besok di jemput polisi//
"Iihhhh ....., kesel banget, ganggu aja orang lagi happy ....!"
Dini kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam tas kain warna coklat nya itu. Ia harus bergerak lebih cepat hari ini.
Untung ojek on-line datang juga,
"Sama mbak Dini ya?" tanya driver ojek on-line yang ganteng banget itu.
"Ihhh mas ojol nya ganteng banget!" ucap Dini spontan membuat driver ojol tersenyum malu-malu.
"Beneran mbak Dini kan?"
"Bukan ....!"
"Hahh ...., tapi wajahnya sama!" driver ojol di buat bingung nih sama Dini.
"Ini sama Dini cantik mas ....!"
Lagi-lagi abang ojol ganteng di buat tersenyum salah tingkah sama Dini.
"Ini helmnya mbak ..., Dini cantik!" ucap driver ojol sambil menyerahkan helm warna hijau itu.
"Makasih mas ojol ganteng!"
Memang deh Dini ini luar biasa banget, bisa banget buat orang baper gara-gara kata-kata nya. Yang paling nggak bisa di buat baper itu si manusia kardus, sudah dua tahun Dini berusaha mendapatkan hatinya tapi ternyata zonk.
Motor berjalan begitu lincahnya, menembus macetnya jalanan ibu kota, sesekali motor itu dengan lincahnya nyelip di antara mobil-mobil yang bahkan tidak bisa bergerak dari tempatnya.
Mungkin itulah kenapa gadis bertubuh mungil itu lebih menyukai naik motor dari pada pakai mobil.
"Makasih ya mas!" ucap Dini sambil menyerahkan helmnya kembali.
Setelah mas ojol menerima helmnya, Dini segera berbalik hendak meninggalkan ojol.
"Mbak ...., mbak ....!"
Dini yang sudah berjalan lima langkah, kembali berbalik dan mengerutkan keningnya mendengar driver ojol itu memanggilnya lagi.
"Ada apa mas? Maaf ya nggak bisa ngasih nomor telpon! Ada cowokku di sana!" ucap Dini sambil menunjuk Juna yang sudah menunggunya di teras rumahnya.
"Bukan itu mbak!"
"Lalu apa dong!"
"Belum bayar mbak!"
Dini langsung nyengir kuda, saking nggak sabarnya pengen ketemu Juna sampek lupa bayar ojol. Dini kembali dan memberikan uang senilai seperti yang di katakan ojol.
"Makasih ya mbak, tapi lain kali jangan lupa lagi ya!"
"Iiissstttt ....!"
"Permisi mbak!"
Setelah ojol meninggalkan rumahnya barulah Dini menghampiri Juna, Juna sudah berdiri menunggu Dini.
"Maaf ya menunggu lama!"
"Nggak pa pa, bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
Ahhhh jadi ngerasa di perhatiin banget sama gebetan .....
Dini tersenyum begitu manis, "Lancar ...., bentar aku buka pintunya dulu ya!"
Dini segera mengambil kunci rumahnya yang ada di dalam tasnya itu dan membuka pintu.
"Masuk dulu mas!"
"Nggak usah, disini aja nggak enak di liat tetangga!"
"Ihhhh baik banget sih mas Juna ini .....!" ucap Dini dengan di buat begitu manis, "Ya udah aku buatin minuman dulu ya!"
Juna mengangguk dan kembali duduk saat Dini masuk untuk membuatkan minuman.
Lima menit kemudian Dini kembali keluar dengan membawa dua gelas orange jus.
"Nggak pa pa! Sepi banget, cuma tinggal sendiri ya?"
"Iya mas ....!"
"Orang tuanya?"
"Mereka punya rumah sendiri, Dini sengaja milih hidup sendiri biar lebih mandiri!"
"Kenapa?"
"Nggak enak mas, kalau tinggal sama adek-adek, mereka suka ngrecokin hidup orang!"
"Jujur banget!" ucap Juna, ia tidak menyangka jika gadis berpendidikan tinggi itu ternyata sangat terbuka. Gadis mungil itu ternyata sudah lulus strata 2 dan sudah mendapatkan gelar magister satu tahun lalu dan sekarang sedang proses mencari gelar doktoral dan sedang mengerjakan disertasi.
Karena terlalu asik berbincang dengan pria bergelar kapten itu, Dini sampai melupakan janjinya untuk datang jam lima ke apartemen manusia kardus itu.
"Hati-hati ya mas di jalan!" ucap Dini sambil melambaikan tangannya mengantarkan pria bertubuh tinggi itu meninggalkan rumahnya.
Juna pulang setelah bawahannya menjemputnya dengan motor tugas khas TNI.
Dini segera masuk ke dalam rumah dengan membawa nampan yang gelasnya sudah kosong itu.
Ia segera mencucinya agar tidak ada tumpukan gelas kotor di tempat cuci piringnya, setelah selesai ia segera mendongakkan kepalanya dan melihat jam dindingnya sudah menunjukkan jam setengah tujuh.
"Astaga ...., aku janjian datang jam lima!"
Dini segera berlari ke kamarnya, ia hanya mengganti bajunya dan kembali menyambar tasnya.
Untung saja sepeda motornya sudah kembali, ia bisa dengan cepat sampai di apartemen Ajun.
Setelah memarkirkan motornya di basement. Ia masih harus kesulitan untuk mencari nomor rumah pria yang sudah membuatnya patah hati selama dua tahun ini.
Akhirnya ia sampai juga di lantai lima belas dengan nomor 1512.
"Akhirnya ketemu juga!"
Dini pun segera mengetuk pintu itu, baru ketukan ke dua pintu langsung terbuka dan menampilkan pria dengan tubuh tinggi yang tidak begitu berotot itu sedang menyilangkan tangannya sambil menatap Dini dengan wajah dinginnya.
"Jangan tunjukkan wajah itu padaku, jangan coba-coba membuatku jatuh cinta lagi padamu ya!"
"Mau masuk sekarang atau masuk ke kantor polisi besok?" ancam Ajun lagi sambil menyingkir dari pintu.
"Iiissstttt ...., dasar tukang peras!"
Dini pun melewati pria itu begitu saja dan berhenti di ruang tamu yang tiba-tiba saja membuat kepalanya pusing.
"Astaga ....., ini rumah atau kandang kambing!?" protes Dini sambil memegangi kepalanya nyang nyut nyutan.
Ajun berjalan dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan duduk dengan kaki yang di lipat di atas kakinya sendiri dengan tangan yang masih menyilang di depan perut.
"Aku nyuruh kamu ke sini bukan buat nerima protesanmu! Kalau rumah ini sudah bersih, nggapain juga aku minta kamu ke sini!"
"Tapi nggak gini juga, kardus ....! Ini mah sampek tengah malem juga belum kelar!"
"Itu resiko karena kamu datang terlambat, jadi silahkan bekerja aku mau mandi dulu ....!" ucap Ajun sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya, tapi saat sampai di ambang pintu, ia kembali menghentikan langkahnya.
"Aturannya cuma satu, nggak boleh masuk ke kamar aku!"
"Siapa juga yang mau masuk!"
"Bagus lah kalau gitu!" ucap Ajun lagi lalu menghilang di balik pintu kamar itu.
Dini benar-benar merasa semakin capek saja saat melihat betapa berantakannya rumah itu. Benda-benda tidak berada pada tempatnya, sampah bertebaran di lantai di meja dan piring kotor di meja makan di dapur bahkan di balkon.
"Jorok banget sih jadi orang!"
Dini hanya bisa pasrah, ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum tengah malam dan pulang.
Berkali-kali ia mendongak dan melihat jam dinding, jarum itu berjalan begitu cepat sedangkan ia semakin lambat saja mengerjakan semuanya, hingga tanpa terasa rasa kantuk itu mengalahkannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰