MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 33 (Dini)



Ajun segera menatap Dini dan mendekatkan wajahnya hingga Dini memundurkan langkahnya.


Kini punggung Dini sudah membentur dinding lift dan di depannya Ajun begitu dekat, bahkan sangat dekat.


Ampun ...., si kardus kenapa ganteng banget sih ...., jadi deg degan gini rasanya ....., pengen pingsan .....


"Kalau tahu yang bertanggung jawab atas cidera ini kamu, berarti harus tanggung jawab!" ucap Ajun dengan begitu dekat hingga nafas Ajun menyapu wajah Dini.


Ting


Pintu lift terbuka, membuat Ajun menjauhkan wajahnya dari Dini, di luar lift Ada dua orang pria yang kebetulan akan masuk,


"Maaf ...., dia pacar saya!" ucap Ajun membuat alibi.


Dua orang pria itu ikut masuk, sepertinya akan naik ke lantai yang sama atau lantai di atasnya, kini di dalam lift itu sudah tidak hanya berdua saja.


Dua pria itu berdiri tepat di samping Dini, tapi dengan cepat Ajun sengaja mengungkung tubuh Dini di antara dinding dan dirinya.


"Kenapa?" bisik Dini merasa heran dengan sikap Ajun yang tiba-tiba berubah semakin serius.


"Diam dan nikmati saja ....!" ucap Ajun dengan senyum yang di buat manis sambil terus mendekatkan tubuhnya pada Dini.


Apanya yang di nikmati ...., benar-benar si kardus mencari kesempatan aja .....


Dua pria itu terus mengawasi gerak-gerik Ajun dan Dini hingga pintu lift terbuka.


"Ayo sayang kita keluar ....!" Ajak Ajun, tapi saat melihat nomor lantai yang tertera, Dini bersiap untuk protes.


"Kardus ...., tapi kan bukan di ...!"


"Hustttt ....., ini kan nomor lantai apartemen baru kamu sayang ...., kamu masih suka lupa ya ....!" ucap Ajun dengan begitu manis, sambil mengusap puncak kepala Dini, walaupun ucapannya begitu manis tapi mata Ajun begitu tajam menatap Dini agar dia menurut saja apa yang di ucapkan Ajun.


"Iya .....!"


Akhirnya Dini nurut saja ikut keluar lift walaupun belum sampai di lantai apartemen milik Ajun.


"Kardus ......!"


"Kalau mau protes nanti, sekarang kita sembunyi dulu ....!" ucap Ajun dan segera menarik pergelangan tangan Dini dan membawanya bersembunyi di balik tangga darurat.


Di bawah tangga yang gelap itu, ia bisa mendengar suara langkah kaki yang berpantulan dengan lantai. Dari celah sempit itu Dini bisa melihat dua pria tadi sedang mencari seseorang.


"Cepat sekali ngilangnya, mereka sembunyi dimana ya?"


"Bangs*t ...., kita dikelabuhi lagi!"


"Cerdik sekali dia ...!"


Dua pria itu terus mengumpat dan tak berapa lama menjauh dan menghilang di balik lift.


Dini segera menatap Ajun penuh dengan tanda tanya.


"Jangan menatapku seperti itu!" protes Ajun lalu berdiri dari persembunyiannya dan memilih duduk di anak tangga darurat itu.


Dini pun ikut berdiri dan duduk di samping Ajun, "Mereka tadi siapa?"


Ajun menoleh pada Dini dan menatap gadis imut itu, "Kenapa? Takut?"


"Takut nggak ada ya di kamus hidup aku!" ucap gadis itu dengan penuh keyakinan, "Kamu kali ya yang takut, buktinya ngajak sembunyi, pakek meluk-meluk aku segala ...., pasti modus ya ... ?"


Hehhhh .....


Ajun menghela nafas kesal, ia benar-benar kesal dengan gadis cerewet itu.


"Kamu nggak liat mereka bawa senjata?"


"Hahhh ... , mereka bawa senjata, maksudnya senjata api? pestol? tembak?" Dini bergidik ngeri membayangkan betapa hidupnya baru saja berada di ambang kematian.


"Iya ....., gimana? Masih nggak takut?"


"Tapi kan biasanya kamu kayak super hero pas lagi sama pak Rendi, sekarang kok jadi lempeng gini!?"


"Iiissstttt masih juga bisa protes! Kamu nggak liat, gara-gara kamu tanganku begini! Memang aku bisa apa jika tanganku cidera begini?"


Dini baru ingat jika tangan pria itu bahkan tidak bisa di gerakkan dengan bebas.


"Bukan urusanmu juga! Yang jadi urusanmu sekarang, kamu harus tanggung jawab gara-gara kamu aku nggak bisa ngapa-ngapain ....!"


"Emangnya aku harus ngapain?"


"Berarti kamu punya tugas tambahan selama tanganku masih sakit!"


"Hahhh ...., tugas tambahan ....!"


Tugas yang biasa aja udah banyak banget, masih juga di tambah tugas tambahan .....


***


Mereka sudah berada di dalam apartemen Ajun setelah sekian lama bersembunyi, dua orang tadi adalah anak buah salah satu preman yang sengaja pengen membuat masalah dengan Rendi, karena dengan menyakiti orang kepercayaan Rendi bisa menjadi pukulan besar pada Rendi.


"Sekarang tugas tambahanku apa?" tanya Dini yang sudah menyelesaikan pekerjaan.


Ajun duduk di sofa dengan laptop yang ada di pangkuannya. Dini yang melihat itu jadi penasaran, tangannya aja sakit, masak masih mau ngetik ....


"Lagi ngapain sih?" tanya Dini setelah pertanyaannya tidak di jawab oleh Ajun, Ajun masih sangat fokus dengan layar yang ada di laptopnya.


Dini segera duduk di samping Ajun dan ikut melihat apa yang di lihat Ajun, ternyata Ajun sedang mengamati cctv gedung apartemen itu, memastikan sesuatu atau hal yang janggal.


"Kamu meretas cctv apartemen ya?" tanya Dini.


"Diam dan jangan bawel!" ucap Ajun.


"Memang ada apa dengan cctv itu?"


"Aku sedang memastikan sesuatu, apartemen ini memiliki pengamanan yang sangat ketat, tidak mungkin sembarang orang bisa di ijinkan masuk! Lalu bagaimana orang yang membawa senjata bisa masuk ke gedung ini?"


"Tapi aku bisa masuk? Mudah lagi ....!" ucap Dini, kalau di pikir-pikir memang benar, kalau pengamanannya sangat ketat tapi Dini bisa bebas parkir di basement, pak satpam sendiri yang malah memberitahu dimana letak ia memarkir motornya, tanpa pemeriksaan lagi.


Ajun segera mengambil sesuatu dari balik laptopnya, "Lihat ini!"


Sebuah kartu dengan data tamu khusus yang di copy kan pada petugas keamanan, dan nama Dini tertera di kartu itu termasuk Nadin dan Rendi pastinya.


"Ihhhhh ...., ini berarti aku tamu istimewa kamu dong ...., so sweet .....!" ucap Dini dengan berbinar-binar sambil mendekatkan wajahnya ke Ajun.


Tapi Ajun segera menunjuk kening Dini dan mendorongnya ke belakang, "Jangan dekat-dekat ....!"


"Kenapa? Takut jatuh cinta ya?"


"Takut kalau kamu nggak bisa beralih menatapku!"


"Cieeee ...., si kardus mulai gombal nih ....!"


"Lupakan!" Ajun menyingkirkan tangannya dari kening Dini dan segera menutup laptopnya, ia pun meletakan laptop itu ke atas meja dan berdiri meninggalkan Dini.


Ia hendak masuk ke dalam kamarnya, tapi lagi-lagi langkahnya kembali terhenti di ambang pintu,


"Tugas tambahan buat kamu, kamu harus sampai di sini sebelum jam empat pagi, menyiapkan setiap keperluan aku sebelum berangkat kerja!"


"Itu pagi banget!" protes Dini.


"Karena jam empat pagi, aku sudah memulai kegiatanku, kalau nggak mau telat mending tidur di kamar tamu, nggak usah protes lagi aku mau istirahat!"


Ajun pun tidak mau mendengarkan protes Dini lagi, ia memilih untuk segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya kembali.


"Ihhhh ....., aku di kerjain lagi .....! Sekarang aja udah jam dua belas malam, emang aku mau tidur di jalan, jam empat udah di sini!"


Dini pun akhirnya memutuskan untuk tidur di kamar tamu apartemen Ajun, bukan cuma gara-gara hukumannya, tapi ia juga merasa kasihan sama pria itu. Dia tidak bisa melakukan apapun sendiri gara-gara dirinya, dan takut jika sewaktu-waktu pria aneh itu menemukan tempat tinggal Ajun sedangkan Ajun dalam keadaan yang masih belum bisa melawan.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘❤️