
Nadin benar benar tak percaya dengan apa yang ia baca. Tapi hatinya juga menghangat mendapat pesan itu, bukannya segera membalas pesan itu, ia malah sibuk menciumi dan memeluk ponselnya, menganggap jika ia sedang memeluk dan mencium Rendi.
Dia tidak tahu saja jika di seberang sana sedang uring-uringan menunggu balasan darinya.
"Astaga aku harus membalas apa ya?" gumam Nadin lirih hingga hanya dia yang mendengarnya.
Kini Nadin sudah duduk di atas kasur lipatnya, bukan karena ia mengalah pada Davina, tapi ia sendiri yang memutuskan untuk tidur di bawah (cam kan baik-baik, aku bukan mengalah, tapi cuma ingin saja ....).
Ia memeluk boneka panda miliknya, sambil kembali membaca pesan itu, entah sudah berapa puluh kali ia membacanya, tapi hatinya masih tidak puas.
"Baiklah ...., aku harus membalas pesannya kan ....."
Akhirnya Nadin mengetikan beberapa kata, tapi lagi-lagi ia hapus, hampir sama seperti yang dilakukan oleh Rendi, ia selalu menghapus dan mengetiknya kembali, padahal kata-katanya tetap sama, hanya kata-kata dasar yang biasa orang katakan pada sebuah pesan, tapi bisa menjadi istimewa jika di tujukan kepada orang yang istimewa juga.
***
Rendi sudah di buat kesal oleh Nadin, ia pun segera meletakkan ponselnya di sembarang tempat, ia harus menghilangkan rasa kesalnya dengan segera masuk ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan air dingin.
Setelah berada di kamar mandi selama sepuluh menit, akhirnya ia keluar dengan handuk yang melilit di pinggang dan satu handuk di kalungkan di lehernya dengan tangan yang mengusap rambutnya yang basah.
Ia segera menuju ke lemari pakaian dan memilahnya mengambil sebuah.kaos putih kesukaannya dan celana kolornya. Ia memakainya dengan cepat. Setelah itu ia meletakkan handuknya di keranjang baju kotor, ia tidak suka memakai lagi handuk yang belum di cuci setelah di pakai, si balok es itu memang mr. perfect.
Rendi segera menuju ke dapur untuk membuat coklat panas kesukaannya. setelah selama menit berkutat di dapur, ia kembali ke ruang santai, duduk, menekan tombol on pada tv dan duduk di sofa.
Sambil menikmati coklat panasnya ia kembali memeriksa pekerjaannya pada layar i-pad. Tapi ternyata pikirannna tak bisa beralih dari ponsel yang satunya. Ya si mr. Perfect itu selalu menyiapkan setiap detail pada dirinya dengan sangat detail. Seperti saat ini, ia membedakan antara ponsel yang ia gunakan untuk bekerja, dan ponsel pribadi. Ia sampai lupa sejak kapan menyimpan nomor Nadin di ponsel pribadinya itu.
Rendi pun meletakkan i-pad nya dan beralih pada ponsel yang ia letakkan sembarang tempat itu.
Entah kenapa sekarang hatinya menghangat saat melihat ada pesan masuk, rasa kesalnya entah meluap kemana.
*Anak kecil*
Ia melihat waktu pengiriman pesan, ternyata pesan itu sudah di kirim sejak sepuluh menit yang lalu. Rendi tersenyum senang saat melihat siapa yang mengirim pesan.
"Baik my pacar ...., tak akan, sampai jumpa besok my pacar. Cepat istirahat ya ....,muachhh....😘😘😘😘😘
Rendi tersenyum kegirangan melihat pesan itu.
"Astaga ...., kenapa dengan pipiku ini . .., kenapa ia tidak mau berhenti tersenyum ....!" ucap Rendi sambil menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri. Ia tidak tahu kenapa bibir nya terus melengkung saat mengingat pesan dari Nadin.
"Gila ...., gila ....., ini apa-apa an, aku harus segera tidur ...., sepertinya aku kurang istirahat ....!"
Rendi pun tak jadi menghabiskan coklat panasnya, ia pun segera menuju ke kamar dan merebahkan badannya, ia menelungkupkan badannya, menutup kepala belakangnya dengan bantal.
***
Pagi ini Nadin benar-benar heboh, ia bingung memilih baju kerjanya. Ini merupakan hari pertamanya nya magang, ia mau tampil perfect.
Begitupun dengan Davina yang juga tak kalah hebohnya, tapi ternyata Davina gerak cepat alias gercep, Davina sudah menyiapkan semua, sepulang dari perusahaan kemarin ia langsung mampir ke pusat perbelanjaan dengan teman-teman barunya di kampus.
Ayah Roy sudah memberinya uang jajan yang cukup untuk berbelanja baju. Walaupun tidak banyak tapi cukup untuk membelli dua setel baju kerja.
"Astaga kak Davina cantik banget ....! kok sudah rapi sih kak?" tanya Nadin yang melihat Davina sudah keluar dengan pakaian rapi.
"Ya iya lah ....., aku ...., aku nggak mau ya telat gara-gara kamu, kalau kamu lama aku tinggal ya ....!" ucap Davina sambil memakai sepatu hak tingginya.
"Jangan dong kak ...., aku belum dapat baju yang cocok ....!" ucap Nadin sambil masih memporak-porandakan isi lemarinya.
"Aku berangkat ....., cerry aku bawa ya ...., kamu naik angkot saja ....!"
Tapi terlambat, Davina sudah terlanjur keluar dari kamar dengan membawa kunci motornya.
Astaga ...., dia tega sekali ya .....
Nadin pun menyerah, ia terduduk lemas di atas tempat tidur. Dewi yang melihat Davina sudah berangkat lebih dulu, akhirnya menghampiri Nadin.
"Kenapa nak, kok pagi-pagi mukanya sudah di tekuk ...., bukannya hari ini hari pertama masuk magang, semangat dong sayang ....!" ucap Dewi sambil duduk di samping Nadin.
"Lihat ini ibu, aku nggak punya baju yang cocok untuk ke kantor." ucapNadin sambil menunjukkan gundukan baju yang sudah berserakan di atas tempat tidur.
Dewi tampak berpikir, sejurus kemudian, ia pun mengajak Nadin ke kamar ayahnya.
"Kenapa bu ke sini?" tanya Nadin yang tak mengerti dengan tingkah ibunya.
Dewi tak menjawab, ia langsung membuka lemari dan mengambil satu setel baju kerja.
"Bagaimana kalau ini sayang?" tanya Dewi sambil menunjukkan baju itu pada Nadin.
"Ini baju siapa bu?" tanya Nadin sambil mengambil baju itu. "Bagus sekali ....!"
"Pakailah ...., ini baju ibu waktu masih muda, jadul sih, tapi baju model seperti sekarang kembali tren."
"Aku pakai dulu ya bu ....!"
"Baik sama ....!"
Nadin pun segera berlari kembali ke kamar dan memakai baju kantornya.
Nadin tampak dewasa dengan pakaian resminya.
Setelah puas dengan penampilannya, Nadin pun segera berlari menuju ke jalan depan, ia bersiap mencari angkot, atau apalah yang bisa membawanya ke kantor.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit, harusnya Nadin masih punya waktu tiga puluh menit untuk sampai lebih awal di kantor, tapi yang ia tunggu tak juga datang.
Akhirnya Nadin memutuskan untuk berjalan lebih jauh, siapa tahu di sisi lain akan ada ojek atau apa.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya setelah ia merasa lelah karena terlalu jauh berjalan. Nadin menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah dalam mobil memastikan siapa yang ada di dalam mobil itu.
"Nadin .....,Kemana?"
Ternyata di dalam mobil itu ada Dio.
"Kak Dio .....?!"
"Masuklah ...., ayo aku antar ...!" ajak Dio sambil membukakan pintu mobil, Nadin cukup lama menimbang, ia berpikir keras, berdasarkan hatinya, ia ingin menolaknya karena tidak baik kembali dekat dengan Dio, tapi di sisi otaknya, ia harus segera sampai di kantor jika tidak mau kena masalah. Akhirnya setelah menimang-nimang otaknyalah yang menang.
"Ayo cepetan naik .....!"
"Baiklah ....!"
BERSAMBUNG
Author bicara : "ada banyak yang tanya kenapa sedikit sih kak?" Jawabnya : bukanya sedikit akang, mbak, mas, ibuk tapi karena terlalu seru jadi kerasanya cuma baca satu kalimat, sudah 1k lebih loh ....., ibarat kata, berbicara sama pacar sehari serasa satu menit .....!
Jangan lupa kasih dukungan dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya biar tambah semangat nulisnya, kasih Vote juga ya yang banyak
terimakasih
Happy Reading 😘😘😘😘😘