MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 43 (Ajun)



"Mas kenapa nggak pergi saat tahu aku sudah tinggal satu rumah dengan pria lain?"


"Karena aku percaya sama kamu!"


Deg


ucapan pria itu berhasil membuat dadanya bergetar, segitu percayanya pria itu pada dirinya padahal nggak saling kenal. Dini hanya bisa terdiam mencerna ucapan pria itu, singkat tapi kata percaya itu lebih kuat dari rantai kapal.


***


Ajun kini terpaksa harus melakukan semuanya di bantu anak buahnya. Tangannya masih terasa sakit, ia juga belum bisa menyetir mobilnya sendiri. Apa lagi mobilnya kini juga sedang di bawa oleh Dini.


"Kita ke mana pak?" tanya anak buahnya.


"Kita langsung ke kantor saja!" ucap Ajun yang sudah duduk di bangku belakang mobil perusahaan itu.


"Baik pak!"


Kenapa dia tidak menelponku ya? Apa dia benar-benar marah padaku? batin Ajun. Ia terus menatap ke jalan. Ia begitu menyesal atas perkataan kasarnya pada Dini. Terlalu sulit baginya untuk mengatakan cinta atau kata-kata sayang.


Kehadiran Dini satu minggu ini, seperti sebuah mimpi yang dulu tidak pernah ia bayangkan.


Mobil pun berhenti saat traffic light itu menyala merah. Ia mengecek pekerjaannya sejenak di layar I-pad nya. Hari ini sebenarnya ia sedikit sibuk. Tapi ia berharap bisa bertemu dengan gadis kuncir kuda itu dan meminta maaf.


Hehhhh ....


Ajun menghela nafas dalam, ia meletakkan kembali I-pad nya dan menoleh ke luar jendela.


Matanya tertuju pada sebuah sepeda motor besar dengan penumpang di atasnya.


"Kuncir kuda!" gumamnya saat ia mengenali siapa gadis yang di bonceng itu.


Beraninya dia melingkarkan tangannya seperti itu ....., batin Ajun kesal. Tanpa sadar tangannya sudah mengepal sempurna.


"Kejar motor itu!" ucap Ajun saat traffic light itu kembali menyala hijau.


"Baik pak!"


Untung saja motor itu tidak terlalu cepat melajunya sehingga mobil Ajun dapat dengan mudah menyusulnya.


Setelah berada di tempat yang sedikit sepi, mobil Ajun dengan cepat mendahului dan menghadang di depannya dengan decitan panjang.


Ciiiiiiiiiittttttt


Dengan mobil yang memutar hingga seratus delapan puluh derajat kembali menghadap ke belakang menyisakan bekas ban di atas aspal. Untung saja sepeda motor itu dengan cepat mengerem motornya.


Ajun segera keluar dari dalam mobil sedangkan pengendara motor itu masih di atas motornya.


"Ajun!" gumam Dini yang berada di atas motor. Ia pun segera turun dan melepas helmnya. Ia menghampiri Ajun yang berdiri dengan cool nya tanpa rasa bersalah.


"Apa-apaan sih? Kalau mau mati, mati sendiri aja!" teriak Dini dengan begitu kesal. Tapi tanpa menjawab tiba-tiba Ajun menarik tangan Dini dan hendak membawanya masuk ke dalam mobil.


Tapi tangannya segera di tahan oleh Juna, Ajun menatap Juna dengan begitu tajam.


"Apa yang kamu lakukan? Dini bersama ku jadi jangan memaksa!" ucap Juna.


Ajun segera mengibaskan tangannya dan menunjuk pada pria itu, "Ini bukan urusan anda!"


"Apapun yang berhubungan dengan Dini sekarang menjadi urusan saya!"


"Benarkah?!" ucap Ajun dengan senyum sengitnya. Ia segera menarik Dini kembali ke luar mobil dan ...


Cup


Dengan cepat mendaratkan ciuman di bibir Dini. Dini terpaku di tempatnya, begitu juga dengan Juna. Begitu lama, hingga Ajun melepaskan ciumannya. Ia memakai kembali kaca matanya dan masuk ke dalam mobil bersama Dini meninggalkan Juna yang masih terpaku di tempatnya.


"Jalan!" perintah Ajun.


"Baik pak!" Dengan melakukan hal yang sama, mobil kembali memutar seratus delapan puluh derajat persis seperti sebelumnya dan berlalu meninggalkan tempat itu.


Buks buks buks


Dengan cepat Dini memukuli lengan Ajun karena begitu kesal.


"Aughhhh ....!" teriak Ajun saat tangannya yang masih nyeri di pukul oleh Ajun.


"Sakit kan ....? Ya sakitlah! Tapi masih sakit saat kau ambil ciuman pertamaku, tahu ....!" ucap Dini kesal.


"Dan lagi kamu lancang banget sih nyulik aku!"


"Dan ini yang terakhir ya ...., kamu harus kembalikan ciuman pertamaku!" ucap Dini dan mendekatkan dirinya pada Ajun membuat Ajun begitu terkejut hingga ia memundurkan tubuhnya.


"Apa?" tanya Ajun bingung, ia tidak tahu maksud mengembalikan ciuman pertamanya.


Cup


Dini mendaratkan ciumannya pada Ajun. Ajun tersenyum mendapatkan ciuman dari Dini.


"Impas sekarang!" ucap Dini setelah menjauhkan bibirnya dari Ajun dan kembali duduk di samping Ajun. Ajun menarik garis bibirnya ke atas dan kembali fokus ke depan.


Ajun kembali menatap layar I-pad nya. Ia sedang berusaha mengalihkan dari kegugupannya berada di samping gadis yang sudah mencuri ciumannya.


Setelah berada dalam kesunyian karena Dini juga memilih untuk diam. Hingga mereka sampai di depan sebuah gedung perkantoran.


Ajun segera turun dari mobil tapi Dini masih tetap duduk di tempatnya.


"Ayo turun!" ucap Ajun sambil kembali menyusupkan kepalanya ke dalam mobil.


"Nggak mau ...., aku mau ke kafe bukan ke sini!" tolak Dini.


"Nanti setelah aku menyelesaikan pekerjaanku!" ucap Ajun.


"Nggak mau!" ucap Dini dengan kesal.


Srekkkkk


Ajun dengan cepat mengangkat tubuh Dini seperti karung.


"Ajun ....., turunkan ....!" teriak Dini tapi Ajun tetap tidak peduli, ia terus saja berjalan melewati banyak orang dan menuju ke dalam ruangannya.


Akhirnya Dini hanya menyerah, dari pada terus berteriak-teriak malah membuat mereka jadi pusat perhatian semua orang.


Setelah melewati lift akhirnya mereka sampai juga di ruang kerja Ajun. Ajun segera menurunkan Dini di sana.


"Diam di sini dan biarkan aku bekerja!" ucap Ajun sambil berjalan dan duduk di kursinya.


Dini hanya bisa diam dan menatap Ajun kesal. "Berikan alasan padaku hal yang paling masuk akal agar aku terima dengan perlakuan mu ini!" ucap Dini sambil berkacak pinggang.


Tapi Ajun hanya menatap sebentar pada Dini dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Ayolah ...., kardus! Jangan buat aku kesal ya! Oke aku pergi deh kalau gitu!"


Ajun kembali menatap Dini dan meletakkan bolpoinnya di atas meja.


"Tetap di situ atau aku akan meminta seseorang untuk menjagamu! Dan ingat ini kantor milik pak Rendi, dan kamu pasti tahu apa yang akan terjadi jika pak Rendi sampai tahu kalau kamu di sini!"


Astaga ....., dia benar-benar memerasku .....!"


Dini pun akhirnya memilih duduk di depan meja ajun dan memperhatikan pria kardus itu.


Apa aku goda dia aja ya .....


Ia pun segera berdiri dan menghampiri Ajun, ia mengalungkan tangannya di bahu Ajun dan bergelayut manja di sana.


Jangan membangunkan singa tidur ya .....


"Apa yang kamu lakukan? Jangan memancingku ya!" ucap Ajun, yang sudah mulai tidak fokus dengan pekerjaannya.


"Memang sengaja, Kenapa?" ucap Dini sambil terus bergelayut manja di pangkuan Ajun.


Dia benar-benar sengaja ya ....


"Berdiri, dan kembali ke tempatmu!"


"Nggak mau!"


Tok tok tok


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Wajah Ajun berubah panik hingga ia berdiri dari duduknya.


Bug


Hingga ia lupa jika Dini berada dalam pangkuannya.


...Cinta itu rumit, serumit benang kusut. Di tarik salah di longgarin bikin puyeng, mau di biarkan sayang di lepas juga sulit~ Author...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰🥰