MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Mencari Kado



     Mobil yang sedang di kendarai Rendi


sedang berhenti tepat di garis pembatas zebracross. Ia mengedarkan pandangannya


sambil menunggu warna hijau pada lampu lalulintas menyala. Tapi matanya


terpancing pada seseorang yang sedikit familiar di matanya akhir-akhir ini. Seorang


gadis yang cerewet yang beberapa kali ia temui tanpa sengaja. Gadis itu tampak


sibuk membetulkan motornya di pinggir jalan.


Lampu hijau menyala, Rendi lekas melepas pedal koplingnya dan


menginjak pedal gasnya. Kendaraan mulai melaju, tapi bukan berjalan terus, ia


malah menyalakan lampu sein ke kiri, ia menepikan kendaraannya.


Dia lekas keluar dari mobil, menghampiri gadis itu, gadis itu


sedang jongkok dan sesekali memukul motornya, tampak putus asa.


“ada apa?” tanya Rendi dingin, tetap dengan gayanya yang cuek.


Gadis itu mendongak dan berdiri kaget melihat siapa yang


menghampirinya.


“pak Rendi?”


“kenapa?”tanyanya lagi. Tapi wajahnya tampak menyebalkan.


akhirnya malaikat es ku datang, dia benar-benar pangeran berkulit putih ....


“mogok, pak ..., pak Rendi mau ke rumahnya kak Agra ya ...? aku


ikut ya ...?” ternyata gaya cerewet Nadin tetap sama, tak peduli dia berhadapan


dengan gunung es, tetap saja tak berpengaruh baginya.


“dasar bocah ...., terserah lah ...” Rendi segera meninggalkan


Nadin. Nadin pun mengikutinya. Ia persenyum penuh kemenangan.


“tapi pak ..., motornya? Tidak mungkin saya tinggal...” ucap Nadin


sambil terus mengekor di belakang Rendi.


“di panggul ...” jawab Rendi ketus tanpa menoleh.


“hahhhhh ...” Nadin berhenti mendengar ucapan Rendi. Ia terus terpaku pada motornya yang teronggok begitu saja di pinggir jalan.


Apa aku kuat memanggulnya ....? pak Rendi ada-ada aja ....


“mana mungkin aku memanggulnya ..., memang aku samson apa?” gerutu Nadin.


Tin tin tin


Tanpa di sadari ternyata Rendi sudah masuk kedalam mobil. Suara


klakson berhasil membangunkan Nadin dari lamunannya.


“jadi ikut tidak ....?” teriak Rendi dari dalam mobil.


“dasar balok es ..., bisa tidak sih tidak bertindak semaunya ...., aku kan harus mengurus motorku dulu.


Nyesel aku ketemu sama dia ...” gerutu Nadin sambil berjalan menghampiri mobil


Rendi. Nadin pun masuk ke dalam mobil.


Setelah sempurna duduknya, sebelum Rendi menginjak pedal gasnya,


lagi-lagi Nadin memegang tangan Rendi.


“pak ...”


“lepas ...” ucap Rendi dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari


jalanan.


“baiklah ..., tapi bagaimana dengan motorku?” tanya Nadin memelas.


“lihat itu ....” Nadin pun mengikuti jari telunjuk Rendi, tepat di


mana motornya terparkir.


‘mereka siapa pak? Motorku mau di apakan?” tanya Nadin cemas,


tampak dari wajahnya panik.


“mereka orangku, yang akan ngurusin motor butut kamu ...” Selama dalam perjalanan menuju mobil, Rendi ternyata sudah menghubungi sekertarisnya untuk mengurusi motor Nadin. Hanya dengan sekali panggilan saja, mereka langsung datang.


“ahhh ...., lega ...., aku kira ...” ucap Nadin sambil mengelus


dadanya. Tapi belim sempat Nadin membuka kembali mulutnya, Rendi sudah lebih dulu memoyongnya.


“sudah .., Diam ....!.” ucapan Rendi dengan tatapan dingin dan tajam segera menghentikan


ucapan Nadin.


“cerewet sekali bocah ini ...” batin Rendi.


Rendi pun melajukan mobilnya setelah Nadin diam. Keadaan mobil


menjadi hening. Rendi fokus mengendarai mobilnya, sedangkan Nadin berusaha


keras menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Setelah berjalan beberapa


menit barulah Nadin teringat sesuatu. Ia segera menoleh ke pria yang ada di sampingnya. Tangannya hendak menyentuh lengan kekar itu, tapi segera di urungkan. mengingat Rendi sangat benci di sentuh.


“pak ...” ucap Nadin ragu. Nadin menatap Rendi dengan wajah imutnya.


“apa lagi?” tanya Rendi tanpa menatap orang yang bertanya.


"Lihat aku pak...!"


"Ccchhhkkkk ......,Cerewet sekali ..." Rendi sedikit berdecak, tapi tetap menurut, dia menatap Nadin. entah kenapa setiap melihat mata gadis itu, ia tak bisa beralih.


“aku belum beli kado untuk kedua keponakanku. Bolehkan kita mampir


ke toko untuk membeli kado?” tanya Nadin ragu. Rendi segera tersadar dengan lamunannya.


“kado ..., aku juga belum punya kado ...” batin Rendi. tapi


Rendi tak mau menurunkan egonya dengan menjawab ucapan bocah di sampingnya.


“gimana? Bisa ya pak..., aku mohon ....!!!!” Nadin tampak memelas.


“sebenarnya robot atau orang sih di sampingku ini ..., dasar ....,


nyesel aku bicara sama dia , dasar nggak punya hati ...., punyanya jantung doang ...” batin Nadin


sambil mengerucutkan bibirnya. Ia begitu kesal dengan Rendi.


Tiba-tiba mobil terhenti tepat di depan toko yang menjual


perlengkapan dan peralatan bayi. Nadin terkejut saat mobil tiba-tiba berhenti.


Saat mengedarkan pandangannya barulah ia sadar jika berada di depan toko.


ah ...... so sweet ...., dia manis juga, aku tahu balok es, sebenarnya hatimu baik, baiiiiiik sekali ...., aku padamu deh pokoknya ....


“turun atau tetap di situ?” tanya Rendi tetap tanpa ekspresi.


“hah ..., kapan


orang ini turunya, cepat sekali ...., dasar orang aneh ...”batin Nadin. Nadin pun akhirnya turun.


Mereka berdua segera masuk ke dalam.


Keadaan toko itu memang selalu ramai, selain itu toko perlengkapan dan


peralatan bayi paling lengkap , kualitasnya juga sangat bagus.


Rendi dan Nadin pun menyusuri lorong


demi lorong mencari kado yang cocok untuk di berikan kepada anak kembar itu.


Anak dari wanita yang pernah singgah di hatinya.


“menurutmu, apa yang harus aku beli?”


tanya Rendi. pertanyaan Rendi yang tiba-tiba sedikit membuat Nadin terkejut.


“dia bertanya


padaku? Benarkah..., apa dia bertanya padaku ...” batin Nadin bingung dan yang keluar dari mulutnya hanya ...., saking terkejutnya Nadin sampai lupa caranya bicara. Dasar Nafin bodoh, makinya pada dirinya sendiri.


“hahhhh ..., ak ....” entah kenapa seakan kata-kata yang menurutnya mudah jadi sulit keluar dari mulutnya saat pria itu menatapnya.


“lupakan ...” ucap Rendi, lalu pergi


begitu saja meninggalkan Nadin yang masih bingung.


“benar kan, dia itu benar-benar


menyebalkan ..., nyesel aku pernah mengaguminya ..., pria tua, sombong, angkuh


..., lengkap sudah ...” gerutu Nadin sambil terus memilih barang yang akan di


jadikan kado.


kenapa saat tak bersamanya mulutku jadi lancar lagi bicaranya ...., menyebalkan ....


Setelah selesai Nadin pun membawa barang belanjaannnya ke kasir


dan meminta kasir untuk membungkuskan sekalian.


Karena cukup lama menunggu di kasir.


Rendi tak juga datang, akhirnya Nadin memutuskan menyusul Rendi menyusuri


lorong. Hingga ia menemukan Rendi di salah satu lorong.


“pak ..., apa sudah?” tanya Nadin sambil


berjalan menghampiri Rendi. sedangkan Rendi yang merasa di panggil segera


menoleh ke arah Nadin.


“permisi kak ...” tampak seseorang


sedang kesusahan mengambil barang di rak paling atas, terdapat banyak kardus di


rak paling atas. Karena kurang keseimbangan. Akhirnya kardus-kardus itu


bergerak hendak jatuh menimpa Nadin.


“Nadin awas ...” seru Rendi, ia mendekat


dan melindungi kepala Nadin dengan lengannya.


Bruk bruk bruk bruk


“maaf kak saya nggak sengaja ...” ucap


pemuda tadi. Rendi pun mengangguk. Pemuda itu pun meninggalkan mereka.


Nadin terpaku dan gugup, tentu saja


berada terlalu dekat dengan yang pernah ia kagumi. Walaupun ia benci dengan


sikap dingin Rendi, tetap saja dalam hatinya tak pernah dia pungkiri. Ia


terlalu mengagumi pria di hadapannya itu.


“sudak menatapnya?” ucapan Rendi


seketika membuat Nadin mengalihkan pandangannya.


“untung cakep


...” batin Nadin sambil dengan cepat mengalihkan


pandangannya dari pria yang minim ekspresi itu.


Setelah mengikuti Rendi berkeliling,


akhirnya pria es batu itu pun menemukan yang di cari. Mereka membawanya ke


kasir dan meminta kasir untuk membungkus sekalian.


Rendi dan Nadin kembali ke dalam mobil


dengan barang belanjaannya. Mereka menaruh kadonya di bangku belakang. Tak lama


kemudian Rendi menyalakan mobilnya. Rendi dan Nadin lekas mengenakan


seatbeltnya. Setelah memberikan upah parkir, Rendi melajukan kendaraannya


menuju ke rumah Agra.


***