
Mereka
pun memutuskan untuk tidak kembali ke kantor atau langsung pulang ke apartemen,
ada yang ingin Rendi tanyakan pada ayah mertuanya, setahu dia selama ini Davina
belum menikah, lalu yang ia lihat tadi itu nyata.
“Nanti
jangan katakan apapun dan pada siapapun tentang apa yang kita lihat, termasuk
pada istri saya!”
“Baik
pak!” ucap Ajun sambil m nganggur.
Mereka
pun akhirnya sampai juga di rumah ayah mertuanya. Terlihat Roy sedang sibuk
menutup rolling dor nya . Rendi yang sudah turun segera menghampiri ayah
mertuanya dan membatu menutupnya.
“Berat
ya, yah?” tanya Rendi sambil membantu ayah mertuanya menarik rolling door membuat ayah Roy menoleh padanya.
“Eh kamu Rend, sejak kapan datang!?"
“Baru saja, yah …!”
“Terimakasih
ya!” ucap ayah Roy saat rolling dor itu sudah berhasil di tutup.
“Ayo
masuk!” ajak ayah Roy.
“Nggak
usah yah, di sini saja. Ada yang ingin Rendi tanyakan!”
“Duduklah
…!”
Mereka
pun duduk di teras toko, di bangku sederhana yang terbuat dari kayu yang ayah
Roy buat sendiri tanpa cat atau pewarna lainnya.
“Ada hal serius
apa?”
“Bukan hal serius, hanya saja saya berpikiran sesuatu, Apa Davina pernah berkunjung?”
“Sudah lima bulan ini dia tidak pulang, katanya dia di kirim ke luar kota untuk
beberapa bulan ke depan paling lama satu atau dua tahun!”
“Dia
mengirim kabar?” selidik Rendi.
“Iya dia
sering telpon, ada apa?” tanya ayah Roy jadi ikut penasaran.
“Tidak,
aku hanya ingin tahu saja bagaimana kabarnya!"
"Oh ...., aku kira ada sesuatu yang serius, jangan sembunyikan apapun dari ayah ....!"
Rendi hanya bisa mengangguk. "Maaf yah, aku tidak bisa lama,
Nadin di rumah sendiri, aku harus segera pulang!”
“Baiklah
…, hati-hati di jalan, salam buat Nadin!”
“Iya …,
Rendi pamit!” Rendi meraih tangan ayah mertuanya dan mencium punggung
tangannya. Kemudian berlalu meninggalkan ayah Roy.
Rendi
kembali ke apartemen, ia turun dari mobil. Tampak sinar senja sudah muncul di
langit barat, di depan apartemen banyak yang sedang lalu lalang jalan kaki,
sepertinya mereka sengaja menghabiskan senjanya untuk jalan-jalan.
“Kamu
langsung aja nggak usah ikut naik!”
“Baik
pak!”
Rendi
pun melangkahkan kakinya hendak masuk, tapi ia kembali berhenti dan menoleh
pada anak buahnya yang masih berdiri di samping mobil menunggu hingga atasannya
benar-benar masuk ke dalam lift.
“Oh
iya!”
“Ada apa
pak?”
“Selidiki
tempat tinggal Davina, dan ingat jangan sampai ada yang tahu!”
“Baik
pak! Kalau begitu saya permisi!”
Rendi
pun segera naik ke apartemennya, ia menjadi terbiasa memencet bel saat dari
luar rumah karena Nadin selalu memarahinya.
Ting
tong ting tong
“Iya
sebentar!” terdengar teriakan dari dalam.
Tak lama
Nadin pun membukakan pintu, melihat suaminya datang, Nadin pun segera meraih
tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.
“Mas ….,
mana Ajun?” Tanya Nadin sambil mendongakkan kepalanya ke luar ke belakang
Rendi, Rendi segera menarik kepala Nadin hanya dengan satu tangannya sudah mampu
menjangkau puncak kepala Nadin.
“Suami
pulang bukannya di tanyakan bagaimana keadaannya, tapi malah menanyakan pria
lain!” keluh Rendi saat mereka sudah masuk ke dalam.
“Bukannya
begitu, tapi kan biasanya Ajun selalu ikut denganmu, di belakangmu!”
Nadin
depan suaminya itu, dengan telaten ia membantu suaminya melepaskan sepatu dan
kaos kakinya.
“Memang
Ajun kemana , Mas?”
“Dia ada
tugas lain!”
“Tugas
apa?”
“Jangan
banyak bertanya sekarang cium aku!” ucap Rendi sambil menunjuk bibir Nadin,
Nadin pun meletakkan kembali sepatu suaminya, ia berdiri dan menunduk mendekat ke wajah Rendi, dengan
kedua tangannya ia gunakan untuk menopang tubuhnya supaya tidak menimpa tubuh
Rendi.
Cup
Nadin
mencium pipi Rendi dengan cepat.
“Cuma
pipi?”
“Yang
lainnya nanti, mandi dulu lalu makan!”
Tapi
saat Nadin hendak menjauhkan tubuhnya dari tubuh Rendi, dengan sengaja Rendi
menyenggol lengan Nadin sehingga Nadin kehilangan keseimbangannya dan tubuhnya
menimpa Rendi.
“Mas …,
sengaja ya!”
“Nggak
…, mungkin kamu yang sengaja ngejatuhin tubuh kamu di tubuhku supaya aku cium!”
“Nggak!”
“Nggak
usah alasan …, sini biar aku cium!” bekum sempat Nadin menimpali lagi, Rendi
sudah lebih dulu membungkam bibir nadin dengan bibirnya, cukup lama mereka
berciuman.
“Ini
sambutan yang manis!” ucap Rendi dengan senyum khasnya setelah melepaskan
ciumannya.
“Baiklah
,…, aku mandi dulu ya Tokki ku …!” Rendi lagi-lagi mengusap kepala Nadin. Rendi
pun segera menuju ke kamar mandi.
“Kenapa
selalu saja aku yang di salahin …, bilang aja mau nyium pakek alasan aja!”
gerutu Nadin.
Nadin kembali ke dapur untuk menyiapkan
makanan untuk suaminya. Setelah selesai mandi, Rendi segera menyusul istrinya.
Rendi melihat Nadin sedang sibuk menata makanan di atas meja.
“Tokki
ku masak apa ini …?” Tanya Rendi sambil menarik sebuah kursi untuk di duduki.
Nadin tersenyum ia menyelesaikan pekerjaannya dan mengirup aroma tubuh
suaminya.
“Mas
Rendi wangi banget sih …!”
“Biasa
aja!” ucap Rendi dengan gayanya yang sok cool.
“Biasa
aja kayak gini gimana kalau luar biasa!” puji Nadin sambil ia menatap Rendi
dengan menyangga dagunya dengan kedua tangannya di atas meja. Perlakuan Nadin
benar-benar berhasil membuat Rendi gemas, Rendi mengacak-acak rambut Nadin
gemas.
“Jangan tunjukkan
wajah seperti ini di depan pria lain!”
“Kenapa?”
“Mereka
pasti akan bilang kalau kamu itu menggemaskan!”
“Kan
bagus!”
“Lalu
bilang lagi!”
“Apa?”
“Tapi sayang,
suami kamu es batu!” ucap Rendi dengan mimik wajah yang biasa saja.
Ha ha ha
Sontak
ucapan Rendi membuat Nadin terpingkal-pingkal, ia tidak percaya jika ternyata
suaminya itu menyadari jika dirinya itu sekeras dan sedingin es batu.
“Kenapa
tertawa?”
“Bagaimana
aku tidak tertawa, ternyata suami dinginku ini bisa ngelucu …!”
Bersambung
Insyaallah kalau ada tabungan bab, aku bakal sering-sering crazy up, di tunggu saja ya
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘