
mereka
pun kembali masuk ke dalam mobil, anak buahnya sudah menyimpan semua belanjaan
di bagasi belakang.
“Apa mas
Rendi punya tempat yang indah, di puncak?”
“Kenapa?”
“Sepertinya
menghabiskan waktu akhir pekan di puncak sangat menyenangkan!” ucap Nadin
ragu-ragu. Ia takut suaminya akan keberatan, karena selama ini tak ada yang
lebih penting untuk suami dinginnya itu di banding pekerjaan.
“Baiklah
…, kita berlibur ke puncak sepuasmu!”
“Hah …,
benarkah …?”
“Kenapa?
Kau yang minta dan sekarang kau yang terkejut!”
“Tapi
bukankah meninggalkan pekerjaan itu akan sangat berat!”
“Kau
lupa, aku sekarang CEO perusahan ayahku, aku bos, jadi pekerjaan yang akan
menunggu ku, bukan aku!”
Ahhh …,
dia sombong sekali ….
Tapi
memang benar apa yang di katakana Rendi, kini ia bukan pengawal pribadi Agra
lagi, ia sudah memutuskan untuk berdiri sendiri, tanpa bayang-bayang Agra dan
finityGroup.
“kenapa?”Tanya
Rendi karena melihat Nadin yang menatapnya hingga tak mengedipkan matanya.
“Nggak!”
Nadin mengalihkan tatapannya dari Rendi, ia memilih melihat ke luar.
“ya
sudah …, kita jalan!” perintah Rendi pada anak buahnya.
“Baik
pak!”
Rendi
menepati janjinya, mereka menuju ke vila milik keluarga Rendi. Milik ayah
Rendi.sepanjang jalan Nadin tidak pernah berhenti bicara dengan
pertanyaan-pertanyaan tidak pentingnya yang selalu berhasil membuat
Rendi kualahan menjawabnya.
“Astaga
…, bagaimana dengan anaknya, apa dia juga akan se cerewet ini!”keluh Rendi.
“Jika
itu anakku, berarti anakmu juga kan …, jangan mengeluh seperti itu!”
Mereka
benar-benar seperti sepasang suami istri yang sudah menikah bertahun-tahun,
kadang berdebat dan kadang mereka benar-benar saling menyayangi.
Akhirnya
mereka sampai juga di vila, vila itu berada di bandung dengan dua lantai, lima
kamar tidur , tiga kamar mandi, ruang keluarga, ruang makan, dapur, taman
pribadi, balkon, carport, private pool, vila itu langsung berhadapan dengan
hamparan hijau yang sangat luas.
“Oh …,
astaga …, berapa banyak uang yang mas rendi keluarkan untuk menyewa vila ini?”
bisik Nadin pada Rendi.
“Sudah
kubilang, ini vila keluarga!”
“Kenapa
kita tidak tinggal di sini saja mas …?”
“Kau
akan jadi tukang kebun jika kelamaan di sini!”
Nadin
menyebirkan bibirnya mendengarkan ucapan suaminya yang menyebalkan itu. Nadin
tak peduli lagi, ia memilih untuk berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam vila,
di sana ia langsung di sambut oleh penjaga Vila.
“Ambil
barang-barangnya dan bawa ke dapur!”
“Baik
pak!”
Rendi
pun meninggalkan anak buahnya sendiri, ia menyusul Nadin. Nadin sudah berjalan
ke sana kemari seperti kelinci yang tak pernah lelah.
“Dasar
kelinci kecilku! Tokki ...!” Rendi memberi isyarat pada penjaga vila untuk
meninggalkan mereka. Mereka pun menunduk memberi hormat dan meninggalkan
sepasang pengantin baru itu.
Rendi
mengikuti kemanapun Nadin berjalan, dan akhirnya wanita itu berhenti di depan
kolam renang pribadi itu. Nadin merentangkan tangannya, menikmati udara segar
sambil menutup matanya.
Srekkk
Rendi
memeluk Nadin dari belakang, ia melingkarkan lengannya di atas dada Nadin,
mendekapnya begitu erat.
“Kau
suka ….?”
“Suka
sekali ….!”
“Kita
bisa menghabiskan waktu di sini lebih lama lagi!”
“Benarkah
…?”
“Iya …,
apa aku pernah berbohong padamu?”
Nadin
padanya, menatap wajah Nadin dengan penuh cinta. Perlahan ia mendekatkan
bibirnya ke bibir Nadin, mencium Nadin dengan penuh cinta, ciuman itu
berlangsung cukup lama dan semakin panas. Rendi segera mengangkat tubuh Nadin
dan membawanya ke kamar mereka, merebahkan tubuh Nadin di sana dan
menindihnya.
“Maukah
kau jadi ibu dari anak-anakku?” bisik Rendi, Nadin pun mengangguk. Apa yang
sudah di tunggu begitu lama kini datang juga, Rendi tak lagi mengenakan
pengamannya, ia benar-benar yakin untuk menjadikan Nadin sebagai ibu dari
anak-anaknya.
Rendi
benar-benar tak membiarkan Nadin bangkit dari tempat tidurnya, Rendi
benar-benar memperlakukan Nadin seperti seorang putri di Villa itu, bahkan
untuk ke kamar mandi pun Rendi bersiap mengantarnya.
“kenapa
mas Rendi jadi aneh sih?” Tanya Nadin, ia sedang asik menikmati pemandangan
dari balkon vila. Mendengar pertanyaan Nadin, Rendi yang baru saja meletakkan
dua cangkir susu hangat itu segera mendekati istrinya dan mendekapnya dari
belakang.
“Aneh
kenapa sih?” Tanya Rendi sambil mengecupi leher jenjang Nadin.
“Kau
begitu manis, mas!” ucap Nadin sambil
mengusap wajah Rendi.
Pria
dingin ini benar-benar manis …, aku semakin sayang dengannya ….
Nadin
tersenyum, ia begitu menyukai sikap Rendi yang seperti ini, tapi kadang sikap
menyebalkan Rendi membuatnya rindu, ia sering sekali menggoda suami dinginnya
itu.
“Kau
yang manis, Tokki ku!”
“Tokki?
Jadi mas Rendi nyamain aku sama kelinci.”
“Iya!”
“Jadi
mas Rendi menganggapku seperti seekor kelinci? Jahat banget …!”
“Bukankah
itu manis …., kau mirip sekali dengan kelinci, kau bejalan ke sana kemari
seperti kelinci, tapi apa kau tahu kelinci itu sekarang sedang berada lama
dekapanku, aku tidak akan membiarkannya lari lagi!”
“Kenapa
semenjak kau pandai bicara, bicaramu jadi ngelantur sih mas, kau nggak sedang
sakit kan?”
“Kau ini
benar-benar ya …!” Rendi melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Nadin agar
menghadap padanya, dan seperti biasa Rendi mengusap pipi Nadin. Menatap wajah
istrinya begitu mnenyenangkan.
“Apa ada
yang ingin kau kunjungi di sini?” Tanya Rendi.
“Apa itu
boleh?”
“Tentu
saja!”
“Bagaimana
kalau kita jalan-jalan di kebun the, berkkeliling rumah warga, menikmati
pemandangan!”
“Banyak
sekali!” lagi-lagi Rendi harus mengeluh.
“Kenapa
bertanya kalau nggak mau mengabulkan!”
Mereka
pun akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan di luar vila, mereka sengaja tidak
membawa mobil karena memilih untuk menikmati waktu lebih sambil berjalan kaki.
Mereka memutuskan untuk tinggal di vila selama satu minggu ke depan, karena
Nadin juga belum memiliki rencana untuk kedepannya, Rendi meminta Nadin untuk
melanjutkan S2 tapi sepertinya Nadin tidak begitu tertarik, jiwa dagangnya
lebih besar, ia berencana untuk membantu kakaknya mengelola toko kuenya dan
kafe jika Rendi mengijinkan, karena Nadin belum berani bertanya langsung pada
suaminya itu.
“Apa mas
Rendi sering ke sini?” Tanya Nadin sambil menenteng sandal jepitnya, ia memilih
berjalan tanpa alas kali saat menyusuri kebun the.
“Dulu
…!”
“Dengan
siapa?”
“Dengan
…!”
“Hanna
…?”
“Kenapa
jadi membicarakan dia?” Rendi mengeluh lagi.
“Karena
menurutku jika tidak dekat, mana mungkin Hanna bisa sangat menyukaimu!”
Ucapan
Nadin benar-benar membuat Rendi teringat dengan kejadian waktu itu, benberapa
tahun silam, benar-benar kenangan yang sangat buruk untuknya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Yang pengen liat visual mereka yang kece kece, bisa intip di Ig author
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘