MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Memutuskan pergi



Nadin menunggu suaminya di ruang tamu, ia hingga


cukup lama pintu itu baru terbuka kembali. Rendi muncul dari balik pintu, Nadin


tak juga mengeluarkan suaranya. Rendi segera duduk di hadapan istrinya itu.


“Sekarang jelaskan padaku mas!”


“Nad …, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan,


percayalah padaku!” Rendi berjongkok di hadapan Nadin, menggenggam tangan


istrinya, mencoba meyakinkannya bahwa tidak semua yang di lihat adalah


kebenaran.


“Siapa ayah dari anak yang di kandung oleh kak Davina?” Tanya Nadin lagi. Rendi berdiri dari hadapan Nadin, ia tidak mungkin


mengatakannya. Nadin pun ikut berdiri.


“kenapa diam?”


“Aku tidak bisa mengatakannya!”


Nadin menghela nafasnya. “Kenapa?”


“Karena belum waktunya kamu tahu!”


Nadin memejamkan matanya, menghela nafasnya kasar,


memutar tubuhnya membelakangi Rendi, memegangi kepalanya yang seperti mau


pecah. Rendi hendak memegang tubuh Nadin tapi lagi-lagi Nadin menepisnya.


“Jangan memegangku mas, jangan pernah, jangan pernah sampai kau mau jujur padaku!”


"Jadi kau meragukanku, kau sangat meragukanku? Bagaimana bisa setelah apa yang kita lewati bersama!” Rendi begitu terluka karena di ragukan kesetiaannya.


Tubuh Nadin sudah terlalu lemas untuk berteriak, rasanya ingin sekali meninju pria di depannya. Hatinya terlalu sakit untuk tahu


semua kenyataannya. Bahkan suaminya lebih suka menyembunyikan semuanya pada


dirinya.


Buk


Buk


Buk


Nadin memukul perut pria dingin itu berkali-kali, tapi pria dingin itu sama sekali tidak menghentikan, tenaga Rendi terlalu kuat


untuk Nadin yang sedang lemah seperti itu. Nadin kembali menjatuhkan tubuhnya


di sofa, ia memegangi kepalanya, memunduk, punggungnya bergetar, ia sedang


menangis, saat Rendi hendak melangkah untuk mendekat, Nadin segera menahannya


untuk tidak berpindah dari tempatnya.


“Tetap di situ, dan jangan mendekat!”


“Aku mohon mengertilah semuanya, nanti saat tiba waktunya, aku akan menjelaskan semuanya! Kenapa kau tidak bisa percaya padaku? Sedikit saja percayalah ....”


“Nanti? Percaya? Percaya yang seperti apa yang mas Rendi inginkan, percaya jika suamiku lebih memilih wanita lain dari pada istrinya sendiri” Nadin mengangkat kepalanya, air mata sudah


membanjiri pipinya. Ia pun segera menghapusnya dengan kasar.


“Iya Nanti! Kenapa susah sekali percaya padaku?”


“Nanti, nanti …! Bagaimana aku bisa percaya!” Nadin mengangguk-anggukkan


kepalanya. “sampai kapan? Sampai anak itu lahir? Sampai anak itu besar? Sampai


kapan?”


“Sampai dia kembali!”


“Baiklah …,biarkan aku pergi sekarang!”


“Tidak! Aku tidak mengijinkanmu pergi!”


“Jangan mempersulit aku, dengan kau menempatkan orang lain dalam rumah tangga kita, kau telah berbuat jahat padaku!”


"Dia bukan orang lain!"


"Dia orang lain yang sengaja masuk dalam rumah tanggaku!"


"Jadi kau meragukanku?"


"Iya!"


Rendi terdiam mendengar jawaban Nadin, hatinya tak kalah sakit, padahal ia berharap besar istrinya itu akan percaya padanya.


"Baiklah ...., jika itu yang kau inginkan, aku tidak akan menahanku lagi!"


Nadin berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju ke


kamarnya, rendi segera menyusul istrinya itu ke dalam kamar. Nadin mengambil


tas besarnya dan memasukkan beberapa baju ke dalam tas itu, Rendi segera


menarik tas itu dan melemparnya.


“Hentikan!”


“Aku harus pergi!”


"Sebegitu tidak percayanya kamu padaku?"


“Beru aku alasan agar aku percaya!”


Rendi kembali diam, entah kenapa untuk saat ini ia masih bersikeras untuk tetap diam.


“Biarkan aku pergi!” Nadin mengambil kembali tasnya


dan melangkah keluar kamar, tapi sebelum benar-benar keluar, Nadin kembali


berbalik.


“Berjanjilah mas …, kau tidak akan mencariku sampai kau siap untuk mengatakan semua kebenarannya, dan aku akan menunggu sampai saat


itu tiba, berjanjilah …!”


“Bisakah kau percaya padaku?" Sampai saatnya tiba, hanya sampai saat itu, aku janji!"


“Jika menyembunyikan kebenaran untuk saat ini begitu penting untukmu, maka sembunyikan sesukamu!”


“Nad …, jangan macam-macam, aku mohon, pikirkan semuanya dengan baik!”


“Aku sudah memikirkannya mas, bahkan sebelum hari


ini, berjanjilah untuk tidak mencariku sampai saat itu tiba!”


Nadin benar-benar keluar, ia tidak membiarkan


suaminya mengejarnya, ia segera sembunyi di lorong supaya suaminya tidak


menemukannya, ia tahu suaminya itu mengejarnya saat ini.


Rendi berlari ke sana kemari untuk mengejar


istrinya, ia terus berlari ke sana ke mari seperti orang gila, menghubungi


Nadin beberapa kali hingga mungkin ratusan kali, Nadin sengaja mematikan


ponselnya.


Nadin segera menghentikan taksi, ia tidak tahu harus


kemana, tapi yang ia pikirkan saat ini adalah mengelabuhi suaminya agar tidak


menemukan jejaknya.


Nadin terus menangis di dalam taksi, membuat supir


taksi itu tidak berani bertanya sama sekali.


Hiks hiks hiks


“Neng …., apa Neng tidak pa pa?”


“Boleh kita tetap jalan saja sampai aku berhenti


“Iya neng, silahkan!” sopir taksi itu mengajak Nadin


berkeliling, menikmati pemandangan sore, ia tidak mau membuka ponselnya, pasti


suaminya akan bisa melacaknya jika sampai ponselnya menyala. Nadin pun memilih


melepas kartunya dan menyimpannya ke dalam tas.


Membiarkan ponselnya tetap dalam keadaan mati,


ternyata bukan hanya suaminya yang terus menghubunginya, tapi Dini sahabatnya


juga.


“Pak …, bisa pinjam ponselnya? Aku ingin menelpon


temanku!”


“Boleh neng!” supir taksi segera menghentikan


taksinya di pinggir jalan, ia mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan pada


Nadin.


Tut tut tut


“Hallo ..!”


“hallo din, ini aku Nadin, bisa jemput aku di taman


dekat kafe kamu?”


“Iya tentu, tunggu di sana, jangan kemana-mana!”


Nadin pun segera mengembalikan ponsel itu kepada


sopir taksi.


“Terimakasih ya pak!”


“Iya neng!”


“Maaf pak, bisa tetap di sini sampai teman saya


datang?”


“Iya neng nggak pa pa!”


Bapak sopir taksi itu begitu baik, ia bahkan


mencarikan minum untuk Nadin, menemaninya sampai Dini datang. Akhirnya tak


berapa lama Dini pun datang.


“Itu teman saya sudah datang pak, ini ongkos


taksinya pak!” nadin menyerahkan uang lima ratus ribu untuk pak sopir taksi.


“Ini kebanyakan neng!’


“Nggak pa pa, itu buat bapak karena sudah mau


mendengarkan curhatan saya tadi, saya permisi pak!”


Nadin pun segera turn dan berpindah ke mobil Dini.


“Astaga Nad, kau benar-benar membuatku khawatir!”


Bukannya menjawab Dini, Nadin mal;ah berhambur


memeluk sahabatnya itu.


Hik hiks hiks


Nadin kembali menangis, Dini mengerti ia pun


membiarkan sahabatnya itu untuk menumpahkan kesedihannya, hingga beberapa waktu


mereka tetap di tempat itu.


Dini mengajak Nadin ke penginapan yang tidak besar,


ia khawatir jika sampai mengajak nadin di kontrakannya, Rendi akan dengan mudah


melacaknya.


“Sekarang apa rencana mu?” Tanya Dini.


“Ada banyak hal yang harus kamu lakukan untukku!”


“Apa?’


Nadin mengambilkan sebuah kartu dari dompetnya,


kartu berwarna hitam itu, ia juga menuliskan beberapa dijit nomor pada sebuah


kertas.


“Tolong kamu keluarkan lima ratus juta dari kartu


ini dan ini kode pin-nya!”


“Hah lima ratus juta!”


“Iya, di dalam kartu lebih dari itu, mas Rendi


tidak akan bangkrut dengan uang segitu, tapi ambil dari bang yang jauh dari


tempat ini, kalau bisa sangat jauh.”


“Untuk apa?”


“Aku butuh uang untuk bertahan hidup sementara


waktu, Din. Setidaknya sampai aku mendapatkan pekerjaan!”


“Baiklah, lalu?”


“Pesankan tiket pesawat atas namaku, penerbangan ke


korea!”


“Kamu mau ke korea?”


“Bukan aku, tapi kamu!”


“aku?”


“ya …, kau yang akan mengantikan aku ke sana, tapi


pesan juga tiket pulang jadi kau tidak perlu berlama-lama di sana!”


“Lalu kamu?”


“Bukankah kau punya budhe yang berada di daerah


Surabaya, aku akan ke sana naik kereta!”


“Baiklah …, aku akan memberitahu budhe ku!”


“Dan lagi, agar lebih meyakinkan, nanti setelah di


korea, lalukan penarikan lagi dengan kartu ini satu kali, terserah berapapun


nominalnya dan segera kembali dengan tiket atas nama kamu sendiri!”


‘Baiklah aku mengerti, ya udah kamu istirahatlah,


aku akan mengatur semuanya!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘