
Nadin menunggu suaminya di ruang tamu, ia hingga
cukup lama pintu itu baru terbuka kembali. Rendi muncul dari balik pintu, Nadin
tak juga mengeluarkan suaranya. Rendi segera duduk di hadapan istrinya itu.
“Sekarang jelaskan padaku mas!”
“Nad …, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan,
percayalah padaku!” Rendi berjongkok di hadapan Nadin, menggenggam tangan
istrinya, mencoba meyakinkannya bahwa tidak semua yang di lihat adalah
kebenaran.
“Siapa ayah dari anak yang di kandung oleh kak Davina?” Tanya Nadin lagi. Rendi berdiri dari hadapan Nadin, ia tidak mungkin
mengatakannya. Nadin pun ikut berdiri.
“kenapa diam?”
“Aku tidak bisa mengatakannya!”
Nadin menghela nafasnya. “Kenapa?”
“Karena belum waktunya kamu tahu!”
Nadin memejamkan matanya, menghela nafasnya kasar,
memutar tubuhnya membelakangi Rendi, memegangi kepalanya yang seperti mau
pecah. Rendi hendak memegang tubuh Nadin tapi lagi-lagi Nadin menepisnya.
“Jangan memegangku mas, jangan pernah, jangan pernah sampai kau mau jujur padaku!”
"Jadi kau meragukanku, kau sangat meragukanku? Bagaimana bisa setelah apa yang kita lewati bersama!” Rendi begitu terluka karena di ragukan kesetiaannya.
Tubuh Nadin sudah terlalu lemas untuk berteriak, rasanya ingin sekali meninju pria di depannya. Hatinya terlalu sakit untuk tahu
semua kenyataannya. Bahkan suaminya lebih suka menyembunyikan semuanya pada
dirinya.
Buk
Buk
Buk
Nadin memukul perut pria dingin itu berkali-kali, tapi pria dingin itu sama sekali tidak menghentikan, tenaga Rendi terlalu kuat
untuk Nadin yang sedang lemah seperti itu. Nadin kembali menjatuhkan tubuhnya
di sofa, ia memegangi kepalanya, memunduk, punggungnya bergetar, ia sedang
menangis, saat Rendi hendak melangkah untuk mendekat, Nadin segera menahannya
untuk tidak berpindah dari tempatnya.
“Tetap di situ, dan jangan mendekat!”
“Aku mohon mengertilah semuanya, nanti saat tiba waktunya, aku akan menjelaskan semuanya! Kenapa kau tidak bisa percaya padaku? Sedikit saja percayalah ....”
“Nanti? Percaya? Percaya yang seperti apa yang mas Rendi inginkan, percaya jika suamiku lebih memilih wanita lain dari pada istrinya sendiri” Nadin mengangkat kepalanya, air mata sudah
membanjiri pipinya. Ia pun segera menghapusnya dengan kasar.
“Iya Nanti! Kenapa susah sekali percaya padaku?”
“Nanti, nanti …! Bagaimana aku bisa percaya!” Nadin mengangguk-anggukkan
kepalanya. “sampai kapan? Sampai anak itu lahir? Sampai anak itu besar? Sampai
kapan?”
“Sampai dia kembali!”
“Baiklah …,biarkan aku pergi sekarang!”
“Tidak! Aku tidak mengijinkanmu pergi!”
“Jangan mempersulit aku, dengan kau menempatkan orang lain dalam rumah tangga kita, kau telah berbuat jahat padaku!”
"Dia bukan orang lain!"
"Dia orang lain yang sengaja masuk dalam rumah tanggaku!"
"Jadi kau meragukanku?"
"Iya!"
Rendi terdiam mendengar jawaban Nadin, hatinya tak kalah sakit, padahal ia berharap besar istrinya itu akan percaya padanya.
"Baiklah ...., jika itu yang kau inginkan, aku tidak akan menahanku lagi!"
Nadin berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju ke
kamarnya, rendi segera menyusul istrinya itu ke dalam kamar. Nadin mengambil
tas besarnya dan memasukkan beberapa baju ke dalam tas itu, Rendi segera
menarik tas itu dan melemparnya.
“Hentikan!”
“Aku harus pergi!”
"Sebegitu tidak percayanya kamu padaku?"
“Beru aku alasan agar aku percaya!”
Rendi kembali diam, entah kenapa untuk saat ini ia masih bersikeras untuk tetap diam.
“Biarkan aku pergi!” Nadin mengambil kembali tasnya
dan melangkah keluar kamar, tapi sebelum benar-benar keluar, Nadin kembali
berbalik.
“Berjanjilah mas …, kau tidak akan mencariku sampai kau siap untuk mengatakan semua kebenarannya, dan aku akan menunggu sampai saat
itu tiba, berjanjilah …!”
“Bisakah kau percaya padaku?" Sampai saatnya tiba, hanya sampai saat itu, aku janji!"
“Jika menyembunyikan kebenaran untuk saat ini begitu penting untukmu, maka sembunyikan sesukamu!”
“Nad …, jangan macam-macam, aku mohon, pikirkan semuanya dengan baik!”
“Aku sudah memikirkannya mas, bahkan sebelum hari
ini, berjanjilah untuk tidak mencariku sampai saat itu tiba!”
Nadin benar-benar keluar, ia tidak membiarkan
suaminya mengejarnya, ia segera sembunyi di lorong supaya suaminya tidak
menemukannya, ia tahu suaminya itu mengejarnya saat ini.
Rendi berlari ke sana kemari untuk mengejar
istrinya, ia terus berlari ke sana ke mari seperti orang gila, menghubungi
Nadin beberapa kali hingga mungkin ratusan kali, Nadin sengaja mematikan
ponselnya.
Nadin segera menghentikan taksi, ia tidak tahu harus
kemana, tapi yang ia pikirkan saat ini adalah mengelabuhi suaminya agar tidak
menemukan jejaknya.
Nadin terus menangis di dalam taksi, membuat supir
taksi itu tidak berani bertanya sama sekali.
Hiks hiks hiks
“Neng …., apa Neng tidak pa pa?”
“Boleh kita tetap jalan saja sampai aku berhenti
“Iya neng, silahkan!” sopir taksi itu mengajak Nadin
berkeliling, menikmati pemandangan sore, ia tidak mau membuka ponselnya, pasti
suaminya akan bisa melacaknya jika sampai ponselnya menyala. Nadin pun memilih
melepas kartunya dan menyimpannya ke dalam tas.
Membiarkan ponselnya tetap dalam keadaan mati,
ternyata bukan hanya suaminya yang terus menghubunginya, tapi Dini sahabatnya
juga.
“Pak …, bisa pinjam ponselnya? Aku ingin menelpon
temanku!”
“Boleh neng!” supir taksi segera menghentikan
taksinya di pinggir jalan, ia mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan pada
Nadin.
Tut tut tut
“Hallo ..!”
“hallo din, ini aku Nadin, bisa jemput aku di taman
dekat kafe kamu?”
“Iya tentu, tunggu di sana, jangan kemana-mana!”
Nadin pun segera mengembalikan ponsel itu kepada
sopir taksi.
“Terimakasih ya pak!”
“Iya neng!”
“Maaf pak, bisa tetap di sini sampai teman saya
datang?”
“Iya neng nggak pa pa!”
Bapak sopir taksi itu begitu baik, ia bahkan
mencarikan minum untuk Nadin, menemaninya sampai Dini datang. Akhirnya tak
berapa lama Dini pun datang.
“Itu teman saya sudah datang pak, ini ongkos
taksinya pak!” nadin menyerahkan uang lima ratus ribu untuk pak sopir taksi.
“Ini kebanyakan neng!’
“Nggak pa pa, itu buat bapak karena sudah mau
mendengarkan curhatan saya tadi, saya permisi pak!”
Nadin pun segera turn dan berpindah ke mobil Dini.
“Astaga Nad, kau benar-benar membuatku khawatir!”
Bukannya menjawab Dini, Nadin mal;ah berhambur
memeluk sahabatnya itu.
Hik hiks hiks
Nadin kembali menangis, Dini mengerti ia pun
membiarkan sahabatnya itu untuk menumpahkan kesedihannya, hingga beberapa waktu
mereka tetap di tempat itu.
Dini mengajak Nadin ke penginapan yang tidak besar,
ia khawatir jika sampai mengajak nadin di kontrakannya, Rendi akan dengan mudah
melacaknya.
“Sekarang apa rencana mu?” Tanya Dini.
“Ada banyak hal yang harus kamu lakukan untukku!”
“Apa?’
Nadin mengambilkan sebuah kartu dari dompetnya,
kartu berwarna hitam itu, ia juga menuliskan beberapa dijit nomor pada sebuah
kertas.
“Tolong kamu keluarkan lima ratus juta dari kartu
ini dan ini kode pin-nya!”
“Hah lima ratus juta!”
“Iya, di dalam kartu lebih dari itu, mas Rendi
tidak akan bangkrut dengan uang segitu, tapi ambil dari bang yang jauh dari
tempat ini, kalau bisa sangat jauh.”
“Untuk apa?”
“Aku butuh uang untuk bertahan hidup sementara
waktu, Din. Setidaknya sampai aku mendapatkan pekerjaan!”
“Baiklah, lalu?”
“Pesankan tiket pesawat atas namaku, penerbangan ke
korea!”
“Kamu mau ke korea?”
“Bukan aku, tapi kamu!”
“aku?”
“ya …, kau yang akan mengantikan aku ke sana, tapi
pesan juga tiket pulang jadi kau tidak perlu berlama-lama di sana!”
“Lalu kamu?”
“Bukankah kau punya budhe yang berada di daerah
Surabaya, aku akan ke sana naik kereta!”
“Baiklah …, aku akan memberitahu budhe ku!”
“Dan lagi, agar lebih meyakinkan, nanti setelah di
korea, lalukan penarikan lagi dengan kartu ini satu kali, terserah berapapun
nominalnya dan segera kembali dengan tiket atas nama kamu sendiri!”
‘Baiklah aku mengerti, ya udah kamu istirahatlah,
aku akan mengatur semuanya!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘