
Ceklek
“Agra!” Divta begitu terkejut dengan kedatangan
adiknya.
“Bang!”
“Masuklah …!”
Mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka di dalam,
Rendi yang baru saja keluar dari kamar juga di kejutkan dengan kedatangan Agra.
Rendi sudah rapi bersiap untuk bertemu dengan timnya, tinggal beberapa hari lagi
dan dia harus mempersiapkan semuanya dengan benar.
“Gra!”
Mereka duduk di kursi yang sama, ada banyak
pertanyaan yang akan Agra ajukan kepada dua pria di depannya itu, kepada abang
dan sahabatnya. Untuk pertama kalinya ia meragukan kesetiaan Rendi sebagai
sahabat dan mantan tangan kananya.
“Banyak pertanyaan yang sedang berusaha untuk aku
uraikan!” ucap Agra dengan wajah tegasnya. Tapi dua pria di depannya itu masih
terdiam.
“kalian akan menceritakan semuanya sendiri atau aku
yang bertanya?” Agra menatap dua pria itu dengan tatapan menyelidik. Berusaha
mencari jawaban selama ini benar-benar membuatnya frustasi.
“Apa yang ingin kau dengar?” Divta mulai membuka
mulutnya. Mau di sembunyikan seperti apapun, semuanya akan tetap terbuka suatu
saat nanti. Agra menatap gadis kecil yang ada di pangkuan Divta, Divia sedang
sibuk memainkan mainannya.
“Siapa Divia?” yang Agra tahu Divia adalah putri
Davina dengan Rendi, tapi dia tidak percaya Rendi bisa melakukan hal itu, ia
sudah mengenal Rendi sejak kecil, bahkan ia mengenal Rendi lebih dari dirinya
sendiri.
“Divia adalah putriku!” ucap Divta tanpa ada
keraguan lagi.
Mendengar ucapan Divta, tentu Agra terkejut, sejak
kapan abangnya tertarik dengan Davina, bukankah selama ini Divta memusuhi
Davina.
“Bang?”
“Iya Gra…, akulah daddy nya, aku bersalah karena
meninggalkan Davina, aku bersalah karena sudah menciptakan kesalah pahaman
antara Rendi dan Nadin!”
“Maksudnya kepergian Nadin ada hubungannya dengan hal ini?”
“Iya …, ini salahku. Aku tidak jujur padanya, dia
mengira jika Davina akulah yang melakukannya!”
“Sekarang aku sudah faham! Dan kalian sudah
menyembunyikan hal sebesar ini, kasihan sekali nadin, bagaimana keadaannya
sekarang bahkan kita tidak tahu!”
“Maafkan aku, aku masih terus berusaha mencarinya, walaupun ke ujung dunia manapun aku akan tetap mencarinya!”
“Ya …, kesalahanmu begitu besar, sampai aku tidak yakin kalau Nadin masih bisa memaafkan mu!”
“Dia harus memaafkan ku, jika tidak aku akan berusaha sampai dia memaafkan ku!”
Rendi sudah hampir putus asa mencari istrinya,
setiap kali mendapat petunjuk tentang keberadaan istrinya, tiba-tiba benang
petunjuk itu seperti terputus begitu saja.
“Kenapa semuanya semakin sulit saja …, aku bisa menemukan semut di sarangnya sekalipun, tapi kenapa sulit sekali menemukanmu
…?”
Rendi menghela nafas, anak buahnya mengatakan ada
kabar mengenai Nadin tapi tiba-tiba saja kabar itu seperti tak ada ujungnya.
Dan itu terjadi beberapa kali.
❤️❤️❤️❤️
Kini Rendi sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Surabaya, proyeknya akan segera di mulai, ia akan tinggal di sama selama lima
bulan. Berat sebenarnya meninggalkan Divia, Divia sudah seperti putrinya
sendiri. Tapi melihat kedekatan Divia dengan Divta membuatnya sedikit tenang,
memang itu yang harus terjadi, Divta adalah ayah Divia.
“Aku titip Divia ya …, jaga dia!” ucap Rendi pada
Divta sebelum pergi.
“Pergilah …, aku akan menjganya, dia kan putriku!”
“Iya kau benar!”
Rendi mencium putri kecilnya berkali-kali, ia tidak
yakin bisa jauh dari Divia, ia sudah terlajur terbiasa dengan gadis kecil itu,
tidur dengan putri kecilnya, bermain dan emnghabiskan hari liburnya dengan
putri kecilnya itu.
“Nak Rendi beneran mau pergi?” Tanya ayah Roy. Ayah
menjemput bu dewi dan mengatarnya kalau pagi hari dan akan pulang jika sudah
sore jika Divia di tinggal kerja, du Dewi yang merawatnya.
Awalnya mereka tinggal bersama Rendi, tapi setelah
Divia sudah besar, Bu Dewi hanya datang pada siang hari dan akan pulang jika
sudah sore.
“Iya yah, doakan semoga behasil ya!”
“Amin, semoga lancar usahanya!”
Rendi beralih menatap du Dewi, wanita itu sudahj sepereti
ibu untuknya.
“Ibu Dewi, saya berangkat dulu ya …!”
“Iya nak, semoga ada keberkahan dari kepergianmu
kali ini, kau sudah banyak bersabar!’
“Aminnn …, Rendi berangkat!”
Rendi benar-benar berangkat, ia akan pergi cukup lama, Ajun juga ikut bersamanya. Mereka naik pesawat agar tidak membutuhkan
waktu lama untuk perjalanan. Hanya cukup dalam waktu satu jam mereka sudah
sampai. Karena ia kan lama tinggal di Surabaya, rendi berencana untuk menyewa
sebuah rumah. Tapi untuk sementarai ia tinggal di hotel sampai mendapatkan
tempat tinggal baru.
“Istirahatlah …, aku akan jalan-jalan sebentar!”
ucap Rendi pada Ajun.
“Apa perlu saya temani pak?”
“Tidak perlu …, aku hanya sebentar!”
Rendi sudah menyewa mobil untuknya selama berada di
Surabaya. Kota ini terasa begitu asing untuknya, tapi entah apa yang membuatnya
begitu tertarik untuk datang ke kota ini. Pemandangan kota Surabaya yang
semakin asri dengan taman-taman yang sudah tertata rapi, berbeda sekali saat
beberapa tahun yang lalu ia pernah berkunjung ke tempat itu dengan urusan yang
sama.
Mobil Rendi terhenti di sebuah persimpangan, saat
lampu lalu lintas itu menyala merah. Matanya terpaku saat melihat symbol yang
sana persis seperti yang sering ia lihat.
“Rasanya aku tidak asing dengan tanda itu!” gumam
Rendi, tapi belum benar-benar bisa mengingatnya, lampu lalu lintas sudah
berganti dengan menyala hijau, ia harus segera menjalankan mobilnya sebelum
mobil-mobil di belakangnya mengeluarkan bunyi merhadik agar cepat berjalan,
klakson saling bersahutan meminta untuk cepat jalan.
Hari itu Rendi hanya ingin berkeliling saja tanpa
ada tujuan untuk singgah, tapi mungkin nanti aka nada tujuan yang menantinya.
Rendi segera memarkir mobilnya di depan pintu masuk
hotel, seorang Bell boy yang merangkap sebagai Valet service sudah berdiri di
depan dengan menakupkan kedua tangannya memberi salam, Rendi menyerahkan kunci
mobilnya pada pria itu, dan bell boy itu akan segera memarkirnya.
Rendi bergegas menuju ke kamar yang sudah ia sewa,
Ajun sudah menunggunya di depan lobi saat mengetahui atasannya datang.
“Apa adan memerlukan sesuatu pak?”
“Tidak, biaskan aku sendiri sampai besok pagi, hari
ini kau bebas tugas!”
“Baik pak!”
Rendi memasuki lift yang sudah terbuka meninggalkan
Ajun, Ajun seperti mendapatkan angina segar, ia bisa beristirahan sejanak setidaknya
untuk beberapa jam ke depan sampai besok pagi.
Rendi segera membersihkan tubuhnya yang rasanya
sudah sangat lengket, mandi dengan air hangat dan menikmati segala fasilitas
dan kenyamanan yang disediakan oleh hotel.
Setelah itu, ia hari ini hanya ingin merebahkan
badannya, melepas segelaa kepenatan. Tapi tetap saja tidak bisa, bayang-bayang
Nadin selalu menari-nari di pelupuk mata. Ia teringat pada sesuatu, selembar
kertas yang pernah Nadin tulis untuknya dan sebuah hasil tes kehamilan milik Nadin
masih ia sinmpan di dompetnya. Setiap kali ia merindukan wanita yang telah
menjadi istrinya itu, kertas itu yang selalu menjadi obat untuknya, ia seperti
bisa melihat anak dan istrinya dalam kertas itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘