
"Ahhhhh ....!" Dini terpekik dan dengan cepat Ajun membekap mulutnya agar Dini tidak berteriak. Kini tubuh Dini sudah berada di dalam kungkungan Ajun dan bersembunyi di balik tong-tong besar yang sepertinya kosong.
"Suara apa tadi?" teriak seseorang yang sepertinya mendengar teriakan Dini.
"Ayo cepat cari!"
"Baik boss!"
Orang yang lebih dari lima orang itu memeriksa setiap tempat di dalam gudang itu.
"Ajun!" pekik Dini setelah Ajun melepaskan tangannya dari mulut Dini, "Kamu tidak pa pa?"
"Memang aku kenapa?" tanya Ajun dengan berbisik.
"Ada yang mengirimiku pesan, mereka bilang jika ...., ah ... aku di jebak!"
"Baru nyadar!" ucap Ajun.
Karena tidak hati-hati Dini tanpa sengaja menyenggol tong kosong itu.
Glondang.....
Tong mengguling bebas.
"Mereka di sana!" teriak seseorang.
"Ssshhhhhhttttt ....!" umpat Ajun, ia segera berdiri dan menarik tangan Dini bersiap untuk berlari, tapi salah satu dari mereka berhasil menghadang langkah Dini dan Ajun.
"Mau kemana kalian!?" ucap pria kekar itu.
"Tetap di belakangku!" ucap Ajun, ia harus bisa memanfaatkan tangannya yang tidka cidera. Dengan kekuatan yang minim itu Ajun berusaha keras melawan pria itu sebelum teman-teman nya datang membantu.
"Aghhh!" pekik Ajun saat pria itu berhasil memukul punggungnya, Dini yang masih terdiam segera mengambil balok kayu dan mengarahkan pada pria itu.
Di tempat lain rekan Ajun juga sedang melawan yang lainnya. Ajun kembali bangkit dan membantu Dini.
Beberapa yang lain datang ikut membantu pria itu. Kini Ajun dan Dini harus melawan tiga orang sekaligus. Untung saja Dini sedikit-sedikit pernah belajar bela diri tekondo.
Beberapa kali Ajun dan terpaksa menggunakan tangannya yang cidera dengan sesekali menahan sakit.
Hingga akhirnya, beberapa anak buah Ajun datang dan membantu mereka. Dan akhirnya berhasil menangkap salah satu kawanan dari mereka sementara yang lainnya berhasil kabur.
"Bagaimana dengan orang ini?" tanya salah satu teman Ajun.
"Kita sekap dia, dia bisa mintai keterangan!" ucap Ajun.
"Baik!"
Mereka pun akhirnya berhasil keluar dari gudang itu, Ajun yang melihat penampilan Dini yang hanya mengenakan gaun tanpa lengan itu segera melepaskan jasnya dan menakupkannya pada Dini.
Dini menghentikan langkahnya dan mendongak pada pria yang sudah memberinya jas.
"Ajun!"
"Lain kali jangan pakek baju yang kayak gitu, apalagi kakimu tadi seperti itu! Untung yang liat cuma aku!" ucap Ajun dan berlalu begitu saja. Dini terdiam di tempatnya mengingat beberapa waktu lalu bagaimana ia berlagak seperti wonder women dengan dress selutut.
"Aaaaaaa ....!" Dini menggelengkan kepalanya cepat sambil menutup wajahnya dengan rambutnya yang tergerai.
"Ahhhh, malu dong aku ....! Dia benar-benar ya!" Dini begitu kesal dengan Ajun, "Kenapa juga mesti bicara seperti itu, menyebalkan!"
***
Kini mereka sudah sampai di apartemen Ajun, seseorang sudah memanggilkan dokter untuk menangani tangan Ajun. Dan dengan cepat dokter datang.
"Untung saja retakannya tidak bertambah parah, tapi setelah ini tolong lebih hati-hati lagi! dan Nona pacarnya tuan Ajun?" tanya dokter itu.
"Ahhh aku ....!" Dini menggelengkan kepalanya cepat.
"Iya dok, dia pacar saya tapi dia yang menyebabkan semua ini untuk kedua kalinya!" ucap Ajun dengan cepat.
"Berarti setelah ini tanggung jawab nona untuk menjaga tuan Ajun!"
"Baik dok!" Dini hanya bisa pasrah.
"Dan ini resep yang harus anda tebus ya!" ucap sang dokter sambil menyerahkan selembar kertas berisi daftar obat yang harus Dini beli di apotik.
"Terimakasih ya dok!" ucap Dini saat mengantar dokter keluar dari apartemen Ajun.
"Sama-sama nona!"
Setelah dokter meninggalkan apartemen, Dini pun segera kembali menghampiri Ajun dan juga masih ada temannya di sama.
"Ya udah bro, aku pulang dulu ya! Kamu sudah ada yang jagain kan!" ucap temannya. Dini hanya bisa tersenyum.
"Siap!"
Setelah teman Ajun itu pergi kini tinggal mereka berdua di apartemen itu.
"Aku mau mandi!" ucap Dini dan hampir saja meninggalkan Ajun.
"Hey kuncir kuda!" panggil Ajun lagi membuat Dini yang sudah berada di depan pintu kembali berbalik menatap Ajun.
"Apa?" tanya Dini.
"Aku pengen tanya sesuatu sama kamu!"
Dini pun berjalan kembali mendekati Ajun dan duduk di depan Ajun.
"Kenapa kamu bisa ke tempat itu?" tanya Ajun.
"Kan sudah ku bilang tadi, aku dapat pesan dari nomor yang tidak aku kenal!"
"Pesan?"
"Iya ini pesannya kalau nggak percaya!"
Dini pun menyerahkan ponselnya pada Ajun dan menunjukkan pesan itu.
"Ini kan pesannya 'Pacar'?" tanya Ajun, "Jadi kamu nganggap aku pacar kamu!"
"Enak aja! Dasar kardus!" ucap Dini kesal dan meninggalkan ponselnya begitu saja. Ia masuk ke kamarnya, ia sudah merasa sangat gerah ingin segera mandi.
Setelah mandi dan ganti baju, ia baru ingat jika meninggal kan ponselnya bersama Ajun. Dini pun kembali ke luar tapi tidak mendapati Ajun di sama.
"Kardus ....., Dus .....!" teriak Dini,
"Apa?" terdengar sahutan dari dalam kamar pria itu.
"Dimana ponselku?" tanya Dini lagi sambil berteriak.
"Di meja!" teriak Ajun.
Dini pun segera mencari ponsel itu tapi tidak menemukannya, "Mana? Nggak ada!"
"Kalau cari yang bener!" teriak Ajun yang sudah mulai kesal.
Brrrtttttt brrrrtttttt brrrrtttttt
Dini bisa mendengar getaran di meja itu, ternyata ponselnya tersembunyi di balik buku yang ada di laci meja. Dini pun segera mengambilnya, ternyata mama nya melakukan panggilan.
Dini segera menggeser tombol hijau , sebuah Video call yang langsung menunjukkan wajah kesal mama nya.
"Hallo ma!" sapa Dini sambil melambaikan tangannya, ia segera duduk di sofa.
"Kami kemana aja, kenapa nggak jadi ketemuan? Dia datang dan kamu nya nggak ada!"
"Maaf ma, sebenarnya tadi Dini sudah siap, tapi tiba-tiba ada masalah sedikit!"
"Masalahnya apa?"
*Jadi gini ma ....!"
Belum selesai Dini memberikan alasan pada mamanya, tiba-tiba Ajun keluar dari dalam kamarnya dan hanya mengenakan celana pendek tanpa baju. sepertinya dia barus saja selesai mandi.
"Sudah ketemu belum ponselnya?" tanya Ajun yang sudah berada di belakang Dini, dan parahnya lagi gambar Ajun tertangkap kamera ponsel Dini.
"Diniiiiiiiiii .....!" Teriak mamanya membuat Dini begitu terkejut, Ajun pun ikut terkejut di buatnya.
"Ma ...., ini nggak seperti yang mama lihat!"
"Mama nggak mau tahu, pokoknya kamu besok datang ke rumah dengan dia!" ucap Mamanya dan mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
Melihat sambungan telponnya terputus, Dini segera berdiri dan menatap tajam pada Ajun.
"Karduuuuuus .....!" teriak Dini kesal.
"Kenapa denganku?"
"Bisa nggak keluarnya di waktu yang tepat, dan ini apa heh, kenapa keluar tanpa pakek baju?"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰