
Jakarta
Saat sampai di Bandara Jakarta masih begitu pagi, satu persatu penumpang datang dan pergi dari dan menuju tujuan masing-masing.
Beberapa petugas bandara stand by untuk memandu penumpang yang membutuhkan
informasi atau bantuan.
Mereka ada di salah satu penumpang yang baru datang, mereka sudah keluar dari bandara dan menunggu jemputan. Sebuah mobil dengan
warna hitam sudah menunggu di sana dan Ajun sudah siap membukakan pintu mobil
untuk mereka.
“Kita ke tempat Davina!” ucap Rendi pada Ajun.
“Baik pak!”
Divta hanya menurut apa yang di katakana oleh Rendi,
ia tidak tahu pria dingin itu mau mengajaknya ke mana. Tapi jalan yang mereka
lalui begitu asing bagi Divta, bukan jalan menuju ke rumah ayah Roy atau ke
rumah Rendi ataupun ke rumah besar nyonya Ratih.
“Kita kemana?” Tanya Divta.
‘Menemui Davina!”
Rendi tak berniat untuk memberi tahu tujuan mereka,
hingga mereka sampai di sebuah komplek pemakaman, mobil itu berhenti.
‘kenapa kita ke sini?” Tanya Divta tak percaya jika
Rendi akan mengajaknya ke tempat ini.
“Ayo turun!” ajak Rendi saat ia sudah turun dari mobil,tapi
Divta masih setia di dalam.
“Baiklah …!”
Divta hanya bisa mengikuti langkah Rendi. Menyusuri
area pemakaman, cukup jauh mereka berjalan, melewati berpuluh-puluh makam dan
akhirnya Rendi menghentikan langkahnya tepat di depan salah satu makan yang terlihat
masih baru.
“Ini makam siapa?” Tanya Divta, tampak dari wajahnya
kalau pria itu sedang cemas.
“Bacalah …!” Rendi menunjuk nisan putih itu.
Divta memperhatikan dengan seksama nama yang tertulis
di dalam nisan itu, kakinya seketika terasa begitu lemas, badannya gemetar.
Divta memegang nisan itu dan jongkok di sampingnya.
“Davina!”
Rendi pun ikut jongkok di samping Divta.
“bagaimana ini bisa terjadi?”
“Dia telah berjuang, demi mempertahankan putrimu untuk tetap hidup dia telah mengorbankan nyawanya!”
“Putri?”
“Iya, dia seorang putri …, sebenarnya dokter sudah memperingatkan Davina bahwa kehamilannya beresiko, dokter sudah menyarankan
untuk aborsi tapi dia memilih mempertahankannya dan menjauh dari semua
keluarga!”
“Bodohnya aku …, kenapa sampai aku tidak menyadari
sebegitu besar pengorbanannya dan aku ….!”
“Jangan menyesali semuanya, kita pernah melakukan
kesalahan, tapi apa yang salah di masa lalu tidak akan pernah kembali, kita
hanya bisa melakukan yang terbaik di masa depan, demi putrimu, Divia!”
“Divia?”
“Iya …, Davina memberi nama Divia pada putrimu!”
Setelah obrolan panjang itu, mereka berdoa untuk
Davina. Setelah cukup lama di makan Davina, mereka pun segera menuju ke rumah
Rendi untuk menemui Divia putrinya.
Divta sudah tak sabar ingin bertemu dengan putrinya,
entah seperti apa rupa putrinya. Hingga mereka pun akhirnya sampai juga di
rumah baru Rendi.
Rendi memencet bel pintu, cukup lama mereka menunggu
di depan pintu hingga seseorang menyahut dari dalam.
“tunggu sebentar!”
Ceklek
Pintu pun terbuka, bu Dewi muncul di sana. Wajah bu
Dewi begitu terkejut saat melihat Divta bersama dengan Rendi.
“Bu!” sapa Divta, tatapannya kemudian beralih pada
anak kecil yang sedang di gandeng oleh bu Dewi, ia sedikit berceloteh. Wajahnya
begitu manis.
“Nak …!” divta langsung menjatuhkan tubuhnya mensejajarkan dengan Divia putri kecilnya.
“Sayang …, ini daddy!” Divta berusaha meraih gadis
kecil itu, tapi sepertinya gadis kecil itu ketakutan, Divia bersembunyi di
balik kaki du Dewi.
Kemudia Divia muncul kembali, mengintp dari balik
rok panjang bu Dewi,
“Sayang …, ini daddy …!”
Mata jernih anak itu menatap Divta dengan penuh
dari persembunyiannya dan berlari menghampiri Rendi dan memeluk kaki pria
dingin itu.
“A-yah …!” kata pertama yang muncul dari bibir
mungil anak perempuan itu, Rendi benar-venar tidak menyangka jika gadis itu
akan mengatakan hal itu saat ia kembali.
“Iya sayang …., ini ayah!” rendi bersandar dengan
lututnya dan memeluk gadis mungil yang baru bisa berjalan itu.
“Dia butuh waktu untuk bisa menerimamu!” ucap Rendi
lirih.
Kini mereka pun masuk ke dalam rumah, sedari tadi bu
Dewi masih tetap diam. Mereka duduk si ruang keluarga. Ayah Roy pun ikut di
sana.
“Ayah kecewa padamu Nak Divta!”
“Maafkan saya paman, bibi …! Sungguh saya tidak ada
maksud seperti ini, saya benar-benar menyesal!” ucap Divta dengan penuh
penyesalan.
“Setelah apa yang kau lakukan pada putriku, dan
sekarang kau kembali untuk mengambil cucuku, itu tidak akan terjadi!” ucap bu
Dewi dengan penuh amarah, ia sudah kehilangan putrinya dan tidak akan
melepaskan cucunya untuk priatak bertanggung jawab itu.
“Hukum aku apapun bi, tapi jangan hokum aku lagi
untuk hidup jauh dengan putriku!” divta bersimpuh di kaki wanita itu, wanita
yang telah melahirkan ibu dari putrinya.
“Walau aku ingin sekali menghukummu atas kesalahan
besarmu, tapi apa hak ku …, kau benar-enar sudah sangat melukaiku!”
“Aku harus apa bi, katakan …, jika aku sanggup aku
akan lakukan untuk bibi, tapi aku mohon, jangan pisahkan aku dengan putriku!”
Rendi yang sedari tadi diam pun ikut bicara.
“Ayah …, ibu …, Rendi mohon, maafkan Divta.
Kesalahan ini tak semuanya salah Divta, aku juga di balik kesalahn itu, aku
yang membuat Divta pergi dari sini!”
“Tidak secepat ini, aku melupakan semuanya!”
“Jika kalian belum bisa memaafkan saya, tapi
setidaknya berilah kesempatan pada saya untuk bisa dekat dengan putri saya!”
“Baiklah …!”
❤️❤️❤️❤️
Kini Divta ikut tinggal di rumah Rendi, ia berusaha
keras untuk mendekatkan diri dengan putrinya. Walaupun sulit, karena Divia
tidak terlalu suka dengan orang asing, dia akan segera menngis jika meras tidak
nyaman, atau terganggu dengan kedatangan orang asing.
Berita kepulangan Divta tentu tercium oleh Agra, ada
banyak rahasia yang bahkan dia tidak tahu, kenapa Nadin pergi dan anak siapa
yang bersama Rendi. Apa itu penyebab Nadin pergi? Lalu Davina? Sungguh Rendi
tidak mau membagi informasi itu pada Agra. Tapi Agra sebagai sahabat hanya bisa
menghormati keputusan sahabatnya itu.
Walaupun belum mau berdekatan hanya berdua, tapi
Divia sudah mau bermain dengan Divta.
“Ayo sayang, lempar bolanya sama daddy!” ucap Divta,
ia menunggu putri kecilnya itu, mereka sedang bermain. Gadis kecil itu begitu
lincah mengejar bola dan berkali-kali melemparnya pada Divta, gelak tawa
terdengar dari dari bibir mungilnya.
Ting tong ting tong
Permainan mereka terhenti ketika bel pintu berbunyi.
“Sayang …, ada tamu, kita buka dulu ya!” Divia
sepertinya tahu dengan ucapan Divta, ia menggaguk dan berjalan emndahului
menuju pintu, Divta menyusulnya di belakang. Divia berusaha meraih gagang pintu
tapi tubuhnya terlalu mungil untuk itu.
“Sayang …, kau ingin membukanya, baiklah daddy akan
membantumu!” Divta mengangkat tubuh mungil itu, dengan bantuan tangan kekar
daddynya akhirnya Divia berhasil membuka pintu itu.
Ceklek
“Agra!” Divta begitu terkejut dengan kedatangan
adiknya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘