
“El …, lihat daddy datang …, apa kau merindukan
daddy mu ini?’ ucap Alex sambil merengkuh tubuh mungil itu dan mengangkatnya
meletakkannya di atas pangkuannya, menghujani baby El dengan ciuman yang
bertubi-tubi.
Nadin tak bisa mencegahnya, mau bagaimanapun Alex
punya hak itu. Dia yang sudah merawat baby El dan Nadin selama ini,walaupun ia
bisa mencegah cinta Alex yang ingin di berikan padanya tapi ia tidak bisa
mencegah kasih sayang yang di berikan Alex untuk baby El, itu terlalu jahat
jika sampai ia lakukan.
“Lex …!”
“Aku mohon, jangan memintaku untuk pergi sekarang. Aku begitu merindukan kalian!”
Rendi yang baru datang segera membersihkan badannya seperti biasanya dan mengganti bajunya dengan baju yang lebih santai. ia hendak
menuju ke dapur, tapi langkahnya terhenti saat melihat mobil lain terparkir di
depan rumah Nadin. Rendi pun memilih untuk keluar dari rumahnya dan memastikan mobil itu.
“Bukankah itu mobil Alex?”
Rendi segera menghampiri mobil itu dan melihat rumah
yang biasanya selalu tertutup itu kini terbuka, dengan langkah cepat ia menuju
ke rumah nadin. Tanpa permisi ia segera memasuki rumah itu, langkahnya
terhenti saat melihat siapa yang ada di dalam rumah itu. Alex, Nadin dan baby
El sedang bermain bersama, seperti sebuah keluarga.
Mata Rendi nanar, tangannya mengepal sempurna. Hatinya
begitu sakit melihat hal itu.
“Alex!” ucap Rendi. Ucapannya berhasil membuat Nadin
dan Alex menoleh padanya.
“Rend!”
“Mas Rendi!”
Pekik Alex dan Nadin bersamaan. Alex segera berdiri dan menghampiri Rendi, ia tidak mau membuat Nadin yang menanganinya.
“Jadi kau mengetahuinya selama ini? Jadi selama ini kalian bersama? Kenapa aku tidak memikirkan jika kau di balik semua ini!” ucap
Rendi dengan penuh amarah.
“Iya …, aku yang telah menyembunyikan mereka. Mereka tidak pantas bersama dengan orang yang lebih mementingkan orang lain di
bandingkan dengan keluarganya sendiri!”
“Kau tidak tahu apa-apa, jadi berhenti ikut campur dalam masalah rumah tangga kami!”
“Kau sudah tidak punya hak untuk itu, hak mu sudah hilang semenjak kau melepaskan mereka waktu itu!”
Nadin tahu ini akan terjadi, ia segera menghubungi Aisyah dan memintanya membawa baby El untuk ke rumahnya sementara waktu, ia tidak mau sampai baby El melihat pertengkaran orang dewasa itu.
Rumah Aisyah dan rumah Nadin hanya butuh waktu dua menit untuk sampai.
“Bawa baby El …., aku akan mengambilnya jika sudah selesai!’
“baik kak!” nadin mencium baby El sebelum
melepaskannya pada Aisyah. Setelah aisyah keluar dari rumahnya, Nadin segera
mendekati dua pria yang salain berseteru itu.
“Kau sudah terlalu banyak masuk ke dalam rumah tangga kami!”
“Iya …, karena kau yang memberi kesempatan itu!”
Ucapan Alex benar-benar memancing emosi Rendi, Rendi segera melayangkan pukulannya pada Alex, ketenangannya hilang jika itu
menyangkut Nadin dan putranya.
Alex yang tidak terima akhirnya membalas pukulan Rendi, mereka benar-benar sudah tidak menyadari jika baby El sudah tidak berada
di sana. Baku hantam pun terjadi antara dua pria dengan kekuatan yang sama itu.
tengah-tengah, dan benar saj pukulan terakhir Rendi yang seharusnya ia tujukan
kepada Alex ,mendarat di lengan Nadin, membuat tubuh Nadin roboh.
Dua pria yang sedang membabi buta itu menghentikan perkelahiannya saat melihat Nadin terjatuh dan kesakitan.
“Nadin!” ucap mereka bersama-sama lalu menghampiri tubuh Nadin.
“Nad …, kau tidak pa pa!”
“Tokki …, apa yang sakit, katakan!”
Nadin hanya menangis sambil memegangi lengannya yang terasa sangat nyeri, walaupun pukulan itu meleset, tapi cukup keras untuk
ukuran seorang wanita. Nadin menatap Alex.
“Lex …, tolong tinggalkan kami!” ucap Nadin dengan nada memohon, ia harus menyelesaikan semuanya tanpa Alex.
“Nad …, tapi …!” Alex berusaha menolah, ia tidak yakin meninggalkan Nadin bersama pria dingin yang masih berstatus suami wanita itu.
“Aku mohon …!”
“Baiklah ….!”
Alex menyerah, ia memang bukan siapa-siapa di sini, ia hanya orang yang berusaha memberi yang terbaik untuk orang yang begitu berharga
dalam hidupnya.
Alex pun meninggalkan Nadin bersama dengan Rendi. Ini sudah cukup baginya.
Kini tinggal Nadin dan Rendi di rumah itu, Rendi
menatap Nadin yang masih menangis. Ia hendak menarik tubuh Nadin dalam
pelukannya tapi wanita itu segera menepisnya.
Rendi segera berdiri dan menutup pintu rumah Nadin, tak lupa ia juga menguncinya, Ajun yang semula mendengar keributan hendak
menghampiri rumah Nadin segera ia urungkan saat melihat bos nya menutup rumah
itu dan mobil Alex sudah meninggalkan halaman rumah itu.
“Semoga akan menjadi baik!” Ajun kembali menuju ke rumah Rendi dan memastikan tidak akan ada yang datang menggangu mereka,
sampai urusan mereka selesai.
Rendi menghampiri Nadin kembali dengan tatapan tajam, ia sudah begitu kesal dengan keberadaan Alex dan sekarang Nadin sudah
menolaknya, ia sangat melukai harga dirinya.
Mata Rendi tertuju pada seikat bunga yang berada di atas meja, ia segera mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah.
“Jadi kau ingin hidup dengan pria itu?’ Tanya Rendi tajam membuat Nadin mendongak, ia bangun dari duduknya dan menatap Rendi tak
kalah tajamnya.
“Ini hidupku, jadi tidak ada urusannya denganmu!” ucap Nadin dengan penuh penekanan.
“Hidupmu …? Hidupmu …?” Rendi memejamkan matanya.
“Lalu apa hidupku tidak berarti lagi dalam hidupmu?”
“Tidak ….! Semua sudah berakhir saat itu, tidak ada lagi hidup kita, tapi hanya ada kau dan aku!”
“Seperti itu …? Apa aku tidak salah? Lihat matamu, masih ada aku di sana, tatapan itu masih sama seperti saat itu, mungkin kau
bisa membohongi orang lain dengan mengatakan jika kau sudah tidak mencintaiku
lagi, tapi matamu itu tidak bisa berbohong!”
“kau salah …!”
“tidak aku tidak pernah salah …!”
“Berhenti melukaiku …, dengan berbuat seperti ini mas Rendi akan terus melukaiku!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘