
"Kamu mau minum apa Nad?" tanya Divta pada Nadin.
"Samain aja sama kak Divta." ucap Nadin enggan, ia begitu malas menanggapi, pikirannya kini sedang tertuju pada pria es yang sudah meninggalkannya.
"Ya udah mbak sama aja, dua ya ...!" ucap Divta sambil menunjukkan dua jari tangannya.
Bukannya segera bicara Divta malah menyandarkan punghungnya di sandaran kursi, tentu hal itu membuat Nadin begitu kesal.
"Apa yang ingin kak Divta bicarakan?" tanya Nadin begitu tidak sabar.
"Bisakah kau jadi pacarku?"
Tentu ucapan Divta yang begitu to the point lagi-lagi membuat Nadin kembali tercengang.
Astaga ....., aku harus bagaimana ini ...., orang ini benar-benar ya ....
"Bagaimana? Kenapa ekspresimu malah seperti itu?" tanya Divta dengan santainya.
Tapi belum sempat Nadin menjawab, pelayan kembali mendekat dengan dua gelas coklat panas.
"Terimakasih mbak ...!" ucap Divta kepada pelayan itu.
****
Di tempat lain, Rendi sudah meminta anak buahnya untuk mengikuti mobil yang di tumpangi Nadin dan Divta.
"Bagaimana?" tanya Rendi di telpon.
"Mereka si kafe zzz, pak!"
"Baik, terus awasi mereka ...!"
Rendi pun segera menutup sambungan telponnya.
"Apa yang mereka bicarakan sebenarnya? Kenapa Nadin?"
Rendi benar-benar merasa tidak tenang. Ia mengusap rambutnya kasar, ia begitu berantakan.
Rendi pun segera memutar mobilnya kembali ke kantor, ia berlari masuk kembali ke dalam gedung bertingkat itu, ia menghampiri resepsionis.
"Apa dr. Frans berada di klinik hari ini?" tanya Rendi pada resepsionis itu.
"Iya pak, hari ini dr. Frans mempunyai jadwal di sini."
"Hubungkan pada ruangannya, bilang saya menunggunya di lobby."
"Baik pak ...!" ucap resepsionis itu, sambil menekan beberapa tombol dan menempelkan gagang telpon itu di daun telinganya.
"Hallo ....!"
"......."
"Maaf dokter, mengganggu waktu anda, tapi pak Rendi sudah menunggu anda di lobby."
"......"
"Baik pak ...!"
Resepsionis itu pun kembali menaruh gagang telponnya.
"Dr. Frans akan turun dalam waktu sepuluh menit."
"Lama sekali ...., apa tidak bisa lebih cepat ...?!" gerutu Rendi.
"Maaf pak ...!" ucap resepsionis itu sambil menunduk takut.
"Lupakan ...!"
Rendi pun segera duduk di kursi panjang itu menunggu hingga dr. Frans turun, entah sudah berapa puluh kali ia mencoba untuk menghubungi dr. Frans tapi dr. Frans malah mereject panggilannya.
"Brengsek ...!" umpat Rendi sambil menendang tempat sampah yang ada di hadapannya, semua karyawan yang melihatnya tampak begitu ketakutan. Karyawan yang melihatnya begitu terkejut melihat sikap Rendi yang biasanya selalu tampit tenang dan dingin kini terlihat gusar.
Setelah beberapa menit, akhirnya yang di tunggu datang juga, Rendi tak sabar menunggu sampai dr. Frans menghampirinya, ia lebih dulu berjalan dengan langkah yang begitu lebar.
"Ada apa lo, kenapa wajah lo lusuh gitu?" tanya dr. Frans yang sudah berada di dekatnya.
"Lo..., sialan ya lo ...., ayo ikut gue ...!" umpat Rendi sambil menarik rangan dr. Frans tak sabar. Mereka masuk ke dalam mobil dengan buru-buru.
"Sebenarnya ada apa sih, kenapa lo buru-buru sekali?" tanya dr. Frans yang masih di buat bingung dengan tingkah Rendi yang seperti kebakaran jenggot itu.
"Kita ke kafe zzzz." ucap Rendi tanpa mengalihkan tatapannya.
"Astaga ..., cuma buat ngajak gue ke kafe aja, lo sudah bikin heboh orang satu kantor tau nggak." gerutu dr. Frans.
Gerutuan itu terus berlanjut hingga sampai di depan kafe. Setelah lima belas menit mereka sampai juga.
Rendi pun segera memarkir mobilnya.
"Ayo lah ....!"
Mereka pun memasuki kafe itu, Rendi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe.
"Lo cari siapa sih?" tanya dr. Frans yang merasa heran. Kemudian dr. Frans pun ikut mencari, kemudia mata mereka tertuju pada satu meja. Dr. Frans pun segera tersenyum, rasa kesalnya kini telah menguap saat melihat siapa yang ada di meja itu.
"Ok ..., gue tahu sekarang ...!" ucap dr. Frans.
Astaga ...., memqng susah kalau sudah berurusan dengan orang yang sedang jatuh cinta.
Rasanya ingin sekali menertawakan orang bodoh di sampingnya, tapi takut dosa. Jatuh cinta tapi tidak sadar.
"Kita keluar saja ...!" ucap Rendi tiba-tiba saat melihat Divta terlihat tersenyum terpingkal-pingkal dengan ulah Nadin. Tapi dr. Frans segera menarik kemeja Rendi.
"Eits ...., mau kemana lo, jadi orang itu harus gentle. Baiklah, ayo ikuti gue ....!"
Dr. Frans segera menarik Rendi menghampiri meja mereka. Rendi begitu enggan untuk mendekat, tapi egonya masih kalah dengan kecerdikan dr. Frans.
"Hai ..., kebetulan kalian disini, kami boleh gabung nggak ...!" ucap dr. Frans saat sampai di dekat meja Divta dan Nadin.
"Dokter ..., Pak Rendi ....!" ucap Nadin terkejut dengan kedatangan mereka. Sedangkan Divta masih diam tak menanggapi.
"Tidak kalian nikmati saja, kami akan mencari tempat duduk lain." ucap Rendi yang hendak menarik dr. Frans. Tapi matanya selalu tertuju pada Nadin.
"Nggak pa pa ...., kalian gabung saja, biar tambah ramai ...., iya kan Nad?" ucap Divta sambil meminta persetujuan pada Nadin, Nadin pun segera mengangguk begitu senangnya.
Dr. Frans pun segera menggeser tempat duduk untuk Rendi supaya bisa lebih dekat dengan Nadin, sedangkan untuknya sendiri dr. Frans, memilih duduk di samping Divta.
Nadin begitu gugup karena terlalu dekat dengan Rendi, Divta segera memanggil pelayan kembali dan memesankan dua cangkir kopi untuk dr. Frans dan Rendi.
"Kalian kok bisa di sini juga sih?" tanya Divta.
"Iya ..., ini sebenarnya kafe langganan kami, kami biasa nongkrong di sini saat pulang kantor, iya kan Rend?" ucap dr. Frans sambil menendang tulang kering Rendi, membuat Rendi meringis kesakitan.
"Hehemm ..., i-iya ...!" ucap Rendi sambil melotot pada dr. Frans.
"Memang di sini tempatnya begitu bagus sih ...!" ucap Divta, menilai kafe itu.
Mereka pun mengobrol panjang lebar, kesana kemari. Dari aktifitas sehari-hari, makanan kesukaan hingga tempat nongkrong yang biasa mereka kunjungi.
Dr. Frans yang melihat kecanggungan antara Nadin dan Rendi begitu gemas, ia melihat kopi milik Rendi masih banyak di cangkirnya, di otaknya seperti muncul sebuah ide cemerlang untuk dia orang di depannya ituπ‘π‘π‘.
Sepertinya harus aku yang bertindak ...., adik kecilku, jangan khawatir, patnermu ini akan membuatkan jalan untukmu ....
Cuaca panas ini begitu membantuku ....
"Kenapa ya hari ini panas sekali, sepertinya nanti akan turun hujan." ucap Dr. Frans sambil mengibas-ibaskan tangannya. "Nad ..., kamu punya apa gitu di tasmu, supaya bisa aku gunakan buat kipas?"
"Apa ya dok ..., biar aku cari dulu ya ....!" ucap Nadin sambil mencari-cari sesuatu di tasnya.
"Ini dok ..., aku sepertinya ada kertas, nggak pa pa ya dok ....!" ucap Nadin sambil menunjukkan selembar kertas brosur layanan terapi kecantikan.
"Iya mana ...!" jawab dr. Frans sambil mengulurkan tangannya, yang kebetulan tempat duduk mereka menyilang, dr. Frans tepat berada di depan Rendi sedangkan Nadin berada di depan Divta.
Bukan kertas itu yang di pegang oleh dr. Frans tapi tangan Nadin, dengan gerak cepat dr. Frans menarik tangan Nadin hingga menyenggol cangkir milih Rendi hingga membuat isi cankir itu tumpah ke kemeja Rendi.
Gubrak
klunting
"Auhg ...., panas ....!"
Rendi yang terkejut, dengan cepat berdiri dari duduknya karena merasakan dadanya yang panas. Ia mengibas-ibaskan tangannya di depan kemejanya, kemudian melepas kancing kemejanya itu agar tidak menempel pada tubuhnya.
Nadin tak kalah terkejutnya, ia segera berdiri dan menutup mulutnya agar tidak berteriak.
"Astaga ..., maafkan aku pak ..., aku tak sengaja ...!" ucap Nadin.
"Bersihkanlah di kamar mandi!" ucap Divta yang juga tak kalah terkejut.
"Iya deh Rend, sepertinya lo harus mengguyur tubuh lo dengan air dingin deh ...!" ucap dr. Frans menimpali.
"Iya lo ..., jangan sampai melepuh ...!" ucap Divta lagi.
"Baiklah ..., aku ke kamar mandi dulu ...!" ucap Rendi sambil berlalu meninggalkan mereka.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy Reading ππππ**