MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kenapa dengan kakimu lagi



Setelah Rendi meninggalkan ruangannya, tak berapa lama, Vina sekertaris Rendi datang.


"Selamat pagi nona Nadin!" sapa Vina.


"Mbak Vina, kenapa di sini?" tanya Nadin.


"Pak Rendi memintaku menjaga anda selama pak Rendi pergi nona!"


"Jangan panggil nona, panggil Nadin saja, aku hanya mahasiswa magang!" ucap Nadin yang merasa tidak enak.


"Baiklah .....,mbak Nadin!"


"Jangan khawatir seperti itu, pak Rendi tidak akan memarahiku karena memanggilku seperti itu!" ucap Nadin dan Vina pun hanya mengangguk.


"Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Vina.


"Tidak. duduklah ....., aku akan bermain dengan ponselku!"


"Baik mbak!"


Vina pun duduk di sofa tak jauh dari Nadin. Ia terus memperhatikan Nadin, dan sesekali menerima dan mengirimkan pesan, sepertinya itu dari atasannya.


Vina juga kerap mengambil foto Nadin. Nadin yang merasa di awasi, memberanikan diri untuk bertanya.


"Mbak Vina, apa pak Rendi itu selalu seperti itu jika meminta laporan?"


"Maksud mbak Nadin?" tanya Vina yang tidak paham dengan yang di maksud.


"Maksudku, apa selalu meminta melaporkan setiap kejadian dalam waktu lima menit atau sepuluh menit?" tanya Nadin dan Vina hanya mengerutkan keningnya, "Maksudku, jadi kemarin pak Rendi juga meminta anak buahnya menjagaku, dia juga menerornya dengan meminta laporan setiap lima atau sepuluh menit sekali gitu kalau tidak salah, seberapa banyak gambar yang kau ambil sedari tadi?"


"Oh ...., itu ...., aku rasa tidak mbak, sepertinya ini hanya berlaku untuk anda, untuk pekerjaan lain pak Rendi tidak sekritis ini!" ucap Vina, seketika membuat hati Nadin menghangat.


Apakah itu artinya pak Rendi memperhatikanku ...?


***


Divta yang baru saja masuk ke ruangannya segera di hampiri oleh asistennya.


"Selamat pagi pak!"


"Selamat pagi, ada apa jadwal saya hari ini?" tanya Divta pada asistennya.


"Pak Agra meminta anda untuk tetap stanby di perusahaan pak!"


'Kenapa?" tanya Divta.


"Hari ini akan ada tamu dari luar negri yang akan meninjau perusahaan kita, pak Agra dan pak Rendi sedang ada meeting di luar!"


"Baiklah ....., aku akan sedikit bersantai hari ini ....!"


"Saya permisi pak, jika anda butuh sesuatu silahkan panggiln saya!"


"Baiklah ....., terimakasih ...!"


Sekertarisnya pun segera keluar dari ruangannya Divta. Divta menyenderkan punggungnya di senderan kursi dengan sangat nyaman.


Saat hendak mengambil bolpoin di atas meja, tanpa sengaja sebuah cutter yang yang berada di sebelah bolpoin menggores tangannya.


"Augh ....!" keluh Divta sambil memegangi punggung tangannya yang terluka. Ia pun kembali berdiri sambil mencari-cari sesuatu di dalam lacinya.


"Kok tidak ada ya ....!" gumamnya saat tak menemukan apa yang ia cari. Ia pun kemudian berjalan menuju ke luar ruangannya.


"Dea!"


"Iya pak?" sekertaris nya yang merasa di panggil segera berdiri.


"Apa kamu punya handsaplas atau sejenisnya?" tanya Divta sambil terus memegangi punggung tangannya yang terluka dengan selembar tisu.


"Maaf pak saya tidak punya, biarkan saya minta di klinik pak!" ucap Dea sekretarisnya.


"Nggak usah, biar saya saja ...., sekalian saya ingin bertemu dengan dr. Frans!" ucap Divta, ia pun segera berlalu meninggalkan sekretarisnya. Tapi saat langkah nya belum mencapai ujung jalan, ia kembali terhenti dan membalik tubuhnya.


"Dea!"


"Iya pak?"


"Nanti kalau ada yang penting segera hubungi saya!"


"Baik pak!"


Divta pun segera melanjutkan langkahnya. Dengan wajah tegasnya ia melewati beberapa karyawan. Ia suka tersenyum tapi pada orang-orang tertentu.


Divta akhirnya sampai di satu lantai yang khusus untuk klinik perusahaan.


"Dokter, apa kau punya handsaplas atau semacamnya?" tanya Divta pada dokter jaga.


"Biar saya carikan pak!" ucap dokter itu, dokter yang sama dengan dokter yang menangani Nadin. Dokter itu segera mencari yang di maksud Divta di lemari, Divta pun segera duduk dan mengamati sekeliling.


"Apa dokter Frans tidak datang hari ini?"


"Dr Frans katanya akan datang agak siangan pak!" ucap dokter itu sambil membawa sebuah kotak kasa dan handsaplas.


Divta segera mengulurkan tangannya yang sedang terluka, dengan hati-hati dokter itu mengusapkan cairan alkohol dan menutup luka itu dengan kain kasa dan handsaplas.


"Iya pak, tadi ada mahasiswa magang yang kakinya tersiram air panas, untung tidak sampai melepuh karena pak Rendi segera membawanya ke sini!" jelas dokter itu.


"Mahasiswa magang?"


"Iya pak!"


"Boleh aku melihatnya?" tanya Divta.


"Silahkan pak!"


Setelah selesai, Divta segera berdiri dan berjalan menuju ruang perawatan yang di maksud dokter.


Benar saja, di sana terlihat Nadin sedang duduk di tempatnya. Divta segera masuk, membuat Nadin terkejut, bukan dia yang ia harapkan datang lagi saat ini.


Kenapa dia?


Vina yang sedari tadi menemani Nadin segera berdiri dan menunduk hormat saat melihat Divta masuk ke dalam ruangan itu.


"Nad, kamu kenapa?" tanya Divta sambil mendekati Nadin.


"Pak Divta, sedang apa pak Divta di sini?" tanya Nadin. Divta melihat orang lain di sana.


"Vina ....., kau sudah boleh kembali ke ruanganmu!" ucap Divta pada Vina.


"Tapi pak!" Vina tidak mungkin meninggalkan Nadin, karena Rendi sudah memintanya menjaga Nadin hingga ia kembali.


"Jangan khawatir, aku yang akan bicara pada Rendi!"


"Baik pak!"


Karena Divta memaksa, akhirnya Vina setuju. Ia pun meninggalkan Nadin dengan Divta.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Vina setelah keluar dari ruangan. "Apa yang harus aku laporkan?"


Ting


"Ah ..,., panjang umur, baru saja di pikirkan, pesannya sudah nongol."


Vina segera membaca pesan itu, walaupun pesannya selalu sama, tapi apalah dayanya pada seorang atasan.


//Apa yang di lakukan ya? Apa keadaannya sudah lebih baik?//


Vina tampak menghela nafasnya dalam, ia mulai mengetikan pesan untuk atasannya itu.


//Nona Nadin sudah lebih baik pak, tapi sekarang nona Nadin sedang di temani oleh pak Divta, beliau meminta saya meninggalkan ruangan nona Nadin//


Vina pun segera mengirimkan pesan itu pada atasannya. Setelah Vina meninggalkan ruangan itu, Divta pun kembali menatap Nadin.


"Inilah yang membawaku ke sini!" ucap Divta sambil memperlihatkan tangannya yang juga di balut.


"Tangan pak Divta kenapa?" tanya Nadin lagi.


"Ini tidak jadi masalah. ...., tapi ada apa dengan kakimu?" tanya Divta.


"Tadi tersiram air panas!" ucap Nadin dengan malas.


"Kenapa kakimu selalu terluka saat bertemu denganku, apa tidak ada yang lainnya yang bisa kau lukai selain kaki?" tanya Divta.


"Memang apa lagi yang harus terluka!" gumam Nadin.


"Aku rasa kakimu itu memang di ciptakan untukku!" ucap Divta enteng sambil duduk di sebelah Nadin.


"Kenapa?" tanya Nadin.


"Karena setiap kali kakimu terluka, Tuhan selalu menunjukannya padaku!"


"cehhhh ...!" Nadin hanya memutar bola matanya malas.


"Buktinya, setiap kali kakimu terluka, Tuhan selalu mempertemukanku denganmu, seperti saat ini!"


"Itu cuma kebetulan ....!"


"Tak ada kebetulan yang berturut-turut, memang sepertinya kita berjodoh!"


"Terserah pak Divta saja!" ucap Nadin yang malas menanggapi ucapan Divta.


Kenapa wajahnya menyebalkan sekali sih dia ....


"Jadi kau setuju jika berjodoh denganku?"


Spesial Visual Divta



BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya


Kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 😘😘😘😘😘