MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Alex



Seperti yang di minta orang itu, rendi pun meninggalkan


tempat itu, ia segera mengurus kepulangannya ke Indonesia, walaupun begitu


gerak geriknya teus di awasi oleh orang-orang suruhan pria itu. Itu sangat


menyulitkannya untuk menghubungi ulang Agra, ia hanya bias memberi kode


sekenanya pada Agra, ia juga tidak mau sampai Agra bertindak gegabah. Agra


memiliki banyak ide, tapi Agra bukan tipe orang yang bias tenang.


Rendi naik pesawat umum, ia tidak menggunakan penerbangan


pribadi. Sesampai di Indonesia ia sengaja merahasiakan kepulangannya. Ia tidak


memiliki banyak waktu untuk menjelaskan pada orang-orang tentang Nadin.


Nadin pun sama, ia bi bawa ke sebuah Vila yang ada di


pedesaan yang jauh dari keramaian dengan penjagaan yang sangat ketat.


“Tinggalkan kami!” perintah pria itu pada anak buahnya,


Pria itu pun mendekat pada nadin yang terduduk di atas


tempat tidur, membuat Nadin menggeser tubuhnya.


“Jangan takut cantik …., aku hanya ingin melepas ikatanmu!”


sebelum Nadin sempat menghindar lagi, pria itu dengan sigap menangkap tubuh


Nadin hingga kini tubuh Nadin berada dalam dekapannya, ia segera membuka


penutup mulut Nadin.


“Jangan menyentuhku …!” teriak Nadin saat penutup mulutnya


sudah terbuka.


“Wau …, wau …, galak sekali cantik!”


Nadin berusaha melepaskan diri dari tubuh pria itu,


“Lepaskan aku!”


“Tentu, aku akan melepaskanmu …, biar aku lepaskan


tanganmu!” dan dengan cepat pria itu membalik tubuh Nadin hingga Nadi berdiri


membelakangi pria itu, tangan kanan pria itu kalungkan di depan dada Nadin,


sedang tangan kirinya ia gunakan untuk melepaskan ikatan di tangan Nadin.


Setelah ikatan itu berhasil di lepas, Nadin berusaha keras


untuk melepaskan diri dari dekapan pria itu,


“augh …., augh ….!” Keluh pria itu saat dengan keras Nadin


menginjak kaki pria itu. Nadin pun segera berlari menjauh dari pria itu.


“Wah …, keren. Kau membuatku tertarik, semakin kau menolak,


rasanya aku semakin penasaran!” ucap pria itu sambil mendekati Nadin. Nadin pun


berjalan mundur, membuat jarak di antara mereka, tanyannya berusaha meraih


sesuatu yang bias ia gunakan sebagai senjata.


“Jangan mendekat, atau aku akan memukulmu dengan ini ….!”


Teriak Nadin saat tangannya berhasil meraih sebuah vas bunga di atas meja.


“kau benar benar membuatku takut …., baiklah aku tidak akan


mengganggumu …., aku cuma ingin kenal denganmu, Nadin …., kenalkan namaku_!”


“Aku tidak butuh tahu namamu!” teriak Nadin sambil


mengacungkan Vas itu bersiap untuk memukul.


“Kenapa? Namaku begitu indah …., jangan membuatku kecewa sayang


…, kau begitu berharga untuk rencanaku. Mungkin inilah yang membuat si Rendi


itu tertarik padamu …., aku akan memberi tahumu siapa namaku!”


“Tidak perlu, tinggalkan aku sekarang!”


“Baiklah …., mungkin pertemuan hari ini cukup sampai di


sini, sampai jumpa nanti malam. Kita akan makan malam bersama!”


Pria itu pun membetulkan jasnya, dan berjalan meninggalkan


Nadin. Akhirnya Nadin bisa bernafas sedikit laga sekarang setidaknya untuk


beberapa saat ke depan tidak bertemu dengan pria aneh itu.


Nadin mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur yang luas


itu, tempaqt tidur yang sepertinya se ngaja di siapkan khusus, tempat tidur itu


juga sangat rapi.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Nadin pun kembali


berdiri, ia menuju ke jendela. Nadin membuka gordennya, mengamati bagian luar,


ternyata ia berada di lantai dua, di luar ia bisa mengamati, bisa melihat


berapa banyak penjaga yang berjaga di luar. Di setiap sudut ada satu penjaga


dengan tubuh gempal dan wajah seram.


“Bagaimana aku bisa kabur dari sini!” ucap Nadin sambil


menghela nafasnya, ia pun kembali berjalan menuju ke pintu. Ia memegang gagang


pintu, memutarnya.


Ceklek


Ternyata pintu itu tidak terkunci. Ia membuka pintu itu


perlahan, mengeluarkan sebagian kepalanya untuk mengamati keluar kamar, taka da


luar kamar.


Heh …, aman …,


sepertinya tidak seperti yang aku pikirkan …, ini tidak terlalu ketat


penjagaannya, aku harus mempelajari tem[pat ini untuk bisa kabur ….


Tapi saat hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia di


kejutkan dengan seseorang yang berdiri di belakangnya saat ia menoleh ke


belakang.


“Maaf nona, sudah mengagetkan anda!” ucap wanita paruh baya


itu.


“Kamu siapa?” Tanya Nadin.


“Saya di tugaskan oleh tuan Alex untuk menemani anda


kemanapun anda pergi!”


“kemanapun?”


“Iya nona …!”


Ternyata dia sudah


menyiapkan semuanya …., aku salah prediksi …., baiklah …, aku akan mencari  cara, sebaiknya aku bersikap baik dulu lah ….


“Apa nona membutuhkan sesuatu?” Tanya wanita itu saat melihat


Nadin hanya terdiam.


“Tidak …, aku hanya ingin jalan-jalan …, sekarang temani aku


berkeliling …!”


Nadin pun berjalan terlebih dulu, wanita itu


punmengikutinya, walaupun sudah matang usianya, kira-kira usianya 40 tahun,


tapi wanita itu tampak masih bugar dengan penampilan seperti seorang bodyguard.


“Ibu …, eh mksudku bibi ini namanya siapa?” Tanya nadin


sambil menyususri tangga.


“Panggil saja saya, Merry!”


“Tante Merry!”


“Merry saja, saya lebih suka di panggil seperti itu!”


“Baiklah …, Merry. Laki-laki itu apakah tinggal di sini?”


“Maksud anda tuan Alex?”


“Ya mungkin, pria berjas itu!”


“Tidak, tuan Alex hanya datang ke sini kalau ada keperluan,


seperti saat ini tadi!”


“lalu dia tinggal di mana?”


“Di kota!”


Nadin terus saja berjalan, mengamati setiap jengkal rumah


itu. Mengamati setiap pintu, jendela dan ruangan di rumah itu.


“Kau boleh beristirahan jika capek, Merry. Biarkan aku


berkeliling sendiri!” Nadin mencari alasan agar bisa terhindar dari Merry.


“Saya akan menemani nona kemanapun, karena ini perintah!” ucap Merry tegas. dia benar benar sulit di kelabuhi.


Nadin pun menghentikan langkahnya, ia berkacak pinggang dan menoleh pada wanita tegas itu. “Tapi aku juga memerintahmu untuk beristirahat!”


“Maaf nona, tapi saya hanya menuruti perintah tuan Alex!”


Hehhh …, susah sekali


mengelabuhinya ….., bagaimana aku bisa lepas darinya kalau begini …


“Aku ingin minum!” ucap Nadin, ia berharap Merry akan


meninggalkannya ke dapur untuk mengambilkaqn minum, karena menurut prediksinya


buituh waktu 5 menit untuk sampai ke dapur, Waktu itu cukup baginya untuk


keluar dari dalam rumah.


“Baiklah nona, biar saya ambilkan!”


Yes …, yes …, berhasil



Nadin tersenyum penuh kemenangan. Merry pun segera berlalu


meninggalkannya. Setelah Merry menghilang dari balik dinding, dengan cepat


nadin berlari menuju ke pintu keluar, ia melihat pintu itu tidak tertutup


sempurna,


Mungkin pria tadi lupa


mengunci pintu ini ….


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘