
Seperti yang di minta orang itu, rendi pun meninggalkan
tempat itu, ia segera mengurus kepulangannya ke Indonesia, walaupun begitu
gerak geriknya teus di awasi oleh orang-orang suruhan pria itu. Itu sangat
menyulitkannya untuk menghubungi ulang Agra, ia hanya bias memberi kode
sekenanya pada Agra, ia juga tidak mau sampai Agra bertindak gegabah. Agra
memiliki banyak ide, tapi Agra bukan tipe orang yang bias tenang.
Rendi naik pesawat umum, ia tidak menggunakan penerbangan
pribadi. Sesampai di Indonesia ia sengaja merahasiakan kepulangannya. Ia tidak
memiliki banyak waktu untuk menjelaskan pada orang-orang tentang Nadin.
Nadin pun sama, ia bi bawa ke sebuah Vila yang ada di
pedesaan yang jauh dari keramaian dengan penjagaan yang sangat ketat.
“Tinggalkan kami!” perintah pria itu pada anak buahnya,
Pria itu pun mendekat pada nadin yang terduduk di atas
tempat tidur, membuat Nadin menggeser tubuhnya.
“Jangan takut cantik …., aku hanya ingin melepas ikatanmu!”
sebelum Nadin sempat menghindar lagi, pria itu dengan sigap menangkap tubuh
Nadin hingga kini tubuh Nadin berada dalam dekapannya, ia segera membuka
penutup mulut Nadin.
“Jangan menyentuhku …!” teriak Nadin saat penutup mulutnya
sudah terbuka.
“Wau …, wau …, galak sekali cantik!”
Nadin berusaha melepaskan diri dari tubuh pria itu,
“Lepaskan aku!”
“Tentu, aku akan melepaskanmu …, biar aku lepaskan
tanganmu!” dan dengan cepat pria itu membalik tubuh Nadin hingga Nadi berdiri
membelakangi pria itu, tangan kanan pria itu kalungkan di depan dada Nadin,
sedang tangan kirinya ia gunakan untuk melepaskan ikatan di tangan Nadin.
Setelah ikatan itu berhasil di lepas, Nadin berusaha keras
untuk melepaskan diri dari dekapan pria itu,
“augh …., augh ….!” Keluh pria itu saat dengan keras Nadin
menginjak kaki pria itu. Nadin pun segera berlari menjauh dari pria itu.
“Wah …, keren. Kau membuatku tertarik, semakin kau menolak,
rasanya aku semakin penasaran!” ucap pria itu sambil mendekati Nadin. Nadin pun
berjalan mundur, membuat jarak di antara mereka, tanyannya berusaha meraih
sesuatu yang bias ia gunakan sebagai senjata.
“Jangan mendekat, atau aku akan memukulmu dengan ini ….!”
Teriak Nadin saat tangannya berhasil meraih sebuah vas bunga di atas meja.
“kau benar benar membuatku takut …., baiklah aku tidak akan
mengganggumu …., aku cuma ingin kenal denganmu, Nadin …., kenalkan namaku_!”
“Aku tidak butuh tahu namamu!” teriak Nadin sambil
mengacungkan Vas itu bersiap untuk memukul.
“Kenapa? Namaku begitu indah …., jangan membuatku kecewa sayang
…, kau begitu berharga untuk rencanaku. Mungkin inilah yang membuat si Rendi
itu tertarik padamu …., aku akan memberi tahumu siapa namaku!”
“Tidak perlu, tinggalkan aku sekarang!”
“Baiklah …., mungkin pertemuan hari ini cukup sampai di
sini, sampai jumpa nanti malam. Kita akan makan malam bersama!”
Pria itu pun membetulkan jasnya, dan berjalan meninggalkan
Nadin. Akhirnya Nadin bisa bernafas sedikit laga sekarang setidaknya untuk
beberapa saat ke depan tidak bertemu dengan pria aneh itu.
Nadin mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur yang luas
itu, tempaqt tidur yang sepertinya se ngaja di siapkan khusus, tempat tidur itu
juga sangat rapi.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Nadin pun kembali
berdiri, ia menuju ke jendela. Nadin membuka gordennya, mengamati bagian luar,
ternyata ia berada di lantai dua, di luar ia bisa mengamati, bisa melihat
berapa banyak penjaga yang berjaga di luar. Di setiap sudut ada satu penjaga
dengan tubuh gempal dan wajah seram.
“Bagaimana aku bisa kabur dari sini!” ucap Nadin sambil
menghela nafasnya, ia pun kembali berjalan menuju ke pintu. Ia memegang gagang
pintu, memutarnya.
Ceklek
Ternyata pintu itu tidak terkunci. Ia membuka pintu itu
perlahan, mengeluarkan sebagian kepalanya untuk mengamati keluar kamar, taka da
luar kamar.
Heh …, aman …,
sepertinya tidak seperti yang aku pikirkan …, ini tidak terlalu ketat
penjagaannya, aku harus mempelajari tem[pat ini untuk bisa kabur ….
Tapi saat hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia di
kejutkan dengan seseorang yang berdiri di belakangnya saat ia menoleh ke
belakang.
“Maaf nona, sudah mengagetkan anda!” ucap wanita paruh baya
itu.
“Kamu siapa?” Tanya Nadin.
“Saya di tugaskan oleh tuan Alex untuk menemani anda
kemanapun anda pergi!”
“kemanapun?”
“Iya nona …!”
Ternyata dia sudah
menyiapkan semuanya …., aku salah prediksi …., baiklah …, aku akan mencari cara, sebaiknya aku bersikap baik dulu lah ….
“Apa nona membutuhkan sesuatu?” Tanya wanita itu saat melihat
Nadin hanya terdiam.
“Tidak …, aku hanya ingin jalan-jalan …, sekarang temani aku
berkeliling …!”
Nadin pun berjalan terlebih dulu, wanita itu
punmengikutinya, walaupun sudah matang usianya, kira-kira usianya 40 tahun,
tapi wanita itu tampak masih bugar dengan penampilan seperti seorang bodyguard.
“Ibu …, eh mksudku bibi ini namanya siapa?” Tanya nadin
sambil menyususri tangga.
“Panggil saja saya, Merry!”
“Tante Merry!”
“Merry saja, saya lebih suka di panggil seperti itu!”
“Baiklah …, Merry. Laki-laki itu apakah tinggal di sini?”
“Maksud anda tuan Alex?”
“Ya mungkin, pria berjas itu!”
“Tidak, tuan Alex hanya datang ke sini kalau ada keperluan,
seperti saat ini tadi!”
“lalu dia tinggal di mana?”
“Di kota!”
Nadin terus saja berjalan, mengamati setiap jengkal rumah
itu. Mengamati setiap pintu, jendela dan ruangan di rumah itu.
“Kau boleh beristirahan jika capek, Merry. Biarkan aku
berkeliling sendiri!” Nadin mencari alasan agar bisa terhindar dari Merry.
“Saya akan menemani nona kemanapun, karena ini perintah!” ucap Merry tegas. dia benar benar sulit di kelabuhi.
Nadin pun menghentikan langkahnya, ia berkacak pinggang dan menoleh pada wanita tegas itu. “Tapi aku juga memerintahmu untuk beristirahat!”
“Maaf nona, tapi saya hanya menuruti perintah tuan Alex!”
Hehhh …, susah sekali
mengelabuhinya ….., bagaimana aku bisa lepas darinya kalau begini …
“Aku ingin minum!” ucap Nadin, ia berharap Merry akan
meninggalkannya ke dapur untuk mengambilkaqn minum, karena menurut prediksinya
buituh waktu 5 menit untuk sampai ke dapur, Waktu itu cukup baginya untuk
keluar dari dalam rumah.
“Baiklah nona, biar saya ambilkan!”
Yes …, yes …, berhasil
…
Nadin tersenyum penuh kemenangan. Merry pun segera berlalu
meninggalkannya. Setelah Merry menghilang dari balik dinding, dengan cepat
nadin berlari menuju ke pintu keluar, ia melihat pintu itu tidak tertutup
sempurna,
Mungkin pria tadi lupa
mengunci pintu ini ….
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘