
Rendi mendekati Nadin, ia tidak bisa membayangkan sedekat apa wanitanya itu selama ini dengan pria asing itu, membayangkan Nadin menyandarkan semua kesedihannya pada pria itu membuatnya begitu sakit.
“Mas …, berhenti di situ!” teriak nadin saat Rendi
mulai mendekat. Tapi sepertinya teriakan itu tidak berpengaruh pada Rendi, pria
dingin itu tetap melangkahkan kakinya, hingga membuat Nadin memundurkan langkahnya
hingga punggungnya membentur dinding yang ada di belakangnya.
Rendi dengan cepat mengungkung tubuh Nadin dengan
kedua tangannya, walaupun dengan sekuat tenaga Nadin berusaha melepaskan
kungkungan Rendi, tetap saja tenaganya tidak akan mampu, apa lagi pria itu
sekarang terlihat sangat marah.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu, termasuk pria itu!”
“Mas …., jangan macam-macam …, kalau tidak aku akan berteriak!”
“berteriak saja …, Ajun ada di luar sana. Dan siapa yang akan berani ikut campur dalam pertengkaran antara suami istri!”
“Kau sudah punya istri lain mas, jangan seperti ini …!”
Ucapan Nadin kembali membuat amarah Rendi memuncak. Air mata Nadin sudah mengalir tak tertahankan lagi, ia begitu takut jika sampai
Rendi berbuat nekat.
“Mana saja yang sudah di sentuh oleh pria itu?”
Tanya Rendi dengan penuh penekanan.
Tak menunggu jawaban dari Nadin, Rendi langsung menyerang tubuh Nadin dengan bertubi-tubi ciuman di bagian dada, leher, pipi,
bibir , mata, seakan ia tidak akan meninggalkan sejengkal pun dari tubuh Nadin.
“Mas …, jangan seperti ini!”
“Kenapa? Kau lebih suka di sentuh oleh pria itu?”
“Mas …, ini tidak benar!”
Rendi mengangkat tubuh Nadin dan membawanya ke dalam
kamar, rendi menjatuhkan tubuh Nadin ke atas tempat tidur dan tidak memberi
kesempatan padanya untuk bisa lepas darinya. Rendi segera menindih tubuh itu,
berkali-kali menghujani dengan ciuman dan dengan gerak cepat selurh pakaian
Nadin yang melekat di tubuhnya melayang entah kemana, Nadin hanya bisa pasrah,
walaupun hatinya menolak tapi ternyata tubuhnya berkata lain, tubuhnya
merindukan sentuhan pria itu.
Melihat Nadin sudah tidak lagi memakai sehelai kain
pun membuat gairah pria itu yang sudah tertahan selama satu tahun ini memuncak,
Rendi pun bangun dan melepaskan pakaiannya sendiri. Nadin hanya terus menangis
tanpa melakukan perlawanan, ia tidak memungkiri jika ia juga merindukannya.
Dan Rendi pun melakukan yang seharusnya ia lakukan
pada istrinya, ia tidak memberi kesempatan pada nadin untuk mengeluh ataupun
menolak. Pertarunagan panas itu terjadi cukup lama. rendi benar-benar kembali
menuangkan benih cintanya ke Rahim wanita yang begitu ia cintai itu. Rendi tak
membiarkan Nadin beristirahat semalaman, entah sudah berepa kali hingga mereka
saling terlelap dalam tidur.
Ajun yang tetap berjaga di luar rumah Rendi
memastikan jika tidaka akan ada yang mengganggunya, ternyata instingnya benar.
Aisyah bersama baby El sedang berjalan mendekat ke rumah itu. Baby El terlihat
sudah tidur di dalam gendongan wanita berhijab itu.
Ia hendak membuka pagar, tapi segera di hentikan
oleh Ajun dengan menahan tangannya, membuat Aisyah segera terhenyak dan mengibaskan
tangan Ajun.
“Maaf!” Ajun tahu telah melakukan kesalahan dengan
memegang tangan wanita itu. Ia pun dengan cepat melepaskan tangannya dari
tangan wanita itu.
“Kamu siapa?” Tanya Aisyah, wanita itu sedang
menyelidik.
“Aku anak buah pak Rendi!” ajun berusaha memperkenalkan diri, ia tahu
jika yang sedang di gendong oleh wanita itu adalah bos kecil. Keselamatan dan
kenyamananya akan jadi tanggung jawabnya juga.
“Pak Rendi?” nama itu masih begitu asing untuknya.
“Suami ibu Nadin!”
Aisyah menjadi sangat bingung, bukankah baik jika
mereka bertemu dalam satu keluarga yang utuh, kenapa harus di tahan?
“Lalu?”
“Mereka sedang menyelesaikan masalah mereka di
dalam, jadi saya mohon anda tidak akan mengganggunya!”
jika baby El tidak pulang!”
“Itu tidak akan terjadi, baiklah …, bagaimana kalau baby El bersama saya saja!”
Aisyah memperhatikan pria yang ada di depannya itu, memang tidak terlihat jahat, tapi membiarkan baby El dengan pria asing ini
bukanlah keputusan yang benar.
“Tidak …, biar baby El bersama ku saja, tapi aku
minta tolong satu hal!”
“katakan!”
“Tolong katakan kepada kak nadin kalau baby El
baik-baik saja bersamaku!”
“baiklah ..!’
“Assalamualaikum!”
“waalaikum salam!”
Aisyah pun kembali ke rumahnya dengan membawa baby
El kembali, dari pada meninggalkan baby El dengan orang asing pasti tifak akan
baik, apalagi seorang pria dengan bayi bukan kah sebuah masalah baru.
🌺🌺🌺🌺
Pagi ini Nadin terbangun dari tidurnya, tapi
tubuhnya begitu sakit seperti baru saj memikul puluhan ton beras. Nadin
meregangkan tubuhnya, tapi ia segera terhenyak saat menyadari suatu hal.
“El …!”
Nadin segera terduduk, tubuhnya masih polos dengan
tertutup sehelai selimut, tidak ada orang lain di dalam kamar itu.
“Apa aku semalam sedang bermimpi?”
Kemudian ia melihat tubuhnya yang tak memakai
sehelai benang pun. Tubuhnya juga sakit semua. Banyak tanda kepemilikan di
setiap inci kulitnya. Bahkan Rendi tidak membiarkan seincipun tanpa tanda
kepemilikan.
Ceklek
Pintu terbuka membuat Nadin segera menoleh ke sumber
suara, di depan pintu itu sudah datang Rendi yang menggendong baby El.
“Bunda sudah bangun? Bagaimana tidurmu? Apa sangat nyenyak?”
Rendi membawa baby El mendekat dan segera mencium kening
Nadin.
“Jagoan kita ini sangat manis sayang …!” ucap Rendi sambil mencium pipi gempil baby El.
“Sayang?” untuk pertama kalinya ia bisa mendengar pria dingin itu memanggilnya sayang. Seandainya pria itu memanggilnya di waktu itu dengan panggilan sayang, ia pasti akan sangat senang tapi untuk saat ini,
pria itu bukan lagi Cuma miliknya.
“Mandi gih …, kita jalan-jalan bertiga hari ini, pumpung hari libur!”
Kenapa dia sangat manis sekarang, kenapa harus sekarang? Jika sikapmu seperti ini
terus lalu bagaimana aku bisa melepasmu mas …..
“Kenapa malah bengong sayangku …, tokki ku ….! Lihat tuh bunda malah diam aja boy …!”
Nadin masih terbengong dengan kelakuan Rendi, bagaimana bisa pria dingin itu kini berubah menjadi sangat hangat, bahkan lebih
dari devinisi hangat.
“Apa perlu aku mandiin?” Tanya Rendi lagi saat Nadin tak juga bergerak dari tempatnya.
“Tidak!” Nadin bergerak dengan cepat setelah
mendengarkan kata-kata Rendi. Nadin segera berlari ke kamar mandi dengan
selimut yang masih melilit tubuhnya.
Ternyata di kamar mandi, Rendi juga sudah menyiapkan air hangat untuk Nadin.
“Apa-apaan ini …, bahkan ada air hangat juga di
sini!”
Nadin juga menemukan secarik kertas di samping sabun mandi.
“Selamat mandi sayang …, semoga pagimu akan menyenangkan setelah hari ini, bersama ku dan putra kita, aku mencintaimu!”
“Aku mencintaimu …, aku mencintaimu …., aku
mencintaimu …!” kata itu di ulang beberapa kali oleh nadin seperti sebuah
mantra, selama ini kata itu begitu berat di katakana oleh seorang Rendi, tapi
pagi ini dia di kejutkan dengan hal-hal baru dari seorang Rendi.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘