MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Apa yang seharusnya terjadi



Rendi mendekati Nadin, ia tidak bisa membayangkan sedekat apa wanitanya itu selama ini dengan pria asing itu, membayangkan Nadin menyandarkan semua kesedihannya pada pria itu membuatnya begitu sakit.


“Mas …, berhenti di situ!” teriak nadin saat Rendi


mulai mendekat. Tapi sepertinya teriakan itu tidak berpengaruh pada Rendi, pria


dingin itu tetap melangkahkan kakinya, hingga membuat Nadin memundurkan langkahnya


hingga punggungnya membentur dinding yang ada di belakangnya.


Rendi dengan cepat mengungkung tubuh Nadin dengan


kedua tangannya, walaupun dengan sekuat tenaga Nadin berusaha melepaskan


kungkungan Rendi, tetap saja tenaganya tidak akan mampu, apa lagi pria itu


sekarang terlihat sangat marah.


“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu, termasuk pria itu!”


“Mas …., jangan macam-macam …, kalau tidak aku akan berteriak!”


“berteriak saja …, Ajun ada di luar sana. Dan siapa yang akan berani ikut campur dalam pertengkaran antara suami istri!”


“Kau sudah punya istri lain mas, jangan seperti ini …!”


Ucapan Nadin kembali membuat amarah Rendi memuncak. Air mata Nadin sudah mengalir tak tertahankan lagi, ia begitu takut jika sampai


Rendi berbuat nekat.


“Mana saja yang sudah di sentuh oleh pria itu?”


Tanya Rendi dengan penuh penekanan.


Tak menunggu jawaban dari Nadin, Rendi langsung menyerang tubuh Nadin dengan bertubi-tubi ciuman di bagian dada, leher, pipi,


bibir , mata, seakan ia tidak akan meninggalkan sejengkal pun dari tubuh Nadin.


“Mas …, jangan seperti ini!”


“Kenapa? Kau lebih suka di sentuh oleh pria itu?”


“Mas …, ini tidak benar!”


Rendi mengangkat tubuh Nadin dan membawanya ke dalam


kamar, rendi menjatuhkan tubuh Nadin ke atas tempat tidur dan tidak memberi


kesempatan padanya untuk bisa lepas darinya. Rendi segera menindih tubuh itu,


berkali-kali menghujani dengan ciuman dan dengan gerak cepat selurh pakaian


Nadin yang melekat di tubuhnya melayang entah kemana, Nadin hanya bisa pasrah,


walaupun hatinya menolak tapi ternyata tubuhnya berkata lain, tubuhnya


merindukan sentuhan pria itu.


Melihat Nadin sudah tidak lagi memakai sehelai kain


pun membuat gairah pria itu yang sudah tertahan selama satu tahun ini memuncak,


Rendi pun bangun dan melepaskan pakaiannya sendiri. Nadin hanya terus menangis


tanpa melakukan perlawanan, ia tidak memungkiri jika ia juga merindukannya.


Dan Rendi pun melakukan yang seharusnya ia lakukan


pada istrinya, ia tidak memberi kesempatan pada nadin untuk mengeluh ataupun


menolak. Pertarunagan panas itu terjadi cukup lama. rendi benar-benar kembali


menuangkan benih cintanya ke Rahim wanita yang begitu ia cintai itu. Rendi tak


membiarkan Nadin beristirahat semalaman, entah sudah berepa kali hingga mereka


saling terlelap dalam tidur.


Ajun yang tetap berjaga di luar rumah Rendi


memastikan jika tidaka akan ada yang mengganggunya, ternyata instingnya benar.


Aisyah bersama baby El sedang berjalan mendekat ke rumah itu. Baby El terlihat


sudah tidur di dalam gendongan wanita berhijab itu.


Ia hendak membuka pagar, tapi segera di hentikan


oleh Ajun dengan menahan tangannya, membuat Aisyah segera terhenyak dan mengibaskan


tangan Ajun.


“Maaf!” Ajun tahu telah melakukan kesalahan dengan


memegang tangan wanita itu. Ia pun dengan cepat melepaskan tangannya dari


tangan wanita itu.


“Kamu siapa?” Tanya Aisyah, wanita itu sedang


menyelidik.


“Aku anak buah pak Rendi!”  ajun berusaha memperkenalkan diri, ia tahu


jika yang sedang di gendong oleh wanita itu adalah bos kecil. Keselamatan dan


kenyamananya akan jadi tanggung jawabnya juga.


“Pak Rendi?” nama itu masih begitu asing untuknya.


“Suami ibu Nadin!”


Aisyah menjadi sangat bingung, bukankah baik jika


mereka bertemu dalam satu keluarga yang utuh, kenapa harus di tahan?


“Lalu?”


“Mereka sedang menyelesaikan masalah mereka di


dalam, jadi saya mohon anda tidak akan mengganggunya!”


jika baby El tidak pulang!”


“Itu tidak akan terjadi, baiklah …, bagaimana kalau baby El bersama saya saja!”


Aisyah memperhatikan pria yang ada di depannya itu, memang tidak terlihat jahat, tapi membiarkan baby El dengan pria asing ini


bukanlah keputusan yang benar.


“Tidak …, biar baby El bersama ku saja, tapi aku


minta tolong satu hal!”


“katakan!”


“Tolong katakan kepada kak nadin kalau baby El


baik-baik saja bersamaku!”


“baiklah ..!’


“Assalamualaikum!”


“waalaikum salam!”


Aisyah pun kembali ke rumahnya dengan membawa baby


El kembali, dari pada meninggalkan baby El dengan orang asing pasti tifak akan


baik, apalagi seorang pria dengan bayi bukan kah sebuah masalah baru.


🌺🌺🌺🌺


Pagi ini Nadin terbangun dari tidurnya, tapi


tubuhnya begitu sakit seperti baru saj memikul puluhan ton beras. Nadin


meregangkan tubuhnya, tapi ia segera terhenyak saat menyadari suatu hal.


“El …!”


Nadin segera terduduk, tubuhnya masih polos dengan


tertutup sehelai selimut, tidak ada orang lain di dalam kamar itu.


“Apa aku semalam sedang bermimpi?”


Kemudian ia melihat tubuhnya yang tak memakai


sehelai benang pun. Tubuhnya juga sakit semua. Banyak tanda kepemilikan di


setiap inci kulitnya. Bahkan Rendi tidak membiarkan seincipun tanpa tanda


kepemilikan.


Ceklek


Pintu terbuka membuat Nadin segera menoleh ke sumber


suara, di depan pintu itu sudah datang Rendi yang menggendong baby El.


“Bunda sudah bangun? Bagaimana tidurmu? Apa sangat nyenyak?”


Rendi membawa baby El mendekat dan segera mencium kening


Nadin.


“Jagoan kita ini sangat manis sayang …!” ucap Rendi sambil mencium pipi gempil baby El.


“Sayang?” untuk pertama kalinya ia bisa mendengar pria dingin itu memanggilnya sayang. Seandainya pria itu memanggilnya di waktu itu dengan panggilan sayang, ia pasti akan sangat senang tapi untuk saat ini,


pria itu bukan lagi Cuma miliknya.


“Mandi gih …, kita jalan-jalan bertiga hari ini, pumpung hari libur!”


Kenapa dia sangat manis sekarang, kenapa harus sekarang? Jika sikapmu seperti ini


terus lalu bagaimana aku bisa melepasmu mas …..


“Kenapa malah bengong sayangku …, tokki ku ….! Lihat tuh bunda malah diam aja boy …!”


Nadin masih terbengong dengan kelakuan Rendi, bagaimana bisa pria dingin itu kini berubah menjadi sangat hangat, bahkan lebih


dari devinisi hangat.


“Apa perlu aku mandiin?” Tanya Rendi lagi saat Nadin tak juga bergerak dari tempatnya.


“Tidak!” Nadin bergerak dengan cepat setelah


mendengarkan kata-kata Rendi. Nadin segera berlari ke kamar mandi dengan


selimut yang masih melilit tubuhnya.


Ternyata di kamar mandi, Rendi juga sudah menyiapkan air hangat untuk Nadin.


“Apa-apaan ini …, bahkan ada air hangat juga di


sini!”


Nadin juga menemukan secarik kertas di samping sabun mandi.


“Selamat mandi sayang …, semoga pagimu akan menyenangkan setelah hari ini, bersama ku dan putra kita, aku mencintaimu!”


“Aku mencintaimu …, aku mencintaimu …., aku


mencintaimu …!” kata itu di ulang beberapa kali oleh nadin seperti sebuah


mantra, selama ini kata itu begitu berat di katakana oleh seorang Rendi, tapi


pagi ini dia di kejutkan dengan hal-hal baru dari seorang Rendi.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘