
"Memang kita mau ke mana? Kenapa nggak sama ayah juga?" tanya Nadin saat Rendi sudah duduk di sampingnya.
Rendi segera memiringkan badannya, menatap istri kecilnya itu. "Kamu istriku, jadi harus ikut aku!"
Mata Nadin membelalak, ia lupa dengan statusnya sekarang, ia sekarang sudah menjadi istri dari pria di depannya.
"Kenapa? Mau pulang sama ayahmu?" tanya Rendi lagi.
Nadin menggeleng cepat. "Nggak! Mana mungkin aku ikut ayah!"
Rendi segera kembali ke tempatnya dan membenarkan letak jasnya.
"Bagus!"
Kening Nadin berkerut. "Gitu doang?"
Ternyata Rendi tak memperhatikan ucapan Nadin terakhir.
"Kita ke mana pak?" tanya pak sopir yang sedari tadi di cuekin sama pengantin baru.
"Langsung ke apartemen!"
"Tapi tuan besar meminta anda membawa nona ke rumah, pak!"
"Biar saya yang bicara pada ayah nanti!"
"Baik pak!"
Mereka melambaikan tangannya saat mobil mulai melaju. Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah sakit.
Nadin terdiam dengan pikirannya sendiri sedangkan pria di sampingnya sedang sibuk dengan pekerjaannya, walaupun tidak masuk ke kantor dia tetap melakukan tanggung jawabnya, hanya satu yang tidak bisa di lakukan adalah mengawal Agra kemanapun ia pergi.
"Mas Rendi!"
"Hemmm?"
"Kenapa kita tidak ke rumah ayah Salman? Bukankah ayah Salman cuma sendiri di rumah, kita ke sana saja!"
"Diam dan menurut saja! Kalau tidak ...." ucap Rendi sambil kembali menatap Nadin.
Nadin sedikit mundur, "Kalau tidak apa?"
"Aku akan meninggalkanmu di sini!" ucap Rendi dengan semakin mendekatkan dirinya pada Nadin.
"Hahhhh ...!" Nadin begitu terkejut.
"Kenapa seperti itu?"
"Karena kau banyak bertanya!"
"Cehhh ...., aku kan cuma memberi saran!" ucap Nadin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Padahal kan aku suka tinggal di rumah biasa, banyak tetangga, nggak seperti di apartemen!"
"Apa gini aja, aku tinggal di rumah ayah, terus mas Rendi tinggal di apartemen!"
Mendengar ucapan Nadin, dengan cepat Rendi menoleh kembali ke istri kecilnya itu, ia memberi tatapan tajam yang siap menghunus.
Dapat ide gila dari mana dia ....
Nadin yang di tatap begitu tajam, segera menundukkan kepalanya, tatapan itu benar-benar menakutkan.
Aku kan cuma memberi saran ...., kenapa dia menatapku seolah-olah aku melakukan kesalahan yang sangat besar ....
"Kita sudah menikah, kau ingatkan?" Ucap Rendi.dan Nadin pun mengangguk.
Ya jelas lah aku mengingatnya ...., ini adalah hal yang paling aku tunggu .....
"Bagus kalau kau masih ingat! Pernah lihat suami istri tinggal terpisah?" tanya Rendi lagi.
"Nggak ....!" Ucap Nadin sambil menggelengkan kepalanya, ternyata ia belum sadar dengan apa yang di katakan, tapi setelah di ingat-ingat kembali, Nadin malah tertawa kegirangan.
"Kenapa tertawa?"
"Jadi setelah ini, kita tinggal berdua?" Tanya Nadin dan Rendi hanya mengangguk.
"Hanya berdua?" Nadin kembali memastikan dan Rendi kembali mengangguk.
"Yes yes yes ......!" Ucap Nadin senang bagai orang yang emang lotre.
Rendi segera meletakkan telunjuknya di kening Nadin hingga kepalan Nadin terdorong ke belakang.
"Jangan ngeres ya mikirnya!" Ucap Rendi.
"Siapa yang mikir ngeres sih mas, aku tuh cuma mikirin bakal setiap hari bisa liatin wajah ganteng mas Rendi dari bangun tidur sampai tidur lagi!"
Begitu senangnya dia bisa liat aku setiap hari ....
"Cehhh ......!"
Tanpa sadar Rendi melengkungkan senyumnya. Menatap Nadin bisa sesenang itu, hatinya ikut menghangat.
"Mas Rendi tersenyum ya? Aku melihatnya ...., senyum lagi dong mas ....!"
"Bisa diam nggak!"
"Iya aku diam!"
Akhirnya mobil itu kembali hening, hanya sesekali Rendi melakukan panggilan pada anak buahnya. Hingga mereka sampai di apartemen.
****
Nadin hanya mengikuti langkah Rendi, di depan mereka langsung di sapa oleh scurity yang biasa jaga di sana.
"Selamat sore pak Rendi!" Sapa security itu. Dan seperti biasa Rendi tidak akan menjawabnya, sedangkan Nadin tersenyum.
"Semalat sore pak!" Akhirnya Nadin yang menjawabnya dengan senyum ramah. Nadin sedikit berlari mengikuti langkah Rendi.
"Dia siapa ya? Ramah dan cantik!" Ucap security saat Nadin dan Rendi sudah berlalu di depannya.
Kali ini Rendi tidak memakai tangga darurat, ia menggunakan lift karena ia tidak mungkin mengajak Nadin naik menghunakan tangga darurat.
Setelah sampai di dalam apartemen Rendi segera menunjukkan sebuah kamar pada Nadin.
"Ini kamarmu!" Ucap Rendi sambil meletakkan tas Nadin yang sedari ia pegang.
"Kamarku?" Tanya Nadin tak percaya.
"Iya!"
"Bukan kamar kita?" Tanya Nadin lagi.
"Kita tidak mungkin tidur satu kamar!" Ucap Rendi dingin.
"Kenapa?"
"Karena kamu masih kuliah, kita bisa tinggal satu kamar setelah kau sudah lulus kuliah!"
"Mana bisa seperti itu?"
Dia dapat ide buruk itu dari mana sih ......
"Jangan protes, aku tidur di kamar sebelah!" Ucap rendi sambil menunjuk kamar yang berada di sebelah kamar Nadin.
Tidak bisa ....., apa-apaan ini , katanya nggak ada suami istri tinggal terpisah, ini malah ngajak pisah ranjang ....
Nadin menelan ludah pahit, ia tidak menyangka jika Rendi akan mengatakan hal itu. Ia sudah membayangkan akan tidur sekamar dengan pria es itu, tapi ternyata harapannya menguap begitu saja.
"Baiklah, aku istirahat dulu ...!" Ucap Nadin, ia kesal dengan pria es itu, ia segera menutup pintunya kesal, dengan sangat keras ia menutup pintu membuat Rendi hanya menggelengkan kepalanya.
Nadin segera menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tidak menyangka jika Rendi akan melakukan ini, ia tahu jika Rendi belum mencintainya tapi dengan tidur di kamar yang berbeda, bagaimana cinta itu akan tumbuh.
Ting Ting
Bunyi notifikasi pesan masuk, Nadin segera mengambil ponselnya. Pesan itu dari Rendi.
//Aku keluar dulu, ada yang harus aku kerjakan//
//Sebentar lagi ART akan datang, jika lapar minta saja di buatkan olehnya//
Bukannya menjawab Nadin malah melampar ponselnya ke sembarang tempat, ia sudah sangat kesal bagaimana bisa memikirkan rasa lapar.
"Dia sungguh membuatku kesal .....!"
Tapi kemudian sebuah ide muncul dalam benaknya.
"Kalau dia tidak bisa di kamar ini, aku kan bisa di kamarnya!"
Dengan cepat Nadin beranjak dari tempat tidur, ia segera keluar dari kamarnya dan matanya langsung tertuju pada pintu yang tertutup di sebelahnya.
Nadin segera membuka pintu itu, ia mengamati isi kamarnya.
"Pantas saja, kamarnya lebih luas ....., tapi kamarnya semisterius orangnya."
"Tempat tidurnya juga lebih luas, dia benar-benar curang!"
Nadin pun segera merebahkan badannya, tanpa terasa matanya yang lelah mulai terpejam.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘**