
Nadin menerima kertas yang terlipat rapi itu, dengan perlahan ia membukanya. Sebuah tulisan tangan. Air mata nadin kembali meleleh
saat kata demi kata itu mulai terurai dari bibirnya yang sedikit bergetar.
Untuk Nadin
Hay Nadin …., mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tidak berada di dunia
ini, Tuhan begitu adil padaku, mungkin Dia tahu aku sudah terlalu lelah dengan
kehidupan ini, jadi Dia memanggilku lebih dulu …
Maafkan aku …, aku sudah membuatmu susah, aku tidak tahu permintaanku pada suamimu telah membuatnya berjanji membuatnya tak mampu menahan mu untuk tidak pergi …, dimana pun kamu sekarang …, kembalilah pada suamimu, dia pria yang baik …
NadindaAulia Putri,
aku begitu iri dengan kehidupanmu …., hidupku berbalik 180 derajat dari hidupmu, hidupmu penuh dengan kasih sayang sedangkan aku hanya anak yang terbuang, untuk sejenak aku terlena dan ingin memiliki semuanya, hingga pada titik terjenuhku aku sampai berani menyakitimu ….., tapi percayalah setelah itu
aku sangat menyesal,
Aku akan menceritakan sedikit tentang kehidupanku, semoga setelah ini kau akan
memaafkan ku!
Ayahku seorang penjudi, pemabuk dia selalu marah-marah setiap kali pulang ke rumah, ibu
adalah sasarannya. Aku tumbuh di keluarga yang berantakan, kami banyak hutang,
setiap hari selalu saja ada penagih hutang yang datang,aku sering ketakutan,
bahkan aku selalu bersembunyi setiap kali ayah pulang.
Ayah tidak pernah memberi apa yang aku mau, setiap kali aku minta, ayah akan
memarahiku. Bahkan tidak jarang ayah akan memukulku dan ibu. Saat anak-anak
seusiaku bermain ke mall, atau beli barang-barang lucu, aku harus bekerja untuk
bisa mendapatkan semua itu.
Hingga akhirnya ayahku meninggal dengan meninggalkan hutang yang cukup banyak.
Akhirnya ibu memutuskan mengajakku kembali ke kampung halaman, ibu takut jika
penagih hutang itu akan datang. Kami tidak punya apapun untuk di berikan,
hingga ayah Roy datang merubah hidup kami,
Kasih sayang yang ayah Roy telah membuatku buta, aku terlalu serakah untuk memiliki
semuanya, aku hanya ingin memiliki ayah Roy seutuhnya tanpa membagi dengan
siapapun termasuk kamu …
Melihat banyak sekali pria yang luar biasa di samping kamu membuatku bertambah iri, aku
juga ingin memiliki pria-pria yang mencintaimu …
Hingga aku berusaha mempermalukan mu, menyakitimu, merebut semua kasih sayang mu ….,
dan lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang besar itu …
Ternyata hukuman itu berjalan cukup cepat, aku sakit …., dokter sudah memvonis ku
terserang Autoimun, kata dokter system' kekebalan tubuhku menyerang sel sel
sehat dalam tubuhku, aku mudah lelah, sakit, rambutku mulai rontok.
Selain itu kami melakukan kesalahan besar, aku sudah menyerahkan hal paling berhargaku
pada seseorang, seseorang itu adalah pak Divta, aku sangat menyesal saat itu,
aku juga begitu ketakutan, apalagi saat pak Divta pergi meninggalkanku…
Kesedihanku tak cukup di situ, kata dokter aku hamil …, aku saat itu begitu bingung, hampir
saja ku buang anak itu, tapi apa gunanya. Hidupku mungkin tidak akan lama lagi,
lalu apa salahnya jika aku menyelamatkan satu nyawa.
Aku pun memutuskan untuk membesarkan anak ini tanpa memberitahu keluargaku…, aku
memilih pergi dan bersembunyi, hingga suatu hari suamimu menemukanku, awalnya
aku menolak untuk ikut dengannya, tapi kemudian aku mengajukan sebuah syarat,
menyembunyikan ku dari siapapun, Rendi tahu keadaanku untuk itu dia menuruti
mau ku …
Aku yakin Div pasti kembali, aku juga memberi
nama Div pada putriku … namanya Divia, aku ingin dia menjadi wanita sepertimu,
walaupun nanti kak Div tidak datang cepat, aku yakin dia pasti akan
mengenalinya saat ia kembali ….
^^^Maafku yang banyak^^^
^^^Davina^^^
Nadin melipat kembali kertas itu, ia menatap
suaminya yang sedari memperhatikan ekspresi Nadin yang berubah-ubah selama
membaca surat itu.
“Mas Rendi!”
“Iya? Ada apa?” Tanya Rendi begitu penasaran. Ia ingin sekali cepat mengetahui bagaimana reaksi istrinya setelah mengetahui
semuanya, tapi ternyata gagal. Ekspresi Nadin tak bisa di baca.
“Aku sudah tahu semuanya!” ucap Nadin dengan wajah
datar, tanpa menunjukkan ekspresi sedih ataupun marah.
“Iya? Lalu?”
“Lalu apa lagi!” ucap Nadin dengan berdecak.
“Maksudku? Bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana?” ucap Nadin sambil berdiri. Membuat Rendi semakin kesal dengan tingkah Nadin yang seakan tidak memberi
kepastian.
“Tunggu!” Rendi menarik tangan Nadin hingga tubuh Nadin berbalik menatapnya. Rendi ikut berdiri.
“Ada apa lagi?” Tanya Nadin.
“Jika kau ingin marah maka marahlah …, jika kau ingin sedih dan menangis maka menangislah ….!”
“Aku sudah terlalu lelah menangis dan marah …., lalu kenapa sekarang aku harus melakukan itu lagi, kau ini …!” ucap Nadin lagi-lagi
sambil berdecak.
Bukannya mengajukan pertanyaan lagi, rendi segera menarik tubuh Nadin ke dalam pelukannya, ia memeluk Nadin begitu erat.
“Kenapa kau selalu membuatku bingun?” bisik Rendi.
“Mas …, aku belum mengatakan kalau aku sudah memaafkanmu!”
“Tidak perlu di ucapkan, aku sudah tahu!”
“Selalu seperti itu!” gerutu Nadin.
Akhirnya kedatangan Nadin yang awalnya penuh drama kini sudah menjadi baik, Nadin memang marah, kesal, merasa bersalah, tapi apa guna semua itu jika akhirnya menjadi baik.
Jika semua orang hanya mencari
pembenaran. Siapa yang paling benar, kebenaran tak semuanya benar. Sedangkan
kesalahan tak selalu salah. Kita tidak bisa melihat segalanya hanya dari satu
sisi, salah menurutmu belum tentu salah menurut orang lain.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘