MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Si Cerewet



     Cinta adalah ruang dan waktu yang diukur oleh hati."


****


Matahari semakin menenggelamkan


sinarnya di balik awan , kini langit mulai berganti dengan gelap, sore yang


sedikit mendung, sore ini Rendi memilih untuk datang ke rumah sahabatnya, dr.


Frans.


Saat ia sedang bersantai bersama sahabatnya itu sambil memainkan


game. Sungguh hal langka bagi rendi untuk bisa bersantai-santai, tiba-tiba


ponselnya berdering. Mau tak mau Rendi pun segera melihat siapa yang melakukan


panggilan.


“Siapa?” tanya dr. Frans.


“Ara ...” ucap Rendi sambil segera menekan tombol hijau.


“hallo...”


“iyaa nona”


“bisa kita ketemu besok?”


“ada apa nona, tiba-tiba saja nona ingin bertemu dengan saya?”


“ada hal penting yang ingin saya bicarakan, besok saya tunggu di


kafe B, jam 16.00”


“baik nona”


Rendi terlihat berpikir keras, ada pa? Kenapa ara memintanya


bertemu? Ini tak seperti yang dia duga.


“kenapa bro, muka lo kok langsung di tekuk kayak gitu?” Frans yang


ada di samping Rendi. jadi ikut penasaran.


“Nggak biasanya Ara menghubungi gue duluan, pasti ada yang serius,


jangan-jangan ada yang sudah menemuinya” Rendi mengusap kasar rambutnya.


“Lo terlalu ketinggian mikirnya, nggak mungkin lah..., lo kan udah


kirim orang buat ngawasin mereka, dan sampek saat ini belum ada tanda-tanda


orang-orangnya bang Divta nemuin mereka kan?” Frans menenangkan Rendi.


“Iya sih ..., tapi lama-lama gue kasian liat Agra, dia harus kerja


keras kayak gitu, gue jadi ngrasa bersalah”


Ya selama ini Rendi tahu apa saja yang sudah di kerjakan oleh Agra.


Ia tak pernah melepaskan Agra dari pengawasannya.


“Nggak usah di pikirin, lagian kan ini juga pilihan dia, lagian


nyokapnya juga nggak bener-bener tega ngebuang dia”  Rendi juga membenarkan ucapan sahabatnya itu.


***


Rendi  memasuki kafe yang


sudah sebutkan oleh Ara kemarin dan ia sudah melihat Ara duduk di salah satu


bangku di sana.


“maaf nona, saya terlambat ...” Rendi menundukkan kepalanya memberi


hormat setelah berada di dekat Ara.


“aku bukan nonamu lagi, jangan terlalu formal padaku, duduklah ...”


Rendi pun tak ada niat untuk membalas kata-kata Ara, ia langsung menggeser


tempat duduk di hadapannya. Mau bagaimanapun Ara tetaplah atasannya yang harus


ia hormati.


Mereka pun berada dalam keheningan beberapa saat, tak ada yang


berniat memulai pembicaraan, rasanya begitu canggung saat mereka hanya bertemu


berdua tanpa Agra hingga seorang pelayan datang menawarkan pesanan memecah


keheningan diantara mereka, mereka pun memilih minuman yang sama.


Setelah diam beberapa waktu, Ara memulai pembicaraan. Dan ternyata


Ara ingin mengorek informasi dari Rendi mengenai alasan Ratih, ibu mertuanya


mengusir mereka dari rumah.


Awalnya Rendi menolak untuk memberitahu alasannya, tapi karena Ara


terus memaksa dengan berbagai ancaman, membuat Rendi tak mampu berkutik.


Ia harus jujur jika tak mau masalahnya semakin melebar. Banyak hal


yang harus di pertimbangkan oleh Rendi untuk semua itu.


Setelah pertemuannya dengan Ara, Rendi pun menjalankan mobilnya


menuju ke rumah Frans, Rendi tak tahu harus cerita pada siapa. Harus meminta


solusi pada siapa. Dr. Frans walaupun kelihatannya tengil dan ngeselin tapi


aslinya dia sangat dewasa.


“Tuan Rendi...” kedatangannya langsung di sambut oleh pelayan di


rumah  dokter Frans.


“Apa dokter Frans nya di rumah?” tanya Rendi


“Ada tuan ..., silahkan masuk, pak dokternya ada di kamar”


“Ya sudah saya langsung ke kamarnya saja bi...”


“Baik tuan”


Rendi pun langsung berlari ke kamar dokter Frans, ia sudah begitu


hafal dengan seluk beluk rumah itu


Setelah masuk ke dalam kamar dokter Frans ia segera merebahkan


badannya di atas tempat tidur, dokter Frans yang telah selesai mandi sedikit


terkejut dengan kedatanghan Rendi


“Lo Rend..., mengagetkan gue saja ...”


“Gue lagi banyak pikiran” ucap Rendi sambil menutup kedua matanya


dengan lengannya.


“Emang kapan lo nghgak banyak pikiran, seumur-umur hidup lo emang


penuh masalah. Ampek masalah orang pun di urusi.”


“Itu memang tugas gue.”


Dokter Frans pun segera mengenakan pakaiannya, sedangkan Rendi


sudah berpindah tempat ke sofa yang ada di sudut kamar.


“Lo kenapa setiap kesini, bawaannya mukanya di tekuk mulu ...?”


Frans melempar sebotol minuman ke arah Rendi yang sudah duduk di sofa.


“Gue takut...”


“Emang gue nyeremin? Sampek lo takut ...” Frans ikut duduk di


samping Rendi.


“Bukan lo, dengerin kalau gue mau ngomong ..., ini masalah Agra”


“Emang kenapa lagi dengannya?”


“Ara tau semuanya”


“Maksud lo ..., tentang harta itu juga ...?”


“Kalau masalah harta gue belum ngomong sama dia, kalau bisa orang


lain jangans ampai tahu kalau nyonya mengalihkan harta Agra ke Ara, itu bisa


bahaya buat Ara”


“Bukankah itu bagus, Agra kan bisa kembali ke rumah utama dan yang


terpenting semuanya kembali dia miliki,lebih cepat lebih baik kan, atau


jangan-jangan ....” sebelum Frans menyelesaikan kata-katanya Rendi sudah lebih


dulu melemparnya dengan bantal sofa


“Jangan pikir macam-macam ..., lo pikir gue tega merampas harta


saudara, gila aja lo ..., lo kan juga kenal Agra, kita sahabat dari kecil,


gimana Agra kalau sudah cinta sama seseorang”


“Ooh ..., gue pikir lo mau nguasain hartanya Agra, kalau sampek lo


lakuin itu, gue orang pertama yang bakal musuhin lo. Lo ingat itu ...”


“Kalau sampai ibunya bang Divta sampek nemuin Ara bisa bahaya  ...”


“Ya ya ya ..., aku faham sekarang, jadi kita harus memikirkan


kembali”


“Iya ...”


“Lalu ..., lo sudah tahu belum keberadaan bang Divta?” tanya dr. Frans.


“Ya ..., beberapa anak buah gue, beberapa hari ini sering lihat


bang Divta mendatangi sebuah danau, mungkin besok gue bakal ke sana.”


“Bagus lah ..., gue tahu lo bisa lakuin yang terbaik.”


“Thank you bro....”


***


Esok harinya Rendi sengaja menunggu Divta di danau yang di


informasikan oleh anak buahnya.


“Bukankah ini dekat dengan rumah Ara?” gumam Rendi, sambil


mengamati sekeliling tanpa mau keluar dari dalam mobilnya.


Kemudian matanya tertuju pada gadis tak jauh dari mobilnya. Gadis


itu sedang asik menikmati es krimnya.


“Dasar bocah ..., apa yang dia lakukan di sini, sukanya main-main


saja.” Gumam Rendi. tapi belum beralih dari gadis itu, seseorang yang begitu ia


kenal menghampiri gadis itu.


“Ayah ...!” Rendi begitu terkejut saat melihat ayahnya bersama


Nadin, bagaimana mereka bisa seakrab itu?


Ya nampak dari kejauhan Nadin dan Salman tampak begitu akrab, sudah


selayaknya ayah dan anak. Nadin dan Salman sesekali terlihat tertawa lepas.


“Ayah bisa tertawa lepas? Apa yang mereka bicarakan?” Rendi


bertanya-tanya sendiri.


Karena rasa penasarannya sudah tak terbendung lagi, membuatnya


turun dari mobil dan memnghampiri mereka.


“Ayah ...”


Salman dan Nadin pun menoleh ke sumber suara, mereka terkejut


mendapati Rendi juga berada di sana, di tempat itu. Seorang Rendi yang tidak


menyukai tempat ramai, bisa berada di tempat ramai itu. Ya taman tampak begitu


ramai hari ini. Walaupun ada beberapa bagian yang memang sudah tak terawat tapi


tetap saja pengunjung menyukai tempat itu.


“Rendi?”


“Pak Rendi?”


Salman dan Nadin saling berpandangan, kemudian tampak Salman


membetulkan jasnya dan berdiri.


“Kamu di sini?” tanya Salman.


“Iya ..., saya ada urusan. Lalu ayah di sini?” Rendi balik


bertanya.


“Sa-saya kebetulan mampir dan bertemu dengan anak ini.”


“Oooh ...” Rendi mencoba untuk percaya.


“Ya udah, ayah harus segera pergi, paman pergi dulu, sampai jumpa


lagi...” ucap Salman pada Rendi dan Nadin. Nadin pun hanya mengangguk hormat.


Salmun pun seggera meninggalkan mereka berdua. Ia menuju mobilnya


yang terparkir tidak terlalu jauh. Sesampai di dalam mobil, ia tidak langsung


pergi, ia ingin melihat kembali dua orang yang sudah di tinggalkannya.


“Mudah-mudahan mereka bisa menjadi dekat ...” ucap Salman, barulah


meminta sopir untuk menjalankan mobilnya.


Kembali ke dua orang yang sudah di tinggal itu. Rendi seperti biasa


ia hanya memberi tatapan dingin, tapi tak mampu di artikan oleh Nadin.


Saat Rendi hendak meninggalkan Nadin, entah dengan reflek Nadin


menahan tangan Rendi. membuat langkah Rendi terhenti.


“Pak ...”


Rendi pun kembali menghadap ke arah Nadin, dengan tatapan yang


sama, tapi sekarang penuh tanya.


“Apa ada yang pak Rendi cari?” tanya Nadin mencoba mencari topik


pembicaraan.


“Bukan urusan kamu ...” ucap Rendi sambil menatap tpergelangan


tangannya yang masih di pegang Nadin. Nadin pun dengan reflek segera melepaskan


genggamannya.


“Boleh saya menemani bapak? Saya janji nggak akan mengganggu


pekerjaan bapak, janji ...!!!” ucap Nadin sambil mengacungkang kedua jarinya.


Rendi tetap terdiam.


“sebenarnya ada gunanya, aku ajak bocah ini, aku harus


mengelilingi tempat ini.” Batin Rendi.


Setelah berdiam cukup lama, akhirnya Rendi memutuskan untuk meminta


bantuan Nadin mengelilingi tempat itu. Tapi bukannya Rendi jika tidak bergaya


memerintah.


“Baiklah ..., sekarang antar aku berkeliling tempat ini.”


“Siap ...” nadin begitu senang, ini benar-benar kesempatan langka


bisa jalan berdua dengan Rendi.


Nadin pun terus mengajak Rendi mengelilingi tempat itu sambil terus


bercerita, sudah seperti tourguaide yang sedang menjelaskan sejarah pada


turisnya.


“Taman ini tuh dulu indah pak, banyak bunga-bunga di mana-mana,


maninan anak-anak, air mancur yang besar, rumput-rumput yang terawat. Ayunan di


mana-mana, banyak anak-anak bermain layang-layang, bermain petak umpet.”


“Hemmm.”


“apa pak Rendi tahu, di sana ada danau yang begitu luas, indah,


dari tepi danau itu kita bisa melihat lampu-lampu yang menyala di sepanjang


jalan di sebrang danau.”


“Danau?”


“Iya pak, danaunya sangat indah, bersih, dulu waktu kecil aku


sering sekali menghabiskan waktuku di sana.”


“Antar aku ke sana!”


“Waah ..., pak Rendi suka danau juga ya, aku juga suka. Kita punya


kesukaan yang sam ternyata.”


“Sudah jangan banyak bicara, cepat antar saya ke sana.” Ucap Rendi


sambil menatap Nadin yang sedari tadi tak henti bicara, membuat Rendi pusing


mendengarnya.


“Iya ..., aku akan mengantarkannya, tapi biarkan aku tetap bicara


ya..., jadi gini pak ...bla...bla...bla...” ucap Nadin panjang lebar sambil


terus berjalan mengantar Rendi ke tepi danau, dan Rendi hanya bisa terus


menahan kesal karena kecrewetan gadis di sampingnya itu.


****


"**Cinta sejati bukan berarti tidak terpisahkan. Itu hanya berarti dipisahkan, namun, tidak ada yang berubah."


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya


dan Jangan lupa kasih vote juga ya


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘**