
"Masuklah ...., ayo aku antar ...!" ajak Dio sambil membukakan pintu mobil, Nadin cukup lama menimbang, ia berpikir keras, berdasarkan hatinya, ia ingin menolaknya karena tidak baik kembali dekat dengan Dio, tapi di sisi otaknya, ia harus segera sampai di kantor jika tidak mau kena masalah. Akhirnya setelah menimang-nimang otaknyalah yang menang.
"Ayo cepetan naik .....!"
"Baiklah ....!"
Nadin pun segera masuk ke dalam mobil. Ia mengenakan sabuk pengamannya. Dio pun segera melajikan kembali mobilnya.
"Kita kemana Nad?" tanya Dio yang belum sempat di jawab oleh Nadin tadi.
"Ke kantor pusat finityGroup."
"Jadi kamu magang di sana?" tanya Dio dengan wajah yang sedikit tak sukanya. Ia masih tidak suka dengan orang-orang yang ada di finityGroup.
"Iya .....!" jawab Nadin sedikit merasa tidak enak, tapi mau bagaimana lagi. "Oh iya kak ...., kakak punya mobil?" tanya Nadin yang baru sadar jika kini ia naik mobil bersama Dio.
"Bukan ....., ini bukan mobil kakak, kakak cuma beruntung saja bisa di terima di sebuah perusahaan dan di beri kepercayaan membawa mobil perusahaan."
"Ohhh ....., aku kira mobil kakak."
"Do'akan saja sebentar lagi kakak bisa beli mobil sendiri, dan aku pasti akan mengajakmu keliling kota Jakarta."
"Aaah ...., nggak perlu seperti itu kak, syukurlah kalau kakak sekarang sudah kerja, aku ikut senang." ucap Nadin dengan senyum yang di paksakan.
Gini aja aku takut ketahuan sama pak Rendi, apa lagi sampai jalan-jalan , bisa di bunuh aku ...., lagian pak Rendi juga aneh, katanya nggak cinta, nggak sayang, aku anak kecil tapi ia suka sekali marah-marah sama aku .....
"Nad ...., kamu kenapa?" tanya Dio saat menyadari wajah Nadin yang berubah masam.
Mereka sampai di sebuah persimpangan jalan, lampu lalu lintas menunjukkan warna merahnya. Tandanya harus berhenti sejenak.
Nadin begitu terkejut saat melihat mobil di sebelah mereka. Di sana ada dua pasang mata tajam yang siap menerkamnya.
"Kak Agra, pak Rendi." gumamnya lirih hingga tak ada yang bisa mendengarnya kecuali dirinya sendiri.
Nadin benar-benar terpaku, ia tidak berani melihat kembali ke arah mereka, Dio yang tak menyadari ada dua singa di samping mobilnya dengan santainya mengusap-usap rambut Nadin, membuat Nadin segera menepis tangan Dio dan melotot ke arahnya.
"Kenapa Nad?" tanya Dio yang terkejut.
Nadin segera memberi isyarat Dio untuk melihat ke sebelah, tapi belum sempat Dio melihatnya, lampu sudah berubah menjadi hijau. Dio pun segera menjalankan mobilnya.
Tapi baru beberapa meter berjalan, mobilnya di pepet oleh mobil lain, tentu membuatnya terkejut.
Tin tin tin
Mobil itu meminta Dio untuk menghentikan mobilnya.
"Sittthhh ......, siapa sih pagi-pagi cari gara-gara?" umpat Dio. Akhirnya mau tak mau Dio pun segera menghentikan mobilnya. Nadin sudah tahu adegan apa yang selanjutnya akan terjadi, di mobil itu ada dua orang posesif, kakak ipar dan pacar rasa es batu yang posesif.
"Nadin turun ya ...!?" ucap Nadin saat Dio menghentikan mobilnya dan hendak melepas sabuk pengamannya.
"Kenapa turun? Jangan bahaya .....! Aku saja yang turun."
Bahaya dari Hongkong ...., kalau aku tidak segera turun malah bahaya ...., dua singa itu akan memakanku ....
"Kamu itu ada-ada aja ya ...., masak aku harus bicara sopan." gumam Dio sambil meninggalkan Nadin di dalam mobil. Tapi saat menoleh ke mobil di depannya, ia baru tahu maksud ucapan Nadin. Karena di depannya sudah berdiri dua singa dengan mata tajamnya, siap menguliti siapa saja, sebenarnya nyali Dio ciut, tapi di sana ada Nadin, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Nadin.
Nadin yang melihat situasinya tidak kondusif. Ia pun segera turun, ia tidak
mau
semakin membuat dua singa itu marah.
Nadin segera berdiri di samping Dio, tapi belum sampai langkahnya benar-benar terhenti, tangannya sudah lebih dulu di tarik oleh Agra.
"Masuk ...!" Agra meminta Nadin untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Entah setelah ini ada drama apa lagi. Nadin hanya bisa menurut saja, dari pada kemarahan dua singa itu semakin menjadi.
Nadin masih memperhatikan tiga pri itu. Terlihat dari dalam mobil, Rendi berdiri dengan sikap tegak, walaupun ingin sekali menonjok pria di depannya, tapi otaknya masih menang, ia merasa Agra yang lebih berhak marah di sini, ia tidak mau membuat Agra curiga dengan tindakannya yang berlebihan.
Sedangkan Agra kini sudah berjalan mendekat ke arah Dio. Menarik kerah baju Dio dengan kasar.
"Aku peringatkan padamu, jangan pernah dekati Nadin, kau pria menjijikkan ....!" ucap Agra dengan wajah yang sudah merah padam karena menahan emosi, jika bukan di tempat umum, pasti Agra akan dengan senang hati melayangkan beberapa pukulan.
"Kenapa? Nadin bukan istrimu ....!" ucap Dio yang di buat santai, walau sebenarnya begitu gugup.
"Dia adik dari istriku ...., jika kau lupa, aku ingatkan kembali. Dia adik iparku, adikku ...., jika sampai aku lihat kau mendekati Nadin lagi, jangan harap kau bisa bekerja dengan tenang di tempatmu bekerja, mengerti ....!" ucap Agra lirih tapi penuh penekanan, ia pun melepas cengkeramannya dengan sedikit hentakan, membuat tubuh Dio sedikit terdorong ke belakang.
Agra pun segera meninggalkan Dio yang masih terpaku di tempatnya, ia kembali menghampiri mobilnya. Rendi sudah siap membukakan pintu mobil untuk Agra.
Setelah Agra masuk ke dalam mobil. Rendi pun kembali menatap Dio dengan tatapan tajamnya dan membetulkan jasnya yang tidak berantakan dengan sedikit memberi hentakan ke atas, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa ngeri. Rendi pun menyusul Agra masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil mewah itu tak terlihat lagi, barulah Dio tersadar dari tempatnya. Entah kenapa ia merasa karisma kedua orang itu bisa menyihir siapapun yang melihatnya.
"Astaga ....., kenapa susah sekali mendekati Nadin, sekarang ada dua bodyguard yang siap membunuhku kapan saja, aku harus bagaimana sekarang?" gumam Dio yang masih tak beranjak dari tempatnya. Ia masih benar-benar syok.
"Kenapa tangan kanan Agra itu terlihat sekali mengobarkan api permusuhan ....., dulu dengan Ara, sekarang dengan Nadin pun juga seperti itu ....!"
Setelah puas bermonolog sendiri akhirnya Dio memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobil, karena ia sudah cukup telat untuk datang ke kantor.
****
Di dalam mobil mewah itu, Nadin benar-benar merasakan atmosfer yang berbeda, panas dan tak ada oksigen untuk bernafas dan bergerak. Di sampingnya ada kakak iparnya di depan ada tatapab mata elang yang siap mengilitinya.
Ya Allah ....., aku harus apa? Di sini panas sekali .....
Semuanya terdiam, satu detik di dalam mobil itu terasa satu tahun.
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘😘😘😘