
"Cinta adalah ketika kebahagiaan orang lain lebih penting dari kebahagiaanmu." H. Jackson Brown
Rendi masuk ke dalam mobilnya, di
dalam mobil ia tak mengalihkan pandangannya dari kedua wanita yang sedang
berdiri menatap ke mobilnya.
“Apa yang terjadi? Kenapa ada yang lebih rumit dari kehidupan dan
masalah yang aku hadapi selama ini? Siapa mereka? Kenapa begitu berpengaruh
dalam hidupku.”Batin Rendi tanpa mengalihkan pandangannya. Tapi suara pengawalnya
membuyarkan lamunannya.
“Tuan..., setelah ini kita ke mana?”
Rendi pun segera mengalihkan pandangannya dari Ara dan Nadin, ia
menatap ke depan.
“kita ke rumah besar ...” ucap Rendi pada pengawalnya. Rendi baru
saja mendapat kabar jika, kakak Agra, Divta sudah kembali ke Indonesia, Rendi
tau pasti orang pertama yang akan ia temui adalah Agra atau siapapun yang
berhubungan dengan Agra.
“Baik tuan ...”
Mobil pun melaju dengan cepat menuju ke rumah besar. Jika ia sampai
bisa menemukan keberadaan Agra, itu akan sangat bahaya dengan keselamatan Agra
maupun Ara, sebelum bukti-bukti kejahatan istri kedua ayah Agra benar-benar
terkumpul baik ibu ataupun Rendi belum berniat mempertemukan mereka.
“Ada kabar apa?” tanya Ratih yang sedang menata bunga di atas meja.
Ratih sibuk dengan guntung dan beberapa tangkai bunga hidup di tangannya.
“Yang Nyonya duga selama ini benar.” Ucap Rendi.
“Maksud kamu?”
“Iya nyonya, tuan Divta dan ibunya sudah kembali ke Indonesia.”
“Lalu ...?”
“Kami begitu kesulitan melacak pergerakan mereka. Ada yang memback
up mereka.”
“Terus selidiki ..., jangan biarkan mereka mendekati Agra ataupun
Ara.”
“Baik nyonya ...”
Agra adalah orang yang tetap menjadikan kakaknya sebagai panutan,
ia akan menuruti semua keinginan kakaknya tanpa tahu siapa yang sudah berada di
belakan kakaknya.
Tapi ibu Agra sudah bergerak lebih cepat dengan mengalihkan semua
harta Agra atas nama Ara, itulah kanapa ia masih terus menyembunyikan status
ara sebangai menantu Wijaya.
Akan sangat bahaya bagi Ara jika pihak musuh mengetrahuinya, mereka
pasti akan beralih mengejar Ara.
Jika ibu Agra menggunakan Rendi lagi, jelas tidak mungkin, karena
publik sudah tahu siapa putra Wijaya yang sebenarnya.
***
Siang ini Rendi mendapat kabar jika Agra akan bertemu dengan Viona,
ia terus manaruh mama-mata untuk mengawasi Agra. Tidak seperti dulu, kini Agra
tak memiliki pengawalannya sendiri, ia sedang berperan menjadi orang biasa,
jadi Rendilah yang harus super ketat memberikan pengawalan tanpa di ketahui
Agra. Sedari pagi Rendi tak bisa tenang, ia terus saja memantau keadaan Agra.
Rendi yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Perhatiannya harus
teralihkan karena sebuah dering dari ponselnya. Itu panggilan dari
mata-matanya. Dengan segera Rendi menekan tolbol hijau.
“hallo ...”
“Ya hallo .., ada apa ?”
“Gawat tuan ..., wanita itu membawa tuan Agra ke sebuah hotel.”
Ucap anak buahnya dari balik ponsel.
“Maksudnya?”
“Iya tuan ..., tuan Agra sepertinya akan di jebak.”
“Brengsek ..., kirim lokasi. Dan jangan lupa siapkan beberapa orang
ke tempat itu.” Perintah Rendi dan segera mematikan panggilannya.
“sudah ku duga, pasti dia bakal nemuin Agra lagi, apa yang bakal
dia rencanain lagi” Rendi begitu prustasi saat tahu jika Viona menemui Agra, ia
tahu jika usaha Viona tidak Cuma berhenti sampai di situ saja. Rendi segera
bergegas meninggalkan pekerjaannya.
“Vina ...” panggil Rendi pada sekertarisnya.
“iya pak ...”
“Batalkan beberapa janji hari ini. Dan kosongkan jadwal sampai
besok. Ada yang harus saya kerjakan di
luar.”
“Baik pak.” Jawab sekertarisnya itu.
Rendi pun segera mengajak beberapa orangnya untuk menuju lokasi
yang di tunjukkan oleh mata-matanya, tak tanggung-tanggung ia membawa lebih
dari sepuluh orang anak buahnya.
Viona sudah melucuti pakaian Agra hingga hanya menyisakan celana
dalam agra saja, tapi saat ia hendak melepaskan pakaiannya sendiri , Rendi
sudah lebih dulu mendobrak pintu, orang-orang yang menjaga di luar pintu sudah
di bekuk oleh orang-orang yang di bawa Rendi.
“Rendi ...” Viona segera merapikan kembali pakaiannya yang sudah
hampir terlepas. Ia menatap kesal pada Rendi. sekaligus panik.
“menjijikkan ....” ucap Rendi menatap jijik pada Viona. Rendi
segera mendekati Agra yang masih belum sadar.
“kau tidak sopan ...” Viona masih mencoba berkilah.
“Sopan ..., aku tak percaya kata-kata itu keluar dari mulutmu ...”
“ini ruang privasiku, seharusnya kau tak masuk begitu saja.”
“privasi yang seperti apa yang kamu maksud. Membawa suami orang ke
dalam sebuah kamar hotel dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dasar kau wanita
murahan, ciihhhh ...”
Agra yang mulai mendapatkan kesadarannya, ia merasakan ada yang
melihat samar-samar Rendi dan Viona yang sedang berdebat.
Kemudian ia benar-benar terkejut saat mendapati dirinya tanpa
pakaian, ia segera bangun dan mencari pakaiannya.
“Lo sudah sadar ..., untung gue datang tepat waktu, Bangunlah ....”
ucap Rendi saat melihat Agra sudah memakai celananya.
“Apa yang terjadi? Gue nggak ngapa-ngapain kan sama dia?’ tanya
Agra yang masih bingung sambil melihat Viona yang sedang ketakutan sambil
memegang bajunya yang sudah berantakan.
“Sudah jangan di pikirkan, ayo kita pergi dari sini ...” Rendi
memapah Agra, saat sudah sampai di depan Viona Rendi pun menghentikan
langkahnya
“Saya akan buat perhitungan dengan mu ..., siap-siap saja polisi
datang ke tempatmu” Rendi mengancam Viona.
Mereka pun keluar dari kamar itu, Viona berteriak kesal karena
rencananya telah gagal, ia menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya, di
tengah kemarahannya tiba-tiba ponselnya berdering.
***
Rendi mengajak Agra ke apartemennya sebelum pulang, ia tak mau jika
sampai Ara melihat Agra pulang dalam keadaan kacau seperti saat ini. Rendi
mengambilkan air lemon untuk mengenbalikan kesadaran Agra.
“Minumlah ...”
“Terimakasih ...”
“Ucapkan saja nanti ...” ucap Rendi sambil menunggu Agra
menghabiskan minumannya.
“sekarang mandilah dulu ..., biar badan kamu segar ...” perintah Rendi
saat Agra sudah menghabiskan minumannya. Dia menyuruh Agra untuk mandi.
Agra pun tak menunggu lama, ia pun segera membersihkan diri, dan
mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah di siapkan oleh Rendi.
Setelah Agra meninggalkannya ke kamar mandi. Rendi segera memanggil
anak buahnya.
“Ada apa lagi?” tanya Rendi.
“Sepertinya wanita itu sudah berhasil mengambil gambar bersama tuan
Agra, tuan ...”
“Maksud kamu?”
“Berdasarkan mata-mata kami, tadi ada seorang kurir yang
mengantarkan paket ke rumah nona Ara.”
“Lalu?”
“Berdasarkan informasi yang kami dapat, kurir itu orang suruhan
wanita itu.”
“Brengsek ..., kita kurang cepat bergerak ...”
Setelah selesai membersihkan diri, Agra pun menghampiri Rendi yang
sedang duduk di ruang tamu bersama orang-orangnya.
‘kasih pelajar pada wanita itu, dan lagi ..., cari tahu orang di
baliknya, wanita itu tidak mungkin berani bekerja sendiri” Rendi memberi
intruksi pada anak buahnya.
“maksud lo apa?” Agra tiba-tiba datang di belakang mereka sedikit
mengejutkan Rendi, Agra pun ikut duduk bersama mereka.
“kalian pergilah ...” Rendi pun segera menyuruh anak buahnya untuk
pergi meninggalkan mereka berdua.
“Apa maksud orang di balik Viona?’ tanya Agra penasaran.
“Aku rasa tidak mungkin Viona berbuat senekat itu tanpa ada
seseorang di belakangnya”
“maksud kamu?” Agra gagal faham dengan ucapan Rendi, walaupun ia
tahu musuhnya tidak sedikit, tapi kini ia tidak mempunyai apa-apa untuk di
incar
“Biar aku cari tahu ..., tenanglah ...” Rendi tak mau membuat Agra
curiga, ia tak mau Agra bertemu dengan Divta sebelum waktu yang tepat. Dia juga
tak mau menyebutkan nama Divta sekarang.
“aku akan pulang ...”
“Biar aku antar”
“Tidak usah ...” Agra beranjak dari duduknya. “ dan terimakasih
karena sudah menyelamatkanku ..., aku pulang ...”
Tapi tanpa mengindahkan penolakan Agra, Rendi pun tetap kekeh
dengan keputusannya untuk mengantar Agra pulang. Rendi ikut berdiri dan
berjalan mensejajari Agra.
“Lo mau ke mana?”
“Sudah ku bilang, aku akan mengantarmu ...”
“Dasar keras kepala.”
***
Sesampainya di rumah, ia melihat lampu rumahnya masih menyala
semua, menandakan jika pemilik rumah itu belum tidur
“Makasih atas tumpangannnya, dan bantuannya” ucap Agra sebelum
turun dari mobil
“Gue senang bisa bantu lo...”
“Ya udah gue masuk dulu ...” Agra pun segera turun.
Rendi segera menjalankan mobilnya kembali. Ia akan memantau keadaan
besok. Malam ini Rendi membiarkan sahabatnya untuk menyelesaikan masalahnya
dengan istrinya. Dia tidak mau terlalu banyak ikut campur dalam rumah tangga
sahabatnya itu. Sudah cukup hari ini.
***
**Beberapa orang akan pergi dari hidupmu, tapi itu bukan akhir dari ceritamu. Itu cuma akhir dari bagian mereka di ceritamu - Faraaz Kazi
BERSAMBUNG
Jangan lupa bayar Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya
Terimakasih
Happy Reading 😘😘😘😘**