
Setelah sampai di kantor, Rendi mengantar Agra ke ruangannya dan memastikan jika atasannya itu tidak membutuhkan apa-apa, ia pun pamit meninggalkan Agra.
Dengan cepat kilat ia menuju ke klinik dimana Nadin di rawat, ia tidak mau Nadin terlalu lama dengan Divta. Ia terus menghubungi Vina, memastikan jika Vina masih mengawasi mereka.
"Selamat siang pak!" sapa Vina yang tetap berjaga di luar klinik.
"Dimana Nadin?" tanya Rendi dengan wajah tegasnya.
"Ada di dalam pak!" ucap Vina dengan menunduk. Rendi pun segera membuka pintu membuat dua orang yang ada di dalam menoleh bersamaan.
"Rend!"
"Pak Rendi!"
Ucap Divta dan Nadin secara bersamaan. Rendi pun segera mendekat, dan menatap Nadin.
"Ada apa dengan ponselmu?" tanya Rendi dengan nada dinginnya membuat Nadin dan Divta mengerutkan keningnya secara bersamaan.
"Lihat ponselmu!" perintah Rendi.
"Hehhh ....!" Nadin menatap dengan penuh tanya, masih tak mengerti dengan tingkah Rendi.
"Periksa ponselmu!" perintah Rendi lagi, membuat Divta yang sedari tadi memperhatikan mereka menjadi penasaran.
Sebenarnya ada hubungan apa mereka? Kenapa Rendi sepertinya memperlakukan Nadin secara berbeda?
Nadin setelah mendapat perintah dua kali akhirnya, mencari-cari letak ponselnya yang ternyata berada di bawah bantal, ponselnya sedang dalam mode silent karena ia tidak mau mengganggu kenyamanan klinik.
Nadin begitu terkejut saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Rendi, ia segera menutup mulutnya yang terbuka akibat terkejut. Ia menatap Rendi dengan penuh tanya. Tapi pria itu malah menatapnya tajam.
Kemudian Nadin memeriksa pesan yang telah di kirim oleh Rendi, beberapa pesan yang isinya ancaman.
"Maaf aku tidak tahu jika pak Rendi menelpon!" ucap Nadin masih dalam mode ngambek. Maunya sih enggak, tapi ia juga nggak bisa menerima kesalahan Rendi begitu saja, rasanya sulit berlama-lama marah pada pria es nya.
"Apa kau sudah melakukan seperti yang aku perintahkan?" tanya Rendi.
"Aku rasa pak Rendi terlalu berlebihan!" ucap Nadin membuat Rendi mengerutkan keningnya penuh tanya.
Apa dia bilang? Aku berlebihan! Berlebihan dimananya?
Divta yang bingung segera membuka suaranya.
"Sebenarnya apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Divta.
"Nggak ada pak, sepertinya kakiku sudah baikan, sudah nggak panas, bisakah pak Divta mengantar saya ke ruangan saya?" ucap Nadin tanpa berani menatap Rendi.
"Tentu saja .....!" ucap Divta dengan entengnya, ia tidak tahu jika pria dingin di sampingnya sudah mengumpat dalam hati.
Divta segera membantu Nadin turun dari tempatnya, ia memapah Nadin dan memakaikan sepatunya.
"Nggak sakit kan?" tanya Divta saat memakaikan sepatu untuk Nadin. Nadin pun menggelengkan kepalanya.
Rendi tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa diam menyaksikan itu semua, ia marah, mungkin juga cemburu. Tapi tak bisa berbuat apa-apa, ia ingin sekali menarik tangan tapi ternyata tubuh dan mulutnya terlalu kaku untuk melakukan hal itu.
Akhirnya Rendi membiarkan begitu saja Nadin dan Divta berlalu dari hadapannya yang kini hanya meninggalkannya seorang diri.
Bruk
Dengan kerah Rendi menendang nakas yang ada di depannya, tapi sayangnya tulang keringnya malah terbentur oleh tepian tempat tidur.
"Augh .....!" keluhnya sambil memegangi tulang keringnya yang nyeri akibat benturan yang sangat kerah. Vina yang mendengar keributan di dalam segera masuk dan memastikan jika atasannya tidak apa-apa.
"Ada apa pak?" tanya Vina. "Soalnya tadi saya mendengar ...!" Vina tak melanjutkan ucapannya saat melihat atasannya itu sepertinya tidak baik-baik saja.
"Ada yang bisa saya lakukan?" tanya Vina kemudian sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu!" ucap Rendi dingin, lalu meninggalkan tempat itu.
Nadin yang sudah lebih dulu bersama Divta, Divta membawa Nadin ke ruangan Nadin.
"Bagaimana kalau kita menikah saja?" tanya Divta tiba-tiba, membuat Nadin dengan reflek mendorong tubuh Divta hingga Divta yang tidak dalam keadaan siap, terjatuh ke lantai.
"Augh ...!" keluh Divta saat terjatuh. Nadin yang merasa bersalah segera menghampiri Divta.
"Pak ...., maafkan aku, aku tidak sengaja!" ucap Nadin sambil jongkok di depan Divta.
Agra yang kebetulan melintas di sana, segera menghampiri mereka.
"Nadin!"
"Bang Divta!"
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Agra yang sudah mulai mendekat, membuat dua orang itu segera menoleh pada mereka, bersamaan dengan datangnya Rendi.
Divta pun segera berdiri di bantu oleh Nadin. Rendi yang berasal dari arah berbeda dari Agra, ia menghentikan langkahnya, tepat di lorong itu di pertigaan.
"Rendi kau juga ada di sini ?" tanya Agra saat melihat Rendi juga.
Nadin dan Divta pun juga menoleh pada Rendi yang berada di belakangnya.
Kenapa Agra bisa ada di sini juga, apa dia tahu jika aku menemui Nadin?
Rendi masih terdiam di tempatnya, ia melihat Nadin masih bersikap dingin padanya, membuat hatinya terluka. Divta yang sudah berdiri, ia pun segera berbalik menatap Rendi.
"Kami dari klinik!" ucap Divta.
"Klinik?" tanya Agra.
"Nadin, kakinya tersiram air panas tadi!"
Percakapan itu hanya terjadi oleh dua orang, sedangkan Nadin dan Rendi hanya bisa memaku di tempatnya. Mereka menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kak Agra, jangan berfikir sesuatu tentang kami ....
Nadin sudah begitu khawatir, mengingat percakapan mereka kemarin tentang Divta.
Agra segera menghampiri adik iparnya itu, dan memperhatikan kakinya.
"Kenapa bisa tersiram air panas?" tanya Agra.
"Tadi terkena tumpahan kopi, tapi sekarang sudah tidak pa pa, karena pak ....!" ucapan Nadin belum selesai saat Agra segera memotong ucapannya.
"Bang ....., terimakasih banyak, karena bang Divta sudah melakukan pertolongan pertama pada Nadin." ucap Agra yang segera menatap kakak laki-laki nya itu. Nadin pun hanya bisa mengerutkan keningnya tak percaya dengan apa yang di pikirkan kakak iparnya.
Kak ....., bukan pak Divta tapi pak Rendi . ..
"Hah ...., aku ...., i-iya ...!" ucap Divta tergagap, seharusnya bukan dia yang mendapat pujian itu tapi pria dingin di belakangnya. "Tapi bukan aku yang ...!"
"Aku tahu bang Divta memiliki perasaraan pada Nadin!" lagi-lagi Agra segera memotong ucapan Divta.
Kakak .....
Nadin hanya bisa menatap Rendi pasrah. Ia tidak mungkin mengatakan jika itu Rendi tanpa persetujuan dari pria es itu, sedangkan orang yang sangat ia harapkan, hanya diam di tempatnya tanpa reaksi.
"Iya ...., tapi sepertinya Nadin mencintai orang lain!" ucap Divta sambil melirik pada pria dingin di belakangnya. Karena ia melihat sedari tadi Nadin memperhatikan Rendi dengan tatapan yang berbeda.
"Siapa?" tanya Agra. Rendi yang merasa jadi pusat pembicaraan segera menghampiri Agra.
"Maaf pak, sepertinya tamu dari luar negri sudah datang!" ucap Rendi memperingatkan Agra.
"Ah iya .,.., aku hampir lupa." ucap Agra sambil mengamati jam tangannya. "Pembicaraan ini bisa kita lanjutkan lain waktu, aku pergi dulu, jika masih sakit, kau boleh pulang." ucap Agra pada Nadin sambil menepuk bahunya, Nadin pun hanya bisa mengangguk, ia masih terlalu syok dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Ayo kita pergi!" ucap Agra pada Rendi, Rendi pun hanya mengangguk, mereka berjalan menjauhi Nadin dan Divta, tapi Rendi kembali menoleh pada Nadin saat sudah beberapa langkah meninggalkannya.
Apa kau benar-benar ingin lepas dariku? Demi dia? Setelah sejauh ini, aku ingin cintamu kembali
Rendi pun segera menyusul Agra yang sudah beberapa langkah di depannya. Nadin yang ternyata juga membalas tatapan Rendi, ia hanya bisa menghela nafasnya berat. Ingin rasanya berlari dan memeluk pria itu, tapi apa itu tidak berlebihan di saat dirinya sedang marah.