MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 26 (Si dingin)



Akhirnya mobil Rendi sampai juga di depan rumah mereka. Leon segera membukakan pintu untuk Rendi.


Rendi keluar dari mobil dan melepas kaca mata hitamnya, ia menoleh pada tetangga depan rumahnya, rasa penasarannya pada pada tetangga baru yang katanya tampan dan gagah itu.


"Masss ....!" suara Nadin membuatnya mengalihkan pada wanita itu.


Nadin segera berlari menghampirinya dan hendak memeluknya tapi tangan Rendi sudah lebih dulu menahan kepalanya hingga langkah Nadin berjarak tepat lima puluh centi di depannya.


"Mas ..., apaan sih? Aku merindukanmu!" protes Nadin.


"Siapa suruh berlari? heh ...?" ucap Rendi sambil menatap Nadin begitu tajam. Ia begitu khawatir dengan kandungan Nadin.


"Maaf! Tapi aku begitu merindukanmu!"


"Baiklah ..., untuk kali ini aku maafkan tapi dengan satu syarat!"


"Ada syaratnya?" Nadin mengerutkan keningnya, "Apa?"


"Cium aku!"


"Hahhh?" Nadin menatap sekitar, ada Ajun dan orang lain di sana.


"Ayo!"


"Di sini?" tanya Nadin dan Rendi menganggukkan kepalanya.


"Ada Ajun, mas!"


Rendi pun segera menatap Ajun. Ajun yang mengerti arti tatapan atasannya itu segera membalik badan.


"Sudah ...! Ayo!"


"Mendekatlah!"


Rendi pun mendekatkan wajahnya pada Nadin, Nadin begitu ragu melakukannya pasalnya mereka sekarang sedang berada di pinggir jalan, depan rumahnya. Kalau sampai ada yang lewat pastilah dia akan sangat malu.


Cup


Nadin mengecup pipi Rendi dan dengan cepat menjauhkan kembali wajahnya.


"Sudah mas!"


"Apanya yang sudah! Itu bukan ciuman! Lakukan di sini!" ucap Rendi sambil menunjuk bibirnya.


"Mas!????" protes Nadin.


"Mau atau aku akan melakukan lebih dari ini!?"


Astaga ...., dia benar-benar ingin memerasku ...., untung cinta ....


Rendi bersiap kembali dan Nadin mendekatkan kembali wajahnya,


Cup


Nadin mendaratkan bibirnya di atas bibir Rendi, saat hendak menjauhkan bibirnya, Rendi dengan cepat menahan tengkuk Nadin agar tidak menjauh membuat Nadin memelototkan matanya.


Rendi segera ******* bibir itu, Nadin tidak bisa melawannya. Ia juga sangat merindukan sentuhan bibir pria dingin itu.


Ups .....


Pekikan seseorang mengagetkan mereka, membuat Rendi melepaskan ciumannya dan menoleh pada sumber suara.


Rendi mengerutkan keningnya, ia merasa asing dengan pria yang berdiri di antara pagar pembatas rumah yang berada tepat di depan rumahnya itu.


"Mas Juna!" ucap Nadin dengan begitu malu, ia menenggelamkan wajahnya di balik punggung suaminya itu.


Ohhh ...., jadi dia orangnya ...., Masih gantengan aku ...., batin Rendi menilai pria yang sedang berdiri di depannya itu.


"Maaf mengganggu, lanjutkan saja! Aku akan kembali lagi dan melupakan semuanya! Selamat menikmati!" ucap Juna sambil kembali masuk ke dalam rumahnya, ia melupakan niatnya untuk keluar rumah.


Pak Tama yang melihat putranya kembali lagi begitu heran.


"Kenapa kembali lagi?"


Juna segera menghampiri ayahnya dan duduk dengannya.


"Di luar sedang ada iklan!"


Pak Tama mengerutkan keningnya, "Iklan?"


"Iya ...., hanya di peruntukkan bagi dua satu tahun ke atas!"


"Isssttt ....., kasihan sekali putraku ini! Makanya cari istri sana!"


"Ayah aja ngejomblo dua puluh lima tahun nggak pa pa, kenapa aku harus cari pasangan!"


"Dasar anak kurang ajar, kalau dibilangi orang tua sukanya ngeyel terus!"


Juna hanya tertawa melihat bapaknya marah.


***


"Mas ...., ini barang-barang siapa?" tanya Nadin pada pria dingin di sampingnya itu.


"Itu semua oleh-oleh dari Surabaya!"


Nadin segera memegangi kepalanya, ia begitu syok saat rumahnya begitu penuh hingga hampir tidak ada ruang kosong di sana.


"Tapi buat apa mas ini semua?"


Hehhhh ....


Rendi menghembuskan nafas kasarnya,


"Kemarin bilang minta di bawain barang-barang yang nggak ada di Jakarta, sekarang sudah aku bawakan kamu masih protes!"


"Tapi nggak segini juga mas!" Nadin benar-benar frustasi dengan kelakuan suaminya yang tidak masuk akal itu.


"Sudah lupakan barang-barang ini, karena kamu punya tugas yang lebih penting!"


"Apa?"


Rendi pun kembali mendekat pada istrinya itu, membuat Nadin memundurkan tubuhnya tapi Rendi dengan sigap menarik tubuh Nadin, hingga tangan satunya melingkar tepat di pinggang Nadin.


"Jangan pura-pura lupa!" bisik Rendi.


"Mas ....!" Nadin begitu tersipu mendengarnya.


Rendi segera mengangkat tubuh Nadin dan membawanya ke dalam kamar. Ia harus berbuka puasa setelah lima hari yang ia lalui begitu berat tanpa Nadin di sisinya.


Dulu kita memang tidak saling kenal, dulu kau bukan siapa-siapa bagiku, tapi saat ini kau lebih dari hidupku. Kau bagai senja untuk langit, atau hujan untuk pelangi, cintamu bagai penyempurna hidupku yang penuh luka.


***


Nadin dan Rendi sudah bersiap-siap untuk berangkat ke taman bermain, Agra sudah sedari tadi menelponnya untuk segera datang.


Akhirnya oleh-oleh yang begitu banyak yang sudah di bawakan oleh Rendi dengan penuh cinta itu di kemas kembali untuk di bagikan pada orang-orang pekerja di taman bermain.


Nadin hanya menyimpan sebagian saja yang menurutnya suka dan selebihnya di bungkus menjadi cinderamata.


Kini baby El sudah berada di gendongan Rendi dengan pakaian yang sana dengan yang di pakai Rendi. Mereka ayah dan anak yang sangat kompak walaupun terlihat sekali sifatnya jauh berbeda. Baby El sangat murah senyum sedangkan Rendi, senyumnya hanya untuk orang-orang tertentu saja. Tapi karena sikap dinginnya itu lah yang menjadi daya tarik tersendiri untuk seorang Rendi.


Mereka sudah berada di taman bermain, kedatangan mereka langsung di sambut oleh Agra dan Ara.


"Lama banget ngapain aja?" tanya Agra, tentu pertanyaan itu berhasil membuat Nadin tersipu.


"Ada tugas utama sebelum ke sini!" jawab Rendi dengan entengnya, "Mana Frans?"


Rendi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru mencari si pembuat onar itu.


"Iya sayang ...., dari tadi aku tidak melihatnya?" tanya Agra pada Ara, karena Ara sudah datang lebih dulu ke tempat ini.


"Tadi sih katanya mau ke kamar mandi dulu Fe nya sebelum makan siang, tapi sampai sekarang nggak kembali-kembali!"


"Ahhhh ...., kayaknya tuh pengantin baru lagi berduaan!" ucap Agra sambil merangkul istrinya itu.


Panjang umur, pas banget mereka di bicarakan tiba-tiba muncul berduaan dan menghampiri duo pasangan fenomenal itu.


“kalian dari mana saja baru datang?” tanya dokter Frans pada Agra dan Rendi.


"Seharusnya kami yang tanya, dari mana aja berduaan?" tanya Agra balik.


"Biasa ..., mojok dong! Emang kalian aja yang bisa mengumbar kemesraan, kami juga bisa! Iya kan Fe?!" tanya dokter Frans pada istrinya.


"Ngomong-ngomong, makasih ya! Pekerjaan lo bagus!” ucap Agra sambil mengamati persiapan pesta sudah berjalan lancar tanpa bantuannya.


“lagu lo…, sejak kapan kalian tidak merepotkan gue …!”


“Iya pak dokter …., maafkan kami!” ucap Agra dengan senyum menggoda.


“Ehhhh …, es batu, si Ajun itu kloningan lo ya?” tanya dokter Frans pada sahabat


dinginnya itu, siapa lagi kalau bukan Rendi.


“Emang kenapa?” tanya Agra yang begitu penasaran sedangkan Rendi hanya tersenyum tipis nyaris tidak terlihat.


“Masak gue mau ngajak Nadin ke kafe A&A aja pakek di jagain sama dia, emang gue


mau nyulik emaknya apa!”


Ha ha ha ….


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘😘