MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Pacar? Istri?



 Bukankah cinta juga butuh usaha? Cinta akan datang.


*****


    Di sebuah kafe tampak dua orang


sedang merecanakan sesuatu, dua orang itu adalah Viona dan Divta, Divta sudah


benar-benar datang ke tanah air, ia menatap wanita di hadapannya.


Rendi yang mendapat laporan dari anak buahnya segera datang ke


tempat dimana Viona dan Divta bekerja sama. Seperti biasa Rendi akan menyadap


pembicaraan mereka.


“bagaimana, apa kau sudah menemukan identitas lengkap istri Agra?”


tanya Divta dengan tatapan yang sama persis seperti yang di miliki Agra, mereka


memiliki kemiripan dalam hal wajah


“Namanya PUTRI AULIA ZAHRA, dia Cuma gadih biasa, gadis rendahan”


jawab Viona begitu meremehkan Ara


“Aku butuh biodatanya, bukan keterangan yang kamu buat sendiri”


“Baiklah ..., ini kak datanya, di situ juga lengkap dengan fotonya,


keluarganya, dia hanya memiliki seorang ayah dan seorang adik perempuan”


Untuk apa bang Divta mencari tahu tentang Ara. Apa dia tahu


sesuatu? Batin Rendi.


Rendi terus saja mengawasi mereka sampai pertemuan mereka berakhir.


Ada rencana apa lagi?


Rendi pun keluar dari kafe setelah mereka berdua keluar, tapi


langkahnya terhenti saat berpapasan dengan orang yang ia kenal.


“Nathan ...”


“Hei ..., Rend ...” sapa Nathan balik. “senang bertemu denganmu di


sini.”


“Ya ..., sama siapa?” tanya Rendi.


“Tuh sama istri aku ...” ucap Nathan sambil menunjuk seorang wanita


anggun dengan perut yang sedikit buncit, sepertinya tengah hamil lima bulanan.


“Sayang ...!” Nathan pun memanggil istrinya, wanita itu pun mendekat


pada Nathan dan Rendi.


“Kenalkan, dia ini sepupu aku, putranya paman Salman. Namanya Rendi” Ucap Nathan


pada istrinya. Wanita cantik itupun mengulurkan tangannya.


“Hay ..., namaku Ruby ..., kita kok belum pernah ketemu ya?” tanya


wanita yang mengaku namanya Ruby itu.


“Iya ...” ucap Rendi.


“Ayo kita duduk dan mengobrol santai, sambil perkenalan.” Ajak


Nathan, mau tak mau Rendi pun ikut kembali duduk.


Mereka pun duduk dan memesan minuman dan makanan.


“Rendi ini memang sengaja di sembunyikan sama paman Salman.” Ucap


Nathan.


“Tidak seperti itu.” Ucap Rendi.


“Aku penasaran, bagaimana ceritanya Rendi tak pernah hadir di acara


keluarga?” ucap Ruby penasaran.


“Yah ..., itulah istimewanya Rendi, tak semua orang bisa


mengenalnya.” Ucap Nathan.


“Tidak seperti itu juga.” Ucap Rendi sedikit melengkungkan


senyumnya.


“Oh iya ..., ngomong-ngomong dimana istrimu?” tanya Roby.


“Saya belum menikah.”


Astaga ini pembicaraan macam apa?


“Waah sayang sekali, kenapa? Kamu kan tampan, gagah, pasti banyak cewek yang suka sama kamu, sudah punya pacar?” tanya


Ruby , pertanyaan Ruby itu cukup membuat Rendi tercengang. Bagaimana selama ini


dia tidak pernah memikirkan hal itu. Di usianya yang sudah matang ini


seharusnya sudah memiliki setidaknya seorang kekasih.


“Kata paman Salman, bulan depan Rendi akan datang dengan pacarnya,


Sayang.” Ucap Nathan. Seketika membuat Rendi tersedak air liurnya sendiri.


“Huk huk huk ...”


“Kau kenapa? Tidak papa kan? Minumlah ...” Ruby menyodorkan minuman


ke Rendi, dan Rendi pun langsung meneguknya habis.


“Aku tidak pa-pa, maaf aku harus segera pergi, ada pekerjaan yang


harus aku kerjakan.” Pamit Rendi segera berdiri dan menundukkan punggungnya


memberi hormat.


“Baiklah ...., tapi lain kali kita bisa doubledate kan?” tanya


Nathan. Dan Rendi pun hanya mengangguk dan meninggalkan mereka. Akhirnya


setelah keluar dari kafe ia bisa bernafas lega.


Bagaimana dia bisa memikirkan seorang istri, bahkan sudah usia tiga


puluh tahun ini, satu kali pun belum pernah berpacaran, ia tidak ada waktu


untuk memikirkan dirinya sendiri. Menurutnya memiliki seorang wanita di sisinya


akan menghambat langkahnya.



****


Hari ini adalah hari dimana Ara akan melakukan pemerikasan


kandungan di klinik dr. Frans. Rendi sudah menghubungi pak Mun untuk datang ke


kafe menjemput Ara. Karena jika di biarkan berangkat sendiri bukan tidak


mungkin dia akan berbalik arah.


Rendi sudah menunggu di ruangan praktek dr. Frans. Saat Ara datang


Rendi pun segera menyambutnya.


“selamat pagi nona” sapa Rendi yang segera bangun dari duduknya


saat ara datang


“pagi  ..., pak Rendi di sini


juga?” kegugupan Ara semakin bertambah saat melihat Rendi juga berada di situ.


“kami menunggu anda nona”


“apa nona sudah siap?”


“sebentar ...sebentar , tapi apa boleh aku bertanya?” Ara kembali


memundurkan langkahnya


“silahkan nona”


“yang memeriksa .....?”


“tenang nona, yang memeriksa anda asisten dokter Frans” tak berapa


lama dokter frans kembali masuk dengan seoarang perempuan cantik berjilbab,


usianya sepertinya tak beda jauh dengan Ara.


kandungan Ara, dan benar ternyata Ara sudah hamil. Ara begitu terkejut


mengetahuinya.


“apa yang harus dilakukan setelah ini dokter?” Rendi mewakili Ara


untuk bertanya, ara masih terlihat syok hingga tak mampu berkata-kata. Dokter Sifa pun menjelaskan panjang lebar.


Setelah selesai dengan pemerikasaannya, Ara berpamitan ke toilet. Rendi pun harus menyelesaikan dulu


urusannya dengan dr. Frans dan dokter Sifa.


Tapi setelah lama Ara tak juga


kembali, Rendi pun mencari keberadaan Ara.


Ia menyusuri seluruh toilet klinik, tapi tak juga menemukannya,


setelah berjalan ke sana-kemari akhirnya Rendi bisa menemukan Ara. Ara sedang


berjalan di sebuah koridor. Ia melihat Ara tampak tidak fokus, Rendi pun segera


mendekati Ara.


“nona ..., anda tidak pa pa ...” ucapan Rendi segera membuyarkan


lamunannya.


“ehh ...., tidak ....”


“mari saya antar nona ...” Ara pun hanya menganggu dan mengikuti


langkah Rendi yang akan mengantarnya pulang, Ara yang mulanya ingin pulang


sendiri kini menjadi tak punya nyali untuk pulang sendiri.


Ara sudah duduk di jok belakang , sedangkan Rendi seperti biasa


duduk di samping pak Mun, Rendi terus memandangi Ara yang masih tampak syok, Ara


masih diam seribu bahasa.


“apa sebenarnya yang sedang Ara pikirkan? Apa dia tidak senang


dengan kehamilannya”batin Rendi


“nona ...”


“hemmm.....”


“langsung pulang atau nona mau ketempat lain dulu?”


“langsung pulang saja”


“baik nona”


“jalan pak Mun...”


Sepanjang perjalanan pun masih sama, Ara masih setia dengan


kediamannya ia terus menatap ke sepanjang jalan, matanya tampak tidak fokus,


sedangkan Rendi sesekali melihat ke arah Ara berharap wanita itu mau bicara


padanya


Hingga tanpa terasa mereka pun sampai di depan toko, mobil pun


berhenti, tapi Ara tetap masih bergeming dari duduknya, Rendi lebih dulu turun


dan membukakan pintu untuk ara


“sudah sampai nona ...” rendi sudah berdiri di samping Ara duduk


dengan memegang pintu mobil


Ara pun segera turun dari mobil, sebelum kakinya melangkah masuk ke


dalam toko, Ara pun kembali memandang Rendi.


“Rend ...”


“iya nona ...”


“jangan beritahu semuanya pada Agra ...” Rendi hanya diam mendengar


permintaan Ara yang dianggapnya begitu aneh, bagaimana ia menyembunyikan


kehamilannya pada suaminya sendiri.


“plisss, aku janji nanti aku sendiri yang akan memberi tahunya”


“baik nona ..., kalau begitu saya permisi dulu ..., selamat


istirahat nona” Ara tak menjawab ucapan Rendi, ia langsung saja masuk ke dalam


toko.


Di dalam toko langsung di sambut oleh Nadin.


“kak ..., bagaimana? Si balok es  nggak di suruh masuk tuh, masih ngiatin tuh kak?” tapi Ara masih tetap


diam tanpa menyahuti perkataan adiknya.


Nadin secara bergantian melihat Ara dan Rendi, dan matanya langsung


tertuju pada Rendi, Rendi yang merasa di tanya hanya mengangkat kedua bahunya


tanda tak tahu.


Ara masuk ke dalam ruangannya, sedangkan Nadin memilih keluar


menghampiri Rendi yang hampir masuk ke dalam mobilnya.


“Tunggu ...!”


Mau tak mau Rendi pun menghentikan langkahnya tanpa mau membalik


tubuhnya, ia tetap berdiri memunggungi Nadin,


Seketika sekelebat ucapan Nathan dan


Istrinya kembali terngiang di ingatannya saat melihat Nadin, Ada apa?.


Ah .... tidak mungkin aku memanfaatkan anak ini, dia terlalu kecil. Batin


Rendi


“Kak Ara kenapa?” tanya Nadin. Karena tak juga mendapat jawaban.


Nadin pun dengan keras menarik tangan Rendi, tapi nyatanya tenaganya tak lebih


kuat dari pada tenaga pria itu, Rendi menarik balik tubuh Rendi, hingga membuat Nadin malah terjerembak di antara mobil


dan tubuh kekar Rendi.


Rendi mencondongkan tubuhnya hingga menindih tubuh


Nadin.


“Kenapa kau selalu cari gara-gara?” tanya Rendi dengan masih dalam


posisi yang sama, nafas mereka saling beradu. Matanya tajam menatap Nadin.


Pipi Nadin sudah mulai memerah, entah kenapa wangi tubuh Rendi


sudah mampu menyihirnya. Jantungnya lagi-lagi bekerja lebih.


“A-aku ..., Cuma mau tanya kakakku kenapa?” tanya Nadin, ucapannya


tertahan di tenggorokan, seakan jantungnya kekurangan pasokan oksigen.


“Ku peringatkan, jangan banyak bertanya! Anak kecil.....” Ucap Rendi, lalu melepaskan


tubuh Nadin dan menggesernya agar berpindah dari pintu mobil, Rendi pun segera


membuka pintu mobil dan meninggalkan Nadin begitu saja.


Astaga ...., akun kehabisan oksigen ... ucap Nadin


sambil memegangi dadanya saat mobil Rendi sudah menjauh darinya.



****


**Cinta itu, saat kita merasa ada yang aneh pada diri kita saat dekat dengannya, dan kita akan merasa ada yang hilang dari diri kita saat dia jauh.


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘**