
Nadin
dan Rendi kini sudah tinggal kembali di apartemen milik Rendi, mereka hanya
sesekali berkunjung ke rumah ayah Salman atau ayah Roy. Nadin sudah banyak
mengalami kemajuan, ia mulai bisa memasak berbagai macam masakan karena sebuah
buku resep yang Rendi hadiahkan di ulang tahun pernikahan pertama mereka.
Banyak
hal-hal baru yang ternyata Nadin baru tahu tentang suaminya itu, Rendi suka
memakai baju putih selain memakai jas dan celana rapi, dia suka tidur dengan
memeluk sesuatu, sebelum menikah ia selalu memeluk guling, tapi setelah menikah
kebiasaan itu berubah, ia menjadi memeluk Nadin, Rendi akan makan makanan pedas
saat ia merasa cemas, ia akan suka bercerita kepada dr. Frans dari pada kepada
Agra.
Bahkan ia sekarang tahu kalau suaminya itu tidak pernah melewatkan olah
raga paginya, dia akan bangun lebih pagi darinya untuk berolah raga.
“Tokki …, dimana kau menyimpan kemejaku?” teriak Rendi di dalam ruang ganti itu. Ya
dan satu hal lagi, di balik penampilannya yang selalu perfect ia tidak pernah
bisa menemukan kemejanya sendiri.
“Di lemari paling atas mas …, bersebelahan dengan jas mu …!” teriak Nadin dari
dapur, Nadin mengikat rambutnya asal, ia sedang sibuk memasak sesuatu di sana.
Rendi lebih suka Nadin sebagai istrinya sepenuhnya dari pada menjadi wanita
karir,
Nadin pun menghargai keputusan suaminya itu, ia tidak berencana untuk
bekerja, ia memilih mengurus semua keperluan rumah sendiri. Dari gadis manja
kini telah bermetamorfosis menjadi wanita dewasa yang mandiri.
“Aku tidak dapat menemukannya …!” teriakan Rendi berhasil membuat Nadin menghentikan
aktifitasnya. Ia melepas afronnya dan mematikan kompor. Saat melintas di ruang
tamu, ternyata Ajun sudah berada di sana.
“Ajun!” sapa Nadin.
“Selamat pagi bu!” anak buah Rendi itu membalas sapaan Nadin.
“Sejak kapan kau di sini?”
“Sudah lima belas menit yang lalu, bu!”
“Pergilah ke dapur …, ikut sarapan bersama kami, aku juga sudah menyiapkan bekal untuk
kalian!”
“Terimakasih bu, saya sudah sarapan di rumah!”
Cukup lama Nadin tak juga menghampiri suaminya, membuat suami dinginnya itu kembali
memanggilnya.
“Tokki …, kenapa lama sekali …?” teriak Rendi membuat Nadin dan Ajun menghentikan
percakapannya.
“Sebentar ya …, aku ke atas dulu!” ucap Nadin sambil melangkahkan kakinya menaiki tangga.
Ajun hanya mengangguk, Nadin kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.
Nadin masuk ke dalam kamar, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar,
tapi tak juga menemukan suaminya.
“Mas …, apa kau sudah menemukannya?” Tanya Nadin, tapi ia tidak mendapat sahutan. Nadin
pun melanjutkan langkahnya menuju ke ruang ganti. Tiba-tiba sebuah tangan
menarik tubuhnya hingga terjatuh ke belakang.
Rendi langsung memeluknya dari belakang, hingga membuat Nadin terpekik.
“Massss….!” Pekik Nadin, tapi Rendi semakin mengeratkan tangannya.
“Kau melupakan sesuatu, tokki ku …!” bisik Rendi di daun telinga Nadin. Hal itu
membuat tubuh Nadin otomatis memanas, tanpa terasa nafas Nadin berubah menjadi
lebih cepat, seperti ada getaran yang mengalir di seluruh aliran darahnya.
“apa?” Tanya Nadin dengan nafas yang memburu.
“Tidak hanya perutku yang perlu di isi, tapi hatiku juga. Urus aku sebelum kau
mengkhawatirkan perutku!”
“Mas …, tapi sudah waktunya mas Rendi berangkat kerja!”
“Memang kenapa jika waktunya?”
Nadin pun segera melepas pelukan suaminya. “Ajun sudah menunggumu di luar, mas …!”
“Dia itu selalu saja mengganggu waktu olah raga pagi ku!” keluh Rendi. “Ayolah …, sebentar saja!” ucap
Rendi dengan wajah yang di buat melas.
“Tapi tadi malam kan sudah!”
“kenapa kau meributkan tadi malam, ini pagi bukan malam!”
“Ahhh …!” teriak Nadin saat Rendi tanpa aba-aba mengangkat tubuh nadin, ia membawanya
ke tempat tidur, dan mereka melakukannya begitu cepat.
Setelah melakukannya,
Rendi kembali mandi dan memakai kemejanya, mengecup kening istrinya yang masih
berada di atas tempat tidur dengan wajah kesalnya karena ulah suaminya.
“Jangan keluar, di luar ada Ajun!” Rendi memperingatkan istrinya sebelum pergi dan
meninggalkan kecupan di bibir Nadin.
“Lalu sarapannya?”
“Aku akan membungkusnya dan memakannya di kator!”
Satu hal
lagi yang baru Nadin tahu dari pria dingin itu, pria itu menjadi begitu manja
saat bersamanya.
“Dimana perlakuan dinginnya dulu …!” gerutu Nadin, tapi ia mengakhirinya dengan senyuman.
Rendi melewati hari-harinya dengan mengelola perusahaan milik ayahnya. Memang tak
sama dengan saat ia bersama dengan Agra, tapi bukan berarti ia melupakan tempat
yang telah membesarkan namanya itu.
Agra tak pernah menganggap keputusannya itu salah, ia mendukung penuh keputusan sahabatnya, begitupun dengan nyonya Ratih.
Ia tahu bagaimana susahnya dulu Salman membangun perusahaan itu sendiri tanpa
campur tangan dirinya dan suaminya.
Mungkin akan menjadi harapan besar bagi
Salman jika perusahaan itu akan di tangani oleh putra semata wayangnya.
“Permisi
pak!” tiba-tiba seseorang membuyarkan lamunan Rendi.
“Iya?”
Dia adalah sekretaris lama ayahnya dan
di finityGroup.
“satu jam lagi anda akan melakukan kunjungan ke perusahaan Yoala Property, pak!”
“Baik, suruh Ajun menyiapkan mobilku!”
“Baik pak!”
Rendi mulai melebarkan sayap perusahaannya ke wilayah yang lebih jauh dari pusat
Jakarta. Banyak perusahaan-perusahan kecil di luar sana yang patut untuk di
perhitungkan.
“Selamat datang pak Rendi!” pemilik perusahaan itu sudah menyambutnya di depan kantor,
sepertinya dia sudah sangat menantikan kedatangan Rendi ke perusahaan itu,
sungguh anugrah besar saat perusahaan kecil di datangi oleh orang yang sangat
berpengaruh seperti Rendi.
“Terimakasih sambutannya, pak Bramantara!”
“Mari …, mari silahkan masuk …!” mereka berjalan beriringan, Rendi mengingat sepertinya
ia pernah melintas di tempat ini, tapi sepertinya ia lupa tepatnya kapan.
Saat berjalan menyusuri lorong, mata Rendi sepertinya menangkap seseorang yang
memang ia kenal, tapi ada yang berbeda.
“Ada apa pak Rendi?” Tanya pak Bramantara saat Rendi menghentikan langkahnya.
“Tidak…, mungkin saya hanya salah lihat, saya seperti melihat orang yang saya kenal!”
“Mari silahkan masuk pak!”
“Terimakasih!”
Mereka pun masuk ke dalam ruangan pemilik perusahaan itu, banyak hal yang harus
mereka bicarakan terutama tentang kemajuan perusahaan itu.
“Terimakasih
pa atas kerjasamanya, semoga kerjasama kita ini akan berlangsung lama!” ucap
pak Bramantara sambil menjabat tangan Rendi.
“baiklah
…, kalau begitu saya permisi!”
“Silahkan
pak, mari saya antar!”
“Tidak
perlu repot-repot, tapi saya lebih suka berjalan dengan anak buah saya!”
“maafkan
kami!”
“Permisi!”
Rendi
pun segera berdiri dan meninggalkan ruangan itu, dia memang berniat untuk bekerja
sama dengan perusahaannya, tapi dia tidak suka dengan seorang penjilat.
Pura-pura baik demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
“bagaimana
pak, apa kita tetap melanjutkan kesepakatan ini?” Tanya Ajun.
“Beri
mereka kesempatan dan terus selidiki!”
“Baik
pak!”
Saat
hendak keluar dari gedung itu, lagi-lagi ia melihat orang yang sama seperti
saat ia masuk. Rendi mendekat, wanita itu sepertinya sedang menunggu kendaraan
umum yang melintas.
“Davina!”
panggil Rendi, wanita yang ia kira davina itupun menoleh dan benar dia Davina
tapi ada yang berbeda dari penampilannya, perutnya besar.
Melihat
Rendi hendak menghampirinya, Davina terlihat panik. Dan di saat yang bersamaan
angkutan umum melintas di depannya, Davina langsung menghentikan dan masuk ke
dalam angkutan itu. Rendi mengejarnya tapi terlambat, angkutan umum itu sudah
menghilang di ujung jalan.
“Sial
…!”
Ajun
segera menghampiri Rendi yang sudah mengumpat kesal karena kehilangan jejak
Davina.
“Selidiki
dimana ia tinggal!”
“Baik
pak!”
“Sekarang
kita tidak usah kembali ke kantor, kita ke rumah ayah Roy!”
“Baik
pak!”
Mereka
pun memutuskan untuk tidak kembali ke kantor atau langsung pulang ke apartemen,
ada yang ingin Rendi tanyakan pada ayah mertuanya, setahu dia selama ini Davina
belum menikah, lalu yang ia lihat tadi itu nyata.
“Nanti
jangan katakan apapun pada siapapun tentang apa yang kita lihat, termasuk pada
istri saya!”
“Baik
pak!”
Bersambung
Hai maaf ya kalau kadang nggak up, tapi jangan khawatir akan saya ganti dengan up dobel kok 🥰🥰🥰
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘