
Jakarta
Sudah tiga minggu setelah kepergian Nadin, Rendi hidup dalam kehancuran, bahkan ia tidak memikirkan untuk bekerja. Ayahnya,
Salman yang menghandle perusahaan, Rendi tidak pergi ke manapun, ia hanya duduk
di rumah seperti orang gila yang sedang menunggu istrinya pulang, dia bahkan
sama sekali tidak menemui Davina.
Hatinya sangat hancur saat mengingat atau melihat Davina, sengaja atau tidak wanita itu yang telah membuatnya berpisah drai
istrinya. Istri kecilnya menjadi terlalu pintar, bahkan ia tidak mampu
menemukannya, padahal biasanya ia dapat dengan mudah menemuka siapapun, di
manapun, tapi saat ia ingin menemukan istrinya, ia malah kesusahan.
“Nadin ….., kau di mana?”
Rendi meratapi semuanya, mengutuki kebodohannya
sendiri karena telah menyakiti istrinya. Kemarin ia telah menemui sahabat
istrinya, karena akhir-akhir ini istrinya sering berhubungan dengan sahabatnya
itu, bahkan saat hari terakhir sebelum Nadin pergi, Dini lah yang berada di
sampingnya.
Rendi menemui sahabat dari istrinya itu, kata-kata dari sahabat istrinya itu terus saja terngiang di telinganya.
“Aku tahu kau mengetahui di mana istriku, tolong katakan padaku!” ucap Rendi dengan nada datarnya, ia menemui Dini di kafenya.
“Kau yang membuatnya pergi, jadi ratapi dulu
kesalahanmu, baru kau akan menemukannya! Jika kau belum yakin untuk bisa
menjelaskan semuanya padanya, mungkin sekarang Tuhan pun berlaku adil dengan
mengambilnya darimu sampai kau benar-benar yakin untuk memperjuangkannya!”
Gadis itu menghela nafas tak percaya bisa mengatakan semua itu pada pria dingin di depannya itu.
“Aku tidak akan memberitahumu apapun tentang Nadin, yang ingin aku katakan saat ini adalah dia baik-baik saja walaupun tanpa anda, pak Rendi!”
Rendi tidak mendapatkan jawaban apapun dari sahabat istrinya itu, tapi sebelum pergi Dini menyerahkan sesuatu yang di titipkan istrinya pada Dini.
"Nadin menitipkan ini pada saya!" Dini menyodorkan sebuah kartu, blackcard milik Nadin. "Dia mengambil sebagian yang menjadi halnya!"
Entah kenapa Rendi merasa semua yang di katakan dini
adalah sebuah kebenaran, mau sekeras apapun ia mencari Nadin jika ia sendiri
belum yakin untuk bisa berkata jujur, Tuhan pun akan menyembunyikan darinya.
Tok tok tok
Pintunya di ketuk, membuat Rendi tersadar dari
lamunannya, ia bangun dari duduknya dan berjalan sempoyongan menuju ke pintu.
“Iya sebentar!”
Rendi membuka pintu, tapi tidak mendapati siapapun
di depan pintu.
“Siapa yang iseng?”
Rendi hendak menutup kembali pintunya, tapi matanya menemukan hal yang janggal di lantai, sebuah amplop, Rendi pun mengambilnya dan
menutup kembali pintunya. Ia duduk si sofa yang entah sejak kapan bahkan sofa
itu sudah tidak berada di tempatnya lagi, rumah itu sudah tidak serapi dulu.
Si Mr. perfect itu benar-benar kehilangan segalanya, bahkan keinginannya untuk
hidup, semua keluarga sudah membantunya mencari ekberadaan Nadin, tapi hasilnya
sama.
Dengan perlahan ia membuka amplop itu, membacanya
dengan seksama, surat dari dokter yang sudah di robek bagian kop suratnya.
“Nadin….! Positif! Apa artinya?” Rendi benar-benar tidak mengerti dengan isi surat itu. Rendi menemukan lipatan kertas lainnya.
Sebuah surat.
Rendi membukanya.
Dear
my husband
Aku masih menganggapmu sebagai suamiku karena kau tidak menceraikanku, aku sakit
mengatakan itu. Tapi aku memberi surat ini Cuma ingin memberitahumu kabar
bahagia, menurutku ini bahagia, tapi aku tidak tahu menurutmu …
Mungkin kau sudah punya anak lain dari perempuan lain, mungkin ini bukan anak
satu-satunya yang kau miliki, tapi rasanya tidak adil jika aku tidak membaginya
denganmu…
tahu kenapa Allah menitipkan anak ini padaku di saat rumah tangga kita dalam
keadaan yang sulit, tapi mungkin Dia punya rencana lain untuk kita …
Jangan mencariku atau anak ini sebelum kau benar-benar yakin untuk kembali padaku dan
anak ini…
Aku akan baik-baik saja, hiduplah dengan normal, aku tidak akan egois, aku akan
mempertemukan kalian suatu saat nanti, jika menurutmu keputusanmu benar dengan
menyembunyikan kebenaran dariku, maka sampai saat itu tiba, hanya sampai saat itu
tiba, kau boleh menemuinya ….,
berjanjilah padaku ….
^^^ Tokki mu …^^^
Berkali-kali Rendi membacanya, memahami kata demi kata. Memastikan bahwa apa yang ia baca benar., Rendi menangis, meratapi
semuanya.
‘kenapa baru sekarang Tuhan, kenapa?
Jika saja aku tahu lebih awal semua ini tidak akan terjadi, bagaimana aku bisa menjaganya,
memastikan kalau dia baik-baik saja tanpa aku? Apa begitu banyak dosa ku hingga
kau tidak memberiuku kesempatan untuk merawat anakku sendiri, kenapa?”
Rendi meratapi kebodohannya, bahkan ia menagis seperti anak kecil.
‘Sekarang apa yang harus aku lakukan, beritahu aku …?”
“Kenapa kau diam saja? Kenapa beri aku jawaban-Mu!”
Dr. frans yang mengetahui masalah sahabatnya,hampir setiap hari ia mendatangi apartemen sahabatnya itu. Mau bagaimana lagi pria dingin itu terus mengurung diri di dalam rumah seperti orang gila.
“Rendi…, lo kenapa?"
dr. Frans terkejut saat mendapati Rendi sahabatnya sedang emngis tersedu-sedu di lantai dengan memegang sebuah kertas di dadanya.
“Lo kenapa?”
Tanya Dr. Frans lagi, Rendi terus
menangis tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Dr. Frans pun mengambil
kertas itu dari tangan Rendi, membacanya dengan seksama. Setelah selesai membacanya, matanya ikut berkaca-kaqca, ia segera memeluk sahabatnya itu.
“Kenapa kau malah menangis seperti anak kecil seperti ini? Ini kabar gembira!”
“Bagaimaqna aku bisa gembvira, aku seorang ayah tapi dia tidak mengijinkanku merawatnya, ayah macam apa aku ini, suami macam apa?”
“Bangkitlah …, bangkit …, dia memberimu kesempatan, jangan sampai semuanya hancur dan kau akan menghancurkan anakmu nanti, kau harus jadi ayah yang tanggu, tunjukkan pada dunia bahwa kau ayah yang hebat,
setidaknya kau tahu jika sekarang dia baik-baik saja!”
“Iya kau benar, aku tidak mau dia sampai malu jika melihatku nanti!”
“bagus, sekarang bersihkan tubunmu, kau ini bau sekali!”
Rendi segera menyimpan surat itu, membersihakn
tubuhnya yang sudah entah sejak kapan ia tidak mandi. Dr. Frans membantu
merapikan rumah yang sudah seperti kapal pecah itu.
Sekarang penampilan Rendi sudah lebih baik, walaupun
tampak wajahnya pucat dengan cekungan di matanya menandakan kalaud ia tidak
cukup tidur, badannya sedikit kurus tak terawat.
“Sekarang duduklah, dan ceritakan semuanya padaku!”
Rendi pun
menuruti perintah dr. Frans, ia duduk di hadapan Dr. Frans lalu menceritrakan
semua, tentang Davina dan kesalah pahamannya dengan Nadin.
“Tapi aku mohon jangan ceritakan semuanya pada siapapun, ini hanya antara kita berdu!”
“Kenapa kau sampai merahasiakan hal sebesar ini?”
“Aku berhutang budi pada Divta, akulah yang
menyebabkan mereka berpisah, bahkan ia tidak tahu kalau ia sekarang seorang
ayah. Aku lebih beruntung karena Nadin memberitahuku, jika aku menjadi seorang
ayah!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘