MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Curiga



Setelah selesai dengan pekerjaannya, mereka pun kembali ke kamar, karena memang sudah pukul 11.00 malam.


Nadin setelah gosok gigi dan mencuci mukanya segera naik ke atas tempat tidur, entah kenapa saat seperti ini, tempat tidur manjadi tempat ternyaman.


Nadin mengambil bukunya, membaca sedikit tentang materi kuliahnya yang sudah sangat lama ia tinggalkan, kini magangnya sudah berakhir, ia harus kembali ke kampusnya setelah ini.


Rendi sedang dengan pekerjaannya, ia memeriksa beberapa berkas yang sudah berada di rumah beberapa hari yang lalu.


Sesekali ia mencuri pandang pada istri kecilnya itu, entah kenapa saat bersamanya ia merasa tidak bisa berkonsentrasi.


Rendi segera menutup kembali map map-nya yang ada di depan nya.


Rendi segera menuju ke kamar mandi, membersihkan diri, dan ke tempat ganti baju, mengganti bajunya dengan celana kolor.


Ia sudah memakai kaos tanpa lengan ya, tapi saat menatap cermin, sepertinya ada yang kurang. ia kembali melepas kaosnya.


Menatap kembali tubuhnya di cermin,


"Sepertinya begini lebih bagus!" ucap Rendi saat menatap tubuhnya sendiri.


Kemudian ia teringat sesuatu,


"Benda itu, mana benda itu?" Rendi kembali mencari sesuatu, dan akhirnya ketemu, benda yang sudah di belinya di apotek.


Ia kembali mengamati benda itu dan mengeluarkan isinya.


"Hah ...., sekecil ini, bagaimana bisa?" ia mengeluarkan isinya, benda tipis dan kecil. Rendi begitu asing dengan benda itu.


"Bagaimana cara menggunakannya!?" Rendi pun kembali duduk, ia mengamati kemasannya dan membacanya dengan cermat. Aturan cara pakai.


"Ribet banget cara pakek nya!"


Rendi pun hanya mengamati benda itu, ia masih bingung harus melakukan apa dulu.


***


Nadin merasa aneh, ia sudah menunggu Rendi sangat lama.


"Kenapa dia tidak keluar-keluar, apa yang di lakukan di dalam sana? Aku harus mengeceknya, jangan-jangan dia ketiduran di dalam!"


Nadin pun segera meletakkan bukunya, ia turun dari atas tempat tidur dan memastikan sesuatu di sana.


Nadin mengetuk ruang ganti itu


"Mas ...., ada apa? Kenapa nggak keluar-keluar?" tanya Nadin sambil menempelkan telinganya di daun pintu.


Ceklek


Belum sampai ia bertanya lagi, tiba-tiba pintu terbuka membuat tubuhnya terhuyung ke arah Rendi, kini ia berada dalam pelukan Rendi.


Nadin membuka matanya karena tak merasakan tubuhnya sakit, ternyata tangannya tepat memegang sesuatu yang men*nj*l kecil di sana, di atas dada bidang itu. Nadin memainkannya, ada yang aneh.


Hehhh ...., apa dia mau menggodaku ....


Saat Nadin mengamati dengan seksama, ia begitu terkejut dan dengan reflek mendorong tubuh Rendi dengan keras.


Bruk


Rendi terjatuh ke belakang, dengan pantatnya yang mendarat terlebih dahulu ke lantai.


"Hahhhh ....!" Nadin sama terkejutnya, ia segera menutup mulutnya saat melihat Rendi sudah terjatuh di lantai, ia tidak menyangka efek refleknya membuat Rendi celaka.


Rendi masih meringis kesakitan di tempatnya. Nadin pun segera menghampiri Rendi, ia berjongkok di depannya.


"Maaf ...., aku tidak sengaja!" ucap Nadin sambil menjewer telinganya sendiri.


"Kau pasti sengaja!" ucap Rendi kesal.


"Beneran mas, aku nggak sengaja, aku tadi kan terkejut, lagian kenapa mas Rendi nggak pakek baju, itu an*nya kan jadi terpelintir sama Nadin!" ucap Nadin sambil menunjuk put*ng Rendi, dengan cepat Rendi pun menutup kedua put*ngnya.


"Dasar otak ngeres!" ucap Rendi sambil mendorong kening Nadin dengan jari telunjuknya.


Ceh ....., kenapa jadi aku yang di salahin ...., memang salah sih tapi tidak sepenuhnya ke salahan ku kan ....


Mereka terdiam saling pandang, Rendi segera menarik tengkuk Nadin dan menempelkan bibirnya ke bibir Nadin, dengan ganas ia meng*l*m dan mel*m*tnya, membuat Nadin hanya bisa menerimanya. Nadin seperti terhipnotis.


"Euhg .....!" Nadin mendengus karena ulah Rendi, Rendi menggigit bibir Nadin membuat Nadin membuka mulutnya dan ia pun segera mengabsen isi mulut Nadin, lenguhan Nadin semakin terdengar membuat gairah Rendi semakin naik.


Ciuman Rendi semakin panas, tangannya juga sudah mulai mer*m*s gundukan Nadin, membuat Nadin semakin terbuai oleh ulah Rendi, tangan Rendi sudah mulai aktif membuat satu per satu kancing baju Nadin terlepas satu persatu. Kini posisi Nadin sudah berada di bawah Rendi, ciuman itu tak juga terlepas.


Tangan Nadin yang sudah mer*m*s ke sana kemari tiba-tiba menemukan sesuatu yang janggal di sana, tangannya tanpa terasa memegang sesuatu. Saat ciuman itu terlepas, Nadin segera mengangkat tangannya dan menemukan sesuatu di sana.


Bibir Rendi sudah beralih ke tengkuk Nadin, tapi mata Nadin tak bisa beralih pada benda yang ada di tangannya.


"Mas inih apa?" tanya Nadin dengan nafas yang masih tersengal.


Jebret


Rendi segera menarik tubuhnya dari atas tubuh Nadin, ia kembali duduk dan segera mengambil sesuatu dari tangan Nadin.


"Bukan apa apa!" ucap Rendi sambil menyembunyikan benda itu.


"Mas ....., aku tahu benda itu!" ucap Nadin.


"Apa?" tanya Rendi sambil merapikan baju Nadin, ia mengancingkan satu persatu kancing baju Nadin.


"Itu pengaman pria, buat apa?" ada rasa kecewa di dalam diri Nadin, sebegitu ya Rendi tidak ingin memiliki anak darinya hingga harus memakai alat pengaman.


"Kau mengetahuinya?" tanya Rendi curiga, bagaimana gadis se polos Nadin bisa mengetahui benda itu, yang dirinya pun baru mengetahuinya.


"Iya aku tahu!" ucap Nadin dengan wajah kecewanya.


"Apa kau pernah melakukan ....?" tanya Rendi yang juga sudah merasa kecewa, ia takut jika pertanyaannya benar, kenapa dadanya terasa panas dengan pertanyaannya sendiri, matanya sudah menatap tajam pada Nadin, amarahnya sudah menyulut.


"Melakukan apa?" tanya Nadin tak mengerti.


"Apa saja yang sudah kau lakukan dengan pria lain?" tanya Rendi dengan penuh penekanan.


Hah ...., apa apaan jadi itu yang dia pikirkan ....


"Aku tidak pernah melakukan apapun, bahkan ciuman pertamaku pun kau yang mengambilnya, kenapa bisa bertanya hal sebodoh itu, aku masih orisinal." ucap Nadin dan langsung berdiri meninggalkan Rendi yang masih duduk di tempatnya dengan rasa marah.


Rendi pun segera menyusul Nadin, Nadin sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menutupi tubuhnya dengan selimut, ia begitu kesal karena dengan suaminya itu.


"Kita belum selesai bicara!" ucap Rendi, tapi Nadin sepertinya benar-benar marah, ia tidak mempedulikan Rendi.


"Nadin!" Rendi mengeraskan suaranya, membuat Nadin terpaksa bangun kembali.


"Ada apa?"


"Dari mana kau tahu tentang benda itu?"


"Di sekolah juga ada pelajarannya, di gogel juga ada, nggak usah lah negatif tingking."


"Mana ada? Aku tidak pernah mendapatkannya!"


"Karena yang kau pikirkan saat itu cuma bagaimana mengamankan atasanmu saja, mana tahu pelajaran begituan!"


"Apa ucapan mu dapat di percaya?"


"Terserah!"


Nadin kembali tidur dan memunggungi Rendi, Rendi pun menyerah, ia memilih tidur di sampingnya, menatap punggung istri kecilnya itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘