MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Surat Bayam



Setelah pria itu menghilang, ia menatap bayam yang ada di


tangannya, bayam yang terikat oleh ikatan bamboo itu.


“Dasar pria yang aneh


…!Aku jadi merindukan dia …!” ucap Nadin sambil mendesah, seakan desahannya


bisa sedikit mengurangi rasa rindunya.


Tapi saat merabanya lagi, ia merasakan ada sesuatu yang


mengganjal dalam ikatan itu, ia sedikit mengangkat bayam itu agar bisa dengan


mudah melihatnya, ada sebuah kertas yang tergulung bersama ikatan bayam itu.


Apa ini …..


Nadin segera mengambil kertas itu dan menyembunyikan ke


dalam saku celananya. Ia sudah tidak sabar ingin membuka kertas itu, ia segera


meminta kembali.


Belum sampai gelap mereka sudah kembali ke dalam Villa,


Nadin segera membersihkan diri dan makan malam, kali ini ia tidak makan malam


bersama Alex, karena Alex hanya akan datang ke tempat itu tiga atau empat hari


sekali. Setidaknya hari ini Nadin bisa bernafas lega karena tidak bertemu


dengan pria arogan itu.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Nadin segera kembali


ke kamarnya. Ia teringat dengan kertas itu, kertas yang ada pada ikatan bayam


itu.


“Merry …!”


“Iya nona!” Merry pun segera mendekat pada Nadin yang sudah


sampai di tengah tangga.


“Malam ini aku ingin tidur lebih cepat, jadi tidak usah


datang ke kamarku!”


“Baik nona!”


Nadin sengaja mengatakan itu agar tidak ada yang


menggangunya, mungkin kertas itu petunjuk, dan mungkin pria itu adalah dia …


Setelah memastikan bahwa Merry tidak akan mengganggunya, ia


pun segera berlari dan masuk ke dalam kamarnya, ia mengunci kamarnya dari


dalam. Nadin mencari benda itu. Bayam beserta kertas itu.


“Bayam …, ada apa denganmu …, kenapa melihatmu membuatku


bersemangat …!” Nadin memegang bayam itu, dan mengajaknya berbicara seakan akan


bayam itu bisa menjawab semua pertanyaannya.


“Aku tidak suka sayur bayam …., tapi berbeda denganmu …,


entah kenapa aku suka!”


“Astaga kenapa aku malah berbicara dengan bayam ini, membuang waktuku saja, mana


kertas itu …!” Nadin pun kembali meletakkan bayam itu di depannya, ia mengambil


kertas yang sudah ia simpan tadi. Nadin membukanya dengan perlahan, dan di


dalamnya tertoreh tulisan yang indah.


Dear my little wife


Membaca sepenggal kata itu saja berhasil membuat Nadin


berjingkrak kegirangan, ia meloncat-loncat persis seperti anak-anak yang baru


mendapat mainan baru.


“Apa aku sedang bermimpi …., apa ini nyata, dia mencariku


sampai ke sini ….! Dia benar-benar menemukanku ....”


Nadin pun kembali duduk, dan membaca kata demi kata, kalimat


demi kalimat. Seakan setiap huruf yang tertoreh di kertas itu adalah nafas


baginya, oksigen yang sedang ia cari.


Dear my little wife


Jangan hanya bicara


pada bayam itu, kau ini …, kenapa suka sekali memaki sayuran. Kau harus banyak


makan bayam supaya nanti jika aku datang lagi dan mengajakmu lari dari benteng


itu, kau sudah jadi wanita yang kuat bukan lagi wanita cengeng, kau popeye ku…


Kau duniaku …, cepat


kembali sebelum aku mengamuk dan membakar istana itu seperti hanoman, aku hanya


ingin menjadi Rama bagimu …, dan kau sinta ku, walaupun dia seorang rahwana


yang memiliki banyak kekuasaan, tapi Rama mu ini tidak akan membiarkanmu


bersamanya.


Kau pusaran hidupku …,


jangan menangis untukku, kau kuat, biarkan senyummu tetap berada di sana dan


menghiasi wajahmu …


Besok temui aku di


tempat yang sama, aku merindukanmu


Suamimu …yang xxxxx


“Astaga …, dia menghapus kata cintanya, dalam tulisan pun dia tidak bisa mengatakan aku


mencintaimu …, dasar balok es …!”


Nadin mencium kertas itu seakan-akan ia mencium suaminya


yang begitu ia rindukan, air matanya meleleh juga akhirnya, mungkin cinta telah


membuatnya lemah, tapi cinta itu juga telah berhasil membuatnya menjadi wanita


kuat.


tak sabar menunggu besok …!”


🌺🌺🌺


Sebuah mobil memasuki halaman Villa, membuat beberapa anak buah Alex


tergagap-gagap menyambutnya, mereka mengenali siapa pemilik mobil itu.


“Selamat datang tuan!”


“Di mana Merry?” tanyanya saat turun dari mobil dan hendak


memasuki rumah, ia tak melihat Merry ikut menyambutnya di luar.


“Di dalam tuan, apa perlu saya panggilkan?”


“Tidak perlu …!”


Alex memasuki villa itu dan mendapati villa itu sepi, ia


mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang ingin ia lihat saat ini.


Dari arah yang berlawanan tampak Merry berjalan


tergopoh-gopoh menghampirinya, sepertinya ia menyadari kesalahannya karena


tidak menyadari kedatangan tuannya.


“Maaf tuan, saya tidak menyadari kedatangan tuan!”


“Di mana Nadin?” Tanya Alex tanpa menatap wanita paruh baya


yang ada di depannya itu.


“Nona Nadin, tadi berpamitan untuk tidur lebih cepat, tuan.”


“Kenapa?”


“Mungkin nona Nadin kecapekan, karena tadi kami berkeliling


kampung sambil menikmati pemandangan!”


“Apa ada yang dia temui?”


“Tidak ada Tuan, kecuali hanya petani bayam yang memberi


nona seikat bayam!”


Merry selalu melaporkan setiap detail yang di kerjakan


Nadin, tanpa mengurang atau menambah kecuali tentang curhatannya dan rencananya


untuk membantu Nadin kabur dari tempat itu.


“Pria?” tanya Alex lagi, Nadin bukan orang sini tapi ia di temui seorang pria.


“Iya tuan ….!” jawab Merry sambil menunduk, ia takut itu adalah sebuah kesalahan.


“Apa dia tampak mencurigakan?”


“Tidak tuan, dia petani biasa!”


Sepertinya Alex percaya dengan cerita Merry, ia memilih tidak bertanya lagi.


“Antara aku ke kamarnya!”


“Baik tuan!”


Sepertinya salah, Alex tidak percaya sepenuhnya dengan ucapan


Merry, kerena ia baru saja mendapat kabar jika Rendi sedang pergi ke luar kota


karena ada urusan bisnis, sungguh kebetulan yang mencurigakan.


Saat hendak membuka pintu kamar Nadin, ternyata kamar itu di


kunci dari dalam.


“Pintunya di kunci dari dalam tuan!”


“Dobrak pintunya!”


Akhirnya Merry meminta dua bodyguard dengan tubuh kekar


mendobrak pintu kamar Nadin. Setelah hitungan ke tiga.


Brakkkk


Nadin yang pura-pura tidur terkejut di buatnya, ia


terperanjat dari atas tempat tidur. Mendapati ada banyak orang di depan


kamarnya.


“Apa yang kalian lakukan, kalian sudah gila ya …., kenapa


kasar sekali?” Nadin berteriak-teriak memaki seakan tak terima dengan kelakuan


mereka.


“Pergilah kalian, tinggalkan kami berdua!” perintah Alex


pada anak buahnya.


Anak buah Alex pun pergi meninggalkan kamar Nadin, kini


tinggal Nadin dan Alex, Nadin sudah berjaga-jaga dengan mengambil sebuah vas


bunga yanga ada di atas nakas di samping tempat tidurnya.


“Berhenti di situ, awas ya …, kalau kau berani melangkah


satu langkah lagi, aku akan melempar Vas ini ke kepalamu!”


“Lempar saja …!” tantang Alex.


“Beneran aku lempar ya …!” nadin sudah berdiri di atas


tempat tidur bersiap untuk melayangkan vas bunga di tangannya.


“Iyo lempar …, kenapa diam? Nggak berani …!”


Prang …


Dengan cepat Alex berhasil menghindar vas itu melayang di udara,


hingga Vas itu mengenai dinding di belakang Alex.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy reading 😘😘😘😘😘