
Setelah pria itu menghilang, ia menatap bayam yang ada di
tangannya, bayam yang terikat oleh ikatan bamboo itu.
“Dasar pria yang aneh
…!Aku jadi merindukan dia …!” ucap Nadin sambil mendesah, seakan desahannya
bisa sedikit mengurangi rasa rindunya.
Tapi saat merabanya lagi, ia merasakan ada sesuatu yang
mengganjal dalam ikatan itu, ia sedikit mengangkat bayam itu agar bisa dengan
mudah melihatnya, ada sebuah kertas yang tergulung bersama ikatan bayam itu.
Apa ini …..
Nadin segera mengambil kertas itu dan menyembunyikan ke
dalam saku celananya. Ia sudah tidak sabar ingin membuka kertas itu, ia segera
meminta kembali.
Belum sampai gelap mereka sudah kembali ke dalam Villa,
Nadin segera membersihkan diri dan makan malam, kali ini ia tidak makan malam
bersama Alex, karena Alex hanya akan datang ke tempat itu tiga atau empat hari
sekali. Setidaknya hari ini Nadin bisa bernafas lega karena tidak bertemu
dengan pria arogan itu.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Nadin segera kembali
ke kamarnya. Ia teringat dengan kertas itu, kertas yang ada pada ikatan bayam
itu.
“Merry …!”
“Iya nona!” Merry pun segera mendekat pada Nadin yang sudah
sampai di tengah tangga.
“Malam ini aku ingin tidur lebih cepat, jadi tidak usah
datang ke kamarku!”
“Baik nona!”
Nadin sengaja mengatakan itu agar tidak ada yang
menggangunya, mungkin kertas itu petunjuk, dan mungkin pria itu adalah dia …
Setelah memastikan bahwa Merry tidak akan mengganggunya, ia
pun segera berlari dan masuk ke dalam kamarnya, ia mengunci kamarnya dari
dalam. Nadin mencari benda itu. Bayam beserta kertas itu.
“Bayam …, ada apa denganmu …, kenapa melihatmu membuatku
bersemangat …!” Nadin memegang bayam itu, dan mengajaknya berbicara seakan akan
bayam itu bisa menjawab semua pertanyaannya.
“Aku tidak suka sayur bayam …., tapi berbeda denganmu …,
entah kenapa aku suka!”
“Astaga kenapa aku malah berbicara dengan bayam ini, membuang waktuku saja, mana
kertas itu …!” Nadin pun kembali meletakkan bayam itu di depannya, ia mengambil
kertas yang sudah ia simpan tadi. Nadin membukanya dengan perlahan, dan di
dalamnya tertoreh tulisan yang indah.
Dear my little wife
Membaca sepenggal kata itu saja berhasil membuat Nadin
berjingkrak kegirangan, ia meloncat-loncat persis seperti anak-anak yang baru
mendapat mainan baru.
“Apa aku sedang bermimpi …., apa ini nyata, dia mencariku
sampai ke sini ….! Dia benar-benar menemukanku ....”
Nadin pun kembali duduk, dan membaca kata demi kata, kalimat
demi kalimat. Seakan setiap huruf yang tertoreh di kertas itu adalah nafas
baginya, oksigen yang sedang ia cari.
Dear my little wife
Jangan hanya bicara
pada bayam itu, kau ini …, kenapa suka sekali memaki sayuran. Kau harus banyak
makan bayam supaya nanti jika aku datang lagi dan mengajakmu lari dari benteng
itu, kau sudah jadi wanita yang kuat bukan lagi wanita cengeng, kau popeye ku…
Kau duniaku …, cepat
kembali sebelum aku mengamuk dan membakar istana itu seperti hanoman, aku hanya
ingin menjadi Rama bagimu …, dan kau sinta ku, walaupun dia seorang rahwana
yang memiliki banyak kekuasaan, tapi Rama mu ini tidak akan membiarkanmu
bersamanya.
Kau pusaran hidupku …,
jangan menangis untukku, kau kuat, biarkan senyummu tetap berada di sana dan
menghiasi wajahmu …
Besok temui aku di
tempat yang sama, aku merindukanmu
Suamimu …yang xxxxx
“Astaga …, dia menghapus kata cintanya, dalam tulisan pun dia tidak bisa mengatakan aku
mencintaimu …, dasar balok es …!”
Nadin mencium kertas itu seakan-akan ia mencium suaminya
yang begitu ia rindukan, air matanya meleleh juga akhirnya, mungkin cinta telah
membuatnya lemah, tapi cinta itu juga telah berhasil membuatnya menjadi wanita
kuat.
tak sabar menunggu besok …!”
🌺🌺🌺
Sebuah mobil memasuki halaman Villa, membuat beberapa anak buah Alex
tergagap-gagap menyambutnya, mereka mengenali siapa pemilik mobil itu.
“Selamat datang tuan!”
“Di mana Merry?” tanyanya saat turun dari mobil dan hendak
memasuki rumah, ia tak melihat Merry ikut menyambutnya di luar.
“Di dalam tuan, apa perlu saya panggilkan?”
“Tidak perlu …!”
Alex memasuki villa itu dan mendapati villa itu sepi, ia
mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang ingin ia lihat saat ini.
Dari arah yang berlawanan tampak Merry berjalan
tergopoh-gopoh menghampirinya, sepertinya ia menyadari kesalahannya karena
tidak menyadari kedatangan tuannya.
“Maaf tuan, saya tidak menyadari kedatangan tuan!”
“Di mana Nadin?” Tanya Alex tanpa menatap wanita paruh baya
yang ada di depannya itu.
“Nona Nadin, tadi berpamitan untuk tidur lebih cepat, tuan.”
“Kenapa?”
“Mungkin nona Nadin kecapekan, karena tadi kami berkeliling
kampung sambil menikmati pemandangan!”
“Apa ada yang dia temui?”
“Tidak ada Tuan, kecuali hanya petani bayam yang memberi
nona seikat bayam!”
Merry selalu melaporkan setiap detail yang di kerjakan
Nadin, tanpa mengurang atau menambah kecuali tentang curhatannya dan rencananya
untuk membantu Nadin kabur dari tempat itu.
“Pria?” tanya Alex lagi, Nadin bukan orang sini tapi ia di temui seorang pria.
“Iya tuan ….!” jawab Merry sambil menunduk, ia takut itu adalah sebuah kesalahan.
“Apa dia tampak mencurigakan?”
“Tidak tuan, dia petani biasa!”
Sepertinya Alex percaya dengan cerita Merry, ia memilih tidak bertanya lagi.
“Antara aku ke kamarnya!”
“Baik tuan!”
Sepertinya salah, Alex tidak percaya sepenuhnya dengan ucapan
Merry, kerena ia baru saja mendapat kabar jika Rendi sedang pergi ke luar kota
karena ada urusan bisnis, sungguh kebetulan yang mencurigakan.
Saat hendak membuka pintu kamar Nadin, ternyata kamar itu di
kunci dari dalam.
“Pintunya di kunci dari dalam tuan!”
“Dobrak pintunya!”
Akhirnya Merry meminta dua bodyguard dengan tubuh kekar
mendobrak pintu kamar Nadin. Setelah hitungan ke tiga.
Brakkkk
Nadin yang pura-pura tidur terkejut di buatnya, ia
terperanjat dari atas tempat tidur. Mendapati ada banyak orang di depan
kamarnya.
“Apa yang kalian lakukan, kalian sudah gila ya …., kenapa
kasar sekali?” Nadin berteriak-teriak memaki seakan tak terima dengan kelakuan
mereka.
“Pergilah kalian, tinggalkan kami berdua!” perintah Alex
pada anak buahnya.
Anak buah Alex pun pergi meninggalkan kamar Nadin, kini
tinggal Nadin dan Alex, Nadin sudah berjaga-jaga dengan mengambil sebuah vas
bunga yanga ada di atas nakas di samping tempat tidurnya.
“Berhenti di situ, awas ya …, kalau kau berani melangkah
satu langkah lagi, aku akan melempar Vas ini ke kepalamu!”
“Lempar saja …!” tantang Alex.
“Beneran aku lempar ya …!” nadin sudah berdiri di atas
tempat tidur bersiap untuk melayangkan vas bunga di tangannya.
“Iyo lempar …, kenapa diam? Nggak berani …!”
Prang …
Dengan cepat Alex berhasil menghindar vas itu melayang di udara,
hingga Vas itu mengenai dinding di belakang Alex.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy reading 😘😘😘😘😘