MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kenapa jadi serba salah



Setelah menghadiri pernikahan Alex dan Aisyah, Rendi dan Nadin menghabiskan liburannya di Surabaya selama tiga hari.


Rendi mengajak baby El dan Nadin jalan-jalan keliling kota Surabaya.


“Bisakah kita lebih lama lagi di sini, mas?” tanya Nadin, ia masih enggan untuk kembali ke Jakarta, apalagi nanti saat sampai di Jakarta Rendi akan sibuk lagi dengan pekerjaannya.


“Tentu saja sayang …!” Rendi memang tak bisa menolak permintaan istrinya itu, wajah dinginnya itu akan segera berubah saat sampai di rumah, ia menjadi pria yang hangat dan penuh cinta saat di rumah.


Rendi selalu saja menempel di tubuh Nadin, ia


benar-benar tidak bisa jauh dari istrinya itu, waktu liburnya ia gunakan sebaik


mungkin.


Apalagi selama di Surabaya baby El lebih sering bersama Aisyah. gadis


berhijab itu selalu saja menjemput baby El bersama Alex ke penginapannya.


"Sebenarnya dia itu pengantin baru apa baby sitter baru sih ....!" keluh Rendi saat Aisyah dan Alex sudah meninggalkan penginapan mereka.


"Biar lah mas ...., Aisyah pasti sangat merindukan baby El, jadi nggak usah protes gitu!"


Rendi pun segera mendekati istrinya dan memeluknya, menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Nadin, menikmati harum tubuh istrinya.


“Mas …., jangan seperti ini, aku rasanya mau


muntah!”


“Kenapa? Apa kau sakit?” tanya Rendi heran, padahal ia baru saja mandi, belum sampai satu jam.


“Enggak …, tapi nggak tahu kenapa setiap kali dekat denganmu, perutku mual!”


“Apa aku bau?” Tanya Rendi sambil menciumi bau badannya sendiri.


“Aku harum …, aku sudah mandi!” ucap Rendi lagi saat memastikan jika tubuhnya tidak bau.


Nadin akan merasa mual setiap kali mencium bau tubuh suaminya, tapi sebelum ini dia selalu saja ingin dekat dengan suaminya itu.


Tapi sekarang berubah lagi. Mood nya juga sering naik turun, kadang baik-baik


saja kadang tiba-tiba merasa sedih.


“Biar aku mandi lagi ya!” ucap Rendi.


“Iya deh …, kayaknya mas Rendi harus mandi lagi!”


Akhirnya mau tak mau Rendi pun kembali mandi, entah ini sudah yang ke berapa ia mandi. Jalan-jalannya hari ini menjadi tertunda,


apa lagi nadin lebih suka menghabiskan waktunya berbaring di atas tempat tidur


seharian.


Rendi sudah kembali dari kamar mandi dengan tubuh yang masih basah. Ia segera mendekati istrinya lagi, tapi tangan Nadin sudah


langsung menahannya.


“Ada apa lagi sayang?”


“Jangan dekat dulu!”


“Astaga …, aku harus mandi berapa kali lagi.


Sepertinya kau sedang tidak enak badan!”


“Tidak …, aku hanya tidak ingin melakukan apapun!”


“Baiklah …, terserah kau saja!”


Rendi menyerah, ia memilih untuk duduk di sofa dan membaca buku dan sesekali memperhatikan istrinya yang sedari pagi terus tidur.


Jika siang hari dia menolak ku tapi kalau malam hari dia tidak mau jauh dariku …,


sungguh aneh …, apa perlu aku bertanya pada Frans tentang semua ini …


Rendi pun meletakkan bukunya. Ia mengambil ponselnya yang sedari tadi ia biarkan mati. Ia sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada


yang mengganggu liburan mereka.


Setelah menyalakan kembali ponselnya. Ia


melihat banyak panggilan masuk dan hanya dari satu orang saja.


“Frans …, ada apa?”


Panjang umur banget sih anak ini, saat aku butuh ternyata dia juga menghubungiku ....


Rendi pun segera melakukan panggilan pada dr. Frans. Dr. Frans tidak pernah melakukan panggilan sebanyak itu jika tidak ada yang


sangat penting. Hanya dalam deringan pertama, panggilannya langsung tersambung.


“Hallo …!”


“Hallo, ada apa?”


“Gue butuh lo!”


“Tumben!”


“Ini urgent …., beneran!”


“Ada apa sih?”


“Gue besok mau nikah!”


“Hah nikah?” Rendi benar-benar di buat terkejut.


“Iya …, gue mau lo jadi wali gue, lo tahu sendiri


kan gue nggak punya siapa siapa selain lo sama Agra!”


‘Iya …, tapi kok mendadak banget kenapa? Apa jangan-jangan lo …!”


“Hust …, jangan gila loh …., nggak mungkin lah gue nglakuin itu!”


“Lalu …?”


“Ceritanya panjang, ntar kalau kita ketemu gue


ceritakan. Yang jelas besok lo temani gue, tapi nggak usah bawa mobil, dan pakaian lo jangan pakai jas, pakek baju batik aja, nggak usah rapi-rapi ...., jangan pakek sepatu bagus!”


“Bisa nggak nggak usah banyak nanya, sudah gue bilang ceritanya panjang. Agra juga bakal datang. Jadi ntar yang datang kaian


berdua saja, nnggak usah bawa Nadin!”


“Aneh banget lo …!”


“Sudah, gue tunggu besok!”


Sambungan telpoin pun terputrus, Nadin yang sedari tadi tidak sengaja ,memdengarkan pembicaraansuaminya dengan sahabatnya itu


begitu penasaran.


“Mas Rendi!”


“Iya?”


“Dokter Frans kenapa?”


“Kita harus segera pulang nggak pa pa kan?”


“Kenapa?”


“Frans besok nikah!”


“Nikah? Sama siapa?”


“Nggak tahu, dia nggak ngomong! Dia juga Cuma minta aku yang datang dan nggak boleh bawa mobil lagi!”


“Ya udah lah mas, nggak pa pa. lalu Elan bagaimana?”


“Biar aku saja yang jemput, kamu istirahat saja!”


Rendi pun segera menjemput baby EL di rumah Alex. Setelah kembali dari rumah Alex mereka pun segera berangkat ke Jakarta.


Karena kabar dari dr. Frans membuat Rendi lupa apa tujuannya menelpon dr. Frans.


Hingga sampai di Jakarta pun Nadin masih sama, ia malah sering mual.


“Sebenarnya kamu kenapa sih sayang?”


“Apa aku nganu ya mas?”


“Nganu kenapa?”


“Saat dulu awal-awal ada baby El aku juga ngalami seperti ini!”


“Maksudnya kamus edang hamil?” Tanya Rendi begitu semangat.


“Mungkin …! Tapi mas Elan masih berusia lima bulan, bagaimana nanti kalau aku benar-benar hamil?”


“Memangnya kenapa? Nggak ada yang salah kan. Jangan khawatir kali ini aku kan menjaga kalian dengan sangat baik!”


“Aku percaya mas!”


“Ya udah kalau gitu biar aku beli tes peck ya. Kamu tunggu di sini jangan kemana-mana, biar Elan sama bibi!”


Rendi meninggalakan Nadin di kamar, ia begitu


semangat saat nadin mengfatakan mungkin dia sedang hamil. Menjadi kebahagiaan


tersendiri baginya saat bisa mengetahui jika istrinya sedang hamil, dulu saat


hamil elan ia tidak bisa menjaga istrinya.


Setelah setengah jam, rendi kembali lagi dengan membawa satu kantong plastik tes peck dengan berbagai merk.


“Mas banyak banget!”


“Biar akurat sayang, ayo cepetan di coba ya, biar aku antar ke kamar mandi ya!”


“Nggak usah mas, biar aku saja sendiri!”


“Aku temenin ya!”


“Nggak mau!”


Nadin pun segera menutup pintu kamar mandi. Rendi sudah mondar-mandir di depan kamar mandi. Ia benar-benar tidak sabar menunggu


hasil tes nya.


Ceklek


Nadin membuka pintu kamar mandi.


“bagaiamana?”


Nadin masih menyembunyikan tes peck itu di balik punggungnya.


“Ayolah sayang …!”


“Baiklah …, baiklah …, nih!” Nadin menyertahkan tes peck itu. Rendi memperhatikan dengan seksama tes peck itu.


“Ini artinya apa?” Tanya Rendi lagi pada Nadin.


“Kan sudah lihat sendiri!”


“Artinya dua garis merah?”


“Mas Rendi nggak tahu itu artinya apa?”


“Enggak!”


“Ya udah lah mas, besok mas Rendi kan ketemu sama dokter Frans, jadi Tanya dia aja!”


“mana bisa, aku sudah nggak sabar!”


“tunggu sampai besok!” ucap Nadin sambil berlalu meninggalkannya. Ia sengaja membuat Rendi penasaran.


Bersambung


jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘