
“Aku akan menghadang orang-orang itu, segeralah berlari dan
melompati pagar itu, jangan pernah melihat ke belakang lagi, mengerti ….!” ucap
Rendi, ia memegang tangan Nadin meyakinkan Nadin, tapi Nadin tetap
menggelengkan kepalanya.ia tidak mungkin meninggalkan suaminya saat suaminya
sedang berjuang sendirian tanpa anak buahnya, ia tidak tahu jika anak buah
Rendi sudah bersiap di luar, tinggal menunggu aba aba dari Rendi untuk masuk.
“Itu tidak mungkin, kita lari bersama!” ucap Nadin tak mau
melepaskan tangan Rendi. Ia semakin mengeratkan genggamannya, begitu takut
jika Rendi benar-benar pergi.
“Jangan membuatku sulit, lari lah selagi masih bisa!” Rendi
menajamkan matanya, mengatakan jika ucapannya tidak oleh di tolak.
“Enggak …!” jawab Nadin dengan penuh penekanan, Nadin
menolaknya dengan tegas. “Jika aku selamat, kau juga harus selamat!”
“Jangan keras kepala!” ucap Rendi, Rendi berdecak, kemudian
dia menakup wajah Nadin menatapnya dengan penuh cinta, “jangan keras kepala …!”
Di saat Rendi sedang sibuk meyakinkan Nadin, Alex sudah
keluar dari dalam Villa itu, ia memeriksa seluruh ruangan di dalam Villa,
wajahnya begitu murka diukuti oleh seluruh anak buahnya ia mengepung tempat
itu, hanya tepat di mana Nadin dan Rendi bersembunyi yang belum ia periksa dan
ia yakin jika mereka belum keluar gerbang.
“Rendi …, keluar lo …, jangan jadi pengecut lo …, keluar!”
teriak Alex. “Gue tahu lo di sini ….!”
Rendi merasa
terbakar, ia tidak terima di katakan sebagai pengecut seandainya saja ia
sendiri tanpa Nadin, ia kan dengan berani menantang pria arogan itu. Ia hendak
keluar dari tempatnya bersembunyi, tapi Nadin menahan tangannya, Rendi menoleh
kearah Nadin.
“Jangan!” ucap Nadin tanpa mengeluarkan suara, hanya
mulutnya yang bergerak, ia menggelengkan kepalanya. Nadin dengan wajah penuh
harap, bukannya apa tapi melawan anak buah Alex sebanyak itu dengan Rendi
seorang diri, membuat Nadin takut.
Rendi menarik tubuh Nadin ke dalam pelukannya, mengusap
punggung Nadin dan berbisik.
“Lari lah …!”
Rendi melepaskan pelukan Nadin, ia segera berdiri dan benar-benar
keluar dari persembunyiannya, ia berdiri di depan tubuh Nadin sebagai tameng
untuk Nadin.
“Urusanmu hanya denganku …, jadi lepaskan istriku …!” teriak
Rendi.
Ha ha ha ha
Alex tertawa dengan congkaknya, Nadin dan Rendi sudah di
kelilingi oleh anak buah Alex. Rendi memasang kuda-kuda bersiap untuk
mempertahankan diri.
“Tidak semudah itu …, dia tawanan gue, tak seharusnya lo
mengambilnya!” ucap Alex sambil mendekati Nadin dan Rendi, ia mengitari tubuh
Nadin, memegang dagu Nadin dan menariknya hingga membuat dagu Nadin terangkat.
Rendi segera menepis tangan Alex.
“Wow …Wow …wow …., galak sekali singa ini …!” Alex berbalik,
ia memberi aba-aba pada anak buahnya untuk menyerang Rendi dengan menggunakan
tangannya.
“Setelah hitungan ke tiga, lari lah ke tepi!” Nadin pun
mengangguk. “Satu, dua, tiga …!” dengan cepat Rendi mendorong tubuh Nadin dan
menangkis serangan anak buah Alex. Satu
lawan banyak, awalnya Rendi masih bisa terus bertahan tapi ia cukup kualahan.
Sedangkan Nadin sudah berdiri di tepian, butuh beberapa
meter untuk sampai di pintu gerbang, ia hanya bisa terpaku menatap Rendi yang
beberapa kali terkena hantaman, tapi luar biasanya pria dingin itu tak
terkalahkan.
Nadin sibuk memperhatikan Rendi tapi dia lupa dengan apa
yang di katakan Rendi, seharusnya sekarang ia berlari ke gerbang dan
yang berada di luar masuk untuk membatu.
Untung saja anak buah Rendi sudah sangat terlatih, mereka
mempunyai seribu satu macam cara dan strategi, jika satu strategi tidak
berhasil maka mereka akan menggunakan strategi cadangan.
Anak buah Rendi datang dengan melompati pagar pembatas yang
cukup tinggi itu, mereka membatu Rendi melawan anak buah Alex.
Karena di rasa anak buahnya akan kalah telak dengan anak
buah Rendi, Alex mendekat kearah Nadin, ia mengacungkan pistolnya kearah Nadin,
membuat Nadin tercengang. Ia bingung harus berbuat apa.
“Diam di tempatmu, atau peluru ini akan segera menembus
tubuhnya!” teriak Alex saat menodongkan pestol itu kearah Nadin.
Rendi yang melihat Alex menodongkan pestol nya pada Nadin
segera menghentikan aksinya. “alex ….! Apa yang kau lakukan?” teriak Rendi,
Merry pun ikut terkejut, ia tidak menyangka dengan apa yang di lakukan tuannya
itu.
“Tuan …., apa yang tuan lakukan?!” ucap Merry memperingatkan tuannya.
“Alex singkirkan benda itu darinya ….!” Teriak Rendi lagi
sambil mengulurkan tangannya seolah-olah tangannya mampu menjangkau tangan
Alex.
Alex hanya tersenyum, seolah dia rela melakukan apapun demi
dapat balas dendam, bahkan jika harus menyakiti wanita yang tak ada hubungan
apapun dengan kesalahan masa lalu.
“Aku ingin tahu bagaimana jadinya dirimu tanpa wanita ini,
kau akan merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan selama ini…,
sebenarnya bukan ini rencanaku, tapi karena kau sudah bertindak lancang, maka
aku akan merubah keputusanku. Awalnya aku ingin merebutnya dari mu, tapi mungkin jika aku menghabisinya akan lebih menyenangkan ....”
Rendi mendekat perlahan kearah Nadin, sedang Nadin masih
terpaku di tempatnya.
“Alex …., kau salah jika menyalahkan suamiku atas
meninggalnya tunangan mu …., dia memang salah tapi kau juga salah …, kau juga
salah karena tidak memberi kebebasan pada tunanganmu …, tunangan mu juga salah
karena mencintai di waktu yang salah …!” ucap Nadin mencoba membujuk Alex.
“Diam kau …., kau tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku ….!”
“Tapi aku tahu bagaimana rasanya jadi tunanganmu …, aku
mengalami hal yang sama, aku pernah di tolak dan aku memperjuangkannya! Tapi
sayang …, dia begitu lemah …! Jika dia benar-benar cinta seharusnya dia
berusaha lebih keras lagi, bukannya memilih untuk mengakhiri hidupnya!
Sebenarnya aku kasihan padamu …, bukannya move on, kau malah terus berada
dalam bayang-bayang tunanganmu yang jelas-jelas tidak pantas untukmu … ”
kecerewetan Nadin kembali, membuat pendirian Alex sedikit demi sedikit goyah.
Setidaknya Alex membenarkan apa yang di katakana oleh Nadin, ia terlalu bodoh
karena larut dalam cinta yang semu dan dendam yang tak berkesudahan membuatnya
melupakan banyak hal, bahkan cinta ayahnya untuknya.
“Banyak wanita baik di luar sana yang siap menerimamu apa
adanya, bahkan siap menopang mu saat kau rapuh dan terluka, bukan orang yang
lari darimu saat ada yang lebih baik dari dirimu ….!”
Alex menurunkan pestol nya, ia menjatuhkan tubuhnya di tanah,
ia bersimpuh, menangis, meratapi kesedihannya. Nadin segera mendekati Alex dan
meminjamkan bahunya untuk Alex.
“Menangislah sepuasnya …, setelah ini bangkitlah kembali
menjadi Alex yang baru tanpa Hanna …!” ucap Nadin, ia tidak tahu bagaimana Rendi
sudah mengepalkan tangannya menahan amarah. Hampir saja Rendi mendekati mereka
dan menarik Nadin agar menjauh dari Alex, tapi Merry segera mencegahnya, ia
menakupkan kedua tangannya memohon pada Rendi agar tidak melakukan hal itu.
~Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘😘