MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Cerewet yang bermanfaat



“Aku akan menghadang orang-orang itu, segeralah berlari dan


melompati pagar itu, jangan pernah melihat ke belakang lagi, mengerti ….!” ucap


Rendi, ia memegang tangan Nadin meyakinkan Nadin, tapi Nadin tetap


menggelengkan kepalanya.ia tidak mungkin meninggalkan suaminya saat suaminya


sedang berjuang sendirian tanpa anak buahnya, ia tidak tahu jika anak buah


Rendi sudah bersiap di luar, tinggal menunggu aba aba dari Rendi untuk masuk.


“Itu tidak mungkin, kita lari bersama!” ucap Nadin tak mau


melepaskan tangan Rendi. Ia semakin mengeratkan genggamannya, begitu takut


jika Rendi benar-benar pergi.


“Jangan membuatku sulit, lari lah selagi masih bisa!” Rendi


menajamkan matanya, mengatakan jika ucapannya tidak  oleh di tolak.


“Enggak …!” jawab Nadin dengan penuh penekanan, Nadin


menolaknya dengan tegas. “Jika aku selamat, kau juga harus selamat!”


“Jangan keras kepala!” ucap Rendi, Rendi berdecak, kemudian


dia menakup wajah Nadin menatapnya dengan penuh cinta, “jangan keras kepala …!”


Di saat Rendi sedang sibuk meyakinkan Nadin, Alex sudah


keluar dari dalam Villa itu, ia memeriksa seluruh ruangan di dalam Villa,


wajahnya begitu murka diukuti oleh seluruh anak buahnya ia mengepung tempat


itu, hanya tepat di mana Nadin dan Rendi bersembunyi yang belum ia periksa dan


ia yakin jika mereka belum keluar gerbang.


“Rendi …, keluar lo …, jangan jadi pengecut lo …, keluar!”


teriak Alex. “Gue tahu lo di sini ….!”


Rendi  merasa


terbakar, ia tidak terima di katakan sebagai pengecut seandainya saja ia


sendiri tanpa Nadin, ia kan dengan berani menantang pria arogan itu. Ia hendak


keluar dari tempatnya bersembunyi, tapi Nadin menahan tangannya, Rendi menoleh


kearah Nadin.


“Jangan!” ucap Nadin tanpa mengeluarkan suara, hanya


mulutnya yang bergerak, ia menggelengkan kepalanya. Nadin dengan wajah penuh


harap, bukannya apa tapi melawan anak buah Alex sebanyak itu dengan Rendi


seorang diri, membuat Nadin takut.


Rendi menarik tubuh Nadin ke dalam pelukannya, mengusap


punggung Nadin dan berbisik.


 “Lari lah …!”


Rendi melepaskan pelukan Nadin, ia segera berdiri dan benar-benar


keluar dari persembunyiannya, ia berdiri di depan tubuh Nadin sebagai tameng


untuk Nadin.


“Urusanmu hanya denganku …, jadi lepaskan istriku …!” teriak


Rendi.


Ha ha ha ha


Alex tertawa dengan congkaknya, Nadin dan Rendi sudah di


kelilingi oleh anak buah Alex. Rendi memasang kuda-kuda bersiap untuk


mempertahankan diri.


“Tidak semudah itu …, dia tawanan gue, tak seharusnya lo


mengambilnya!” ucap Alex sambil mendekati Nadin dan Rendi, ia mengitari tubuh


Nadin, memegang dagu Nadin dan menariknya hingga membuat dagu Nadin terangkat.


Rendi segera menepis tangan Alex.


“Wow …Wow …wow …., galak sekali singa ini …!” Alex berbalik,


ia memberi aba-aba pada anak buahnya untuk menyerang Rendi dengan menggunakan


tangannya.


“Setelah hitungan ke tiga, lari lah ke tepi!” Nadin pun


mengangguk. “Satu, dua, tiga …!” dengan cepat Rendi mendorong tubuh Nadin dan


menangkis serangan  anak buah Alex. Satu


lawan banyak, awalnya Rendi masih bisa terus bertahan tapi ia cukup kualahan.


Sedangkan Nadin sudah berdiri di tepian, butuh beberapa


meter untuk sampai di pintu gerbang, ia hanya bisa terpaku menatap Rendi yang


beberapa kali terkena hantaman, tapi luar biasanya pria dingin itu tak


terkalahkan.


Nadin sibuk memperhatikan Rendi tapi dia lupa dengan apa


yang di katakan Rendi, seharusnya sekarang ia berlari ke gerbang dan


yang berada di luar masuk untuk membatu.


Untung saja anak buah Rendi sudah sangat terlatih, mereka


mempunyai seribu satu macam cara dan strategi, jika satu strategi tidak


berhasil maka mereka akan menggunakan strategi cadangan.


Anak buah Rendi datang dengan melompati pagar pembatas yang


cukup tinggi itu, mereka membatu Rendi melawan anak buah Alex.


Karena di rasa anak buahnya akan kalah telak dengan anak


buah Rendi, Alex mendekat kearah Nadin, ia mengacungkan pistolnya kearah Nadin,


membuat Nadin tercengang. Ia bingung harus berbuat apa.


“Diam di tempatmu, atau peluru ini akan segera menembus


tubuhnya!” teriak Alex saat menodongkan pestol itu kearah Nadin.


Rendi yang melihat Alex menodongkan pestol nya pada Nadin


segera menghentikan aksinya. “alex ….! Apa yang kau lakukan?” teriak Rendi,


Merry pun ikut terkejut, ia tidak menyangka dengan apa yang di lakukan tuannya


itu.


“Tuan …., apa yang tuan lakukan?!” ucap Merry memperingatkan tuannya.


“Alex singkirkan benda itu darinya ….!” Teriak Rendi lagi


sambil mengulurkan tangannya seolah-olah tangannya mampu menjangkau tangan


Alex.


Alex hanya tersenyum, seolah dia rela melakukan apapun demi


dapat balas dendam, bahkan jika harus menyakiti wanita yang tak ada hubungan


apapun dengan kesalahan masa lalu.


“Aku ingin tahu bagaimana jadinya dirimu tanpa wanita ini,


kau akan merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan selama ini…,


sebenarnya bukan ini rencanaku, tapi karena kau sudah bertindak lancang, maka


aku akan merubah keputusanku. Awalnya aku ingin merebutnya dari mu, tapi mungkin jika aku menghabisinya akan lebih menyenangkan ....”


Rendi mendekat perlahan kearah Nadin, sedang Nadin masih


terpaku di tempatnya.


“Alex …., kau salah jika menyalahkan suamiku atas


meninggalnya tunangan mu …., dia memang salah tapi kau juga salah …, kau juga


salah karena tidak memberi kebebasan pada tunanganmu …, tunangan mu juga salah


karena mencintai di waktu yang salah …!” ucap Nadin mencoba membujuk Alex.


“Diam kau …., kau tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku ….!”


“Tapi aku tahu bagaimana rasanya jadi tunanganmu …, aku


mengalami hal yang sama, aku pernah di tolak dan aku memperjuangkannya! Tapi


sayang …, dia begitu lemah …! Jika dia benar-benar cinta seharusnya dia


berusaha lebih keras lagi, bukannya memilih untuk mengakhiri hidupnya!


Sebenarnya aku kasihan padamu …, bukannya move on, kau malah terus berada


dalam bayang-bayang tunanganmu yang jelas-jelas tidak pantas untukmu … ”


kecerewetan Nadin kembali, membuat pendirian Alex sedikit demi sedikit goyah.


Setidaknya Alex membenarkan apa yang di katakana oleh Nadin, ia terlalu bodoh


karena larut dalam cinta yang semu dan dendam yang tak berkesudahan membuatnya


melupakan banyak hal, bahkan cinta ayahnya untuknya.


“Banyak wanita baik di luar sana yang siap menerimamu apa


adanya, bahkan siap menopang mu saat kau rapuh dan terluka, bukan orang yang


lari darimu saat ada yang lebih baik dari dirimu ….!”


Alex menurunkan pestol nya, ia menjatuhkan tubuhnya di tanah,


ia bersimpuh, menangis, meratapi kesedihannya. Nadin segera mendekati Alex dan


meminjamkan bahunya untuk Alex.


“Menangislah sepuasnya …, setelah ini bangkitlah kembali


menjadi Alex yang baru tanpa Hanna …!” ucap Nadin, ia tidak tahu bagaimana Rendi


sudah mengepalkan tangannya menahan amarah. Hampir saja Rendi mendekati mereka


dan menarik Nadin agar menjauh dari Alex, tapi Merry segera mencegahnya, ia


menakupkan kedua tangannya memohon pada Rendi agar tidak melakukan hal itu.


~Bersambung


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘😘