MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 42 (Dini)



Kini di ruangan itu tinggal Dini dan kedua orang tuanya. Dini hanya bisa diam dan memastikan jika kedua orang tuanya tidak akan marah lagi.


"Ma ...., pa ...., boleh nggak sekarang Dini istirahat?" tanya Dini setelah suasana menjadi hening.


"hemmm!" jawab papa nya tanpa menatap Dini.


Marah nih papa ....., ya udah deh dari pada mati bediri di sini mending ke kamar aja deh ....


"Permisi ma ...., pa ....!"


Dini pun segera meninggalkan ruangan itu dan menuju ke kamarnya.


Untuk pertama kali setelah sekian lama akhirnya ia harus berada di kamar itu lagi. Kamarnya masih sama persis seperti waktu dia SMA.


Dini segera merebahkan tubuhnya, ia terlalu lelah hari ini pengen banget langsung tidur dan bangun-bangun semua masalahnya hilang aja.


"Ada Ajun dan ada mas Juna ...., kenapa sekarang jadi kayak gini? Sebenarnya apa maksudnya Ajun? Apa bener dia suka sama aku? Lalu kenapa dia selalu nolak aku dulu .....?"


Dini terus menatap langit-langit kamarnya, mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaan itu. Ia kembali mengingat hari-hari mereka selama satu minggu ini.


"Ajun baik ...., tapi mas Juna lebih baik! Tapi kenapa berat di Ajun? Tapi mama sama papa kayaknya suka sama mas Juna!"


Dini kembali duduk dan menjadikan bantal sebagai sandara dagunya. Ia hari ini benar-benar berasa putri raja yang kena razia.


"Dulu aja aku pengen kayak Nadin, di kerubuti banyak cowok tampan plus mapan. Eh sekarang pas giliran aku jadi puyeng banget, mau milih salah satu sayang banget ngelepasin yang lainnya!"


"Ihhhhhhh ......!" Dini begitu gemas hingga menjadikan bantal itu sebagai sasaran pukulan tangannya.


"Ajun .....!" pekik Dini saat mengingat keadaan Ajun. Ia membiarkan Ajun pulang sendiri padahal tangannya sedang sakit. Dini pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke jendela memastikan sesuatu.


"Ahhhhhh .....!" Dini menghembuskan nafas lega, "Mobilnya masih di sini, berarti dia di jemput!"


Dini segera mengambil ponselnya yang ada di tas, ia mengirimkan pesan pada pria kardus itu.


📲Kardus!!!!!


Tak berapa lama centang dua itu warna biru juga.


ting


Ada pesan balasan.


📲Apa?


"Eh dia langsung balas ternyata!" Dini begitu senang ternyata pria kardus itu merespon pesannya. Dini segera duduk di kursi berbentuk setengah lingkaran itu dan kembali mengirimkan pesannya.


📲Aku butuh penjelasan ya dari mu, jangan coba-coba lari dari tanggung jawab


Cukup lama Dini menunggu, pria kardus itu tidak juga membalas pesannya walaupun sudah di baca.


Lama ...., lama...., dan akhirnya


ting


Dini dengan cepat membaca pesan WhatsApp itu.


📲 Jelas yang mana? Aku cinta kamu❤️❤️❤️❤️😂😂😂😂😂😂


"Apaan nih maksudnya, abis gambar hati kenapa tertawa kayak gini? Nggak beres nih orang!"


Dini sudah tidak sabar lagi, ia pun mengubah dari pesan menjadi video call.


"Apa?" tanya Ajun saat wajahnya sudah memenuhi layar.


"Apa maksudnya kirim pesan kayak gitu?"


"Menurutmu?"


"Jangan bilang kalau kamu main-main sama ucapan mu tadi ya!"


"Baper?" tanya Ajun kemudian ia melanjutkan lagi, "Nggak usah baper aku tuh cuma mau nyelametin kamu dari perjodohan itu jadi kamu punya hutang banyak sama aku. Dan ingat hutang kamu belum lunas jadi tetap datang ke sini setiap hari!"


Dini hanya bisa terdiam, ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Ia benar-benar salah jika berharap pria kardus itu bakal punya hati.


"Terserah ....!"


Dini segera mematikan sambungan video call nya. Ia benar-benar menyesal terlalu berharap banyak pada pria kardus itu.


"Iiihhhhhhhh ......, dasar kardus ....! Kenapa aku bisa kejebak sih dalam permainanmu, seharusnya aku udah tahu kalau mas Juna jauh lebih baik!"


***


Ia mencintai gadis itu, ia takut kehilangan gadis itu. Takut jika gadis itu akan menjadi milik orang lain.


"Kenapa juga ngomong gitu? Dia pasti marah banget sama aku!"


Ajun menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia tidak pernah menyangka akan masuk dalam dunia percintaan yang rumit seperti ini. Dulu ia kira tidak akan pernah jatuh cinta, tapi kehadiran Dini merubah segalanya.


"Apa aku bisa bersaing dengan pria itu? Apa aku siap menempatkan Dini di tempat yang begitu sulit, hidupku penuh resiko! Banyak sekali orang yang mengincar ku di luar sana!"


***


Pagi ini Dini sudah bersiap-siap hendak berangkat ke kafe. Mama dan papa nya sudah berangkat lebih dulu.


"Bi aku berangkat dulu ya, nanti tolong bilang sama mama sama papa kalau Dini pulang ke rumah!"


"Baik mbak, tapi di luar sudah ada yang nungguin mbak Rini dari tadi?"


"Siapa bi?"


"Yang kemarin ke sini!"


"Ajun!" pekik Dini, ia segera menyambar tasnya dan berlari keluar rumah,"Aku berangkat bi!"


Langkahnya terhenti di depan pintu, seorang pria berdiri membelakanginya. Ia begitu kenal dengan pria itu.


"Mas Juna!?"


Pria tinggi itu segera membalik badannya dan tersenyum, "Selamat pagi Din!"


Bodoh banget aku kenapa juga masih mikir kalau itu Ajun ....


"Mas Juna sudah lama?"


"Belum, baru satu jam yang lalu!"


"Itu mah lama mas!" ucap Dini sambil tersenyum, "Mas Juna ngapain ke sini?"


"Mau jemput calon istri dong!"


"Mas Juna ini ada-ada aja! Tapi mas aku bawa mobil, soalnya itu mobil temen nggak mungkin aku tinggal di sini!"


"Mobil Ajun kan?"


"Mas Juna kok tahu sih ....?" tanya Dini terkejut. Tapi Juna hanya tersenyum.


"Nggak pa pa, mobilnya biar temennya mas yang bawa ke kafe. Kamu aku bonceng pakek sepeda motor mau?" tanya Juna dan Dini pun mengangguk senang.


Juna memakaikan helm pada Dini dan dia pun segera naik ke atas motor.


"Ayo naik!" Ajak Juna saat ia sudah siap. Dini pun segera naik ke atas motor dan motor itu segera melaju.


"Pegangan ya ...!" ucap Juna saat sudah keluar dari perumahan tempat tinggal orang tua Dini. Dini pun melakukan apa yang di perintahkan Juna. Ia melingkarkan tangannya di perut six pack tentara muda itu.


"Mas ....!" tanya Dini.


"Apa?"


mereka berbicara sedikit berteriak karena suara mereka bercampur dengan angin jalanan jika tidak sambil berteriak-teriak, suaranya tidak akan kedengaran.


"Mas kenapa nggak pergi saat tahu aku sudah tinggal satu rumah dengan pria lain?"


"Karena aku percaya sama kamu!"


Deg


ucapan pria itu berhasil membuat dadanya bergetar, segitu percayanya pria itu pada dirinya padahal nggak saling kenal. Dini hanya bisa terdiam mencerna ucapan pria itu, singkat tapi kata percaya itu lebih kuat dari rantai kapal.


...Cinta itu rumit, Seperti jambu mete yang kelihatannya manis di makan sepet tapi yang nggak menarik di makan gurih~ Author...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰