
Tiba-tiba suara seseorang membuat mereka menoleh dengan cepat ke sumber suara.
"Kak Davina ....!" Nadin benar-benar terkejut saat melihat Davina berjalan mendekat ke arah mereka. Davina memisahkan diri dari teman-temannya.
Aduh kenapa sih pakek ketemu sama kak Davina segala .....
"Kak Rendi ....!" ucap Davina saat juga melihat Rendi bersama Nadin.
"Kak Davina kok bisa di sini sih?" tanya Nadin.
"Kamu nggak suka lihat aku?" ucap Davina dengan wajah memelas. Ia ingin membuat seolah-olah Nadinlah yang jahat di sini.
"Bukan seperti itu kak, tapi ...!"
Iiiiiihhhh ....., kak Davina menyebalkan ....
"Kak Rendi, aku seneng deh bisa ketemu sama kakak, bagaimana kalau kita jalan bareng?" tanya Davina sambil bergelayut manja di lengan Rendi dan menggeser tubuh Nadin untuk menjauh dari Rendi, Davina memberi tatapan tajam pada Nadin, agar Nadin mau meninggalkan mereka.
Dia melarangku bersentuhan dengan pria lain tapi dia membiarkan tangannya di pegang kak Davina ....
"Maaf tapi saya tidak bisa!" ucap Rendi sambil menyingkirkan tangan Davina.
"Tapi jalan sama Nadin saja mau, masak sama aku nggak mau sih kak, sekali ini saja ...., aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kak Rendi."
"Maaf tapi aku nggak bisa!" jawab Rendi dingin.
"Ayolah kak, sebentar saja ...., plissss .....!" ucap Davina sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Baiklah ....!" ucap Rendi, akhirnya ia menyetujuinya.
"Nad, kamu pulang duluan nggak pa pa kan?" tanya Davina dan Nadin hanya bisa mengangguk.
"Ayo kak ....!" ucap Davina sambil menatik tangan Rendi menjauh dari Nadin. Nadin hanya bisa menatap punggung mereka yang semakin menjauh.
"Huhhh .,.., kesel banget .....!" ucap Nadin sambil menginjak-injakan kakinya di tanah. Tanpa terasa air matanya meleleh juga. Ia pun segera mengusap air matanya dan keluar dari gedung perbelanjaan itu.
Saat sampai di luar gedung, tiba-tiba pria berkaos hitam dengan tanda pengenal finityGroup di lengannya menghampiri Nadin.
"Maaf nona!"
"Iya ...?" jawab Nadin sambil mengamati pria di depannya.
"Pak Rendi menyuruh kami mengantar nona pulang!"
Ucapan pria itu membuat Nadin seketika terbengong.
"Pak Rendi?"
"Benar nona ....!"
"Tapi saya masih mau jalan-jalan!"
"Saya akan mengantar nona!"
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak nona, ini sudah menjadi tugas saya nona, memastikan anda selamat sampai di rumah."
"Begitu ya .....?" dan pria itu hanya mengangguk hormat.
"Apa kita hanya berdua?" tanya Nadin lagi.
"Jika nona keberatan, saya akan menghubungi rekan perempuan kami."
"Ha ha ha ...., itu tidak perlu ...!" ucap Nadin dengan senyum yang di paksakan.
"Baiklah ...., mari nona ...!" pria itu membukakan pintu mobil bagian belakang pada Nadin. Nadin segera masuk ke dalam mobil.
Setelah pria itu juga masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran pusat perbelanjaan itu, pria itu kembali bertanya pada Nadin.
"Apakah ada yang ingin anda kunjungi nona?"
"Apakah itu boleh?" tanya Nadin.
"Tentu nona ....!"
"Saya ingin ke tempat temanku, apa tidak pa pa?" tanya Nadin yang masih merasa sungkan.
"Baiklah nona ....!"
Nadin pun segera menunjukkan sebuah alamat pada pria itu. Mobil pun segera melaju sedikit lebih cepat karena jalanan sedikit lengah.
Setelah melakukan perjalanan selama lima belas menit, akhirnya mobil memasuki sebuah perumahan mewah. Tapi tidak semewah milik Agra.
"Baik nona ...!"
Mobil pun berhenti di bahu jalan, berseberangan dengan rumah yang di tuju oleh Nadin.
"Bapak ikut masuk apa mau tetap di sini?" tanya Nadin.
"Nona duluan saja, saya akan menyusul."
"Baiklah ....! Aku turun dulu." ucap Nadin, dan pria itu hanya mengangguk.
Nadin turun dari mobil, ia melihat matahari sudah mulai tenggelam, tinggal sinar senja yang menghiasi langit.
Ponsel Nadin berdering, membuatnya menghentikan langkahnya, ia membuka tasnya dan hampir berhasil mengambil ponselnya, tapi sayangnya ia tidak sadar jika kini ia sedang berdiri tepat di tengah jalan, walaupun sepi, tapi siapa yang menyangka jika dari arah berlawanan ada mobil yang sedang melintas, membuat mobil itu mengerem hingga ban harus beradu dengan aspal demi menghindari tubuh Nadin yang begitu dekat dengan bagian depan mobil.
Nadin yang terkejut, hanya bisa memejamkan matanya, ia sudah pasrah jika sampai mobil itu menabraknya.
Tapi sebuah tangan berhasil menarik tubuh Nadin melayang.
Bruk
Nadin merasakan tubuhnya terjatuh, tapi tidak sakit, seseorang telah menyelamatkannya.
"Hai mbak mau mati ya, kalau jalan lihat-lihat ...., hampir saja ....!" seseorang memgumpat di dalam mobilnya, karena hampir memjadi tersangka jika sampai menabrak seseorang.
"Maafkan teman saya mas!" ucap Pria yang berada di bawah tubuh Nadin. Nadin masih enggan membuka matanya. ia terlalu terkejut.
Mobil yang hampir menabraknya pun kembali berjalan setelah menumpahkan kekesalannya.
"Sudah buka matamu, sampai kapan kau akan menindih tubuhku seperti ini?"
Hiks hiks hiks
"Yah ...., kok malah nangis sih?"
"Aku takut ....!"
"Sudah jangan takut, ada kakak ...! Bangulah ..., sakit ini tubuhku ....!"
Nadin segera membuka matanya, ia tepat di atas tubuh Jerry. Nadin segera bangun, tapi tangisnya belum hilang.
"Sudah ...., cup cup cup .....!" Jerry berusaha menghentika tangis Nadin. Pria dari finityGroup itu pun mendekati mereka, ia tampak begitu cemas.
"Nona ...., apa nona tidak pa pa? Maafkan atas kelalaian saya nona ....!" ucap pria itu. Jerry hanya menatap pria itu dengan wajah bertanya. Tapi saat melihat tanda pengenalnya, sekarang ia baru tahu jika itu orang finityGroup. Tapi ia masih bertanya-tanya siapa yang telah menyuruhnya.
"Dimana Rendi, bukankah kau tadi bersama Rendi?" tanya Jerry penasaran.
"Pak Rendi meminta saya mengantar nona Nadin sampai di rumah!" ucap pria itu.
Jerry kembali menatap Nadin yang masih terlihat syok. Jerry pun segera mengangkat tubuh Nadin untuk di bawanya ke dalam rumahnya. Ya ternyata tujuan Nadin adalah rumah Jerry. Jerry sudah seperti kakak baginya.
Jerry mendudukkan Nadin di sofa ruang tamu, pria finityGroup itu pun mengikuti kemanapun Nadin pergi, dia benar-benar melakukan seperti yang di perintahkan oleh Rendi.
"Bi ..., bibi ..., ambilkan air putih ....!" teriak Jerry pada asisten rumahnya.
Tak berapa lama asisten rumah pun membawakan segelas air, Jerry segera meminumkan kepada Nadin.
"Sudah berhentilah menagis ...!" ucap Jerry sambil menarik tubuh Nadin ke dalam pelukannya.
*****
Di tempat lain. Davina mengajak Rendi ke sebuah kafe.
"Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan!" ucap Rendi saat mereka sudah berada di salah satu meja.
"Jangan terburu-buru kak ....!" ucap Davina dengan sangat manis, tapi Rendi tidak terlalu suka dengan orang yang berpura-pura manis. Ya Rendi adalah orang yang kritis, mana mungkin ia tidak tahu jika wajah Davina penuh dengan kepura-puraan.
"Aku tidak punya banyak waktu." ucap Rendi sambil terus menatap layar ponselnya, entah siapa yang di hubungi sedari tadi, ia terus saja mengirim dan menerima sebuah pesan.
"Nona Nadin memintaku mengantarnya ke sebuah rumah di daerah xxxx"
Rendi tampak serius membaca pesan itu.
****BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya yang banyak
Kasih Vote juga ya yang banyak juga
Happy Reading 😘😘😘😘😘****