
Sedangkan di tempat lain, selagi Rendi dan Nadin
menghabiskan waktunya untuk bulan madu ke duanya, Davina. Wanita malang itu
sedang sibuk mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan.
Kerena pengalamannya bekerja di finityGroup, memudahkannya
untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan sekali melamar saja, ia langsung di terima
karena surat rekomendasi itu.
Davina yang sudah menyadari kesalahannya, kini memulai
hidupnya dengan penuh tanggung jawab, ia akan bertanggung jawab dengan segala
keputusannya. Banyak yang harus ia perbaiki karena kesalahannya dan sekaranglah
waktunya.
“Selamat datang Davina, semoga kau betah!” ucap seorang pria
yang akan menjadi atasannya.
“Terimakasih pak, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk
perusahaan ini!”
“Ya …, selamat bekerja. Aku tinggal dulu!”
Davina mengangguk, ia sudah di terima di salah satu
perusahaan. Walaupun tak sebesar perusahaan Agra tapi ia ingin memulainya dari
awal tanpa embel-embel keluarga.
Hari-hari Davina di sibukkan dengan bekerja dan bekerja, ia
mulai mengenal orang-orang baru dan juga teman-teman baru.
Nadin dan Rendi pun menikmati hari-hari bahagianya, berdua
saja. Banyak yang mereka lakukan di vila itu, Nadin belajar masak untuk Rendi,
bahkan selama di Villa mereka bergantian memasak.
“Mas …, ayamnya!” teriak Nadin saat sedang mengulek bumbu,
sedang Rendi mendapat tugas menggoreng ayam, tapi pria itu tetap sibuk dengan
ponselnya.
“Yah …, jadi gosong kan!” keluh Nadin saat ,melihat ayam itu
coklat tua.
“Maaf ya …, aku akan menggoreng yang lain lagi!” ucap Rendi
yang hendak memasukkan potongan ayam lainnya ke dalam wajan.
“Nggak usah mas …, itu masih bisa di makan!”
“Tapi ini gosong, Tokki!”
“Nggak pa pa! sudah mas Rendi siapin tempatnya saja deh,
biar aku lanjutkan sendiri masaknya!”
Akhirnya setelah kerja sama yang penuh keributan itu,
pekerjaan mereka pun selesai. Mereka menikmati sarapan paginya dengan ayam
goreng gosong buatan Rendi dan sayur asem sambal tomat.
“Gimana? Nggak enak kan ayamnya?” Tanya Rendi saat melihat
Nadin mulai memakan ayam goreng buatannya.
“Enak kok mas …!” jawab Nadin masih terus memakan ayamnya.
“Mana aku coba!” Rendi pun menarik ayam itu dan
mencicipinya, dengan cepat ia memuntahkannya.
“Ini pahit …, nggak enak, nggak usah di makan!”
“Enak mas …, mas Rendi tahu nggak kenapa ayam goreng ini
enak!”
“kenapa?”
“karena di masaknya pakek cinta!” ucap Nadin sambil membuat
tanda cinta dengan jarinya.
“Jangan di makan yang itu, nanti aku buatkan yang lebih
cintanya biar lebih enak!” Rendi pun menyisihkan ayam goreng itu agar Nadin
sulit untuk mencapainya.
Akhirnya satu minggu sudah mereka di puncak, ayah Salman
sudah beberapa kali menghubungi mereka untuk segera kembali. Nadin dan Rendi
pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah ayah
Salman, karena ayah Salman ingin sekali mereka tinggal bersamanya.
“Selamat datang nak!” ayah Salman sudah menyambut mereka di
depan pintu.
“Selamat sore yah …, bagaimana kabar ayah?”
“Sejak kapan kau menghawatirkan ayah!”
“Maafkan aku yah …!”
Salman memegang pundak putranya itu, ia hanya ingin
mengatakan kalau ia sangat menyayangi putranya itu, tapi cukup dengan memegang
pundaknya saja Rendi sudah memahami apa yang di katakana ayahnya.
“Nak …, bagaimana liburanmu?” Salman beralih bertanya pada
menantunya itu.
“Sangat menyenangkan yah …, di sana aku bisa melihat kebun
teh, mencoba memanen teh, memasak, banyak hal yang tidak bisa aku lakukan di
sini bisa aku lakukan di sana!”
Salman hanya mengusap kepala menantunya itu, kecerewetan
Nadin itu yang selalu ia rindukan.
hal yang sama saat kau tidak bersamanya!”
“Ayah …, kenapa ayah jadi mengingatkanku pada ayah Roy …,
aku jadi merindukannya!”
“Kau boleh ke sana tapi besok. Iya kan Rendi?” Tanya ayah
Salman.
“Iya …!”
Rendi masih tidak yakin membiarkan istrinya bertemu dengan
Davina, ia menatap Nadin dengan penuh
keraguan itu.
“Ya sudah kalian beristirahatlah …, nanti malam kita makan
malam bersama!”
“Baiklah …., kami permisi dulu yah!” ayah Salman pun
mengangguk. Rendi mengajak Nadin untuk ke dalam kamar, kamar yang sudah dirubah dari kamar seorang anak usia sepuluh tahun menjadi kamar sesuai selera
Nadin.
Rendi memilih segera merebahkan tubuhnya di atas tempat
tidur, ia menelungkup kan badannya, Nadin yang harus ke kamar mandi terlebih
dahulu, saat melihat suaminya sudah telungkup di atas tempat tidur, memutuskan
untuk ikut naik ke atas tempat tidur, ia merangkak perlahan agar tidak
membangunkan suaminya.
“Mas Rendi kelihatannya lelah banget …, langsung tidur aja
dia!” Nadin mengambil ponselnya yang ada di samping tempat tidur. Ia
mengirimkan pesan pada sahabatnya, rasanya sudah sangat lama ia tidak jalan
dengan sahabatnya itu.
“Din …, kangen nih …, lagi sibuk nggak?”
Kling
Ia mengirimkan pesan itu, tak berapa lama notif pesan masuk
kembali terdengar, dengan cepat Nadin membuka pesan itu.
“Sama …, aku juga kangen banget tahu sama kamu, vc dong …, pengen
liat wajah pengantin baru itu kayak apa!”
Waduh …, gimana nih …, Dini minta cv lagi, kan ada mas Rendi
….
Belum sepat Nadin menjawab pesan Dini, dini sudah lebih dulu
melakukan panggilan video, membuat Nadin terkejut. Dengan cepat ia menggeser
tombol angkat. Rendi yang sedikit terganggu dengan dering ponsel Nadin, merubah
posisinya menjadi miring menghadap Nadin.
“Hai Nad …!” Dini melambaikan tangannya, tapi segera ia
menutup mulutnya tak percaya saat kamera Nadin terarah pada pria dingin yang
sedang tidur di samping Nadin.
“Ohhh astaga …, ada
babang ganteng ….!”
“Hustttt …, jangan keras-keras …, mas Rendi sedang tidur!”
Karena Nadin terus bergerak membuat Rendi terganggu, ia
bukannya bangun malah menarik tubuh Nadin kedalam dekapannya membuat Dini teriak
histeris, ia pun segera menutup matanya, tapi tetap saja mengintip dari celah
jarinya, sayang banget untuk dilewatkan.
Rendi yang terkejut mendengar teriakan segera membuka
matanya, ia melihat Nadin berada di dalam pelukannya, lalu siapa yang teriak.
Nadin pun menunjuk pada ponselnya yang masih tersambung dengan Dini.
Rendi bukannya menjauh dari tubuh Nadin, ia malah semakin
mengeratkan pelukannya.
“Hai Dini….!” Sapa Rendi.
“Hai bang Rendi suaminya Nadin …!”
“Apa telponnya bisa lain waktu saja, karena sekarang
waktunya kami beristirahat!”
“Iya!”
Rendi segera memutus sambungan telpon dan melempar ponsel
Nadin ke sembarang tempat, ia segera menarik tubuh Nadin hingga kini tubuh
Nadin berada di bawahnya.
“Mas …!” pekik Nadin.
“Ini hukuman, karena
kau telah berani mengganggu tidurku!” sebelum sempat nadin menjawab, Rendi
sudah terlebih dulu membungkam bibir Nadin dengan bibirnya, mereka melakukannya
lagi untuk ke sekian kalinya. Jauh dengan Nadin walaupun sebentar membuatnya
begitu merindukan, setiap kali dekat dengan Nadin rasanya tak puas hanya sekali
menjamah tubuhnya, walaupun berkali-kali tetap saja terasa kurang.
Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘