MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Davina melahirkan



Rendi pun menuruti perintah dr. Frans, ia duduk di hadapan Dr. Frans lalu menceritakan semua, tentang Davina dan kesalah


pahamannya dengan Nadin.


“Tapi aku mohon jangan ceritakan semuanya pada siapapun, ini hanya antara kita berdua, aku tidak mau akan ada masalah baru setelah ini!”


“Kenapa kau sampai merahasiakan hal sebesar ini?”


“Aku berhutang budi pada Divta, akulah yang


menyebabkan mereka berpisah, bahkan ia tidak tahu kalau ia sekarang seorang


ayah. Aku lebih beruntung karena Nadin memberitahuku, jika aku menjadi seorang


ayah!”


“Kau begitu naïf Rendi, lo Naif …, lo mengorbankan kebahagiaan keluargamu demi orang lain!”


“Rasa bersalah ini terus menghantuiku, Frans …, aku penyebab semua ini! Bahkan sampai sekarang aku tidak berani menghadapi nyonya


Ratih, aku sudah gagal …, aku gagal …!”


“Jangan menyalahkan dirimu sendiri karena hal-hal yang tidak lo lakuin!”


Rendi merenungi semua yang di katakana oleh dr. Frans. Ada benarnya apa yang di katakan oleh sahabatnya itu.


Tok tok tok


Tiba-tiba suara pintu kembali di ketuk.


“Iya sebentar!”


Rendi menghampiri pintu, di balik pintu sudah ada Ajun. Ia sepertinya tergesa-gesa.


“Ada apa Ajun?” tanya Rendi heran., tak biasanya Ajun sepanik ini.


“Bu Davina!"


"Ada apa dengan Davina?"


"Bu Davina di larikan ke rumah sakit, ia mengalami pendarahan hebat!”


“Baiklah kita ke sana!”


Rendi segera mengambil  ponselnya yang tertinggal di meja, ia mengajak


dr. Frans juga. Mereka menuju ke tempat di mana Davina di bawa. Davina harus


melahirkan lebih awal karena pendarahannya tidak mau berhenti.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Rendi saat dokter keluar dari ruang UGD.


"Ibu Davina harus segera melahirkan sekarang, keadaannya tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, jadi saya meminta suaminya untuk menandatangani surat persetujuan operasi atas ibu Davina!"


"Saya dok yang bertanggung jawab atas Davina!"


"Anda suaminya?"


Rendi dengan terpaksa mengangguk. akhirnya Rendi lah yang menandatangani surat persetujuan itu.


Dokter pun kembali masuk ke ruang UGD setelah mendapatkan persetujuan.


Rendi menghampiri Ajun yang berdiri di sudut ruangan.


"Kenapa keadaannya bisa seperti ini?"


"Maafkan saya pak, ini salah saya!"


"Katakan!"


"Saya tidak tahu jika Bu Davina keluar dari apartemen, ia ingin mencari tahu kenapa pak Rendi tidak mengunjunginya, saat sampai di apartemen pak Rendi tanpa sengaja ia mendengar percakapan anda, dan melihat keadaan anda,"


"Lalu?"


"Lalu Bu Davina bertanya pada saya tentang kebenarannya, terpaksa say pun menceritakan semuanya, semua tentang kepergian Bu Nadin juga!"


"Setelah itu?"


"Setelah itu Bu Davina mengalami pendarahan hebat pak! maafkan saya pak, saya telah lalai!"


Setelah mendengarkan cerita dari Ajun, Rendi tak lagi bicara, entah apa yang sedang di pikirkan pria itu.


Ia tahu suatu saat keadaan seperti ini akan terjadi, kehamilan Davina bukan kehamilan yang biasa, sejak awal dokter sudah menyarankan pada Davina untuk melakukan aborsi, karena kehamilan Davina beresiko, tapi Davina bersikeras untuk mempertahankannya.


Cukup lama, mereka menunggu hingga proses persalinan itu selesai, akhirnya setelah menunggu selama dua jam, dokter keluar dari


ruang operasi.


“Dok, bagaimana keadaan mereka, bayinya selamat kan?” tanya Rendi dengan tergesa.


“bayinya selamat pak! Bayi perempuan, sangat cantik!”


“Lalu bagaimana dengan ibunya?”


“Ibunya sedang kritis, dia masih dalam pengaruh anastesi, kalian bisa menjenguknya nanti setelah pengaruh anastesinya hilang!”


"Baik dok!"


Davina di pindahkan dari ruang operasi ke ruang ICU, ia benar-benar kritis, Rendi memilih melihat bayi mungil itu, bayi itu harus berada di dalam incubator.


“Nak …, kau anak yang kuat, aku janji aku akan menjagamu sampai ayahmu kembali!” mata Rendi berkaca-kaca, ia tidak bisa membayangkan jika nanti anaknya kan lahir tanpa kehadiran ayahnya.


“Rendi, Davina sudah sadar!”


Rendi mengusap air matanya, membalik tubuhnya menghadap sahabatnya itu. dr. Frans sudah berdiri di ambang pintu.


“Baik, aku akan ke sana!”


Mereka pun menuju ke ruang ICU. Ia melihat di sana semua keluarga sudah berkumpul. Rendi mengijinkan dr. Frans untuk memberitahu


keluarga.


“Rend!” Agra menghampiri Rendi dan mengusap pundak sahabatnya.


“Pasien ingin bertemu dengan pak Rendi!”


“Baik sus!”


Rendi pun melanjutkan langkahnya menuju ke dalam ruangan,


ia sudah mengenakan baju steril, ia mendekat pada Davina, wanita itu terlihat


begitu lemah dan berbaring di atas tempat tidurnya dengan berbagai macam peralatan


kedokteran yang melekat di tubuhnya.


“Hai!”


“Ren-di!”


“jangan banyak bicara, kau perlu beristirahat!”


“Boleh aku melihat putriku?”


“Tentu! Tentu saja!"


Seorang suster sudah membawakan bayi itu untuknya.


Rendi meletakkan bayi itu di samping Davina, tangan lemah Davina mengelus


putrinya.


“Dia cantik sekali, wajahnya persis seperti ayahnya!”


“Iya!”


Rendi ikut menyentuh pipi anak itu, pipinya memerah, begitu cantik.


“kenapa kau suka sekali membuatku berjanji?”


“Ini untuk yang terakhir kalinya!”


“Baiklah …!”


“Tolong jaga dia, sampai ayahnya kembali!”


“Iya!”


Setelah mengatakan hal itu, tubuh Davina semakin lemas , membuat Rendi panik.


Pendeteksi denyut jantung nya tak berjalan normal.


“Dok …, dokter …., dokter …!”


 Rendi terus berteriak memanggil dokter, dokter pun saling berdatangan dan salah satunya adalah dr. Frans. Dokter meminta Rendi untuk keluar dari ruangan, suster juga membawa


bayi davina kembali ke ruang incubator.


"Dok selamatkan dia, Frans aku mohon selamatkan dia .....!" Rendi begitu memohon.


"Tolong selamatkan dia!"


Semua keluarga menunggu dengan wajah cemas, lebih lebih ibu Dewi, setelah sekian lama ia terpisah dari putrinya dan ternyata


putrinya putrinya sedang hamil, bahkan ia belum tahu siapa ayah dari cucunya.


Tak berapa lama dokter keluar, begitupun dnegan dokter Frans. Semua keluarga langsung berdiri mendekat, berharap ada kabar baikdari dokter.


“Dokter, bagaimana keadaan putri kami?”


“Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi Bu Davina banyak kehilangan darah!"


"Maksud dokter?"


"Maaf, ibu Davina sudah pergi meninggalkan kita semua!’


Ibu Dewi hanya bisa diam terpaku, rasanya air


matanya seperti ada yang sengaja mengalirkannya, begitu deras tanpa di minta.


“Tidaaaak!” teriak Ibu Dewi.


“Davian putriku …, tidak mungkin ia pergi secepat ini …!’ ibu Dewi begitu syok hingga ia tidak sadarkan diri. Davian benar-benar pergi untuk


selamanya.


Untuk kedua kalinya ibu Dewi merasakan kehilangan


yang sangat setelah suaminya dan kini putrinya.


Hingga pemakaman Davina pun ibu Dewi belum bisa


menerima kepergian putrinya, sekarang apa yang kedua putrinya pergi, Nadin tak


tahu dimana rimbanya, davina benar-benar pergi untuk selamanya.


Sekarang yang menjadi masalah adalah putri Davina,


bagaimana dengan putri Davina. Siapa yang paling berhak merawatnya? Ternyata


sebelum meninggal Davina sempat menulis surat untuk keluarganya.


Dari putri,


saudara yang tidak tahu diri ini


Davina


Ayah,


ibu, kakak, nenek …, maafkan Davian karena belum bisa menjadi apapun yang bisa


membanggakan kalian….


Mungkin


hadirnya putriku adalah sebuah aib untuk kalian, tapi percayalah, ini semua


terjadi bukan karena sebuah kesengajaan, apapun yang terjadi jangan salahkan


dia, aku tahu putriku akan menjadi putri yang kuat, badai yang akan menerpanya


tidak akan mempan karena ada kalian di sisinya ….


Maaf


jika kalian mungkin protes, atau apa, tapi aku mempercayakan putriku pada


Rendi, biar dia yang menjaganya karena selama ini dia yabng selalu menjagaku,


biarkan dia menjaganya sampai yang berhak datang menjemputnya …


Putriku,


berilah dia nama Divia,


Terimakasih


karena kalian semua aku mampu bertahan selama ini, sampaikan maafku pada Nadin,


salam sayangku untuknya ….


                                                                            Yang selalu menyayangi kalian dengan penuh penyesalan


                                                                           Davina


Awalnya ibu Dewi tidak terima dengan keputusan


untuk menyerahkan anak itu pada Rendi, tapi karena surat dari Davina itu,


akhirnya ibu Dewi pasrah, walaupun ia belum tahu siapa sebenarnya ayah dari


anak itu.


Akhirnya Rendi memilih membeli sebuah rumah yang


akan mereka tempati bersama ayah Roy, ibu Dewi dan nenek nani serta Divia.


Rasasnya tidak akan adil jika menguasai Divia seorang diri, ia juga tidak bisa


merawat Divia sendiri. Kehadiran Divia bisa sedikit menghibur rasa


kehilangannya di tinggalkan Nadin, walaupun begitu ia tidak pernah berhenti


untuk mencari keberadaan istrinya itu.


Selain meninggalkan surat untuk Rendi dan keluarga,


davina juga meninggalkan surat yang ia tulis khusus untuk Nadin, surat itu ia


satukan bersama buku harian Davina. Davina meminta Rendi untuk menyerahkan buku


dan surat itu saat nanti Nadin kembali.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘