MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Pengaman



Setelah mengantar Nadin, Rendi langsung putar balik, biasanya ia tidak suka menunggu tapi sekarang harus menunggu hingga berjam-jam hanya untuk menemui sahabatnya yang tak tahu tempatnya itu, Rendi memilih menunggu di rumah Frans saja dari pada di rumah sakit.


Hingga pukul 07.15 malam, dr. Frans baru sampai di rumahnya, Rendi sudah menunggunya di rumah dokter Frans selama hampir dua jam.


"Astaga ...., Lo ngagetin gue saja!" ucap dokter Frans terkejut saat ia memasuki kamarnya, tak biasanya pria dingin itu datang tanpa memberitahu terlebih dahulu.


Rendi sudah tiduran di tempat tidur dokter Frans. Menunggu selama hampir dua jam membuatnya begitu bosan.


"Syukurlah Lo datang tepat waktu, hampir saja gue bakar rumah Lo ini!" keluh Rendi sambil duduk.


"Gue mandi dulu, gerah .....!"


"Awas saja berani melangkah ke kamar mandi, gue ikat kaki Lo di tiang!"


"Serem banget ancamannya ....!" ucap dokter Frans sambil bergidik ngeri. "Ada apa sih Lo, tumben banget ke sini?"


Rendi pun segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke balkon, dr Frans pun mengikuti, jika seperti ini sepertinya sangat serius.


Mereka menikmati suasana langit cerah dengan bintang yang saling berlomba untuk muncul di langit sana, dokter Frans menyodorkan minuman untuk Rendi.


"Minum ....!" Rendi pun segera menerimanya dan membuka segelnya, meneguknya untuk menghilangkan rasa gundahnya.


"Ada apa?"


"Gue bingung!" ucap Rendi yang tampak putus asa. Dr Frans begitu terkejut, ia tidak menyangka kalau orang di sampingnya itu juga bisa bingung.


"Lo bingung? Sejak kapan?"


"Kenapa menatap gue seperti itu, gue juga manusia biasa, memang gue robot, Lo sama aja seperti Nadin!"


"Ohhh ...., gue tahu sekarang, ini tentang Nadin, kenapa istri Lo? Dia cantik, baik, imut!" Mata Rendi segera melotot saat dr. Frans tanpa sengaja memuji istrinya.


"Wow ....., santai aja bro ....!" ucap dr. Frans sambil memundurkan badannya, walaupun sudah bersahabat lama, ia masih suka takut dengan tatapan sahabatnya yang seperti itu.


"Jangan berani-berani muji dia lagi!" ancam Rendi.


"Dasar posesif, lama-lama Lo jadi kayak Agra ya, sekarang sahabat gue bucin semua ya ...., sebegitu besarnya ya pengaruh para wanita itu!"


"Jangan mulai, atau mau gue simpel mulut lo pakek kaos kaki!"


"Santai men ...., slow .....!"


"Gue jadi ragu ngomong sama Lo!" ucap Rendi sambil mendesah kesal, ia kembali menatap ke arah jalan, banyak pepohonan di belakang rumah dr. Frans jadi cukup sulit untuk melihat lalu lalang kendaraan.


"Jangan gitu dong ...., ya udah cepetan katakan gue siap dengerin!" dr. Frans sudah memasang telinganya lebar-lebar.


"Apa sekali saja, bisa bikin hamil?" mendengar pertanyaan Rendi mata dr. Frans kembali membelalak.


"Sudah gue bilang jangan menatap seperti itu, seakan-akan gue ini tersangka saja!"


"Abis pertanyaan Lo aneh, emang selama nikah Lo mau gituan cuma satu kali trus dapat anak ya sudahlah ....!"


"Bukan itu masalahnya!"


"Gue takut Nadin hamil, dia masih kuliah!"


"Astaga ....., loh tahu yang namanya pengaman?"


"Apaan?"


"Lo bisa nyuruh Nadin pakek kontrasepsi!"


"Bagaimana caranya?"


"Emang Lo sudah berapa kali sih nglakuinnya? Atau malah Lo belum pernah sama sekali?" Dan jawabannya adalah Rendi mengangguk.


"Lo sudah nikah berapa hari? Lo itu nikah bukan karena Lo di jodohin, nggak perlu lah lebai kayak di novel-novel, perlu pengenalan dulu, Lo udah pacaran hampir tiga bulan, belum nglakuin itu,"


"Lo bicara gampang aja, gue yang nglakuin!"


"Lo itu udah dewasa nggak perlu lah seribet itu, hamil, hamil aja, toh Nadin juga sudah cukup umur, emang Lo nggak mau punya anak?"


Kenapa aku belum kepikiran ya tentang anak, pasti menyenangkan kalau punya anak, wajahnya akan mirip siapa ya?


"Kenapa malah bengong?"


"Gue belum mikirin!"


"Lo emang jenius, tapi kenapa masalah se simpel ini aja jadi rumit ya di tangan orang jenius! Gini aja kalau Lo belum siap punya anak, Lo pakek pengaman aja!"


"Gue ralat ucapan Lo, bukan gue belum siap punya anak tapi Nadin masih kuliah!"


"Ya gue percaya!"


Mereka kembali terdiam, tapi sepertinya masih banyak yang di pikirkan Rendi.


"Carikan gue pengaman!" ucap Rendi tiba-tiba saat sekian lama terdiam.


"Ogah ...., gue malu! Lo cari sendiri di apotek, lagian anak buah Lo buat apa, kenapa pakek nyuruh nyuruh gue?"


"Semua anak buah gue di sita sama Agra, sekaligus ponsel gue!"


"Pantesan!"


"Ya udah gue pulang!" ucap Rendi dan beranjak meninggalkan dr. Frans.


"Semoga sukses ya MP nya ...!" teriak Dr. Frans saat Rendi hendak keluar dari kamarnya.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249