
“Apa ada
masalah pak?” Tanya pria ber jas hitam yang selalu mengikuti kemanapun Rendi
pergi itu, dia orang kepercayaan Rendi.
“Tidak
pa pa, biarkan aku sendiri!” ucap Rendi, ia meminta anak buahnya untuk keluar
dari ruangannya.
“Baik
pak!” anak buahnya menunduk memberi hormat.
Ajun
meninggalkan ruangan atasannya. Rendi kembali memeriksa berkas yang ada di
hadapannya, tapi lagi-lagi perhatiannya teralih pada ponselnya. Ada yang sedang
sangat ia tunggu. Rendi menghela nafas kesal.
“Kenapa
dia tidak menghubungiku?”
Rendi pun mengambil ponselnya yang sedari tadi berada di atas meja, benda itu rasanya
ingin sekali ia buang karena merasa tak ada gunanya. Ia memperhatikan layar
ponsel itu, saat menyala akan ada wajah wanita cerewet itu, tapi tak juga ada notif pesan dari wanita yang
telah berhasil melelehkan batu es yang ia bangun selama ini.
“Apa sih
yang sebenarnya dia lakukan, apa susahnya memberi kabar! Kalau ponselnya tak
berguna lagi, kenapa harus punya ponsel!” gerutu Rendi. Ia uring-uringan tak
beralasan.
Saat
hendak meletakkan ponselnya, ia mengurungkannya lagi, ada yang ingin ia
periksa. Ia memperhatikan GPS di ponsel Nadin, Rendi begitu terkejut saat GPS itu
begitu jauh dari rumah ayah mertuanya.
“Dimana
dia, apa yang di lakukannya di tempat sejauh itu?”
Rendi
pun tak pikir panjang, ia segera menutup berkasnya dan menyambar jas yang
tergantung di belakangnya meletakkan ponsel ke dalam saku celananya. Ajun yang
masih berdiri di luar ruangan Rendi terkejut saat melihat atasannya itu tampak
tergesa-gesa.
“Kita ke
daerah XXX!” ucap Rendi saat melintas di depan Ajun.
“Baik
pak!” dengan cepat Ajun mengikuti Rendi.
Rendi
meluncur dengan cepat ke tempat Nadin, ia benar-benar khawatir terjadi sesuatu
dengan Nadin, cukup sekali ia terpisah dengan Nadin, tidak untuk lain kali.
Memikirkannya saja sudah cukup membuatnya kesal.
“Bisa
lebih cepat !” rendi terus saja mengeluh sepanjang perjalanan, padahal saat ini
kecepatan mobilnya sudah 100km/jam. Mungkin jika ada polisi patroli mobilnya
akan kena tilang.
“Baik
pak!”
Akhirnya
setelah drama kecemasan tak beralasan itu. Dengan langkah pasti Rendi memasuki
kafe itu, ia membuka kaca mata hitam yang bertengger di kedua matanya.ternyata
di manapun tempatnya pria dingin itu tetap saja jadi pusat perhatian. Langkah
pastinya selalu berhasil menyihir orang-orang yang di lintasi nya, suara
pantulan sepatunya seperti sebuah irama yang mampu menggetarkan dada.
Langkahnya
ternyata juga menjadi pusat perhatian dua wanita muda yang sedang asik
bercurhat ria itu, Rendi sudah berdiri
di dekat Nadin, tersenyum tipis. Nadin begitu terkejut, bahkan karena
terkejutnya Nadin sampai menjatuhkan ponselnya tak percaya, untung saja dengan
sigap pria dingin itu menangkap ponsel itu.
“Hati-hati
dengan ponselmu!” ucap Rendi sambil menyerahkan ponsel milik Nadin. “Jika
ponsel ini masih ada gunanya, jaga baik-baik!”
“Mas …,
kok bisa di sini?” Tanya Nadin tak percaya suaminya tiba-tiba di tempatnya dan menjadi
pusat perhatian apalagi pria itu lengkap dengan pengawalnya.
Dini
yang tak kalah terkejutnya ikut bangun dari duduknya. Ada yang menarik dengan
kedatangan suami sahabatnya itu, pria yang mengikutinya di belakan lengkap
dengan jas hitamnya dengan aerophone yang bertengger di telinganya, begitu
tegas dan mempesona.
“Ganteng
nya ….!” Ucap Dini kelepasan, tapi segera mendapat pelototan dari sahabatnya.
“Bukan
suamimu …, tapi pria di belakangnya, kenalin dong!” bisik Dini pada Nadin.
“Oh …
astaga ….!”
Rendi
menggeser kursi kosong, ia segera duduk di tempatnya, sedangkan Ajun segera
mendekat.
“Apa
anda membutuhkan sesuatu pak?”
“Sepertinya
saya haus, ada yang bisa saya minum di sini?”
Seketika
ajun menatap Dini yang masih terdiam di tempatnya,
“Anda
karyawan di sini?”
“Iya!”jawab
“Beri ya
pak Rendi minta!”
Dengan
cepat Dini mengangguk.
“Baik
pak, waiters akan mengantarkan kopi paling istimewa buat anda!”dengan cepat
Dini berlalu meninggalkan mereka, Ajun kembali di belakang Rendi.
Rendi beralih
menatap Nadin yang masih berdiri di tempatnya.
“Kenapa
masih berdiri? Kau tidak mau menemaniku minum kopi?” seketika Nadin duduk di
tempatnya, tapi matanya tak juga beralih dari menatap suaminya itu.
“Kenapa
terus menatapku seperti itu? Seperti melihat setan saja!”
“kenapa
sekarang gaya mas Rendi kok jadi sama banget seperti kak Agra sih, dan ini apa?
Kenapa Ajun juga ikut ke sini, pakek pengawal segala!”
“Apa kau
lupa siapa suamimu sekarang?”
“siapa?”
“CEO
dari sebuah perusahaan!”
“Ahhh …,
kenapa jadi menyebalkan sekali!” ucap Nadin sambil memutar bola matanya kesal.
“jangan
hanya mengeluh, aku mendengarnya!”
“Sekarang
katakan padaku, kenapa mas Rendi bisa sampai di sini? Bukankah tadi aku sudah
bilang ingin menemui Dini!”
Aku
harus jawab apa? Tidak mungkin aku jawab jujur kalau aku sedang ….
“Dimana
temanmu tadi kenapa dia lama sekali, aku sudah sangat haus!” Rendi mencoba
mengalihkan perhatian.
Akhirnya
setelah begitu menyusahkan dua sahabat itu, Rendi segera mengajak Nadin untuk
pulang, Ajun sudah membukakan pintu mobil untuk Rendi dan Nadin. Dini ternyata
terus mengikuti sampai ke luar kafe, ternyata waktu panjang itu terasa sangat
singkat jika bersama dengan orang yang di sayang. Tanpa terasa sudah waktunya
orang pulang kantor.
Dini
melambaikan tangan dan mengeluarkan senyum termanisnya pada Ajun, Ajun hanya
menunduk hormat lalu masuk ke dalam mobil menyusul Rendi dan Nadin.
Saat
mobil mulai melaju perlahan meninggalkan parkiran kafe, mata Rendi tertuju pada
sosok yang sangat ia kenal, dia sedang berdiri di depan gedung perkantoran, lalu
ia segera berbalik menatap istrinya. Kekhawatirannya kembali muncul.
“Din …!”
“Iya?”
Nadin mendongakkan kepalanya, ia sedang sibuk memeriksa ponselnya yang sedari
tadi ia anggurin.
“Apa kau
menemui seseorang tadi?”
“Iya
….!” Jawab Nadin dengan entengnya. “Aku kan menemui Dini tadi!”
“Bukan
Dini yang aku maksud!”
Nadin
seperti sedang memikirkan sesuatu, ia mengingat sesuatu. “ah iya …, aku tadi
ketemu sama kak Davina!”
Rendi
terkejut, ia segera memegang tangan Nadin. “Kamu nggak pa pa kan?” Tanya Rendi
khawatir.
“Aku
nggak pa pa mas, aku baik-baik saja!”
“Dia
tidak menyakitimu kan?”
“Enggak
…, beneran …!”
“Syukurlah
…!”
Tapi
kenapa Davina bisa di tempat ini …, bukankah ini sangat jauh dari rumah ….
“jangan
mikir macam-macam mas …, kak Davina kerja di sekitar sini!”
“Sejak
kapan kamu jadi pinter baca pikiran orang?!”
“Sejak
nikah sama kamu mas, karena kamu yang suka pakek bahasa isyarat …!”
Ajun
yang sedang konsentrasi dengan ramainya jalanan karena bertepatan dengan jam
pulang kantor hanya bisa tersenyum mendengar kebucinan atasannya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘