
Matahari mulai menampakan sinarnya di celah jendela kaca rumah yang hanya dua lantai itu.
Penghuninya sedang asik karaoke mandiri di dalam kamar mandi, ia sangat bangga banget dengan suaranya yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri kalau sedang nyanyi.
Gadis itu menyelesaikan kegiatan rutinannya di kamar mandi setiap pagi dengan handuk yang melilit rambutnya dan juga baju mandi warna pink yang melekat di tubuhnya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mengedip-kedip kan matanya, dan menunduk melepaskan handuknya hingga kini rambutnya yang basah tergerai.
"Kenapa musiknya berhenti?" gumamnya saat ia menyadari sesuatu, lagu yang ia putar di ponselnya berhenti sejak tadi.
Ia pun segera menyambar benda pipih itu dan duduk di tepi tempat tidurnya. menyalakan ponselnya.
"Banyak banget panggilannya!"
Dini melihat siapa yang melakukan panggilan, "Nadin ...., ada apa?"
Ia pun segera melakukan panggilan balik pada sahabatnya itu.
"Hallo Nad, ada apa?" tanyanya saat telponnya sudah tersambung.
"Lama banget ngangkatnya, kemana aja sih? urgent banget nih ...., aku butuh kamu ...., kesini bisa kan? Libur aja Din, sehari aja .....!"
Terdengar suara Nadin begitu heboh, semenjak mengandung anak kedua memang sahabatnya itu kandang suka panikan nggak jelas.
"Apaan sih Nad, heboh banget!" jawab Dini dengan santainya.
"Ayo lah Din ....., kesini ya ....!"
"Tapi bang ganteng ada kan?"
"Siapa?"
"Arjuna ku!"
"Mana aku tahu, emang aku ngintilin tetangga ku ....!"
"Kalau bisa cegah dia biar nggak pergi sampai aku datang ya!"
"Itu berarti kamu datang kan?"
"Iya ...., bawel .....!"
Dini segera mematikan sambungan telponnya, ia kembali mengeringkan rambutnya dan bergegas mencari baju ganti.
Nggak pa pa lah bolos demi mas Arjuna .....
***
Sepeda motor dini sudah mendarat saja di depan rumah Nadin, bukannya langsung masuk rumah Nadin, Dini malah sibuk memperhatikan rumah yang berada di seberang rumah sahabatnya itu.
"Mana ya mas Juna, kok nggak nongol sih ....!"
Berkali-kali Dini mengintip di balik pagar rumah itu, berharap pria idamannya itu akan muncul dari dalam rumah.
"Din ...., ngapain di situ?" teriak seseorang, dan seseorang itu adalah Nadin.
Ihhhh ngapain sih emak-emak ganggu aja .....
Dengan sedikit kesal ia pun masuk ke rumah Nadin.
"Ada apa?"
"Jangan katak gitu dong mukanya, kepaksa banget!" protes Nadin.
"Penambah imun pagi ku belum nongol, eh malah kamu yang nongol ....! Ada apa manggil aku?"
"Aku bingung Din, tadi mau buat rujak buah, tapi nggak tahu sambalnya bumbunya apa aja!"
"Sepagi ini ....?" tanya Dini nggak percaya.
"Iya!"
"Cuma mau ngomong itu?"
"Ini bukan cuma, Din ....! Aku beneran pengen, aku juga nggak mungkin minta mas Rendi balik lagi cuma untuk buatin sambalnya rujak buah!"
"What's ....., kalau aku tega gitu ....?" tanya Dini dan Nadin hanya menunjukkan wajah penuh ketidak berdayaannya itu,
"Kamu tahu browsing kan? Googling tahu kan? Atau nonton YouTube ...?"
"Ya tahu lah ....!"
"Kenapa nggak cari di situ tutorialnya ....?!" tanya Dini begitu gemas dengan sahabatnya itu.
Nadin hanya tersenyum tanpa rasa bersalah, dan menyerahkan semangkuk bumbu yang sudah dia siapkan, "Sengaja ...., biar kamu kesini!"
"Ini nih ....., rasanya pagi-pagi di kerjain sama sahabat yang lagi ngidam!" keluh Dini sambil meraih bumbu itu.
Dini pun segera menuju ke dapur Nadin dan mulai beraksi dengan mengulek semua bumbu yang sebenarnya sudah di siapin sama Nadin.
"Aku cuma bingung aja, Din! Nggak tau mau ngapain ..., mas Rendi nggak ngebolehin aku buat ngapa-ngapain ....!"
"Ya rebahan aja kali Nad, enak ....! Sambil main-main sama El ...!"
"Capek rebahan ....!"
"Emang ya istri sultan, emang gini! Sampek bingung mau ngabisin uang suami!"
"Aku getok pakek telenan tau rasa kau Din...!" ancam Nadin sambil mengangkat telenan yang berbahan kayu itu.
Dini malah tertawa melihat tingkah Nadin, "Elan kemana?"
"Ada sam mbak!"
Dini beralih mengupas buah-buahan yang memang sudah di siapkan oleh Nadin dan memotong-motong nya.
"Rujak buah ala Dini sudah siap ....!"
"Yes ...., kita makan bareng ya?!"
"Astaga ...., kamu emang beneran mau nyiksa aku ya, pagi-pagi bukannya ditawarin sarapan malah diajak makan rujak buah!" protes Dini.
"Plissss ...., mau ya ....!" Nadin lagi-lagi memeras perasaan Dini dengan menunjukkan wajah ketidak berdayaannya lagi.
"Ok ..., iya ...., ok .....!"
Kini Dini dan Nadin sudah berada di ruang keluarga dengan cobek dan baskom yang berisi sambal dan buah-buahan yang sudah di potong.
Saat siap untuk menyantap, tiba-tiba Nadin menggantungkan sepotong buah yang ia tusuk dengan garpu tepat di depan bibirnya.
"Tapi kayaknya ada yang kurang deh!"
Dini yang sudah menyantap buah itu ikut menghentikan kunyahannya, "Apa lagi?"
"Mangga muda!" ucap Nadin dengan begitu berbinar.
"Mau cari dimana mangga muda?"
"Di rumah om Tama!"
Mendengar nama om Tama, membuat semangat Dini tumbuh kembali.
"Di rumah mas Arjuna ku?"
Nadin mengangguk, Dini tersenyum penuh makna, "Ok deh ...., aku yang minta!"
Dini segera berdiri dari duduknya dan meninggalkan Nadin.
***
Dini sudah berada di depan pintu rumah itu, ia bersiap untuk mengetuk pintu itu. Tapi begitu ragu saat mengingat betapa garangnya om Tama itu dengan kumis tebal yang menghiasi atas bibirnya persis pak Raden.
"Bismillah ...., ya Allah lindungi aku, semoga setelah ini aku nggak jantungan ya Allah ....!"
Tok tok tok
Cukup lama Dini berdiri di depan hingga pintu itu di buka,
Aisttt ....., benarkan om Tama ...., kenapa nggak mas Arjuna sih .....
Seorang pria dengan badan tegap yang berdiri di depannya, dengan kumis tebal itu, wajahnya yang galak membuat nyali Dini menciut seketika.
"Pagi om ....!"
"Pagi ....!" jawab om Tama dengan tegas dan tanpa ekspresi, "Mau cari siapa?"
"Apa mas Juna nya ada? Eh .....!"
Tuh kan salah ngomong .....
"Bukan om, maksudnya, sahabat saya Nadin sedang ngidam, apa saya boleh minta mangga muda yang di depan satu buah aja om!"
"Mau cari mangga muda atau perwira muda?" tanya om Tama.
Nih orang ngajak becanda atau marah ya ...., ekspresinya gitu banget ....
"Kalau ada dua-duanya om ....!" jawab Dini dengan polosnya.
Ha ha ha ....
Om Tama tertawa, tapi malah membuat Dini semakin takut saja.
Ketawa lagi ....., salah ngomong kali ya akunya ....
"Kamu lucu banget .... ha ha ha ....!" ucap om Tama di sisa tawanya.
Dia beneran ketawa .....
"Ha ha ha ....!" Dini ikutan tertawa, "Kata mama, Dini sudah lucu sejak lahir om ....!"
"Siapa nama kamu?"
"Dini, om ...!"
"Dini ...., Dini ...., Dini ....!" om Tama melafalkannya beberapa kali seperti mencoba menghafalnya, "Baiklah, karena cari dua-duanya jadi aku panggilkan putra om yang paling ganteng dulu biar di petikkan mangga mudanya!"
"Makasih banyak om ....!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰