
Nadin pun berjalan mendekati meja sekertaris itu. Tanpak wanita itu sedang sibuk dengan buku yang ada di atas meja.
"Bu ...!"
"Iya?" wanita itu segera mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Nadin.
"Saya Nadin, saya ingin bertemu dengan pak Rendi." ucap Nadin.
"Apa anda sudah membuat janji?"
"Janji ...?"
"Iya janji ...!"
"Tidak, tapi saya ingin mengantarkan makanan untuk pak Rendi." ucap Nadin sambil menunjukkan bungkusan makanannya.
"Maaf tapi pak Rendi tidak bisa di temui jika anda tidak membuat janji terlebih dulu..., jadi anda bisa kembali lagi besok setelahembuat janji."
"Tapi bu ...., ini bagaimana dengan makanannya? Bagaimana kalau ibu kasih tahu pak Rendi dulu. Siapa tahu jika pak Rendi mau menemuiku."
"Maaf tapi pak Rendinya sedang ada meeting
Jadi tidak boleh di ganggu."
"Ya udah bagaimana kalau saya menunggu di sini ....!"
"Tapi mbak .....!"
"Nggak pa pa aku akan menunggunya, aku janji tidak akan mengganggu pekerjaan bu ...., Vina." ucap Nadin ngotot sambil melihat tag nama di meja Vina.
Bukan Nadin namanya jika mau ngalah. Ia pun tidak mempedulikan larangan Vina. Ia duduk di kursi tunggu di depan meja sekertaris itu.
Satu jam sudah Nadin menunggu di sana. Jam sudah menunjuk ke angka satu. Nadin sudah beberapa kali menguap. Ia bukan orang yang suka berdiam diri, terlihat sekali ia begitu bosan. sesekali menggerakkan kakinya, mengetuk-ngetukan jarinya di kursi.
Vina hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Nadin. Ia pun tetap fokus pada pekerjaannya.
Lama-lama Nadin benar-benar tak bisa menahan rasa kantuknya. Dalam hitungan menit, Nadin sudah tertidur di kursi panjang itu. Ia menggunakan tasnya sebagai bantalan.
Setelah dua jam barulah Rendi kembali ke ruangannya. Ia tidak menyadari keberadaan Nadin di sana. Ia terus berjalan menuju pintu dengan langkah pastinya.
Saat tangannya hendak menyentuh handle pintu, langkahnya terhenti karena panggilan Vina sekertaris nya.
"Pak ...!" panggil Vina yang sudah berdiri menyambut kedatangan Rendi.
"Ya ...?" tanya Rendi sambil menoleh kembali ke arah Vina.
"Ada yang menunggu anda!" ucap Vina dengan terus menunduk.
"Siapa?" tanya Rendi. Vina pun menunjuk ke sisi yang lain ruangan itu. Ia menunjukkan pada Rendi jika ada seseorang yang sudah menunggunya hingga ketiduran.
"Maaf pak ...., saya tadi sudah melarangnya menunggu, tapi gadis itu tetap ngotot ...!"
Rendi tak lagi mendengarkan ucapan sekertarisnya lagi. Ia berjalan mendekati Nadin yang tertidur pulas.
"Nadin ...!" ucap Rendi lirih. Vina pun sudah mengikutinya di belakang.
"Anda mengenalnya pak?" tanya Vina. Pertanyaan Vina seketika menyadarkan Rendi bahwa di tempat itu tidak hanya ada Nadin dan dirinya tapi masih ada Vina sekertarisnya.
"Iya ...., sekarang bantu aku. Tolong bawakan barang-barang bawaannya. Biar aku gendong dia ke dalam." perintah Rendi pada Vina.
"Baik pak ...!" jawab Vina dengan menundukkan kepalanya.
Rendi pun segera menyusupkan lengannya di bawah punggung dan paha Nadin. Dengan sekali hentakan tubuh Nadin sudah berada dalam gendongan Rendi.
Vina pun membawa tas dan bungkusan makanan milik Nadin. Kemudiaan ia juga membukakan pintu untuk Rendi.
Rendi hanya fokus pada wajah Nadin yang sedang tertidur pulas dalam gendongannya. Wajah itu begitu polos ean manis.
"Pak ..., barang-barang nya saya taruh di meja." ucapan Vina, lagi-lagi telah menyadarkannya jika sekarang ada Vina di antara mereka.
"Iya ..., terimakasih Vina. Kamu sudah boleh keluar."
"Baik pak ....!"
Rendi dengan perlahan menjauhkan tubuhnya dari Nadin. Tapi tiba-tiba tangan Nadin menarik dasinya. Hingga tubuhnya tak bisa bergerak.
Rendi berjongkok di depan Nadin. Ia kembali melihat wajah Nadin dengan seksama.
Wajah ini yang selalu membuatku seperti orang gila ...., tapi kenapa aku suka sekali menatapnya?
Nadin sedikit menggerakkan tubuhnya, membuat Rendi segera memundurkan tubuhnya, hingga membuat tangan Nadin yang masih memegang dasi Rendi tertarik. Nadin pun segera membuka matanya, ia tidak percaya di depannya ada Rendi.
"Apa aku bermimpi ya ...., ah. .. rasanya aku tidak ingin bangun jika melihat wajah tampan pak Rendi seperti ini ....!" gumam Nadin sambil memandangi wajah Rendi. Rendi pun hanya diam.
Tapi kemudian tak hanya puas dengan menatap wajah Rendi saja. Ia pun kemudian menggerakkan tangannya yang sempat tertarik oleh dasi milik Rendi. Ia mengelus pipi Rendi.
"Ah kenapa semuanya tampak nyata ya ...., mungkin aku perlu menciumnya ...., mumpung mimpi ...., jadi dia pria es ini tidak akan menolak kan ...!"
Nadin pun segera bangun dati tidurnya, Rendi masih terus diam. Sebenarnya ia ingin sekali tertawa melihat tingkah konyol Nadin, tapi ternyata gengsinya yang menang. Nadin mendekatkan bibirnya pada bibir Rendi.
"Wau ini benar-benar nyata ...., walaupun dalam mimpi, tapi mata tajamnya tetap sama ya ...., hey .... balok es ..., kamu itu jangan terlalu dingin jika ingin merasakan hangatnya cinta Nadin ....!" celoteh Nadin sambil terus mendekatkan bibirnya ke depan bibir Rendi.
Saat jarak di antara mereka tinggal beberapa centi lagi, tiba-tiba tangan kekar Rendi segera menahannya dengan menutut seluruh permukaan wajah Nadin dengan satu telapak tanganya saja.
"Jangan mesum ....!" ucap Rendi sambil memundurkan kepala Nadin.
"Hah ....., ini mimpi nggak sih?" Nadin masih bingung.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Rendi setelah menggangkat tangannya dari wajah Nadin. Suaranya begitu tegas dengan mimik wajah dinginnya.
Astaga ...., ini di mana? apa aku sudah masuk ruangannya pak Rendi? Tapi sejak kapan? Apa aku berlajan dalam tidur ...?
"Kenapa malah bengong, hah ...?" tanya Rendi sambil mengangkat dagunya sedikit dengan dahi yang berkerut.
"Kenapa aku di sini?" tanya Nadin, tentu pertanyaan itu membuat Rendi geram. Ia bertanya tapi malah balik bertanya.
"Dasar bocah ....., kalau tidak ada urusan. Segeralah pergi dari sini .....! Saya tidak ada waktu untuk meladenimu ...." ucap Rendi sambil berdiri dan hendak meninggalkan Nadin.
"Siapa bilang aku nggak ada urusan. Aku datang ke sini kan karena pak Rendi yang memintaku." ucap Nadin dengan menggebu-gebu. Ia tidak mau jika Rendi sampai mengusirnya.
"Aku? Menyuruhmu?" tanya Rendi. Karena ia tidak pernah merasa menyuruh Nadin datang ke ruangannya.
"Pak Rendi kan bilang jika aku harus datang ke kantor untuk menyerahkan surat magang ke HRD. Jadi aku ke sini deh ...., dan lagi kita kan sudah pacaran ...., jadi sah-sah saja kan jika aku mengunjungi pacarku di jam istirahat."
Hah ...., pacar ...., aku tidak menyangka kata itu terasa aneh di hatiku saat aku mengatakan pacar.
Rendi hanya terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa kata-kata malah menjadi berang bagi dirinya sendiri.
Pacar ....., dia benar-benar menganggapnya begitu serius ....
"Bagaimana ...., apa sekarang pak Rendi mengerti?"
Rendi pun menghela nafasnya panjang. Kemudian ia berbalik menghadap Nadin, menatapnya dengan tatapan seperti biasanya. Nadin hanya bisa tersenyum.
"Baiklah ...., sekarang apa maumu?" tanya Rendi.
"Sebaiknya pak Rendi duduk di sini ....!" ucap Nadin sambil menepuk sofa yang ada di sebelahnya, lagi-lagi Rendi hanya memberikan tatapan bertanya.
"Duduklah ....., aku sudah membawakanmu makan siang ....!" ucap Nadin sambil menarik tangan Rendi hingga pria dingin itu terduduk di sampingnya.
"Aku sudah makan siang ...!"
"Tapi aku belum ...., jadi pak Rendi harus menemaniku makan siang, lihatlah makanan ini sampai dingin karena terlalu lama menunggu mu, aku juga sudah sangat lapar." ucap Nadin sambil membuka bungkus makanan itu.
"Aku tak merencanakan untuk mencintaimu, tapi aku bahagia karena telah melakukannya."
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘😘**